Kamis, 15 Januari 2026
Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup
Sabtu, 15 Juni 2024
AKTUALISASI NILAI-NILAI IBADAH QURBAN
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil hamd
Hadirin jama’ah sholat Ied rahimakumullah.
Hari raya Idul Adha mengingatkan kita akan sejarah pengorbanan dan kepasrahan yang sesungguhnya dari anak manusia kepada Tuhan pencipta alam, Allah SWT.
Karena
itu sudah sepatutnya kita mengingat kembali perjalanan tiga sosok anak manusia sebagai pemain utama
dalam ibadah qurban dan haji ; nabi Ibrahim AS, nabi Isma’il AS dan ibunda beliau siti Hajar AS. Sebagian perjalanan hidup
mereka telah terekam dan didokumentasikan dalam sejarah bahkan menjadi
ritualitas ibadah haji dan qurban.
Dalam
suasana hari raya Idul qurban, sangatlah tepat bila merefleksikan dan melakukan
napak tilas atas sebagian kehidupan mereka, dan
tak sekedar memaknainya sebagai ritualitas belaka (ibadah mahdah),
tetapi juga diletakkan dalam konteks
peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan
tekstual agama.
Idul
Adha juga merupakan refleksi atas
catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia masa lampau, untuk mengenang
perjuangan monoteistik (tauhid) dan humanistik (kemanusiaan) yang ditorehkan
oleh nabi Ibrahim AS. Bahkan keteladanan yang patut digarisbawahi, bahwa beliau
mampu mentransformasikan pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu
Akbar wa Lillahil hamd
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah
Sebenarnya pengorbanan dan kepasrahan tidak hanya dilakukan oleh nabi Ibrahim AS, bahkan hampir seluruh nabi menerima ujian dan cobaan disertai dengan kepasrahan yang tulus kepada Allah SWT. Kita membaca dalam sejarah, nabi Ya’kubAS –yang sudah tua renta- harus terpaksa merelakan kepergian anak tersayangnya -nabi Yusuf AS- yang direkayasa secara sistematis untuk dibunuh oleh saudara-saudara kandungnya sendiri.
Ibunda
nabi Musa AS pun harus memasrahkan diri berpisah dari anaknya yang baru
dilahirkan. Dia menghindari kedzaliman besar yang dilakukan Fir’aun yang akan
membunuh semua bayi laki-laki yang lahir saat itu termasuk nabi Musa AS yang
baru terlahir ke dunia. Ibu mana yang
tega menyaksikan anaknya terbunuh. Karenanya dengan pengorbanan yang
besar, ia menghanyutkan puteranya yang masih merah di aliran sungai Nil.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar wa Lillahil hamd
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah
Dalam agama Islam, kurban tidak berawal dari mitos, sebagaimana pengorbanan agama-agama dan kepercayaan masa lalu. Dalam Islam, kurban adalah wujud kepasrahan total, pengabdian dan kesalehan hamba. Karena itu kisah Ibrahim AS yang dipilih sebagai bentuk pengorbanan yang sesungguhnya menurut Islam. Allah berfirman dalam QS.Ash Shaffat/37 : 102
فلما بلغ معه السعي قال يبني اني ارى في
المنام أني أدبحك فانظر مادا ترى قال يأبت افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من
الصبرين
Artinya : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang
yang sabar".
Nabi Ibrahim AS yang menerima perintah melalui mimpi selama tiga malam berturut-turut untuk menyembelih anak dan buah hatinya, tak disangka malah ditantang oleh anaknya : “saya siap, insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.
Beberapa
nilai yang dikemukakan dalam merayakan hari Idul Kurban di antaranya ;
Pertama, Konsisten terhadap pengamalam ajaran Islam
Tidak dapat kita
bayangkan betapa goncangnya jiwa nabi Ibrahim AS ketika menerima wahyu itu. Ia mengalami konflik di
dalam bathinnya. Siapakah yang lebih disayangi Ismail atau Allah? Ego atau
super-ego? Kesenangan atau keyakinan ?
Kepatuhannya benar-benar
diuji di puncak kesempurnaan kenabiannya melalui ujian yang ternyata lebih
sulit dari pada semua perjuangannya yang terdahulu. Bila gagal menempuh ujian
tersebut, maka kegagalannya ibarat kejatuhan dari puncak tertinggi, padahal
kejatuhan dari puncak yang paling tinggi adalah kejatuhan yang paling
mencelakakan dan paling menyedihkan. Dan ternyata nabi Ibrahim AS, juga nabi Ismail AS telah melam\paui ujian tersebut
dengan gemilang.
