2 Ramadhan 1447 H
Kisah
Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menjalankan puasa Ramadhan
Berpuasa
merupakan suatu kewajiban umat Muslim di sepanjang Ramadhan. Tapi apakah ada yang tahu bagaimana puasa
Ramadhan pertama kali dijalani? Bagaimana seorang Rasulullah menyikapi hari
pertamanya berpuasa di Ramadhan?
Perintah melakukan puasa dikeluarkan
pertama kali saat tahun kedua Hijriah, yakni tahun 624 Masehi. Tetapi,
berpuasa bukan lain hal yang asing bagi masyarakat Arab pra-Islam. Mereka sudah
sering melakukan puasa, sehingga berpuasa tidaklah dianggap hal baru yang
merugikan.
Dilansir
dalam TRT World, Ramadhan pertama kali terjadi pada bulan Maret, di
tengah musim semi, di saat suhu di Semenanjung Arab termasuk Madinah berada
kondisi yang sejuk. Perintah berpuasa ini terjadi setelah turunnya wahyu QS
Al-Baqarah ayat 183-185 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS
Al-Baqarah:183)
Mengutip
perkataan Profesor Teologi Islam Universitas Hitit Turki, Kasif Hamdi
Okur, terlepas puasa bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Arab, tetap
saja mereka butuh waktu untuk menyesuaikan fisik dan mentalnya untuk menjalani
puasa 30 hari penuh. Sedangkan di sisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya,
mereka sudah menjalankan puasa sejak bulan Syaban di tahun kedua Hijriyah
tersebut.
Kisah
Nabi Muhammad SAW dalam menjalani puasa Ramadhan pertama kali tidaklah
mengejutkan baginya. Karena
beliau sendiri juga sudah terbiasa puasa di waktu sebelumnya. Sehingga, dari
kisah ini dapat ditiru bagaimana konsistensi menjaga keimanan yang dimiliki
Rasulullah pada ibadah berpuasa, di saat puasa sebelumnya bukanlah suatu
kewajiban.
Kisah
Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di bulan Ramadhan
Wahyu
yang pertama kali turun adalah QS. Al-Alaq ayat 1-5. Ayat ini diturunkan dan
diterima oleh Rasulullah SAW saat sedang beribadah di Gua Hira, yang terletak
sejauh 5 kilometer dari kota Makkah. Wahyu ini turun pada 17 Ramadhan 610
Masehi, yang kemudian disebut sebagai malam Nuzulul Quran. Dengan diturunkannya
wahyu pertama ini, menandakan sebuah peristiwa yang memulai peradaban Islam.
Turunnya
wahyu ini menjadikan sebuah cahaya bagi Rasulullah SAW dalam mengarahkan
masyarakat Makkah pada jalan yang benar. Nabi Muhammad dikenal sebagai
sosok yang suka merenungkan suatu hal dan senantiasa berdoa pada Allah SWT,
meminta cahaya pertolongan terhadap kaumnya. Hal ini dikarenakan, sebelum wahyu
pertama turun, kondisi moral masyarakat Makkah mengalami kemunduran yang
mengkhawatirkan.
Aisyah
Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh
Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik)
dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas bagai cuaca pagi.
Kemudian beliau jadi senang menyendiri; menyendiri di Gua Hira untuk bertahannuts (menyepi).
Beliau bertahannuts, beribadah
di sana beberapa malam, dan tak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau
membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan dibawanya pula
perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq
(kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di Gua Hira. Maka datanglah kepada
beliau malaikat dan berkata, "Bacalah!" Jawab beliau, "Aku tidak
bisa membaca." Nabi bercerita, "Lalu malaikat itu menarikku dan
memelukku erat-erat sehingga aku kesulitan."
Kemudian
ia melepaskanku dan berkata lagi, "Bacalah!" dan aku menjawab,
"Aku tidak bisa membaca." Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali
kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, "Bacalah!" Aku kembali
menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Kemudian untuk ketiga kalinya ia
menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا
لَمْ يَعْلَمْ
Sebagaimana surah Al-Alaq 1-5 berbunyi:
(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3)
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya. (QS.
al-Alaq, 96:1-5)
Karena hal itu, Rasulullah SAW pulang ke
rumah Khadijah dengan penuh ketakutan bahkan hingga tubuhnya bergetar. Beliau
berkata pada Khadijah, “Selimutilah aku!”. Segeralah si Khadijah menyelimuti
Rasulullah hingga hilang rasa takut itu.
Setelahnya, Rasulullah menceritakan apa
saja yang dialaminya pada Khadijah, ia berkata “Sesungguhnya aku mencemaskan
diriku.” Mendengarnya, Khadijah membalas, “Sama sekali tidak, Demi
Allah, Allah selamanya tak akan menghina engkau. Sesungguhnya engkaulah yang
selalu menyambung persaudaraan, menanggung orang yang kesusahan, mengusahakan
apa yang dibutuhkan, menghormati tamu dan membantu derita orang akan kebenaran”.
Lalu, Khadijah mengajak Rasulullah SAW
menemui anak dari pamannya, bernama Waraqah bin Naufal bin Asad, yang merupakan
seorang Nasrani. Ia ahli dalam Bahasa Ibrani bahkan menulis sejumlah kitab dan
Injil dalam bahasa Ibrani, walau ia buta dan sudah tua.
Sesampainya di sana, Khadijah meminta
Rasulullah bercerita pada Warawah akan kejadian di Gua Hira. Kemudian Waraqah
menimpali bahwa, “Itulah Namus (Jibril) yang diutus Allah pada Musa.
Mudah-mudahan aku masih hidup di saat engkau diusir kaummu!”
Rasulullah kembali bertanya, "Apakah
mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya, sebab setiap
orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi orang. Jadi
kelak engkau mengalami masa-masa seperti itu, dan jika aku masih hidup, aku
pasti akan menolongmu sekuat tenagaku."
Tak berselang lama setelah pertemuan itu
Waraqah meninggal dunia. Selanjutnya, Nabi Muhammad menerima wahyu secara
berlanjut selama kurang lebih 23 tahun sebagai tanda dimulainya peradaban umat
manusia, khususnya Islam.
Dari kisah satu ini, terlihat bagaimana
sifat teladan Rasulullah yang dikisahkan. Bagaimana ia begitu peduli pada
kondisi dan nasib para umatnya, hingganya ia selalu berdoa memohon petunjuk
pada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar