Kamis, 15 Januari 2026

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H

1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim
Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang mukmin dengan yang lainnya. Tanpa sholat, bangunan Islam dalam diri seseorang akan runtuh.• 
Dalil Hadits :
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ"
Pembatas antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan sholat."Rujukan: HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, No. 82.

 رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat.”(HR. Tirmidzi no. 26 

Umar bin Khattab mengatakan:
إن من أهم أمور كم عندي الصلاة. فمن حفظها حفظ الدين ومن ضيعها فهو لما سواه تدأضيع. فلا حظ فى الاسلام لمن ترك الصلاة

Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Ash-Sholah wa Hukmu Tarikiha menyatakan:
جاء في الحديث: "لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة" وكل شيء ذهب أوله فقد ذهب آخره، وإذا ذهبت صلاة المرء ذهب دينه"
Dalam hadits disebutkan: 'Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.' Segala sesuatu yang hilang awalnya, maka akan hilang pula akhirnya. Jika sholat seseorang hilang, maka hilanglah agamanya.

Imam Ghazali mengatakan:
" كل عز ليس يؤيده دين فهو ذل، وكل قدر ليس يزينة صلاة فهو نقص"
Setiap kemuliaan yang tidak didukung oleh agama adalah kehinaan, dan setiap kedudukan yang tidak dihiasi dengan sholat adalah kekurangan." 

2. Sholat sebagai Penolong dalam Menghadapi Ujian Hidup 
Dunia adalah tempat ujian. Allah SWT memberikan "alat komunikasi" khusus bagi hamba-Nya untuk meminta kekuatan, yaitu melalui kesabaran dan sholat.• 
Dalil Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ"
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."Rujukan: QS. Al-Baqarah: 153.

3. Sholat sebagai Barometer Amal di Akhirat
Kualitas hidup manusia di akhirat ditentukan oleh satu poin pemeriksaan pertama: sholatnya. Jika sholatnya baik, maka urusan lainnya akan dimudahkan.

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ"
Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka ia telah beruntung dan selamat. Jika sholatnya rusak, maka ia telah merugi."Rujukan: HR. At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi, No. 413 (Hadits Hasan).

4. Transformasi Karakter melalui Sholat
Sholat yang dilakukan dengan khusyuk akan membentuk perisai mental yang melindungi seseorang dari perbuatan buruk dan maksiat.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ"

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar."Rujukan: QS. Al-Ankabut: 45.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa menjelaskan:
فالصلاة فيها دفع للمكروه وهو الفحشاء والمنكر، وفيها تحصيل 
للمحبوب وهو ذكر الله"

Dalam sholat terkandung penolakan terhadap hal yang dibenci (yaitu kekejian dan kemungkaran), dan di dalamnya terkandung pencapaian atas apa yang dicintai (yaitu dzikrullah)."

Minggu, 21 September 2025

SAHABAT NABI TERKAYA YANG SELALU MENANGIS KARENA HARTANYA

 29 Rabi'ul Awal 1447 H

Kisah Kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf

Sahabat Nabi dikenal sebagai orang-orang mulia. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan ajaran yang dibawa Rasulullah. Mereka tidak pernah membantah apa pun perintah Nabi, karena mereka tahu bahwa perintah Nabi adalah perintah Allah pula.

Abdurrahman Bin 'Auf, salah satu sahabat Nabi yang dikenal paling kaya. Tidak ada sahabat terkaya dibanding dirinya. Di samping kaya, ia juga dinobatkan oleh Rasulullah sebagai salah satu sahabat yang dipastikan masuk surga.

Namun, meskipun ia dikenal sebagai sahabat terkaya, ia tidak pernah berfoya-foya karena hartanya. Bahkan, selalu menangis dengan harta yang dimilikinya. Ia takut jika harta yang dimiliki membuatnya berkurang dalam beribadah kepada Allah.

Pada zaman Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan separuh hartanya. Kemudian ia menyedekahkan lagi sebanyak 40.000 dinar. Namun, kekayaan yang dimiliki Abdurrahman bin Auf justru menjadi suatu kekhawatiran baginya. Bahkan, sahabat nabi ini sempat berusaha untuk menjadi orang miskin. Hal tersebut setelah ia mendengar perkataan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berkata:

Abdurrahman bin Auf akan masuk surga paling akhir karena terlalu kaya. Ia akan dihisab paling lama”.

Sahabat nabi ini tidak ingin dihisab paling lama. Ia mencoba untuk menjadi miskin supaya masuk surga lebih awal.

Suatu ketika setelah perang Tabuk, kurma yang ditinggalkan sahabat di Madinah menjadi busuk. Hal tersebut menyebabkan nilai jual kurma menurun. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Abdurrahman bin Auf. Ia membeli kurma busuk dengan harga yang normal. Tentu saja semua sahabat bersyukur karena yang awalnya berpikiran tidak laku, kini ludes dibeli oleh Abdurrahman bin Auf. Akan tetapi, usaha Abdurrahman bin Auf menjadi miskin gagal.

Abdurrahman bin ‘Auf Gagal Menjadi Miskin

Suatu ketika datang utusan dari Yaman yang sedang mencari kurma busuk. Utusan tersebut bercerita jika di negerinya sedang terserang wabah penyakit menular.

Konon yang menjadi obat penyakit menular itu adalah kurma busuk. Abdurrahman bin Auf mau tak mau menjual kurma busuk itu. Oleh utusan Raja Yaman, kurma busuk itu dibeli dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Apa yang dilakukan Abdurrahman bin ‘Auf membuat Umar bin Khattab berkata:

"Sungguh aku melihat 'Abdurrahman bin 'Auf telah berdosa. Ia telah menyumbangkan seluruh hartanya tanpa menyisakannya untuk keluarga."

Mendengar itu akhirnya Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman Bin 'Auf:

"Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"

Dengan yakin Abdurrahman menjawab,

"Ya, aku bahkan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak." jawabnya. "Berapakah jumlahnya?" tanya kembali Rasulullah.

"Sebanyak janji Allah dan Rasul-Nya, yakni berupa balasan kebaikan, pahala dan ganjaran," jawab Abdurrahman dengan ikhlasnya.

Abdurrahman Bin 'Auf dikenal sebagai orang yang dermawan kepada siapa pun. Hartanya tidak membuat dirinya jumawa. Justru, ia selalu berlinang air mata karena takut tidak akan masuk surga disebabkan kekayaan yang dimilikinya.

Dari kisah sahabat nabi tersebut terdapat hikmah yang dapat kita ambil dan bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti ketika memiliki harta yang berlimpah janganlah sombong. Sesungguhnya harta hanyalah titipan dari Allah. Dan janganlah di butakan dengan harta yang berlimpah dan selalu merasa tidak cukup.

Dalam harta yang berlimpah ada hak orang lain yang harus di bantu bahkan diberikan kepada yang tidak punya. Harta tidak bisa dibawa mati kecuali dengan sedekah yang akan mengalir terus pahalanya

Sabtu, 20 September 2025

KISAH SAHABAT YANG MEMBUAT RASULULLAH SAW MENANGIS

 28 Rabi'ul Awwal 1447 H

Kisah Abu Duljanah Yang Menjaga Keluarganya

Rasulullah SAW memiliki sahabat-sahabat yang dekat dengan beliau dengan budi pekerti yang luhur. Banyak dari sahabat Beliau SAW yang memiliki kisah yang diriwayatkan dan diturunkan hingga masa kini, salah satunya Abu Dujanah.

Nama salah satu sahabat yang memiliki kisah luar biasa adalah Abu Dujanah. Abu Dujanah sendiri terkenal sebagai seorang yang pemberani di medan perang dan selalu menjaga keluarganya dari suatu hal yang haram.

Pada zaman kenabian Rasulullah SAW, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Abu Dujanah. la seorang sahabat yang ketika selesai salat selalu langsung pulang dengan tidak membaca doa.

Ia pun tidak menunggu agar Rasulullah SAW selesai membaca doa terlebih dahulu. Perilaku Abu Dujanah ini pun kemudian dirasakan oleh Rasulullah SAW, sehingga suatu saat beliau bertanya ke Abu Dujanah.

“Apa yang menyebabkan engkau berperilaku demikian wahai Abu Dujanah?”

Abu Dujanah selanjutnya menjawab,

“Ini karena ada pohon kurma yang menjuntai di pekaranganku. Pohon ini bukan milikku. Jadi aku buru-buru membersihkannya dan kurma itu aku serahkan kepada pemiliknya, yakni tetanggaku (dikenal sebagai seorang yang munafik)”.

“Aku melakukannya tanpa sedikit pun diberi dan mengharapkan imbalan. Hal ini aku lakukan juga agar anak-anakku tidak memakan kurma tersebut karena kurma itu tidak halal untukku dan keluargaku. Tetapi, suatu ketika aku jumpai anakku sudah lebih dahulu bangun dan kulihat dia tengah memakan kurma tersebut. Oleh karena itu, aku datangi anakku dan lekas aku masukkan tanganku agar bisa mengeluarkan kurma tersebut dari mulutnya. Namun saking kencangnya, anakku menangis berlinangan air mata. Begitulah ya Rasulullah,” jelas Abu Dujanah.

Mendengar kisah itu Rasulullah SAW seketika menangis dan kemudian beliau memanggil tokoh munafik tersebut. Kepadanya, Rasulullah berkata,

“Maukah engkau jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari harga pohon kurma itu. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.”


Abu Bakar Membeli Pohon Kurma 10 x lipat

Begitu tawaran Nabi SAW Namun, lelaki yang dikenal sebagai seorang penjual yang munafik ini lantas menjawab dengan tegas,

“Aku tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Aku tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji.”

Di tengah proses itu, tiba-tiba Sayidina Abu Bakar as-Shiddiq RA datang. Ia lantas berkata,

“Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari harga kurma yang paling bagus di kota ini.”

Mendengar ini, orang munafik tersebut berkata kegirangan,

“Baiklah, aku jual pohon ini.”

Setelah sepakat, Abu Bakar segera menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah pada saat itu juga. Rasulullah SAW kemudian bersabda,

“Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Sayidina Abu Bakar merespon dengan bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah.

Si munafik berlalu. la berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi pada hari itu.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu tidaklah berpindah dan masih tetap di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu lalu buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”


Pohon Kurma Berpindah

Pada malam harinya, saat si munafik tidur terjadi peristiwa yang tak diduga. Pohon kurma yang berada di pekarangan rumah si munafik itu tiba-tiba berpindah posisi.

Pohon kurma itu kini berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik dan berpindah dengan bantuan tangan manusia ke pekarangan Abu Dujanah.

Tempat asal pohon itu tumbuh diketahui rata dengan tanah seperti tanah rata yang normal. Saat terbangun pagi harinya, si munafik keheranan.

Kisah ini dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita, yakni betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah, Abu Dujanah, menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Sesulit dan seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memakan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram.

Jumat, 19 September 2025

KISAH SEEKOR ULAR SAAT HIJRAH

 27 Rabi'ul Awwal 1447 H

Gua Tsur Tempat Bernaung Rasulullah SAW

Cerita digigit ular berbisa pernah dialami Abu Bakar RA saat menemani Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Saat itu, keduanya memutuskan berlindung di Gua Tsur untuk menghindari kejaran orang-orang Quraisy pimpinan Abu Jahal.

Letak Gua Tsur kira-kira 6 kilometer ke arah selatan dari kediaman Rasulullah saat itu, -kini Masjidil Haram-. Tinggi gunung ini kurang lebih lima ribu kaki atau 1.400 meter. Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di tempat itu selama 3 hari.

Sampai di puncak Gunung Tsur, keduanya memutuskan bersembunyi di sebuah gua. Abu Bakar RA masuk terlebih dulu ke dalam gua. Dia membersihkan gua dari kotoran-kotoran binatang juga menutup lubang-lubang agar tak ada ular berbisa masuk.

Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.

Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.


Pemeriksaan Abu Bakar RA Kondisi Gua Tsur

Saat itu di dalam gua ditemukan banyak lubang, sehingga Abu Bakar RA menutupnya dengan baju yang dikenakan. Abu Bakar RA merobek bajunya hingga hanya tersisa dua lubang di sebelah kiri. Setelah dirasa semua lubang tertutup, Abu Bakar RA memanggil Nabi Muhammad SAW untuk masuk dan beristirahat di dalam. Sayyidina Abu Bakar RA mengatakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab RA, “Aku bersumpah demi Allah bahwa kamu (Nabi) tidak akan memasuki gua sebelum aku melakukannya, karena jika ada sesuatu di dalamnya, aku akan diserang oleh itu, dan bukan kamu. "

Setelah semuanya lubang tersumbat, barulah Rasulullah SAW memasuki gua tersebut dan tampaknya Rasulullah SAW kelelahan dan tertidur tertidur. Abu Bakar tak tega melihat sang penghulu rasul itu tidur tanpa alas. Diraihnya pelan-pelan kepala sang rasul dan ditaruh di atas pangkuannya. Sementara dua telapak kakinya digunakan untuk menutup dua lubang gua agar tak dimasuki ular berbisa.

Namun ternyata, ada satu ular berbisa yang masuk ke dalam lubang dan mengigit kaki Abu Bakar. Tidak ada penjelasan jenis ular yang mengigit Abu Bakar dan kaki sebelah mana yang digigit.

Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar.
Abu Bakar r.a menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah SWT itu.


Abu Bakar RA Digigit Ular

Abu Bakar r.a menutup lubang itu dengan salah satu kakinya.lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun Dalam hening, sekujur tubuh Abu Bakar r.a terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya. Abu Bakar r.a tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah saw yang tengah berbaring.

Rasulullah SAW terbangun dan berkata;

“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” “Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar r.a. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah SAW dengan bersahaja. “Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah SAW, dan bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku”.

Lalu Nabi Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu:

” Wahai ular apakah Kamu tidak tahu ? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?”


Rindu sang Ular Kepada Rasulullah SAW

Dialog Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

“Ya…hamba mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT mengatakan :‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga firdaus,” kata sang ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut sang ular.

Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam:

“Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur.

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari gua Tsur-pun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan rindu.

Selanjutnya tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar r.a. Dengan mengagungkan nama Allah SWT Sang pencipta semesta, Nabi Muhammad SAW mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah SWT, seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.

Kamis, 18 September 2025

AZAB BAGI PENYIKSA SAHABAT

 26 Rab'iul Awwal 1447 H


Kesabaran Khabbab bin Arats

Khabbab bin Arats adalah seorang pandai besi yang ahli membuat persenjataan, terutama pedang. Senjata yang dibuatnya kemudian dijual kepada penduduk Makkah. Karena keunggulan kualitas, produknya itu laku di pasaran dan namanya pun kian berkibar.

Sejak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Khabbab mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara orang-orang yang tersiksa dan teraniaya. Walau pun miskin, dirinya berani menghadapi kesombongan dan kesewenangan kaum Quraisy.

Karena itu, banyak sejarawan memandangnya sebagai seorang perintis syiar Islam, khususnya pada fase dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah. Sya’bi berkata, "Khabbab menunjukkan ketabahannya, hingga tak sedikit pun hatinya terpengaruh oleh tindakan biadab orang-orang kafir."

Kafir Quraisy kian menggila. Suatu hari, mereka menjarah rumah Khabbab dan mengambil semua besi dari sana. Kemudian, orang-orang itu mengikat sang pemilik rumah pada sebuah tiang.

Besi-besi yang mereka jarah lantas dimasukkan ke dalam api yang menyala. Tanpa rasa perikemanusiaan sedikit pun, besi yang panas itu kemudian ditempelkan pada tubuh, tangan dan kaki Khabbab.

Mengadu Kepada Rasulullah SAW untuk Memohon Pertolongan Allah SWT

Kejadian itu merupakan teror baginya. Beberapa hari kemudian, ia bersama kawan-kawannya sependeritaan menemui Rasulullah SAW. Bukan lantaran kecewa atas pengorbanan, melainkan mengharapkan keselamatan.

Mereka berkata : "Wahai Rasulullah, tidakkah Tuan hendak memintakan pertolongan bagi kami?"

Rasulullah SAW pun duduk, mukanya jadi merah, lalu sabdanya:

"Dulu sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya."

Beliau juga menjanjikan, Islam akan berjaya hingga kelak suatu hari orang-orang Arab tidak akan mengganggu satu sama lainnya. Mereka hanya takut kepada Allah SWT. "Sehingga setiap pengembara yang bepergian dengan aman dari Sana'a Hadhramaut (dapat menuju Makkah)."

Khabbab dengan kawan-kawannya mendengarkan kata-kata itu, bertambahlah keimanan dan keteguhan hati mereka. Dan masing-masing berikrar akan membuktikan kepada Allah dan Rasul-Nya hal yang diharapkan dari mereka, ialah ketabahan, kesabaran dan pengorbanan.

 

Khabbab menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal.

Demikianlah, Khabbab menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal. Orang-orang Quraisy terpaksa meminta bantuan Ummi Anmar, yakni bekas majikan Khabbab yang telah membebaskannya dari perbudakan. Wanita tersebut akhirnya turun tangan dan turut mengambil bagian dalam menyiksa dan menderanya.

Dalam penyiksaan terhadap Khabbab kali ini, wanita tersebut mengambil besi panas yang menyala, lalu menaruhnya di atas kepala dan ubun-ubun orang Muslim tersebut. Tentu saja, sahabat Nabi SAW ini kesakitan, tetapi sengaja menahan nafasnya karena tidak ingin suara erangannya menjadi penyebab para algojo tersebut puas dan gembira.

Pada suatu hari Rasulullah SAW lewat di hadapannya, sedang besi yang membara di atas kepalanya membakar dan menghanguskannya. Hingga kalbu Rasulullah pun bagaikan terangkat karena pilu dan iba hati. Beliau berdoa, "Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab!"

 

Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab!

Dan kehendak Allah pun berlakulah, selang beberapa hari, Ummi Anmar menerima hukuman qishas. Seolah-olah hendak dijadikan peringatan oleh Yang Maha Kuasa baik bagi dirinya maupun bagi algojo-algojo lainnya. Ia diserang oleh semacam penyakit panas yang aneh dan mengerikan. Menurut keterangan ahli sejarah ia melolong seperti anjing.

Dan orang memberi nasihat bahwa satu-satunya jalan atau obat yang dapat menyembuhkannya ialah menyeterika kepalanya dengan besi menyala. Demikianlah, kepalanya yang angkuh itu menjadi sasaran besi panas, yang disetrikakan orang kepadanya tiap pagi dan petang.

Jika orang-orang Quraisy hendak mematahkan keimanan dengan siksa, maka orang-orang beriman mengatasi siksaan itu dengan pengorbanan. Dan Khabbab adalah salah seorang yang terpilih. Boleh dikata seluruh waktu dan masa hidupnya dibaktikannya untuk agama yang panji-panjinya mulai berkibar.

Dalam masa kerasnya intimidasi yang dilakukan kafir Quraisy, Muslimin tetap teguh beriman. Mereka pun terus melangsungkan majelis-majelis ilmu, termasuk membahas ayat-ayat Alquran yang turun kepada Nabi SAW. Khabbab ikut dalam halakah ini. Di antara para sahabat, ia tergolong fasih dalam mengaji. 