Maka siapapun yang
berada pada titik puncak, puncak popularitas, puncak karir ataupun puncak jabatan yang mengabaikan
nilai-nilai pengorbanan dan mengedepankan ego dan keserakahannya, maka Allah
akan menjatuhkannya ke tempat yang serendah-rendahnya. (QS.At Tin/95:5)
ثُمَّ
رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ
Allahu
Akbar 3x wa Lillahil Hamd
Kedua, Penghormatan atas Eksistensi Manusia
Kisah nabi
Ibrahim AS yang hendak mengorbankan anaknya selain bentuk kepasrahan dan
pengabdian total, juga bentuk pengajaran dalam bentuk kritik Allah SWT terhadap
pengorbanan yang berdasarkan mitos. Nabi Ibrahim AS yang hidup pada pertengahan
abad ke-18 SM, berada pada persimpangan pemikiran kemanusiaan tentang
pengurbanan yang masih berwujud manusia. Ada sebagian yang masih menyetujui
praktik jahiliyah tersebut, sebagian lagi menyatakan bahwa manusia
terlalu tinggi dan mulia untuk
dikorbankan.
Bangsa-bangsa dan umat umat terdahulu telah mempraktekkan pengorbanan
manusia kepada dewa-dewa sesembahannya. Tercatat
dalam sejarah, di Mesir hampir setiap tahunnya, wanita-wanita cantik
dikorbankan kepada dewi penjaga Sungai Nil. Di Kana’an/Irak, bayi-bayi yang tak
berdosa dikorbankan sebagai sesembahan kepada dewa Baal. Suku Aztek di Meksiko,
mereka menyerahkan jantung dan darah manusia yang diperuntukkan kepada dewa
Matahari. Bangsa Eropapun dengan suku Vikingnya di Skandinavia, mengorbankan
pemuka-pemuka agama mereka untuk dewa perang Odin.
Ajaran
kurban dilakukan oleh nabi Ibrahim AS, telah memberikan jalan keluar yang
memuaskan semua pihak. Ia diperintahkan menyembelih anaknya sebagai isyarat
bahwa anak yang tercinta, belahan jiwa yang paling yang paling berharga bagi
seseorang, bukanlah sesuatu yang berarti dan berharga jika Allah telah
memintanya. Namun demikian, bukan manusia yang dikurbankan, karena Allah begitu
cinta dan meninggikan derajat manusia. Sekaligus hal ini merupakan kritikan
terhadap perilaku mengorbankan nyawa manusia.
Pengorbanan
yang diperlihatkan oleh nabi Ibrahim As adalah ajakan Allah untuk melakukan
pengorbanan yang humanis; sebuah pengorbanan yang tidak hanya berhubungan
dengan Allah sang pencipta, tetapi juga membawa manfaat kepada manusia, bukan
malah membinasakan manusia dengan alasan apapun. Kedatangan malaikat yang
membawa seekor kambing sebagai ganti atas nabi Isma’il AS, jelas menegasikan
bentuk pengorbanan manusia yang sudah mengakar pada saat itu.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar wa Lillahil hamd
Hadirin Jama’ah Sholat Ied yang berbahagia
Kemudian Allah mewahyukan kepada nabi Ibrahim : ”Hai Ibrahim, bukanlah maksudnya menyembelih anak, melainkan yang dimaksud kamu mengembalikan perhatian kamu sepenuhnya kepada Kami. Maka tatkala perhatian dan hatimu sudah sepenuhnya kembali kepada Kami, Kami kembalikan anakmu padamu.
Hadirin Jama’ah Sholat Ied yang berbahagia
لن ينال الله لحومها ولا دمائها ولكن يناله
التقوى منكم
Artinya
: Daging-daging unta dan darahnya itu
sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari
kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk
kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan
berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Hajj/22 ;
37)
Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar wa Lillahil hamd
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah
Keberhasilan Ibrahim dan Ismail yang
gemilang ini sesungguhnya tidak terlepas dari kesadaran akan makna suatu
penyerahan diri dengan menyelami sangat dalam makna dari Innalillahi wa Inna
ilaihi rajiun “sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan
kepada-Nya kita kembali”.
Dengan memahami makna “Innalillah” nabi
Ibrahim AS menyadari bahwa walau Ismail ini adalah puteranya yang sangat ia
cintai, ia tidak lebih dari hanya suatu titipan dari Allah dan bukan miliknya.
Sementara itu, nabi Ismail AS menyadari pula bahwa ia
tidak pernah memiliki dirinya sendiri serta apapun yang lain dalam
kehidupannya. Ia tidak pernah merancang bahkan juga tidak berniat untuk lahir dan
menjadi seorang anak manusia, termasuk menjadi putera Ibrahim. Ia ada karena
Allah Swt, yang memungkinkan dan mengizinkannya untuk ada. Dalam pemahaman yang
demikian, berarti pengurbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS dan nabi Ismail
AS, hanyalah bersifat pengembalian hak Allah kepada Allah,
sebagai aktualisasi atas kesadaran mereka berdua
akan makna Innalillahi wa Inna ilaihi rajiun
(sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali).
Dengan demikian tidak ada sesuatupun yang
hilang dari keduanya, karena memang asalnya mereka tidak memiliki apapun juga
tidak terhadap dirinya sendiri.
Dari pemahaman di atas, berqurban berarti
menyerahkan atau menyampaikan sesuatu yang sementara merupakan milik kita
kepada sang Pemberi Allah SWT, yang memang berhak
atas sesuatu itu .
Untuk itulah, ketika nabi Ibrahim AS
menyembelih nabi Ismail AS, dan Ismail merelakan nyawanya, tidaklah berarti nabi
Ibrahim AS mengorbankan anaknya, dan nabi Ismail AS bukan mengorbankan
hidupnya, akan tetapi keduanya mengembalikan hak Allah kepada Allah.
Pengembalian hak itu ditempuh nabi Ibrahim AS dengan cara melepaskan, menaklukkan dan
memusnahkan kepentingan pribadinya, yaitu rasa memiliki anaknya,
sementara Ismail as. menempuh dengan cara menaklukkan rasa memiliki diri
sendiri.
Allahu Akbar 3x Wa lillahil Hamd
Maka dalam konteks kekininian, setiap kita adalah Ibrahim, dan setiap Ibrahim mempunyai Isma’il. Isma’il kita mungkin harta kita, gelar kita, jabatan kita atau segala sesuatu yang kita sayangi dan kita pertahankan. Kita tidak dilarang untuk mendapatkan harta, gelar, jabatan, atau apaupun yang kita senangi yang kita jadikan sebagai Isma’il kita. Sebagaimana nabi Ibrahim AS berdasarkan riwayat di atas tidak diperintahkan untuk membunuh Isma’il. Tetapi kita hanya diperintahkan untuk membunuh rasa kepemilikan kita terhadap “isma’il-isma’il” kita yang hakekat semuanya milik Allah SWT.
Hal penting lain yang perlu dikontekstualisasikan adalah konsep “kepemilikan” anak saat ini sangat perlu diimplementasikan di tengah hiruk pikuk budaya masyarakat yang semakin tidak jelas. Ketika nabi Ibrahim dan istrinya Siti Hajar AS mengorbankan anak terkasihnya yang diidam-idamkan selama hidupnya, orang tua zaman sekarang sedikit merasa memiliki kepada anak-anaknya. Mereka hanya memiliki anak mereka secara fisik, tetapi sedikit orang tua yang peduli akan perilaku dan akhlaq anaknya. Mereka merasa sudah merasa cukup dengan menitipkan anak-anaknya di sekolah . Seolah-olah mereka melemparkan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Orang tua zaman sekarang menganggap sekolahlah yang bertanggung jawab penuh pada perubahan perilaku dan sikap anak.
Padahal tanggung jawab utama mendidik anak ada pada orang tua, sekolah hanya membantu keterbatasan yang dimiliki oleh orang tua. Anak-anak di sekolahpun tidak lebih dari 5-7 jam. Selebihnya anak-anak ada pada lingkungan keluarganya.
Maka kerjasama orang tua dan sekolah, serta penguatan nilai-nilai spiritual dan pendidikan patut dilakukan secara berkesinambungan. Pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi pendidikan harus diciptakan di manapun. Maka kewajiban mendidik bukan hanya kewajiban para guru, tetapi juga merupakan kewajiban utama orang tua.
Semangat berkurban saat kita merayakan hari raya kurban ini, sesmestinya tidak sekedar menjadi slogan belaka. Implementasi dan tekad mau berkurban harus dapat diwujudkan dalam kehidupan kita di alam dunia. Karena memang dalam mangarungi kehidupan ini, dengan status dan profesi apapun, membutuhkan pengorbanan. Maka siapa saja yang tidak mau berkurban pasti akan menjadi kurban.
Orang tua mau mengorbankan, tenaga, harta dan cinta kasihnya kepada anak-anaknya untuk mendidik mereka. Keengganan orang tua untuk mengorbankan kepada anak-anaknya bisa jadi anak akan mengorbankan orang tuanya. Na’udzubillah...
Seorang anak mau mengorbankan waktunya
semata-mata untuk dimaksimalkan pada hal-hal yang bermanfaat.
Seorang pejabat mau mengorbankan keinginan
nafsunya dan tidak menurutinya sebagai sebuah amanah.....
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil hamd
Ma’asyirol muslimin rohimakumullah
Demikian khutbah ini disampaikan, semoga
kita dapat mengambil hikmah dan menerpkan nilai-nilai pengorbanan dalam
kehidupan sehari-hari sebagaimana yang telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim AS,
nabi Isma’il AS dan ibundanya siti Hajar AS
Senin, 08 April 2024
MEMAKNAI IDUL FITRI
Sahabat...
Suka cita yang terkespresikan bagi ummat Islam yang merayakan Idul Fitri merupakan hal yang lumrah dan menjadi hal yang biasa kita saksikan. Kebahagiaan membuncah seolah sebagai sebuah kemenangan atas perjuangan dan harapan. Perjuangan melawan hawa nafsu dan harapannya adalah dikukuhkannya kita sebagai manusia muttaqin.
Maka sebelumnya kita peru mengeloborasi makna fitri yang tersemat pada kata Idul Fitri yang bisa bermakna adalah asal kejadian sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar Rum/30 : 30
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ
لِلدِّینِ حَنِیفاࣰ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِی فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَیۡهَاۚ لَا
تَبۡدِیلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَ ٰلِكَ ٱلدِّینُ ٱلۡقَیِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ
ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ
Artinya. Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”.
Sejatinya
manusia menyadari, bahwa asal kejadian manusia dari dua hal, yaitu ;
a. unsur tanah
yang membentuk
jasadiah dan fisik kita. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Taha : 55
مِنۡهَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ وَفِیهَا نُعِیدُكُمۡ
وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ
Artinya :
“dari bumi (tanah) Itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan
mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang
lain.”
Tanah merupakan
alam materi, bentuk fisik dan jasad. Semua ciptaan Allah yang berada di alam
materi tunduk kepada hukum-hukum Allah yang terbentang di alam raya.Bukankah
matahari yang begitu besarnya Allah ciptakan tidak pernah menampakkan dirinya
di pagi hari dari sebelah barat? Bukankah bulan akan menampakkan dirinya secara
sempurna di setiap tanggal 15 pada bulan qomariah ? Adakah api di alam dunia
ini yang terasa dingin? Ketidakmungkinan itu disebabkan karena mereka tunduk
kepada hukum Allah yang berada di alam raya yang disebut dengan sunnatullah
Ruh yang bersemaayam pada jasad manusia juga telah mengambil kesaksian untuk meng-Esa-kan Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam QS.Al A’raf/7 : 172
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ
مِنۢ بَنِیۤ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّیَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰۤ
أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدۡنَاۤۚ أَن تَقُولُوا۟
یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِینَ
Artinya :
“dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Maka sepatutnya saat merayaakan Idul Fitri, kita mengingat akan asal kejadian kita sehingga mengantar kita pada kesimpulan bahwa tidak sepatutnya manusia ingkar kepada Allah SWT. Tetapi persoalan keimanan adalah proses yang harus diupayakan. Keimanan tidak bersifat otomatis.Manusia bukanlah robot dan bukan benda mekanik yang ketika keluar dari pabrik dia akan langsung bekerja sesuai program yang telah dirancangnya. Manusia hanya diberikan potensi sehingga manusia bisa memilih jalan kebaikan atau keburukan pilihannya.
Wallahu A'lam
Jakarta, 28 Ramadhan 1445 H
Sabtu, 06 April 2024
HARTA DAN KEWAJIBANNYA
Sahabat...
Jumat, 05 April 2024
HARTA DAN FITNAH
Sahabat...
Apa yang kekal di alm dunia ini?
IBADAH = KEBUTUHAN
Sahabat..
Dalam kitab ايها الولد karya imam Ghozaly, dikisahkan bahwa "Allah ingin menampakkan kepadav para malaikat terhadap hamba-NYA dari bani Israil yg sdh menyembah Allah selama 70 tahun. Allah berkata pada seorang malaikat, "Datangi hamba tersebut dan beritakan kepadanya bahwa ibadah yang dia lakukan selama ini tak layak untuk masuk surga." Ketika info ini diterima oleh hamba Allah tersebut dia menjawab
" نحن خلقنا للعبادة فينبغي لنا أن نعبده "
"Kita semua ini diciptakan oleh NYA semata mata untuk beribadah. Maka sudah seharusnya bagi kita untuk beribadah kepadanya".
Bagi si hamba ini urusannya adalah ibadah masuk surga atau tidak bukan tugasnya, tapi itu kebijakan/rahmat Allah. Dan si hamba tersebut tidak bergeming tentang info malaikat tersebut, dan dia terus beribadah.
Hal tersebut sampai kepada Allah Yang Maha Tahu dan Kemudian Allah mengatakan kpd malaikat:
إشهدوا يا ملائكتي أني قد غفرت له"
Saksikan wahai para malikat-KU. Aku teah mengampunkan dosa2 hamba-KU tsb.
Kisah tersebut memberikan penjelasan bahwasanya ibadah sesuatu yang mutlak menjadi kebutuhan hamba kepada sang Pencipta, ibadah tidak bisa dijadikan alat tukar dengan rizki, ni'mat bahkan surga sekalipun. Tidak mesti orang yang baik kualitas dan kuantitas ibadahnya berbanding lurus dengan berbagai anugerah dan ni'mat yang Allah karuniakan. Dengan ibadah hanya berharap rahmat Allah dan rahmat Allah meliputi seluruh jagad raya alam ini. Maka patut direnungkan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan :
لن ُيدخل أحدكم الجنةَ عمله, قالوا: و لا أنت يا رسول الله، قال , و لا أنا، إلا أن يتغمدني الله برحمته
Amal seseorang tak akan membuatnya masuk surga, para sahabat yang hadir saat itu bertanya :termasuk engkau wahai Rasul ? dan beliau menjawab, iya termasuk aku, hanya saja Allah selalu menyelimutiku dengan rahmatNya.( HR Bukhary)
Setidaknya hadits ini menjelaskan 3 hal
- Ajaran Rasulullah SAW tentang tawadlu’ ketika berbicara tentang amal pribadi, sehingga jangan sampai salah satu umatnya, merasa berhak masuk surga dengan ilmu dan amalnya.
- Hanya para nabi dan rasul yang jelas jelas ma’sum (liat kalimat ini إلا أن يتغمدني الله برحمته)
- Amal dan prestasi bukanlah sebuah harga yang bisa kita bayarkan untuk menebus surga.
Kalau amal kita gak bisa menjadi sebab kita ke surga, lalu untuk apa Allah memerintahkan kita dengan kewajiban ini dan itu melarang kita dengan keharaman ini dan itu?
Allah adalah pencipta dan penguasa semesta, kita ini cuma hamba-hambaNya, Allah adalah raja kita, sebagai budak tentu saja kita harus ikut apa yang raja dan majikan kita kehendaki.
Sekali lagi, amal dan prestasi bukan alat tukar untuk surga, penggunaan alat tukar hanya ada dalam hubungan yang sepantaran, sepadan, selevel dari kedua belah pihak, seperti kita dan teman-teman atau saudara kita.
Sedangkan hubungan kita dengan Allah adalah hubungan antara Raja dan budaknya, jadi cukup dibangun dengan ketaatan kita, masalah kita dimasukkan kesurga atau tidak itu hak sang raja.
Itulah sebabnya yang kita andalkan adalah kasih sayang Allah, bukan mengandalkan amal ibadah kita.
Kalau begitu, amal gak perlu banyak banyak ya ?
Sesuai dengan yang sudah kita bahas diatas, betul amal gak perlu banyak banyak. Tapi apa kita tidak ingin memberikan persembahan ke Dzat yang sedang kita harapkan cintanya ?. Bukankah itu yang kita ikrarkan setiap hari. Kalimat yang kamu ucapkan ketika shalat :
إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Wallahu A'lam
Jakarta, 25 Ramadhan 1445 H
Kamis, 04 April 2024
TERCIPTA UNTUK BERIBADAH
Sahabat...
Untuk apakah kita diciptakan?
Allah telah menegaskan dalam QS. Adz Dzariyat/51 : 56 bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah.
Maka sejatinya ibadah merupakan kebutuhan manusia sehingga dengan ibadah ini menjadi kemuliaan bagi seseorang dan ibadah seumpama mahkota yang menjadi kebanggaan bagi seseorang di hadapan yang lainnya. Demikian yang dilukiskan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya:
Selasa, 02 April 2024
AL QUR'AN BERTUTUR KISAH
Sahabat…
Pernahkah anda membaca kisah
masa lalu? Tentunya pernah. Tetapi tidak semua kejadian masa lalu menjadi kisah
dan sejarah bagi seseorang. Seringkali secara subjektif manusia menetukan suatu
kejadian menjadi kisah dan sejarah bagi dirinya dan mengabaikan bahkan
melupakan kejadia-kejadian lain dari ingatannya. Apapun kisah dan sejarahnya,
bagi peminatnya, sungguh sangat mengasikkan untuk dibaca dan dipelajari.
