6 Ramadhan 1446 H
Dalam sejarah Islam, ada kisah mengharukan tentang pohon kurma yang menangis karena merindukan Rasulullah SAW. Kisah ini terjadi pada suatu Jumat di Masjid Nabawi.
Kala itu, ada
batang pohon kurma yang biasa digunakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tempat
sandaran saat khutbah. Namun, pada hari itu tiba-tiba menangis. Kisah tersebut
diceritakan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA, ia berkata : "Rasulullah
SAW biasa berkhutbah dengan bersandar pada sebuah batang pohon. Setelah
dibuatkan mimbar, beliau pun berkhutbah dengan menggunakan mimbar. Maka
tiba-tiba batang pohon itu merintih terus sehingga beliau turun untuk
mengusapnya." (HR Al-Bukhari dan At-Tirmidzi)
Mengutip kitab
Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa karya Ibnul Jauzi yang diterjemahkan Mahfud
Hidayat dan Abdul Mu'iz, kisah ini berawal saat Rasulullah SAW tiba di Madinah
setelah hijrah dari Makkah. Hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun
sebuah masjid yang kemudian dikenal dengan Masjid Nabawi.
Masjid itu
dibangun pada tempat berhentinya unta Rasulullah SAW. Menariknya, tanah
berhentinya unta tersebut ternyata milik dua anak yatim bersaudara. Kemudian
Rasulullah SAW memutuskan untuk membeli tanah itu dari mereka.
Sebelum
membangun masjid, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan berkhutbah dengan
bersandar pada sebatang pohon kurma yang tumbuh di sekitar. Pohon ini menjadi
tempat favoritnya untuk berdiri dan menyampaikan dakwah.
Seiring waktu,
jumlah jemaah semakin bertambah banyak hingga berdesakan memenuhi masjid.
Mereka yang duduk di barisan belakang atau paling jauh tidak bisa melihat
Rasulullah SAW dengan jelas.
Lalu, para
sahabat juga merasa kasihan kepada beliau yang saat itu kelelahan jika berdiri
terlalu lama ketika berdakwah. Sebagian sahabat ada yang mengusulkan untuk
membuat mimbar khusus bagi Nabi Muhammad SAW.
Beruntungnya,
ada seorang wanita dari kaum Anshar yang memberikan usulan kepada Rasulullah
SAW. Wanita itu memiliki seorang budak yang terampil dalam pertukangan kayu,
lalu menawarkan jasa budaknya untuk membuat mimbar khusus bagi beliau.
Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW mempersilahkannya.
Setelah mimbar
selesai dibuat, pada Jumat berikutnya langsung digunakan Rasulullah SAW untuk
menyampaikan khutbahnya. Beliau sempat melalui pohon kurma yang dahulu
digunakannya untuk bersandar saat khutbah.
Ketika Nabi
Muhammad SAW menaiki mimbar dan berkhutbah, seketika terdengar suara rintihan
memelas seperti menangis. Terkadang suaranya seperti unta yang berteriak karena
sedang bunting, terkadang juga suaranya seperti rintihan anak kecil yang
menangis.
Suara tangisan
itu terdengar semakin kencang, bahkan debu-debu dari tembok masjid ikut
berguguran. Para sahabat
yang mencari sumber suara tangisan itu merasa kebingungan.
Rasulullah SAW yang menyadari akan hal itu kemudian turun dari
mimbarnya. Beliau mendekati batang pohon kurma dan mengusapnya dengan lembut,
seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya yang sedang bersedih. Setelah
itu, Nabi Muhammad SAW berkata,
"Sekarang
kamu boleh memilih antara ditanam di tempatmu semula, dengannya kamu dapat
tumbuh berkembang sebagaimana sebelumnya, atau ditanam di surga, dengannya kamu
bisa meresap sungai-sungai dan mata air di sana, lalu kamu akan tumbuh dengan
baik dan buah-buahanmu nanti akan dipetik oleh para kekasih Allah SWT. Apa
pilihanmu akan aku lakukan."
Setelah diusap
dan ditenangkan oleh beliau, akhirnya perlahan batang pohon itu berhenti
menangis. Lalu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada para pengikutnya bahwa
pohon itu merasa sedih karena ditinggalkan.
Sebab, pohon
itu sudah lama menjadi tempat Rasulullah SAW bersandar. Namun ketika ia
memiliki mimbar baru, pohon kurma tersebut merasa kehilangan karena sudah tidak
lagi digunakan.
Dalam redaksi lain, menurut Syaikh Abu Bakar, pohon kurma itu menangis karena
mendengar zikir Rasulullah SAW. Lalu ia merasa sedih karena berpisah dengan beliau yang selalu
berkhutbah diatasnya. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda,
"Ia menangis karena dzikir yang dulu
biasa ia dengar." (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh
Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)
Setelah kejadian itu, Masjid Nabawi
dilakukan sejumlah renovasi. Batang pohon
tersebut lalu disimpan di rumah Ubay bin Ka'ab. Namun, seiring waktu batang
pohon kurma itu rusak dan dimakan rayap.
"Tatkala
Masjid Nabawi dihancurkan untuk direnovasi, Ubay bin Ka'ab mengambil batang
pohon tersebut dan ia simpan di rumahnya sampai rusak dan remuk dimakan rayap."
(HR Ahmad dan Ibnu Majah)
Kala itu, ia
(ayah Buraidah) mendengar Rasulullah SAW bergumam, "Ya, sudah saya
kabulkan." Beliau mengatakan hal itu dua kali. Setelah itu ada seorang
jemaah yang menanyakannya kepada beliau. Maka akhirnya beliau menjawab,
"Batang pohon itu lebih memilih aku untuk menanamnya di surga." (HR
Ad-Darimi)
Kisah Pohon
Kurma Menangis jadi tanda mukjizat Rasulullah SAW
Syaikh Abu Bakar mengatakan, kisah tersebut menjadi tanda dan bukti yang
menunjukkan kenabian Muhammad SAW dan kebenaran risalahnya. Hal ini juga yang
merupakan mukjizat besar yang hanya dimiliki Rasulullah SAW.
Kisah tersebut
merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang
belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada).
Imam an-Nawawi
dalam Syarah Riyadhus Shalihin mengutip pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani
rahimahullah, hadits tersebut menandakan mukjizat Rasulullah SAW. Kisah pohon
kurma yang menangis menjadi bukti bahwa Allah SWT terkadang memberi nalar pada
benda mati bak seekor hewan bahkan seperti seekor hewan yang mulia.
Demikian kisah mengenai pohon kurma menangis karena merindukan Rasulullah SAW.
Wallahu a'lam.
Sumber : https://www.detik.com/hikmah/kisah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar