Kamis, 19 Februari 2026

KISAH RASULLAH DI BULAN RAMADHAN (1)

 

2 Ramadhan 1447  H

Kisah Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menjalankan puasa Ramadhan

Berpuasa merupakan suatu kewajiban umat Muslim di sepanjang Ramadhan. Tapi apakah ada yang tahu bagaimana puasa Ramadhan pertama kali dijalani? Bagaimana seorang Rasulullah menyikapi hari pertamanya berpuasa di Ramadhan?

Perintah melakukan puasa dikeluarkan pertama kali saat tahun kedua Hijriah, yakni tahun 624 Masehi. Tetapi, berpuasa bukan lain hal yang asing bagi masyarakat Arab pra-Islam. Mereka sudah sering melakukan puasa, sehingga berpuasa tidaklah dianggap hal baru yang merugikan.

Dilansir dalam TRT World, Ramadhan pertama kali terjadi pada bulan Maret, di tengah musim semi, di saat suhu di Semenanjung Arab termasuk Madinah berada kondisi yang sejuk. Perintah berpuasa ini terjadi setelah turunnya wahyu QS Al-Baqarah ayat 183-185 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah:183)

Mengutip perkataan Profesor Teologi Islam Universitas Hitit Turki, Kasif Hamdi Okur, terlepas puasa bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Arab, tetap saja mereka butuh waktu untuk menyesuaikan fisik dan mentalnya untuk menjalani puasa 30 hari penuh. Sedangkan di sisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, mereka sudah menjalankan puasa sejak bulan Syaban di tahun kedua Hijriyah tersebut.

Kisah Nabi Muhammad SAW dalam menjalani puasa Ramadhan pertama kali tidaklah mengejutkan baginya. Karena beliau sendiri juga sudah terbiasa puasa di waktu sebelumnya. Sehingga, dari kisah ini dapat ditiru bagaimana konsistensi menjaga keimanan yang dimiliki Rasulullah pada ibadah berpuasa, di saat puasa sebelumnya bukanlah suatu kewajiban.

Kisah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di bulan Ramadhan

Wahyu yang pertama kali turun adalah QS. Al-Alaq ayat 1-5. Ayat ini diturunkan dan diterima oleh Rasulullah SAW saat sedang beribadah di Gua Hira, yang terletak sejauh 5 kilometer dari kota Makkah. Wahyu ini turun pada 17 Ramadhan 610 Masehi, yang kemudian disebut sebagai malam Nuzulul Quran. Dengan diturunkannya wahyu pertama ini, menandakan sebuah peristiwa yang memulai peradaban Islam.

Turunnya wahyu ini menjadikan sebuah cahaya bagi Rasulullah SAW dalam mengarahkan masyarakat Makkah pada jalan yang benar. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang suka merenungkan suatu hal dan senantiasa berdoa pada Allah SWT, meminta cahaya pertolongan terhadap kaumnya. Hal ini dikarenakan, sebelum wahyu pertama turun, kondisi moral masyarakat Makkah mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan.

Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas bagai cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; menyendiri di Gua Hira untuk bertahannuts (menyepi).

Beliau bertahannuts, beribadah di sana beberapa malam, dan tak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan dibawanya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di Gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, "Bacalah!" Jawab beliau, "Aku tidak bisa membaca." Nabi bercerita, "Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kesulitan."

Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, "Bacalah!" dan aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, "Bacalah!" Aku kembali menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Sebagaimana surah Al-Alaq 1-5 berbunyi:

(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)

Karena hal itu, Rasulullah SAW pulang ke rumah Khadijah dengan penuh ketakutan bahkan hingga tubuhnya bergetar. Beliau berkata pada Khadijah, “Selimutilah aku!”. Segeralah si Khadijah menyelimuti Rasulullah hingga hilang rasa takut itu.

Setelahnya, Rasulullah menceritakan apa saja yang dialaminya pada Khadijah, ia berkata “Sesungguhnya aku mencemaskan diriku.” Mendengarnya, Khadijah membalas, “Sama sekali tidak, Demi Allah, Allah selamanya tak akan menghina engkau. Sesungguhnya engkaulah yang selalu menyambung persaudaraan, menanggung orang yang kesusahan, mengusahakan apa yang dibutuhkan, menghormati tamu dan membantu derita orang akan kebenaran”.

Lalu, Khadijah mengajak Rasulullah SAW menemui anak dari pamannya, bernama Waraqah bin Naufal bin Asad, yang merupakan seorang Nasrani. Ia ahli dalam Bahasa Ibrani bahkan menulis sejumlah kitab dan Injil dalam bahasa Ibrani, walau ia buta dan sudah tua.

Sesampainya di sana, Khadijah meminta Rasulullah bercerita pada Warawah akan kejadian di Gua Hira. Kemudian Waraqah menimpali bahwa, “Itulah Namus (Jibril) yang diutus Allah pada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup di saat engkau diusir kaummu!

Rasulullah kembali bertanya, "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya, sebab setiap orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi orang. Jadi kelak engkau mengalami masa-masa seperti itu, dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenagaku."

Tak berselang lama setelah pertemuan itu Waraqah meninggal dunia. Selanjutnya, Nabi Muhammad menerima wahyu secara berlanjut selama kurang lebih 23 tahun sebagai tanda dimulainya peradaban umat manusia, khususnya Islam.

Dari kisah satu ini, terlihat bagaimana sifat teladan Rasulullah yang dikisahkan. Bagaimana ia begitu peduli pada kondisi dan nasib para umatnya, hingganya ia selalu berdoa memohon petunjuk pada Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KISAH RASULLAH DI BULAN RAMADHAN (1)

  2 Ramadhan 1447   H Kisah Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menjalankan puasa Ramadhan Berpuasa merupakan suatu kewajiban umat Musli...