Al Qur’an juga memuat kisah-kisah
dan sejarah masa lalu. Tentunya al Qur’an bukanlah buku sejarah tetapi memuat
informasi sejarah. Dan yang tertuang dalam al Qur’an pasti benar terjadinya
peristiwa itu, dan tentu saja kisah dan sejarah dalam al Qur’an bukan
dongeng belaka sebagaimana anggapan
orang-orang kafir (QS. Al An’am/6 : 25)
yang dibantah Allah dalam QS. Ali Imran/3 : 62 bahkan kisa-kisah itu
disampaikan dengan sangat baik (QS. Yusuf/12 : 3)
Prof. Nadirsyah menyatakan
bahwa dalam al Qur’an ayat-ayat yang berisi kisah sejarah lebih banyak
dibandingkan dengan ayat-ayat hukum karena memang pada dasarnya manusia senang
mendengar, membaca dan menyaksikan kisah. Di antara tujuan utama pemuatan
kisah-kisah dan sejarah dalam al Qur’an sebagaimana diurai oleh Manna’ Khalil Qattan adalah untuk menampakkan
kebenaran nabi Muhammad SAW tentang dakwahnya nabi-nabi terdahulu. Artinya
bagaimana mungkin seseorang yag ummi yang tdak pernah berguru dapat
megungkapkan sejarah masa lampau dengan sangat amat baik. Selain itu juga
bertujuan untuk menyibak kebohongan ahlu kitab yang merombak dan mengubbah
isi kitab mereka sendiri sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Ali Imran/3 : 93.
Dan pengungkapan kisah dan
sejarah esensinya adalah ibrah pelajaran-pelajaran bagi manusia tentang
banyak hal (QS. Yusuf/12 : 111) bukan sekedar kepada peristinwanya saja tetapi
nilai dan hikmah yang semestinya diambil oleh setiap manusia. Karenanya
mengingat begitu pentingnya makna peristiwa an sejarah itu, seringkali al Qur’an
mengulang-ulang kisah peristiwa dan sejarah terebut agar pesan-pesaannya lebih
mantap dan melekat dalam jiwa. Bahkan pengulangan merupakan salah satu cara
pengukuhan dan indikasi betapa besarya perhatian pada peristiwa tersebut.
Demikian Manna’ Khalil Qattan menjelaskan
Wallahu A’lam
Jakarta, 23 Ramadhan 1445 H
Minggu, 31 Maret 2024
ISYARAT ILMIAH AL QUR'AN
Sahabat…
Pernahkah
anda diajak bahkan diarahkan untuk berfikir? Maka sesungguhnya ajakan
berfikir itu sangat kental dengan ajaran Islam. Melalui kitab suci al Qur’an,
sejumlah ayat menyirat dan menyuratkan untuk berfikir. Sehingga dari ide dan
gagasan sebagai olah pikir menghasilkan teori dan bangunan ilmu pengetahuan.
Al Qur’an sebagaimana ditegaskan Prof. Quraish Shihab, bukanlah kitab ilmiah sebagamana halnya kitab-kitab ilmiah yang dikenal selama ini. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tidak dijawab al Qur’an dengan jawaban ilmiah jusru diarahkan kepada upaya memahami hikmah di balik kenyataan itu.
Karenanya
al Qur’an diturunkan tidak hanya untuk umat Islam melainkan untuk seluruh umat
manusia sebagai pedoman dan petunjuk dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.
Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, tidak dengan tangan
kosong, tetapi dengan diberikan bekal yang cukup berupa indera dan akal
sehingga dapat memahami tanda-tanda kebesaran Allah melalui isyarat ilmiah yang
tersurat dan tersirat dalam al Qur’an sebagaimana firman Allah dalam Q.S
Fushshilat/41: 53.
Tentu
saja fungsi utama al Qur’an sebagai
petunjuk bagi seluruh umat manusia baik hubungannya dengan Tuhan, manusia,
maupun alam raya. Dengan begitu, yang dipaparkan al Quran tidak hanya
masalah-maslah kepercayaan (akidah), hukum, ataupun pesan-pesan moral, tetapi
di dalamnya terdapat petunjuk memahami rahasia-rahasia alam raya yang merupakan isyarat ilmiah.
Isyarat-isyarat
ilmiah dalam Al-Qur’an pada dasarnya adalah ibarat pertanyaan-pertanyaan
“ilmiah” yang diajukan Allah agar manusia menggunakan akalnya untuk menjelajah sehingga
menimbulkan teori dan kemajuan ilmu pengetahuan. Karena lebih cenderung memuat
isyarat ilmiah maka al Qur’an
mengandung prinsip-prinsip umum, artinya seseorang dapat menurunkan seluruh
pengetahuan tentang perkembangan fisik dan spiritual manusia yang ingin diketahuinya
dengan bantuan prinsip-prinsip tersebut. Dan kewajiban ilmuwan adalah
menjelaskan rincian-rincian yang diketahui pada masanya kepada masyarakat.
Dalam sejarahnya
belum pernah ada agama yang menaruh perhatian sangat besar dan
lebih mulia terhadap ilmu kecuali Islam. Salah satu ciri yang membedakan Islam
dengan agama yang lain adalah perhatiannya kepada ilmu dan ilmuwan. Agama Islam
selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali
ilmu. Oleh karena itu ilmuwan pun mendapatka perlakuan yang lebih dari Islam,
yang berupa kehormatan dan kemuliaan. al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum
muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada
posisi yang luhur.
Wallahu A’lam
Jakarta, 21 Ramadahan 1445 H
Sabtu, 30 Maret 2024
KEINDAHAN BAHASA AL QUR'AN
Sahabat...
Al-Qur’an
diturunkan oleh Allah SWT ketika bangsa Arab berada di puncak yang sangat
tinggi dalam bidang bahasa dan sastranya, bahasa yang indah dengan berbagai
norma yang ada, membuat bangsa Arab sangat membangga-banggakan bahasa dan karya
sastra mereka. Kemukjizatan al-Qur’an memang tidak lain adalah untuk
menundukkan kesombongan bangsa Arab atas bahasa yang mereka miliki, seakan-
akan tidak ada bahasa dan karya sastra yang melebihi karya mereka dari sisi
keindahannya. Oleh karena itu, al-Qur’an turun sebagai mukjizat dengan bahasa
yang sangat istimewa mengalahkan keistimewaaan bahasa dan sastra Arab pada masa
itu.
Ketika walid
bin Mughirah seorang tokoh quraisy yang juga sastrawan diutus untuk merayu nabi
Muhammad SAW agar meningggalkan da’wahnya,, dia tidak bisa berkata apa-apa
ketika Rasulullah SAW membacakan QS.
Fushillat/41 : 1-5. Bahkan hatinya tertarik dan terpesona dengan keindahan Bahasa al Qur’an,
sebagaimana diungkapkan oleh prof.
Quraisy Syihab bahwa Bahasa al Qur’an memuaskan akal dan jiwa. Itulah
yang dialami oleh Walid bin Mughirah.
Tetapi harapan masyarakat kepada Walid begitu sangat
tinggi. Sayangnya mereka kecewa karena Walid keluar dengan wajah bermuram durja
yang menunjukkan kegagalan diplomasi dan misinya. Bahkan ada yang menduga bila Walid telah
berkhianat. Walid bin Mughirah-pun menjawab :
فَوَاللهِ! مَا فِيْكُمْ رَجُلٌ أَعْلَمُ بِالأَشْعَارِ
مِنِّي، وَلَا أَعْلَمُ بِرَجْزٍ وَلَا بِقَصِيْدَةٍ مِنِّي، وَلًا بِأَشْعَارِ الْجِنَّ، وَاللهِ! مَا يُشْبِهُ الذي يَقُوْلُ شَيْئًا
مِنْ هَذَا، وَوَاللهِ! إِنَّ لَقَولُهُ الذي يَقُوْلُ حَلَاوَةً،
وإِنَّ عَليْهِ لَطَلاَوَةً، وإنَّهُ لَمُثمِرٌ أَعْلَاهُ مُغْدِقٌ أَسْفَلُهُ،
وإنَّهُ لَيَعْلُو وَمَا يُعْلَى، وإنه لَيَحْطِمُ مَا تَحْتَهُ
“Apa menurutmu yang harus
kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang
lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz
dan qashidahnya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu
tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia
ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan,
baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian
bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang
mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya.”
Kegagalan Walid tidak menyurutkan kaum Quraisy untuk membungkam da’wah nabi Muhammad SAW. Karenanya mereka menyerahkan proyek tersebbut kepada anaknya Walid yaitu Khalid bin Walid. Khalid merasa tidak lebih cerdas dari nabi Muhammad SAW tetapi karena terlanjur menerima proyek tersebut, dia mengajak Musailamah untuk kolaborasi dan Musalamah pun menyanggupi untuk membuat ayat menandingi al qur’an.
Di antara
contoh karya Musailamah adalah tandiingan QS. Al Fiil sebagaimana berikut:
اَلْفِيْلُ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْفِيْلُ
* لَهُ زُلُوْمٌ طَوِيْلٌ
Dan Gajah.