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan mengenai dirinya, bahwa Rasuiullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa ingin membaca Alquran tepat sebagaimana diturunkan, hendaklah ia meniru bacaan Ibnu Ummi Abdin (Khabbab bin Arats)!"

Khabbab adalah sosok yang mengajarkan Alquran kepada Fatimah binti Khatthab dan suaminya Sa’id bin Zaid ketika keduanya dipergoki oleh Umar bin Khatthab. Begitu mendengar ayat-ayat Alquran dibacakan, tenanglah hati Umar dan bahkan lelaki dari Bani Adi ini bersegera menyatakan iman dan Islam di hadapan Rasulullah SAW.


Rabu, 17 September 2025

KARAMAH PARA SAHABAT

25 Rabi'ul Awwal 1447 H

Kisah Sahabat Nabi yang Mulutnya Keluar Cahaya

Kisah ini sejatinya diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Ia bercerita, saat itu, Rasulullah SAW mengirim pasukan untuk menyerang suatu kaum yang memusuhi kaum muslimin.

Ketika Rasulullah tidak mendapatkan berita perkembangan keadaan pasukannya tersebut, lalu beliau bersabda, "Andaikan ada orang yang dapat mencari kabar tentang mereka dan memberitahukannya kepada kami."

Beberapa saat kemudian datanglah seseorang dan mengabarkan bahwa muslim utusan beliau telah meraih kemenangan dalam penyerangan itu. Setelahnya, saat pasukan kaum muslimin pulang dari peperangan menuju Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat menyambut mereka di dekat Madinah.

Sesampai dekat Madinah, pemimpin pasukan, Zaid bin Haritsah turun dari untanya dan mencium tangan Rasulullah. Rasulullah SAW kemudian merangkul dan seraya mencium kepalanya.

Lalu, Zaid diikuti oleh Abdullah bin Rawahah dan Qois bin Ashim. Nabi Muhammad SAW merangkul mereka berdua.

Selanjutnya, seluruh pasukan berkumpul di depan Rasulullah SAW. Mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dan beliau menjawab salam mereka. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Ceritakanlah apa yang terjadi selama bepergian kepada saudara-saudara kalian yang berada di sini, agar Aku memberikan kesaksian dari apa-apa yang kalian ucapkan, karena Jibril telah memberitahukan kepadaku tentang kebenaran yang kalian ucapkan."

Salah seorang pasukan kemudian menjawab, "Ya Rasulullah, ketika kami berada di dekat pasukan lawan, kami mengutus seorang mata-mata dari pihak mereka agar memberitahukan kepada pasukan kami mengenai kondisi dan jumlah mereka. Kemudian mata-mata tersebut menemui kami dan berkata, 'Jumlah mereka seribu orang', sedangkan jumlah kami dua ribu orang."Namun yang seribu pasukan lawan itu hanya menunggu di luar benteng kota. Sedangkan yang tiga ribu menunggu di jantung kota. Mereka sengaja menggunakan tipu daya dengan berbohong bahwa kekuatan mereka hanya seribu tentara supaya kami berani melawan mereka dan memenangkan pertempuran."

Cerita itu pun berlanjut, pasukan musuh di dalam kota kemudian menutup pintu gerbangnya, pasukan muslim kemudian menanti di luar. Ketika malam telah tiba, mereka tiba-tiba membuka pintu gerbang di kala pasukan muslim lelap tidur.

Namun, hal itu terkecuali Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah, Qatadah bin Nu'man, dan Qois bin Ashim yang sedang sibuk mengerjakan salat malam dan membaca Al-Qur'an di empat sudut perkemahan.

Di dalam kondisi yang gelap gulita itu, para musuh menyerang kaum muslim dan mereka menghujani mereka dengan panah hingga mereka tidak mampu menghalau karena gelapnya malam. Di tengah kekacauan tersebut, tiba-tiba kaum muslim tersebut melihat cahaya yang datangnya dari pembaca Al-Qur'an.

Cahaya seperti api mereka saksikan keluar dari mulut Qais bin Ashim, dan keluar cahaya seperti bintang kejora keluar dari mulut Qatadah bin Nu'man. Lalu, dari mulut Abdullah bin Rawahah keluar sinar seperti cahaya rembulan dan keluar sinar seperti cahaya Matahari dari mulut zaid bin Haritsah.

Keempat cahaya itulah yang menerangi muslim dan membuat gelapnya malam berubah seperti hari masih siang. Akan tetapi musuh kaum muslim tetap melihat seakan masih dalam keadaan kegelapan.

Sang panglima perang, Zaid bin Haritsah, kemudian memimpin pasukan muslim memasuki daerah lawan. Pasukan muslim dapat mengepung, membunuh sebagian mereka dan menawan mereka. Selanjutnya mereka mampu memasuki jantung kota dan mengumpulkan ghanimah perang."Wahai Rasulullah, yang membuat kami sangat heran adalah cahaya yang keluar dari keempat sahabat tersebut, dan kami tidak melihatnya sebelumnya. Cahaya dari mulut mereka itu mampu menerangi kami sehingga kami menang dan menebarkan kegelapan bagi musuh-musuh." terang salah satu pasukan itu.

Begitulah kisah sahabat nabi yang mulutnya keluar cahaya yang diduga karena keempat sahabat tersebut adalah pembaca Al-Qur'an yang taat beribadah kepada Allah SWT. Wallahua'lam.

 


Selasa, 16 September 2025

SAHABAT YANG DIMANDIKAN MALAIKAT

 24 Rabi'ul Awwal 1447 H

Kisah Heroik Hanzalah

Pasca Perang Badr, kota Mekah diselimuti bara dendam. Kaum Quraisy menelan kekalahan pahit. Para pemimpin dan bangsawan mereka tewas di tangan kaum Muslimin. Kebencian ini membakar hati mereka, memicu keinginan kuat untuk menuntut balas. Untuk menjaga semangat juang, para pemimpin Quraisy membuat kebijakan tak biasa. Mereka melarang penduduk Mekah meratapi korban Perang Badr. Mereka juga menunda penebusan para tawanan perang. Semua itu dilakukan agar kaum Muslimin tidak melihat kesedihan dan kerapuhan mereka.

Di tengah suasana tegang inilah, seorang pemuda mulia bernama Hanzhalah bin Abu Amir tampil sebagai teladan. Ironisnya, ayahnya, Abu Amir, adalah seorang pemuka masyarakat yang menentang Rasulullah. Ia bahkan mendapat julukan sebagai “Si Fasik” karena permusuhannya terhadap Islam. Namun, Hanzhalah memilih jalan yang berbeda. Ia memeluk Islam dengan tulus dan menjadi pembela Rasulullah yang setia.

Meski terlahir dari seorang pendeta, Hanzhalah ternyata diberikan hidayah dan menyatakan diri menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Keislamannya pun diketahui oleh keluarga Hanzhalah. Meskipun ayah dan keluarganya membenci keputusan Hanzhalah, ia tidak peduli. Menurut Hanzhalah, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW di atas kecintaan kepada keluarga.

 

Panggilan Jihad di Malam Pengantin

Kisah Hanzhalah mencapai puncaknya menjelang Perang Uhud. Ia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul. Malam itu adalah malam pertamanya sebagai seorang suami. Hanzhalah masih dalam dekapan hangat istrinya saat seruan jihad menggema. Panggilan untuk membela Islam di medan Perang Uhud telah tiba.

Malam menjelang keberangkatan pasukan Muslim ke Uhud, Nabi Muhammad SAW mengizinkan Hanzhalah untuk pulang menemui isrrinya. Beliau paham betul, sebagai pengantin baru tentu gejolak kerinduan dan syahwat selalu muncul. Nabi Muhammad SAW turut tersenyum dengan mendengar Hanzhalah meminta izin untuk menemui istrinya.

Statusnya sebagai seorang pemuda yang baru menikah, ternyata tidak menghalangnya untuk pergi berjihad.

Tanpa keraguan sedikit pun, Hanzhalah membuat keputusan besar. Ia melepaskan pelukan istrinya. Cintanya pada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih besar dari kebahagiaan duniawi yang baru saja ia cicipi. Dalam keadaan junub, tanpa sempat bersuci, ia langsung menyambar pedangnya. Ia berlari menyambut panggilan jihad, bergabung dengan pasukan Muslimin yang bergerak menuju Uhud. Pengorbanannya menunjukkan tingkat keimanan yang luar biasa.

 

Keberanian di Medan Uhud Hingga Syahid

Di medan pertempuran, Hanzhalah bertarung dengan gagah berani. Semangatnya membakar, membuat gentar siapapun yang berhadapan dengannya. Ia terus menerobos barisan pertahanan musuh dengan satu tujuan. Ia ingin mencapai komandan tertinggi pasukan musyrikin, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah rupanya tak kalah berani dengan Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali in Abi Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya. Berkat keberaniannya itu pula, pasukan Muslim berhasil mendekati pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah dengan gagah berani menyabetkan pedangnya ke kaki kuda yang dinaiki oleh Abu Sufyan, sehingga ia pun terjatuh.

Usahanya nyaris berhasil. Hanzhalah mampu mendesak Abu Sufyan dan hampir saja menebasnya. Kemenangan strategis ini sudah di depan mata. Namun, seorang prajurit musyrik bernama Syaddad bin Al-Aswad melihat kejadian itu. Dengan cepat, ia bergerak dari belakang dan menikam Hanzhalah. Seketika, pahlawan pemberani itu pun gugur sebagai syahid. Jiwanya terbang menghadap Sang Pencipta dengan kemuliaan.

Keajaiban Setelah Pertempuran Usai

Perang Uhud berakhir dengan luka mendalam bagi kaum Muslimin. Saat mereka mulai mengumpulkan jasad para syuhada untuk dimakamkan, mereka menyadari sesuatu. Usungan jenazah Hanzhalah tidak dapat ditemukan. Para sahabat mencarinya ke seluruh penjuru medan perang.

Setelah pencarian yang teliti, mereka akhirnya menemukan jasadnya. Jasad Hanzhalah terbaring di atas sebuah gundukan tanah. Ada sebuah keanehan yang membuat para sahabat terheran. Tubuhnya basah kuyup, seolah baru saja dimandikan. Padahal, saat itu tidak ada hujan dan sumber air pun jauh. Dari rambutnya, air segar masih menetes membasahi tanah di sekitarnya.

Para sahabat melaporkan kejadian aneh ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau kemudian memberitakan sebuah kabar agung dari langit. Rasulullah menjelaskan bahwa para malaikat telah turun untuk memandikan jasad Hanzhalah. Untuk memastikan penyebab kemuliaan ini, Rasulullah bersabda, “Tanyakan kepada keluarganya, ada apa dengan dirinya?”

Para sahabat segera mendatangi istri Hanzhalah. Sang istri kemudian menceritakan keadaan suaminya. Ia menjelaskan bahwa Hanzhalah berangkat ke medan perang dalam keadaan junub. Ia bergegas memenuhi panggilan jihad sebelum sempat mandi wajib. Dari peristiwa inilah, Hanzhalah bin Abu Amir mendapatkan gelar kehormatan abadi, Ghasilil Malaikat, yang berarti “Orang yang Dimandikan oleh Malaikat”. Kisahnya menjadi bukti bahwa niat tulus dan pengorbanan tertinggi di jalan Allah akan selalu mendapatkan balasan yang mulia. Wallahu ta’ala a’lam.

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...