Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2026

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H

1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim
Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang mukmin dengan yang lainnya. Tanpa sholat, bangunan Islam dalam diri seseorang akan runtuh.• 
Dalil Hadits :
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ"
Pembatas antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan sholat."Rujukan: HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, No. 82.

 رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat.”(HR. Tirmidzi no. 26 

Umar bin Khattab mengatakan:
إن من أهم أمور كم عندي الصلاة. فمن حفظها حفظ الدين ومن ضيعها فهو لما سواه تدأضيع. فلا حظ فى الاسلام لمن ترك الصلاة

Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Ash-Sholah wa Hukmu Tarikiha menyatakan:
جاء في الحديث: "لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة" وكل شيء ذهب أوله فقد ذهب آخره، وإذا ذهبت صلاة المرء ذهب دينه"
Dalam hadits disebutkan: 'Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.' Segala sesuatu yang hilang awalnya, maka akan hilang pula akhirnya. Jika sholat seseorang hilang, maka hilanglah agamanya.

Imam Ghazali mengatakan:
" كل عز ليس يؤيده دين فهو ذل، وكل قدر ليس يزينة صلاة فهو نقص"
Setiap kemuliaan yang tidak didukung oleh agama adalah kehinaan, dan setiap kedudukan yang tidak dihiasi dengan sholat adalah kekurangan." 

2. Sholat sebagai Penolong dalam Menghadapi Ujian Hidup 
Dunia adalah tempat ujian. Allah SWT memberikan "alat komunikasi" khusus bagi hamba-Nya untuk meminta kekuatan, yaitu melalui kesabaran dan sholat.• 
Dalil Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ"
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."Rujukan: QS. Al-Baqarah: 153.

3. Sholat sebagai Barometer Amal di Akhirat
Kualitas hidup manusia di akhirat ditentukan oleh satu poin pemeriksaan pertama: sholatnya. Jika sholatnya baik, maka urusan lainnya akan dimudahkan.

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ"
Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka ia telah beruntung dan selamat. Jika sholatnya rusak, maka ia telah merugi."Rujukan: HR. At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi, No. 413 (Hadits Hasan).

4. Transformasi Karakter melalui Sholat
Sholat yang dilakukan dengan khusyuk akan membentuk perisai mental yang melindungi seseorang dari perbuatan buruk dan maksiat.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ"

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar."Rujukan: QS. Al-Ankabut: 45.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa menjelaskan:
فالصلاة فيها دفع للمكروه وهو الفحشاء والمنكر، وفيها تحصيل 
للمحبوب وهو ذكر الله"

Dalam sholat terkandung penolakan terhadap hal yang dibenci (yaitu kekejian dan kemungkaran), dan di dalamnya terkandung pencapaian atas apa yang dicintai (yaitu dzikrullah)."

Sabtu, 15 Juni 2024

AKTUALISASI NILAI-NILAI IBADAH QURBAN

Allahu Akbar  Allahu Akbar  Allahu Akbar wa Lillahil hamd

Hadirin jama’ah sholat Ied rahimakumullah.

Hari raya Idul Adha mengingatkan kita akan sejarah pengorbanan dan kepasrahan yang sesungguhnya dari anak manusia kepada Tuhan pencipta alam, Allah SWT.

Karena itu sudah sepatutnya kita mengingat kembali perjalanan  tiga sosok anak manusia sebagai pemain utama dalam ibadah qurban dan haji ; nabi Ibrahim AS, nabi Isma’il  AS dan ibunda beliau siti  Hajar AS. Sebagian perjalanan hidup mereka telah terekam dan didokumentasikan dalam sejarah bahkan menjadi ritualitas ibadah  haji dan qurban.

Dalam suasana hari raya Idul qurban, sangatlah tepat bila merefleksikan dan melakukan napak tilas atas sebagian kehidupan mereka, dan  tak sekedar memaknainya sebagai ritualitas belaka (ibadah mahdah), tetapi  juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual agama.

Idul Adha juga merupakan refleksi  atas catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia masa lampau, untuk mengenang perjuangan monoteistik (tauhid) dan humanistik (kemanusiaan) yang ditorehkan oleh nabi Ibrahim AS. Bahkan keteladanan yang patut digarisbawahi, bahwa beliau mampu mentransformasikan pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan.

Allahu Akbar  Allahu Akbar   Allahu Akbar wa Lillahil hamd

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah

Sebenarnya pengorbanan dan kepasrahan tidak hanya dilakukan oleh nabi Ibrahim AS, bahkan hampir seluruh nabi menerima ujian dan cobaan disertai dengan kepasrahan yang tulus kepada Allah SWT. Kita membaca dalam sejarah, nabi Ya’kubAS –yang sudah tua renta- harus terpaksa merelakan kepergian anak tersayangnya -nabi Yusuf AS- yang direkayasa secara sistematis untuk dibunuh oleh saudara-saudara kandungnya sendiri.

Ibunda nabi Musa AS pun harus memasrahkan diri berpisah dari anaknya yang baru dilahirkan. Dia menghindari kedzaliman besar yang dilakukan Fir’aun yang akan membunuh semua bayi laki-laki yang lahir saat itu termasuk nabi Musa AS yang baru terlahir ke dunia. Ibu mana yang  tega menyaksikan anaknya terbunuh. Karenanya dengan pengorbanan yang besar, ia menghanyutkan puteranya yang masih merah di aliran sungai Nil.

Allahu Akbar  Allahu Akbar  Allahu Akbar wa Lillahil hamd

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah

Dalam agama Islam, kurban tidak berawal dari mitos, sebagaimana pengorbanan agama-agama dan kepercayaan masa lalu. Dalam Islam, kurban adalah wujud kepasrahan total, pengabdian dan kesalehan hamba. Karena itu kisah Ibrahim AS yang  dipilih sebagai bentuk pengorbanan yang sesungguhnya menurut Islam. Allah berfirman  dalam QS.Ash Shaffat/37 : 102

فلما بلغ معه السعي قال يبني اني ارى في المنام أني أدبحك فانظر مادا ترى قال يأبت افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من الصبرين

Artinya :  Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".