Tahukan kamu apa itugajah. Ia memiliki
perawakan yang panjang
Khalid membaca
ayat-ayat tandingan Musailamah sangat kecewa dan dianggap tidak berbobot dan
lebih jauh menstigmanya lebih sesat dari Muhammad.
Ini menandakan
keindahan al qur’an tak tertandingi sampai kapanpun. Dan dalam konteks, alqur’an
yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunian termasuk Indoesia, di antara
keindahan Bahasa al Qur’an bahwa kita yang bukan orang arab merasa meni’mati
membaca al Qur’an meskipun sebagian besar bacaannya belum dipahami. Bahkan
membacanya berulang kali khatam. Adakah buku yang dibaca berulang-ulang selain
al QUr’an ?
Wallhu A’lam
Jakarta, 20
Ramaadhan 1445 H
Jumat, 29 Maret 2024
AL QUR'AN DAN PENETAPAN HUKUM
Sahabat...
Allah menciptakan manusia yang multi kultural ; keyakinan, warna kulit, Bahasa dan lain sebagainya yang serba berbeda. Manusia esensinya adalah makhluk sosial yang saling memerlukan antara satu dengan lainnya. Interaksinya antar satu individu dengan lainnya memerlukan sistem (tasyri’iperundang-undangan) yang mengatur dan keadilan di antara mereka. Untuk mewujudkan tersebut, al Qur’an telah menjelma sejak azalinya sebagai sistem (tasyri’iperundang-undangan), dan al Qur’an telah memulainya dengan pendidikan individu dengan membenamkan konsep tauhid dan membelenggu hawa nafsu dan syahwat yang inheran pada setiap indiividu agar setiap individu menjadi hamba-NYA yang ikhlas. Al-Qur’an telah memuat pokok-pokok akidah, hukum-hukum ibadah, norma-norma keutamaan dan sopan santun, undang-undang hukum ekonomi, politik, sosial dan kemasyarakatan, mengatur kehidupan keluarga dan masyarakat, dan meletakkan dasar-dasar kemanusiaan yang mulia lagi adil.
Maka
output pendidikan individu itu melahirkan pribadi muslim dengan akidah yang
benar. Maka ini berdampak pada si individu tersebut menerima segala syari’at/ketetapan
hukum bagi dirinya karena adanya
keyakinan yang kokok bahwa setiap ibadah yang difardukan berkorelasi lurus
dengan kebaikan/kesalehan individu yang menjalar menjadi kebaikan/kesalehan sosial.
Manna’
Khalil Qattan lebih jauh menjelaskan bahwa penunaian ibadah-ibadah fardu ini
akan melahirkan tanggung jawab sebagai buah dan hasil pendidikan tersebut. (QS.
Al Muddatsir/74 : 38 dan QS. Al Baqarah/2 : 286)
Karenanya
al Qur’an tidak bisa disebanding dengan perundang-undangan lainnya, bahkan
seringkali upaya diskusi dan sosialisasi atas sebuah rencana perudang-undangan
gagal dan batal. Bukankah pernah ada upaya di Amerika pembuatan undang—undang pembatasan
minuman keras yang disadarioleh mereka akan bahaya latennya? Namun mereka
gagaal dan tetap membolehkan konsumsi kembali minuman keras. Mereka juga melarangan
perceraian yang menopang ajaran agamanya, dan pada akhirnya mereka-pun membolehkan
perceraian. Di Eropa-pun pernah berkumandangkan pendapat tentang perlunya
poligami, sehingga sebagian kaum wanita memproses adanya undang-undang itu
karena banyak di antara mereka yang telah menjadi janda tidak dapat menikah
lagi, akhirnya timbul permasalahan yang mengancam masyarakat.
Hal-hal
tersebut adalah bukti yang jelas atas kegagalan undang-undang dan peraturan
buatan manusia, sedangkan Islam sungguh-sungguh telah membuktikan keamanan dan
kedamaian serta menghapuskan kejahatan langsung dari sumbernya.
Wallahu
A’lam
Jakarta,
19 Ramadhan 1445 H
Do'a Walimatus Safar
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيَهُمْ سَعْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبَهُمْ ذَنْبًا مَغْفُورًا اللهم أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي ا...
-
1 Ramadhan 1447 H Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan.... Tidak sedikit di antara kita yang menyambut kehadiran bukan Ramadhan dengan penuh suka...
-
2 Ramadhan 1447 H Kisah Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menjalankan puasa Ramadhan Berpuasa merupakan suatu kewajiban umat Musli...
-
5 Ramadhan 1447 H Kisah Qais bin Shirmah, sahabat nabi yang pingsan saat puasa Ramadhan pertama kali Kisah teladan Qais bin Shirmah ya...