Kamis, 05 Maret 2026

BERKAH RAMADHAN BAGI BANGSA INDONESIA

16 Ramadhan 1447 H

Kita tahu bahwa Indonesia merdeka dari penjajah pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.    Momentum tersebut diingat, dicatat dan disebarluaskan kepada seluruh rakyat Indonesia dan generasi mendatang, seperti di sekolah, kuliah umum, dan berbagai forum diskusi.    Semua orang akan mengetahui dan sangat hapal tentang tanggal kemerdekaan Indonesia secara kalender Masehi. Akan tetapi banyak masyarakat Indonesia, khususnya yang Muslim tidak paham momentum kemerdekaan Indonesia terjadi pada tanggal Hijriyahnya.   

Jika kita membaca sejarah, maka momentum kemerdekaan Indonesia terjadi pada hari Jumat tanggal 9 Ramadhan 1334 H. Hal ini sama dengan puasa Ramadhan tahun ini yang tanggal sembilannya bertepatan dengan hari Jumat. Sehingga secara Hijriyah hari ini merupakan hari ulang tahun Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan  

Sejarah mencatat, seluruh komponen pejuang kemerdekaan Indonesia tidak ingin melepaskan diri dari peran para ulama di pesantren. Hal ini dibuktikan ketika para pejuang nasionalis seperti Bung Karno, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain-lain senantiasa sowan ke KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.   Meminta nasihat, saran, dan masukan para kiai bagi para pejuang merupakan hal penting karena segala sesuatunya tidak terlepas dari rahmat dan ridho Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah. Hal ini relevan dilakukan karena para ulama merupakan manusia yang paling dekat dengan Tuhannya.   Meminta nasihat terjadi ketika Bung Karno, dan kawan-kawan hendak memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Tiga bulan sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan kepada Kiai Hasyim Asy’ari.   Kiai Hasyim Asy’ari memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada bulan Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhur (penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Pemilihan tanggal 17 Agustus rupanya sudah juga menjadi pikiran Soekarno. Bung Karno menuturkan bahwa sejak dari Saigon, sudah merencanakan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 karena diyakini 17 merupakan angka keramat. Al- Qur’an diturunkan pada 17 Ramadan. Shalat Seharinya terdiri dari 17 Rakaat, dan diplihnya hari yang mulia, Jumat (Api sejarah 2).

Proklamasi kemerdekaan Indonesia telah melalui proses yang panjang dan berdarah-darah dari seluruh elemen bangsa. Selain pertempuran militer dengan pihak penjajah, para pejuang seperti Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahid Hasyim, KH Wahab Chasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya juga melakukan langkah diplomasi. Diplomasi tersebut tidak hanya berhenti di tataran dalam negeri, tetapi juga luar negeri sehingga kemerdekaan Indonesia kala itu langsung mendapat dukungan banyak negara di dunia.   Diplomasi luar negeri dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari sendiri dengan melakukan korespondensi dengan Syekh Al-Amin Al-Husaini. Saat itu, janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini.  

Sampai pada 3 Oktober 1944, Choirul Anam (Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 1985) mencatat, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang ketika itu juga menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.   Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.  

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.   Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944.   KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso tersebut.  

Catatan sejarah tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari sisi diplomasi internasional. Selain itu, Kiai Hasyim dibantu para kiai lain juga menyiapkan pasukan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mengantisipasi kemungkinan perang pasca kemerdekaan diproklamirkan.   Kemungkinan tersebut terjadi, sebab tentara NICA Belanda yang menumpang sekutu hendak kembali menguasai Indonesia setelah Jepang takluk kepada tentara sekutu. 10 November 1945 di Surabaya merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, di mana para santri dan seluruh rakyat Indonesia berhasil menumpas agresi militer Belanda II sehingga mampu mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan. 

Dari sejarah di atas kita tahu, spirit perjuangan para santri, kiai dalam kemerdekaan Indonesia sangat berkontribusi bahkan pada momentum intinya. Sehingga sejarah seperti ini layak diceritakan terus menerus kepada generasi-generasi muda khususnya umat Islam, agar mereka mengetahui dan meneladani para tokoh bangsa, kiai, santri dan alim ulama. 

Rabu, 04 Maret 2026

KHASIAT BUAH KURMA

15 Ramadhan 1447 H

Kurma merupakan buah yang banyak dicari masyarakat Indonesia saat bulan Ramadan. Selain karena memiliki banyak manfaat kesehatan, kurma memiliki posisi istimewa dalam agama Islam.

Buah ini kerap disebut di dalam Al-Quran dan juga disebut sebagai kudapan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk berbuka puasa.

Adapun satu kebiasaan Nabi Muhammad SAW adalah berbuka dengan kurma dengan jumlah yang ganjil. Hal ini bahkan sampai dijadikan sebagai sunnah. Karena itu ada beberapa anjuran dan manfaat mengkonsumsi buha kurma

1. Bilangan Ganjil Kecintaan Rasulullah

Al-Munawi dalam kitabnya Faidlul Qadîr menyebutkan bahwa Rasulullah memakan tujuh butir kurma yaitu karena kecintaan beliau kepada bilangan yang ganjil dalam segala urusan.

 Rasulullah pernah melakukannya saat berbuka puasa ataupun hendak berangkat salat Idul Fitri.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan dikutip oleh At-Tabrizi (Muhammad bin Abdullah At-Tabrizi, Misykâtul Mashâbîh, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, 1979), menyebutkan bahwa:

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ وَقَالَ مُرَجَّأُ بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

 Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat shalat pada hari raya Iedul Fithri, sehingga beliau makan beberapa buah kurma”. Murajja bin Raja mengatakan : “Ubaidillah pernah memberitahukan kepadaku, dimana ia menceritakan, Anas bin Malik pernah memberitahukan kepadaku, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan kurma itu dalam jumlah yang ganjil” (HR Al-Bukhari dan Ibnu Majah)

2.      Dipercaya Dijauhkan dari Terkena Racun ataupun Sihir

Keutamaan makan kurma dalam jumlah ganjil juga dijelaskan dalam hadits shahih Bukhori dan Muslim. Diriwayatkan dari Shahabat Sa'ad bin Abi Waqqash, dari Rasulullah SAW beliau pernah bersabda:

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

"Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir."

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullaah menukilkan omongan Imam Al-Khathabi mengenai keistimewaan kurma ajwa:

"Kurma ajwa bermanfaat untuk mencegah racun dan sihir dikarenakan do'a keberkahan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap kurma Madinah bukan karena dzat kurma itu sendiri."

 Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

اَلْعَجْوَةُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَهِيَ شِفَاءٌ مِنَ السُّمِّ

"Kurma ajwa itu berasal dari Surga, ia adalah obat dari racun." (HR Ibnu Majah dari Sahabat Jabir bin Abdillah dan Abi Sa'id)

 Menurut Najamuddin dalam buku yang berjudul Mukjizat Makanan & Minuman Kesukaan Rasulullah, jumlah tujuh kurma memiliki berat sekitar 100 gram. Dalam 100 gram kurma, terkandung beberapa zat gizi yang penting untuk tubuh, yaitu:

·           Gula: 75,00 gram
·           Serat selulosa: 4,00 gram
·           Air: 22,50 gram
·           Protein: 2,50 gram
·           Lemak: 2,50 gram
·           Vitamin A: 60 IU
·           Vitamin B-1: 0,08 miligram
·           Vitamin B-2: 0,05 miligram

3.     Memiliki Efek Baik bagi Tubuh

Beberapa hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa makan kurma dalam jumlah ganjil atau genap mampu memberi efek berbeda pada tubuh.

Ada penelitian medis yang menerangkan bahwa mengkonsumsi buah kurma dalam bilangan genap misalnya 2, 4, 6, 8, dan seterusnya, mampu menghasilkan gula dalam darah dan potassium tanpa memberi banyak energi. Berbeda jika dimakan dalam jumlah ganjil.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Musthafa Mohamed Essa, Ph.D menerangkan kurma melindungi otak dari stres oksidatif dan peradangan. "Buah kurma adalah sumber serat makanan yang baik dan kaya fenolat total dan antioksidan alami, seperti anthocyanin, asam ferulat, asam protocatechuic, dan asam caffeic. Keberadaan senyawa polifenol ini dapat membantu dalam pengobatan penyakit Alzheimer," terangnya.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Rock W. menyimpulkan kurma mempunyai efek menguntungkan pada asam lemak jenuh dan stres oksidatif. Ini sering dikaitkan dengan masalah jantung, dan berpotensi untuk mencegah atherogenesis yang mengarah ke penyakit kardiovaskular.

"Kurma kaya berbagai phytochemical yang juga membantu mencegah penyakit jantung. Selanjutnya, kurma juga merupakan sumber potasium yang kaya. Terbukti kurma dapat mengurangi risiko stroke dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan jantung," kata Rock.