Nabi Ibrahim AS yang menerima perintah melalui mimpi selama tiga malam berturut-turut untuk menyembelih anak dan buah hatinya, tak disangka malah ditantang oleh anaknya : “saya siap, insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Beberapa nilai yang dikemukakan dalam merayakan hari Idul Kurban di antaranya ;

Pertama, Konsisten terhadap pengamalam ajaran Islam

Tidak dapat kita bayangkan betapa goncangnya jiwa nabi Ibrahim AS ketika menerima wahyu itu. Ia mengalami konflik di dalam bathinnya. Siapakah yang lebih disayangi Ismail atau Allah? Ego atau super-ego? Kesenangan atau keyakinan ?

Kepatuhannya benar-benar diuji di puncak kesempurnaan kenabiannya melalui ujian yang ternyata lebih sulit dari pada semua perjuangannya yang terdahulu. Bila gagal menempuh ujian tersebut, maka kegagalannya ibarat kejatuhan dari puncak tertinggi, padahal kejatuhan dari puncak yang paling tinggi adalah kejatuhan yang paling mencelakakan dan paling menyedihkan. Dan ternyata nabi Ibrahim AS, juga  nabi Ismail AS telah melam\paui ujian tersebut dengan gemilang.

Maka siapapun yang berada pada titik puncak, puncak popularitas, puncak karir  ataupun puncak jabatan yang mengabaikan nilai-nilai pengorbanan dan mengedepankan ego dan keserakahannya, maka Allah akan menjatuhkannya ke tempat yang serendah-rendahnya. (QS.At Tin/95:5)

ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Kedua, Penghormatan atas Eksistensi Manusia

Kisah nabi Ibrahim AS yang hendak mengorbankan anaknya selain bentuk kepasrahan dan pengabdian total, juga bentuk pengajaran dalam bentuk kritik Allah SWT terhadap pengorbanan yang berdasarkan mitos. Nabi Ibrahim AS yang hidup pada pertengahan abad ke-18 SM, berada pada persimpangan pemikiran kemanusiaan tentang pengurbanan yang masih berwujud manusia. Ada sebagian yang masih menyetujui praktik jahiliyah tersebut, sebagian lagi menyatakan bahwa manusia terlalu tinggi  dan mulia untuk dikorbankan.

Bangsa-bangsa dan umat umat terdahulu telah mempraktekkan pengorbanan manusia kepada dewa-dewa sesembahannya. Tercatat dalam sejarah, di Mesir hampir setiap tahunnya, wanita-wanita cantik dikorbankan kepada dewi penjaga Sungai Nil. Di Kana’an/Irak, bayi-bayi yang tak berdosa dikorbankan sebagai sesembahan kepada dewa Baal. Suku Aztek di Meksiko, mereka menyerahkan jantung dan darah manusia yang diperuntukkan kepada dewa Matahari. Bangsa Eropapun dengan suku Vikingnya di Skandinavia, mengorbankan pemuka-pemuka agama mereka untuk dewa perang Odin.

Ajaran kurban dilakukan oleh nabi Ibrahim AS, telah memberikan jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Ia diperintahkan menyembelih anaknya sebagai isyarat bahwa anak yang tercinta, belahan jiwa yang paling yang paling berharga bagi seseorang, bukanlah sesuatu yang berarti dan berharga jika Allah telah memintanya. Namun demikian, bukan manusia yang dikurbankan, karena Allah begitu cinta dan meninggikan derajat manusia. Sekaligus hal ini merupakan kritikan terhadap perilaku mengorbankan nyawa manusia.

Pengorbanan yang diperlihatkan oleh nabi Ibrahim As adalah ajakan Allah untuk melakukan pengorbanan yang humanis; sebuah pengorbanan yang tidak hanya berhubungan dengan Allah sang pencipta, tetapi juga membawa manfaat kepada manusia, bukan malah membinasakan manusia dengan alasan apapun. Kedatangan malaikat yang membawa seekor kambing sebagai ganti atas nabi Isma’il AS, jelas menegasikan bentuk pengorbanan manusia yang sudah mengakar pada saat itu.

Allahu Akbar  Allahu Akbar  Allahu Akbar wa Lillahil hamd

Hadirin Jama’ah Sholat Ied yang berbahagia

 Bisa jadi perintah Allah kepada nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan anaknya bukan perintah yang “serius”. Allah sekedar ingin menguji kepasrahan nabi Ibrahim AS dengan mengorbankan anaknya yang diidam-idamkannya selama sekian tahun. Karena itu para mufassirin ketika menafsirkan kisah ini menukilkan sebuah riwayat yang menyatakan ;

 فَأَوْحَى اللّهُ إِلَيْهِ: يَا إِبْرَاهِيْمَ لَمْ يَكُنِ اْلمُرَادُ ذَبْحَ اْلوَلَدِ، وَإِنَّمَا اْلمُرِادُ أَنْ تَرُدَّ قَلْبَكَ إِلَيْنَا، فَلَمَّا رَدَدْتَ قَلْبَكَ لِكُلِّيَّتِهِ إِلَيْنَا رَدَدْنَا وَلَدَكَ إِلَيْكَ.

Kemudian Allah mewahyukan kepada nabi Ibrahim : ”Hai Ibrahim, bukanlah maksudnya menyembelih anak, melainkan yang dimaksud kamu mengembalikan perhatian kamu sepenuhnya kepada Kami. Maka tatkala perhatian dan hatimu sudah sepenuhnya kembali kepada Kami, Kami kembalikan anakmu padamu.

Hadirin Jama’ah Sholat Ied yang berbahagia

 Maka berdasarkan pesan ini dapat ditangkap, bahwa Allah tidak pernah menginginkan daging dan darah, Allah tidak pernah meminta sesajen daging kurban, berkurban bukan pada seberapa besar hewan yang disembelih, tetapi pra-syaratnya yaitu ketaqwaan dan kepasrahannya kepada Allah SWT.

لن ينال الله لحومها ولا دمائها ولكن يناله التقوى منكم

Artinya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Hajj/22 ; 37)

Allahu Akbar  Allahu Akbar  Allahu Akbar wa Lillahil hamd

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah

 Ketiga; Memahami dan mempunyai Konep Hidup

Keberhasilan Ibrahim dan Ismail yang gemilang ini sesungguhnya tidak terlepas dari kesadaran akan makna suatu penyerahan diri dengan menyelami sangat dalam makna dari Innalillahi wa Inna ilaihi rajiun  “sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali”.

Dengan memahami makna “Innalillah” nabi Ibrahim AS menyadari bahwa walau Ismail ini adalah puteranya yang sangat ia cintai, ia tidak lebih dari hanya suatu titipan dari Allah dan bukan miliknya. Sementara itu, nabi Ismail AS menyadari pula bahwa ia tidak pernah memiliki dirinya sendiri serta apapun yang lain dalam kehidupannya. Ia tidak pernah merancang bahkan juga tidak berniat untuk lahir dan menjadi seorang anak manusia, termasuk menjadi putera Ibrahim. Ia ada karena Allah Swt, yang memungkinkan dan mengizinkannya untuk ada. Dalam pemahaman yang demikian, berarti pengurbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS dan nabi Ismail AS, hanyalah bersifat pengembalian hak Allah kepada Allah,  sebagai  aktualisasi  atas  kesadaran  mereka berdua   akan  makna Innalillahi wa Inna ilaihi rajiun  (sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali).

Dengan demikian tidak ada sesuatupun yang hilang dari keduanya, karena memang asalnya mereka tidak memiliki apapun juga tidak terhadap dirinya sendiri.

Dari pemahaman di atas, berqurban berarti menyerahkan atau menyampaikan sesuatu yang sementara merupakan milik kita kepada sang Pemberi Allah SWT, yang memang berhak atas sesuatu itu .

Untuk itulah, ketika nabi Ibrahim AS menyembelih nabi Ismail AS, dan Ismail merelakan nyawanya, tidaklah berarti nabi Ibrahim AS mengorbankan anaknya, dan nabi Ismail AS bukan mengorbankan hidupnya, akan tetapi keduanya mengembalikan hak Allah kepada Allah.

Pengembalian hak itu ditempuh nabi Ibrahim AS dengan cara melepaskan, menaklukkan dan memusnahkan kepentingan pribadinya, yaitu rasa memiliki anaknya, sementara Ismail as. menempuh dengan cara menaklukkan rasa memiliki diri sendiri.

Allahu Akbar 3x Wa lillahil Hamd

Maka dalam konteks kekininian, setiap kita adalah Ibrahim, dan setiap Ibrahim mempunyai Isma’il. Isma’il kita mungkin harta kita, gelar kita, jabatan kita atau segala sesuatu  yang kita sayangi dan kita pertahankan. Kita tidak dilarang untuk mendapatkan harta, gelar, jabatan, atau apaupun yang kita senangi yang kita jadikan sebagai Isma’il kita. Sebagaimana nabi Ibrahim AS berdasarkan riwayat di atas tidak diperintahkan untuk membunuh Isma’il. Tetapi kita hanya diperintahkan untuk membunuh rasa kepemilikan kita terhadap “isma’il-isma’il” kita yang hakekat semuanya milik Allah SWT.

Hal penting lain yang perlu dikontekstualisasikan adalah konsep “kepemilikan” anak saat ini sangat perlu diimplementasikan di tengah hiruk pikuk budaya masyarakat yang semakin tidak jelas. Ketika nabi Ibrahim dan istrinya Siti Hajar AS mengorbankan anak terkasihnya yang diidam-idamkan selama hidupnya, orang tua zaman sekarang sedikit merasa memiliki kepada anak-anaknya. Mereka hanya memiliki anak mereka secara fisik, tetapi sedikit orang tua yang peduli akan perilaku dan akhlaq anaknya. Mereka merasa sudah merasa cukup dengan menitipkan anak-anaknya di sekolah . Seolah-olah mereka melemparkan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Orang tua zaman sekarang menganggap sekolahlah yang bertanggung jawab penuh pada perubahan perilaku dan sikap anak.

Padahal tanggung jawab utama mendidik anak ada pada orang tua, sekolah hanya membantu keterbatasan yang dimiliki oleh orang tua. Anak-anak di sekolahpun tidak lebih dari 5-7 jam. Selebihnya anak-anak ada pada lingkungan keluarganya.

Maka kerjasama orang tua dan sekolah, serta penguatan nilai-nilai spiritual dan pendidikan patut dilakukan secara berkesinambungan. Pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi pendidikan harus diciptakan di manapun. Maka kewajiban mendidik bukan hanya kewajiban para guru, tetapi juga merupakan kewajiban utama orang tua.

Semangat berkurban saat kita merayakan hari raya kurban ini, sesmestinya tidak sekedar menjadi slogan belaka. Implementasi dan tekad mau berkurban harus dapat diwujudkan dalam kehidupan kita di alam dunia. Karena memang dalam mangarungi kehidupan ini, dengan status dan profesi apapun, membutuhkan pengorbanan. Maka siapa saja yang tidak mau berkurban pasti akan menjadi kurban.

Orang tua mau mengorbankan, tenaga, harta dan cinta kasihnya kepada anak-anaknya untuk mendidik mereka. Keengganan orang tua untuk mengorbankan kepada anak-anaknya bisa jadi anak akan mengorbankan orang tuanya. Na’udzubillah...

Seorang anak mau mengorbankan waktunya semata-mata untuk dimaksimalkan pada hal-hal yang bermanfaat.

Seorang pejabat mau mengorbankan keinginan nafsunya dan tidak menurutinya sebagai sebuah amanah.....

Allahu Akbar  Allahu Akbar  Allahu Akbar wa Lillahil hamd

Ma’asyirol muslimin rohimakumullah

Demikian khutbah ini disampaikan, semoga kita dapat mengambil hikmah dan menerpkan nilai-nilai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim AS, nabi Isma’il AS dan ibundanya siti Hajar AS

Senin, 08 April 2024

MEMAKNAI IDUL FITRI

 Sahabat...

Suka cita yang terkespresikan bagi ummat Islam yang merayakan Idul Fitri merupakan hal yang lumrah dan menjadi hal yang biasa kita saksikan. Kebahagiaan membuncah seolah  sebagai sebuah kemenangan atas perjuangan dan harapan. Perjuangan melawan hawa nafsu dan harapannya adalah dikukuhkannya kita sebagai manusia muttaqin.

Maka sebelumnya kita peru mengeloborasi makna fitri yang tersemat pada kata Idul Fitri  yang bisa bermakna adalah asal kejadian sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar Rum/30 : 30

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّینِ حَنِیفا فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِی فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَیۡهَاۚ لَا تَبۡدِیلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَ ٰلِكَ ٱلدِّینُ ٱلۡقَیِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ

Artinya. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

 Penyebutan dan pengucapan Idul Fitri,  mestinya mengingatkan kepada kita tentang asal kejadian; siapa saya? dari mana saya berasal ? dan ke mana saya akan berakhir.

Sejatinya manusia menyadari, bahwa asal kejadian manusia dari dua hal, yaitu ;

a. unsur tanah yang  membentuk  jasadiah dan fisik kita. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Taha : 55

مِنۡهَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ وَفِیهَا نُعِیدُكُمۡ وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ

Artinya : “dari bumi (tanah) Itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”

Tanah merupakan alam materi, bentuk fisik dan jasad. Semua ciptaan Allah yang berada di alam materi tunduk kepada hukum-hukum Allah yang terbentang di alam raya.Bukankah matahari yang begitu besarnya Allah ciptakan tidak pernah menampakkan dirinya di pagi hari dari sebelah barat? Bukankah bulan akan menampakkan dirinya secara sempurna di setiap tanggal 15 pada bulan qomariah ? Adakah api di alam dunia ini yang terasa dingin? Ketidakmungkinan itu disebabkan karena mereka tunduk kepada hukum Allah yang berada di alam raya yang disebut dengan sunnatullah

 b. unsur ruh

Ruh yang bersemaayam pada jasad manusia juga telah mengambil kesaksian untuk meng-Esa-kan Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam  QS.Al A’raf/7 : 172

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِیۤ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّیَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدۡنَاۤۚ أَن تَقُولُوا۟ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِینَ

Artinya :  “dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Maka sepatutnya saat merayaakan Idul Fitri, kita mengingat akan asal kejadian kita sehingga mengantar kita pada kesimpulan bahwa tidak sepatutnya manusia ingkar kepada Allah SWT. Tetapi persoalan keimanan adalah proses yang harus diupayakan. Keimanan tidak bersifat otomatis.Manusia bukanlah robot dan bukan benda mekanik yang ketika keluar dari pabrik dia akan langsung bekerja sesuai program yang telah dirancangnya. Manusia hanya diberikan potensi sehingga manusia bisa memilih jalan kebaikan atau keburukan pilihannya.

Wallahu A'lam

Jakarta, 28 Ramadhan 1445 H

Sabtu, 06 April 2024

HARTA DAN KEWAJIBANNYA

Sahabat...

Harta merupakan bagian dari anugrah dan ni'mat dari Allah SWT. Sepatutnya sikap yang dikedepankan saat menerima ni'mat adalah bersyukur. Artinya mampu memanfaatkan harta yang Allah SWT berikan untuk kebaikan. Karena bisa jadi seseorang yang memiliki harta, justru kufur minimal dalam pemanfaatannya. Karena sebaik-baiknya harta apabila ditangan orang yang baik pula. Rasulullah SAW bersabda :

نعم المال الصالح للرجل الصالح" .
Sebaik baik harta yang soleh adalah yang dimiliki oleh orang yang soleh. (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

Orang yg baik atau sholeh itu akan menggunakan hartanya untuk hal-hal yang positif seperti membangun masjid dan sebagainya. Begitupun sebaliknya. Karena harta termasuk bagian dari fitnah (QS. Al Anfal/8 : 28 dan  QS AT-Taghabun/64 : 15). Menyadari harta bisa menjadi sebab fitnah maka orang sholeh akan menjaga dan menunaikan kewajiban atas harta yang dimilikinya, yaitu zakat. 

Tidak sedikit orang yang lalai atas kewajiban zakat. Padahal zakat berfungsi untuk menyucikan dan menumbuhkan harta yang dimilikinya (QS. At Taubah/9 : 103). Jadi sama sekali memberikan keuntungan bagi orang yang mengeluarkan zakatnya.

Zakat merupakan bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, yang tujuannya adalah sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan memperkuat rasa persaudaraan di antara sesama Muslim. Maka baik muzakki maupun mustahik mendapatkan manfaat dari ibadah zakat. Mustahik mendapatkan manfaat atas penerimaan harta dari muzakki, dan muzakki-pun mendapatkan ketenangan karena zakat bukan hanya sekadar kewajiban finansial, tetapi juga menjadi sarana untuk membentuk masyarakat yang adil dan saling peduli.

Padahal Rasulullah SAW sudah memberikan informasi ancaman tentang orang yang enggan membayar zakat. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَة َ(وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ)
Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah -Azza wa Jalla-, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka hartanya akan berubah pada hari Kiamat menjadi seekor ular berkepala putih (kerana banyak racunnya) serta memiliki dua titik hitam di atas matanya atau dua taring, lalu memakan dengan kedua tulang rahangnya (taringnya) pada hari Kiamat, lalu menyatakan, ‘Akulah harta simpananmu, akulah harta simpananmu’.” Kemudian baginda membaca ayat ini: “Dan jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta benda yang telah dikurniakan Allah kepada mereka dari kemurahanNya, menyangka bahawa keadaan bakhilnya itu baik bagi mereka. Bahkan dia adalah buruk bagi mereka. Mereka akan dikalungkan (disiksa) dileher mereka apa yang mereka bakhilkan itu pada hari kiamat kelak.” (QS: Ali Imran: 180). (HR Bukhari)

Harta tak lain hanyalah titipan, semestinya setiap orang memahami filosofi  tukang park yang sangat gembira saat ada mobil mampir di arena parkirannya, pertanda ada rezeki yang menghampirinya. Akan tetapi, ia hanya bisa memandang dan menjaganya, atau sekedar menghantarkan atau memidahkannya, tidak lebih dari itu. Kemudian, ketika si pemilik mobil mengambil mobilnya, dengan ikhlas si tukang parkir mempersilahkannya, karena memang mobil itu bukan miliknya.

Maka ketika kita menyadari bahwa harta benda adalah titipan Allah, niscaya keengganan untuk berzakat akan tertepis dengan sedirinya. Sudah banyak bukti, kalau Allah menginginkan kembali hartaNya dari seorang hamba.

Wallahu A'lam
Jakarta, 27 Ramadhan 1445 H

Jumat, 05 April 2024

HARTA DAN FITNAH

Sahabat...

Apa yang kekal di alm dunia ini? 

Sejatinya kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang abadi. Kita yang secara nyata sebagai penghuni dunia hakekatnya sedang melakukan perjalanan, melewati titian dari satu titik kesementaraan kepada titik yang lain yang abadi, yaitu kehidupan akhirat. Dunia seumpama jalan yg harus dilalui, untuk itu jangan berhenti di tengah jalan karena akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Di tengah jalan mungkin akan dijumpai mobil dan kendaraan yang bagus dan mahal dan seolah tersenyum memanggil-manggil agar kita berhenti untuk menikmati kesenangan fatamorgana belaka. Di antara kenikmatan fatamorgana dunia adalah harta.

Harta telah menjadi norma bahkan tuhan. Harta menjadi tolok ukur dari segala-galanya. Kesopanan secara spontan bisa muncul karena harta, sebaliknya kejujuran bisa pudar juga karena harta. Ironisnya, saudara kandung bisa lupa kalau keduanya terlahir dari rahim yang sama, juga karena harta. Seorang haji juga melupakan tetesan air mata taubatnya di baitullah juga disebabkan harta. Para penerima amanah juga lupa dengan sumpahnya di bawah naungan Al-Quran, juga karena harta. Bahkan Allahpun ditipu juga karena harta. Na’uzubillah
Harta bisa mengubah segala -galanya, bahkan orang tua-pun serasa muda bila dihadapkan dengan harta sebagaimana telah diingatkan oleh Rasulullah SAW :

قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَىٰ حُبِّ اثْنَتَيْنِ : طُوْلُ الْـحَيَاةِ وَحُبُّ الْمَالِ
Hati orang yang tua renta senantiasa muda dalam mencintai dua perkara: hidup yang panjang dan cinta terhadap harta.. ( HR. Muslim)

Maka yang senantiasa sering dan terus menerus diminta manusia adalah harta (QS. Fushilat/41 : 49) sampai ketika menjelang kiamat-pun kecintaan dan keinginan manusia kepada harta semakin meningkat dan justru sebaliknya yang surut  adalah kedekatannya kepada Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan Rasulullah SAW dalam haditsnya dari Ibnu Mas'ud :

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَلَا يَزْدَادُ النَّاسُ عَلَى الدُّنْيَا إِلَّا حِرْصًا، وَلَا يَزْدَادُوْنَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا
Hari Kiamat semakin dekat, dan tidak bertambah (kemauan) manusia kepada dunia melainkan semakin rakus, dan tidak bertambah (kedekatan) mereka kepada Allâh melainkan semakin jauh. (HR. Hakim)

Maka tampaklah dari isyarat yang Rasul sampaikan, bahwa harta akan menjadi sumber kehancuran dan kehinaan seseorang. Dan seringkali seseorang ingin menggapai harta dengan menghalalkan segala malam cara dan tidak memedulikan norma dan aturan. Kolaborasi dengan berbagai macam pihak, kolusi penguasa dan pengusaha, menebar komisi di sana-sini, dan menstigmatisasi kepada sekelompok orang yang ingin menyadarkannya. Sudah hilang rasa malu mereka sehingga berbuat maksiat terang-terangan dan terus menerus. ( QS.Al Qiyamah/76 : 5) Tentu kita tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa korupsi 271 trilyun sementara masyarakat mengeluh tingginya harga kebutuhan pokok. Rasanya tidak mungkin mega korupsi itu dilakukan hanya segelintir orang, melainkan melibatkan beberapa pihak. Maka sahihlah apa yang disabdakan Rasulullah SAW :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِيْ الْـمَـالُ
Setiap ummat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah ummatku adalah harta.(HR. Imam Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Dalam hadits riwayat Imam Ibnu Bazaar, Rasulullah SAW mengingatkan :

إِنَّمَا أَهْلَكَ مَـنْ كَـانَ قَبْلَكُمُ الدِّيْنَارُ وَالدِّرْهَمُ، وَهُمَا مُهْلِكَاكُمْ
Sesungguhnya dinar dan dirham telah membinasakan orang-orang sebelum kalian dan keduanya juga membinasakan kalian. 


Wallahu A'lam
Jakarta, 26 Ramadhan 1445 H.

IBADAH = KEBUTUHAN

Sahabat.. 

Dalam kitab ايها الولد karya imam Ghozaly, dikisahkan bahwa "Allah  ingin menampakkan kepadav para malaikat terhadap hamba-NYA dari bani Israil yg sdh menyembah Allah selama 70 tahun. Allah berkata pada seorang malaikat, "Datangi hamba tersebut dan beritakan kepadanya bahwa ibadah yang dia lakukan selama ini tak  layak untuk masuk surga." Ketika info ini diterima oleh hamba Allah tersebut dia menjawab 

" نحن خلقنا للعبادة فينبغي لنا أن نعبده "

"Kita semua ini diciptakan oleh NYA semata mata untuk beribadah. Maka sudah seharusnya bagi kita untuk beribadah kepadanya"

Bagi si hamba ini urusannya adalah ibadah masuk surga atau tidak bukan tugasnya, tapi  itu kebijakan/rahmat Allah. Dan si hamba tersebut tidak bergeming tentang info malaikat tersebut, dan dia terus beribadah.

Hal tersebut sampai kepada Allah Yang Maha Tahu dan Kemudian Allah mengatakan kpd malaikat: 

إشهدوا يا ملائكتي أني قد غفرت له"

Saksikan wahai para malikat-KU. Aku teah mengampunkan dosa2 hamba-KU tsb.

Kisah tersebut memberikan penjelasan bahwasanya ibadah sesuatu yang mutlak menjadi kebutuhan hamba kepada sang Pencipta, ibadah tidak bisa dijadikan alat tukar dengan rizki, ni'mat bahkan surga sekalipun. Tidak mesti orang yang baik kualitas dan kuantitas ibadahnya berbanding lurus dengan berbagai anugerah dan ni'mat yang Allah karuniakan. Dengan ibadah hanya berharap rahmat Allah dan rahmat Allah meliputi seluruh jagad raya alam ini. Maka patut direnungkan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan :

لن ُيدخل أحدكم الجنةَ عمله,  قالوا: و لا أنت يا رسول الله، قال , و لا أنا، إلا أن يتغمدني الله برحمته

Amal seseorang tak akan membuatnya masuk surga, para sahabat yang hadir saat itu bertanya :termasuk engkau wahai Rasul ? dan beliau menjawab, iya termasuk aku, hanya saja Allah selalu menyelimutiku dengan rahmatNya.( HR Bukhary)

Setidaknya hadits ini menjelaskan 3 hal 

  1. Ajaran Rasulullah SAW tentang tawadlu’ ketika berbicara tentang amal pribadi, sehingga jangan sampai salah satu umatnya, merasa berhak masuk surga dengan ilmu dan amalnya.
  2. Hanya para nabi dan rasul yang jelas jelas ma’sum (liat kalimat ini إلا أن يتغمدني الله برحمته)
  3. Amal dan prestasi bukanlah sebuah harga yang bisa kita bayarkan untuk menebus surga.

Kalau amal kita gak bisa menjadi sebab kita ke surga, lalu untuk apa Allah memerintahkan kita dengan kewajiban ini dan itu melarang kita dengan keharaman ini dan itu? 

Allah adalah pencipta dan penguasa semesta, kita ini cuma hamba-hambaNya, Allah adalah raja kita,  sebagai budak tentu saja kita harus ikut apa yang raja dan majikan kita kehendaki.

Sekali lagi, amal dan prestasi bukan alat tukar untuk surga, penggunaan alat tukar hanya ada dalam hubungan yang sepantaran, sepadan, selevel dari kedua belah pihak, seperti kita dan teman-teman atau saudara kita.

Sedangkan hubungan kita dengan Allah adalah hubungan antara Raja dan budaknya, jadi cukup dibangun dengan ketaatan kita, masalah kita dimasukkan kesurga atau tidak itu hak sang raja. 

Itulah sebabnya yang kita andalkan adalah kasih sayang Allah, bukan mengandalkan amal ibadah kita.

Kalau begitu, amal gak perlu banyak banyak ya ?

Sesuai dengan  yang sudah kita bahas diatas, betul amal gak perlu banyak banyak. Tapi apa kita tidak ingin memberikan persembahan ke Dzat yang sedang kita harapkan cintanya ?. Bukankah itu yang kita ikrarkan setiap hari. Kalimat yang kamu ucapkan ketika shalat :

إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 

Wallahu A'lam

Jakarta, 25 Ramadhan 1445 H


Kamis, 04 April 2024

TERCIPTA UNTUK BERIBADAH

Sahabat... 
Untuk apakah kita diciptakan? 
Allah telah menegaskan dalam QS. Adz Dzariyat/51 : 56 bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah. 
Maka sejatinya ibadah merupakan kebutuhan manusia sehingga dengan ibadah ini menjadi kemuliaan bagi seseorang dan ibadah seumpama mahkota yang menjadi kebanggaan bagi seseorang di hadapan yang lainnya. Demikian yang dilukiskan Imam Ibnu Katsir  dalam tafsirnya:

هي شرف للعبد، وتاج يفتخر به أمام العالمين
Karenanya dimensi ibadah sangat luas, dan semestinya semua aktifitas kebaikan dan bernilai penting dalam kehidupan seseorang diniatkan sebagai bagian dari ibadah, bukan sekedar aktifitas rutinitas belaka. 
KH Ahsin Sakho Muhammad, sebagaimana dimuat dalam NU Online, menjelaskan bahwa ibadah terbagi menjadi beberapa macam :
Pertama, ibadah mahdlah (murni) dan ghair mahdlah (tidak murni). 
Kedua, lazimah (untuk diri sendiri ) dan muta'addiyah (dirasakan manfaatnya oleh orang lain).
Ketiga, ada ibadah yang fardlu, wajib ada yang sunnah. 
Keempat, ada yang ta'bbudi (murni ketaatan kepada Allah walau tak tak tahuhikmahnya) dan ta'aqquli (bisa dicerna hikmahnya oleh akal). 
Kelima: ada yang bersifat harian, mingguan, tahunan dan seumur hidup. Keenam, ada yang bersifat qalby-lisani, qalbi -jismani, qalbi-maaly, qalby- nafsi, qalbi - syaamil lil jami'. 
Semua bentuk ibadah itu menunjukkan bahwa Allah ingin mengatur manusia agar seluruh waktu, seluruh perilaku manusia, hendaknya dicurahkan untuk berinteraksi dengan Allah. 

Wallhu A'lam
Jakarta, 24 Ramadhan 1445 H

Selasa, 02 April 2024

AL QUR'AN BERTUTUR KISAH

 Sahabat…

Pernahkah anda membaca kisah masa lalu? Tentunya pernah. Tetapi tidak semua kejadian masa lalu menjadi kisah dan sejarah bagi seseorang. Seringkali secara subjektif manusia menetukan suatu kejadian menjadi kisah dan sejarah bagi dirinya dan mengabaikan bahkan melupakan kejadia-kejadian lain dari ingatannya. Apapun kisah dan sejarahnya, bagi peminatnya, sungguh sangat mengasikkan untuk dibaca dan dipelajari.

Al Qur’an juga memuat kisah-kisah dan sejarah masa lalu. Tentunya al Qur’an bukanlah buku sejarah tetapi memuat informasi sejarah. Dan yang tertuang dalam al Qur’an pasti benar terjadinya peristiwa itu, dan tentu saja kisah dan sejarah dalam al Qur’an bukan dongeng  belaka sebagaimana anggapan orang-orang kafir (QS. Al An’am/6 : 25)  yang dibantah Allah dalam QS. Ali Imran/3 : 62 bahkan kisa-kisah itu disampaikan dengan sangat baik (QS. Yusuf/12 : 3)

Prof. Nadirsyah menyatakan bahwa dalam al Qur’an ayat-ayat yang berisi kisah sejarah lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat hukum karena memang pada dasarnya manusia senang mendengar, membaca dan menyaksikan kisah. Di antara tujuan utama pemuatan kisah-kisah dan sejarah dalam al Qur’an sebagaimana diurai oleh Manna’  Khalil Qattan adalah untuk menampakkan kebenaran nabi Muhammad SAW tentang dakwahnya nabi-nabi terdahulu. Artinya bagaimana mungkin seseorang yag ummi yang tdak pernah berguru dapat megungkapkan sejarah masa lampau dengan sangat amat baik. Selain itu juga bertujuan untuk menyibak kebohongan ahlu kitab yang merombak dan mengubbah isi kitab mereka sendiri sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Ali Imran/3 : 93.

Dan pengungkapan kisah dan sejarah esensinya adalah ibrah pelajaran-pelajaran bagi manusia tentang banyak hal (QS. Yusuf/12 : 111) bukan sekedar kepada peristinwanya saja tetapi nilai dan hikmah yang semestinya diambil oleh setiap manusia. Karenanya mengingat begitu pentingnya makna peristiwa an sejarah itu, seringkali al Qur’an mengulang-ulang kisah peristiwa dan sejarah terebut agar pesan-pesaannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Bahkan pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi betapa besarya perhatian pada peristiwa tersebut. Demikian Manna’ Khalil Qattan menjelaskan

Wallahu A’lam

Jakarta, 23 Ramadhan 1445 H

Minggu, 31 Maret 2024

ISYARAT ILMIAH AL QUR'AN

 

Sahabat…

Pernahkah anda diajak bahkan diarahkan untuk berfikir? Maka sesungguhnya ajakan berfikir itu sangat kental dengan ajaran Islam. Melalui kitab suci al Qur’an, sejumlah ayat menyirat dan menyuratkan untuk berfikir. Sehingga dari ide dan gagasan sebagai olah pikir menghasilkan teori dan bangunan ilmu pengetahuan.

Al Qur’an sebagaimana ditegaskan Prof. Quraish Shihab, bukanlah kitab ilmiah sebagamana halnya kitab-kitab ilmiah yang dikenal selama ini. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tidak dijawab al Qur’an dengan  jawaban ilmiah jusru diarahkan kepada upaya memahami hikmah di balik kenyataan itu.

Karenanya al Qur’an diturunkan tidak hanya untuk umat Islam melainkan untuk seluruh umat manusia sebagai pedoman dan petunjuk dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, tidak dengan tangan kosong, tetapi dengan diberikan bekal yang cukup berupa indera dan akal sehingga dapat memahami tanda-tanda kebesaran Allah melalui isyarat ilmiah yang tersurat dan tersirat dalam al Qur’an sebagaimana firman Allah dalam Q.S Fushshilat/41: 53.

Tentu saja  fungsi utama al Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia baik hubungannya dengan Tuhan, manusia, maupun alam raya. Dengan begitu, yang dipaparkan al Quran tidak hanya masalah-maslah kepercayaan (akidah), hukum, ataupun pesan-pesan moral, tetapi di dalamnya terdapat petunjuk memahami rahasia-rahasia alam raya yang  merupakan isyarat ilmiah.

Isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an pada dasarnya adalah ibarat pertanyaan-pertanyaan “ilmiah” yang diajukan Allah agar manusia menggunakan akalnya untuk menjelajah sehingga menimbulkan teori dan kemajuan ilmu pengetahuan. Karena lebih cenderung memuat isyarat ilmiah maka al Qur’an mengandung prinsip-prinsip umum, artinya seseorang dapat menurunkan seluruh pengetahuan tentang perkembangan fisik dan spiritual manusia yang ingin diketahuinya dengan bantuan prinsip-prinsip tersebut. Dan kewajiban ilmuwan adalah menjelaskan rincian-rincian yang diketahui pada masanya kepada masyarakat.

Dalam sejarahnya belum pernah ada agama yang  menaruh perhatian  sangat besar dan lebih mulia terhadap ilmu kecuali Islam. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama yang lain adalah perhatiannya kepada ilmu dan ilmuwan. Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali ilmu. Oleh karena itu ilmuwan pun mendapatka perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan. al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur.

Wallahu A’lam

Jakarta, 21 Ramadahan 1445 H

Sabtu, 30 Maret 2024

KEINDAHAN BAHASA AL QUR'AN

Sahabat...

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT ketika bangsa Arab berada di puncak yang sangat tinggi dalam bidang bahasa dan sastranya, bahasa yang indah dengan berbagai norma yang ada, membuat bangsa Arab sangat membangga-banggakan bahasa dan karya sastra mereka. Kemukjizatan al-Qur’an memang tidak lain adalah untuk menundukkan kesombongan bangsa Arab atas bahasa yang mereka miliki, seakan- akan tidak ada bahasa dan karya sastra yang melebihi karya mereka dari sisi keindahannya. Oleh karena itu, al-Qur’an turun sebagai mukjizat dengan bahasa yang sangat istimewa mengalahkan keistimewaaan bahasa dan sastra Arab pada masa itu.

Ketika walid bin Mughirah seorang tokoh quraisy yang juga sastrawan diutus untuk merayu nabi Muhammad SAW agar meningggalkan da’wahnya,, dia tidak bisa berkata apa-apa ketika Rasulullah SAW membacakan QS.  Fushillat/41 : 1-5. Bahkan hatinya tertarik  dan terpesona dengan keindahan Bahasa al Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh prof.  Quraisy Syihab bahwa Bahasa al Qur’an memuaskan akal dan jiwa. Itulah yang dialami oleh Walid bin Mughirah.

Tetapi  harapan masyarakat kepada Walid begitu sangat tinggi. Sayangnya mereka kecewa karena Walid keluar dengan wajah bermuram durja yang menunjukkan kegagalan diplomasi dan misinya.  Bahkan ada yang menduga bila Walid telah berkhianat. Walid bin Mughirah-pun menjawab :

فَوَاللهِ!  مَا فِيْكُمْ رَجُلٌ أَعْلَمُ بِالأَشْعَارِ مِنِّي، وَلَا أَعْلَمُ بِرَجْزٍ وَلَا بِقَصِيْدَةٍ مِنِّي، وَلًا بِأَشْعَارِ الْجِنَّ، وَاللهِ!  مَا يُشْبِهُ الذي يَقُوْلُ شَيْئًا مِنْ هَذَا، وَوَاللهِ!  إِنَّ لَقَولُهُ الذي يَقُوْلُ حَلَاوَةً، وإِنَّ عَليْهِ لَطَلاَوَةً، وإنَّهُ لَمُثمِرٌ أَعْلَاهُ مُغْدِقٌ أَسْفَلُهُ، وإنَّهُ لَيَعْلُو وَمَا يُعْلَى، وإنه لَيَحْطِمُ مَا تَحْتَهُ

 “Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidahnya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya.”

Kegagalan Walid tidak menyurutkan kaum Quraisy untuk membungkam da’wah nabi Muhammad SAW. Karenanya mereka menyerahkan proyek tersebbut kepada anaknya Walid yaitu Khalid bin Walid. Khalid merasa tidak lebih cerdas dari nabi Muhammad SAW tetapi karena terlanjur menerima proyek tersebut, dia mengajak Musailamah untuk kolaborasi dan Musalamah pun menyanggupi untuk membuat ayat menandingi al qur’an.

Di antara contoh karya Musailamah adalah tandiingan QS. Al Fiil sebagaimana berikut:

اَلْفِيْلُ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْفِيْلُ * لَهُ زُلُوْمٌ طَوِيْلٌ

Dan Gajah. Tahukan kamu apa itugajah. Ia  memiliki perawakan yang panjang

Khalid membaca ayat-ayat tandingan Musailamah sangat kecewa dan dianggap tidak berbobot dan lebih jauh menstigmanya lebih sesat dari Muhammad.

Ini menandakan keindahan al qur’an tak tertandingi sampai kapanpun. Dan dalam konteks, alqur’an yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunian termasuk Indoesia, di antara keindahan Bahasa al Qur’an bahwa kita yang bukan orang arab merasa meni’mati membaca al Qur’an meskipun sebagian besar bacaannya belum dipahami. Bahkan membacanya berulang kali khatam. Adakah buku yang dibaca berulang-ulang selain al QUr’an ?

Wallhu A’lam

Jakarta, 20 Ramaadhan 1445 H


Jumat, 29 Maret 2024

AL QUR'AN DAN PENETAPAN HUKUM

Sahabat...

Allah menciptakan manusia yang multi kultural  ; keyakinan, warna kulit, Bahasa dan lain sebagainya yang serba berbeda. Manusia esensinya adalah makhluk sosial yang saling memerlukan antara satu dengan lainnya. Interaksinya antar satu individu dengan lainnya memerlukan sistem (tasyri’iperundang-undangan) yang mengatur dan  keadilan di antara mereka.  Untuk mewujudkan tersebut, al Qur’an telah menjelma sejak azalinya sebagai sistem (tasyri’iperundang-undangan), dan al Qur’an telah memulainya dengan pendidikan individu dengan membenamkan konsep tauhid dan membelenggu hawa nafsu dan syahwat yang inheran pada setiap indiividu agar setiap individu menjadi hamba-NYA yang ikhlas. Al-Qur’an telah memuat pokok-pokok akidah, hukum-hukum ibadah, norma-norma keutamaan dan sopan santun, undang-undang hukum ekonomi, politik, sosial dan kemasyarakatan, mengatur kehidupan keluarga dan masyarakat, dan meletakkan dasar-dasar kemanusiaan yang mulia lagi adil.

Maka output pendidikan individu itu melahirkan pribadi muslim dengan akidah yang benar. Maka ini berdampak pada si individu tersebut menerima segala syari’at/ketetapan hukum bagi dirinya  karena adanya keyakinan yang kokok bahwa setiap ibadah yang difardukan berkorelasi lurus dengan kebaikan/kesalehan individu yang menjalar menjadi kebaikan/kesalehan sosial.

Manna’ Khalil Qattan lebih jauh menjelaskan bahwa penunaian ibadah-ibadah fardu ini akan melahirkan tanggung jawab sebagai buah dan hasil pendidikan tersebut. (QS. Al Muddatsir/74 : 38 dan QS. Al Baqarah/2 : 286)

Karenanya al Qur’an tidak bisa disebanding dengan perundang-undangan lainnya, bahkan seringkali upaya diskusi dan sosialisasi atas sebuah rencana perudang-undangan gagal dan batal. Bukankah pernah ada upaya di Amerika pembuatan undang—undang pembatasan minuman keras yang disadarioleh mereka akan bahaya latennya? Namun mereka gagaal dan tetap membolehkan konsumsi kembali minuman keras. Mereka juga melarangan perceraian yang menopang ajaran agamanya, dan pada akhirnya mereka-pun membolehkan perceraian. Di Eropa-pun pernah berkumandangkan pendapat tentang perlunya poligami, sehingga sebagian kaum wanita memproses adanya undang-undang itu karena banyak di antara mereka yang telah menjadi janda tidak dapat menikah lagi, akhirnya timbul permasalahan yang mengancam masyarakat.

Hal-hal tersebut adalah bukti yang jelas atas kegagalan undang-undang dan peraturan buatan manusia, sedangkan Islam sungguh-sungguh telah membuktikan keamanan dan kedamaian serta menghapuskan kejahatan langsung dari sumbernya.

Wallahu A’lam

Jakarta, 19 Ramadhan 1445 H


Do'a Walimatus Safar

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيَهُمْ سَعْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبَهُمْ ذَنْبًا مَغْفُورًا اللهم أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي ا...