Dari beberapa penelitian tadi, bisa disebut bahwa dengan mengkonsumsi kurma dalam jumlah ganjil, tubuh bisa mengubahnya menjadi karbohidrat. Di mana, manfaat dari hal tersebut bisa menambah energi dalam tubuh dan mengembalikan stamina.

Makanya saat berbuka puasa, dianjurkan berbuka dengan kurma karena bisa jadi solusi untuk mendongkrak energi secara instan, setelah seharian berpuasa.

Walaupun Rasulullah memakan kurma dengan jumlah ganjil, bukan berarti kita tidak boleh memakan kurma berjumlah genap.

Di samping sebagai sunah Rasulullah SAW yang bisa menjadi amal ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar, buah kurma juga memiliki manfaat untuk kesehatan.


Sumber :https://www.detik.com/jabar/kuliner/d-7222407/kenapa-makan-kurma-sebaiknya-berjumlah-ganjil-ini-dalilnya.



Selasa, 03 Maret 2026

RAMADHAN DAN PERANG BADAR; KETIKA KEIMANAN BERBUAH KEMENANGAN

 14 Ramadhan 1447


Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk serta meningkatkan keimanan kepada Allah Swt. Selain sebagai bulan penuh ibadah, Ramadhan juga menyimpan banyak peristiwa bersejarah yang penuh hikmah, salah satunya adalah Perang Badar Kubra, yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriah. Perang Badar merupakan pertempuran antara kaum Muslimin dan kaum Musyrikin Quraisy.

Awalnya, Rasulullah Saw. mengutus beberapa sahabat untuk menghadang rombongan kafilah dagang Quraisy yang kembali dari Syam menuju Makkah dengan membawa harta benda berlimpah. Tujuan utamanya bukan untuk berperang, melainkan untuk melindungi kepentingan kaum Muslimin yang sebelumnya mengalami tekanan dan perampasan harta oleh Quraisy. Namun, kafilah yang dipimpin Abu Sufyan berhasil lolos setelah mengirim utusan ke Quraisy untuk meminta bantuan. Menanggapi permintaan tersebut, kaum Quraisy mengerahkan pasukan besar berjumlah sekitar 1.000 prajurit, dengan 600 di antaranya mengenakan baju besi, 100 pasukan berkuda, dan 700 ekor unta. Mereka bahkan membawa penyanyi yang bertugas menabuh rebana serta menyanyikan lagu-lagu hinaan terhadap pasukan Muslim.

Di sisi lain, kaum Muslimin hanya berjumlah 313 atau 314 orang, sebagian besar dari kalangan Anshar. Mereka hanya memiliki sekitar 70 ekor unta dan dua hingga tiga ekor kuda. Karena keterbatasan jumlah tunggangan, Rasulullah Saw. menggilir para sahabat untuk menaiki unta secara bergantian. Sebelum memasuki medan perang, Nabi Muhammad Saw. terlebih dahulu meminta pendapat para sahabat, terutama dari kaum Anshar, mengenai kesiapan mereka untuk bertempur. Kaum Muhajirin pun menyampaikan dukungan penuh kepada Rasulullah dengan semangat dan keyakinan yang kuat Baca Juga Amalan yang Bisa Dilakukan Perempuan Haid di Bulan Ramadhan Rasulullah Saw. bersama pasukannya lalu berjalan sampai sumber air terdekat dari Badar dan berhenti di sana.

Al-Habbab bin Al-Mundzir berkata, "Wahai Rasulullah, apakah ini wahyu yang Allah turunkan kepadamu agar engkau jangan maju dan mundur darinya (berdiam di tempat), atau sekadar pendapat, siasat perang, dan strategi?"

Rasulullah Saw. menjawab, "Tidak, ini adalah sekadar pendapat, siasat perang, dan strategi." 

Al-Habbab bin Al-Mundzir memberi masukan agar Nabi saw (beserta pasukan) berjalan ke tempat lain yang lebih strategis dan lebih memungkinkan bagi kaum Muslim untuk memutus sumber mata air Badar dari kaum kafir. Setelah itu, Rasulullah bersama sahabat bangkit menuju tempat yang ditunjukkan Al-Habbab. Mereka bermukim di sana. Sa'd bin Mu'adz kemudian menyarankan agar didirikan arisy (sejenis tenda) bagi Rasulullah Saw. di belakang barisan pasukan Muslim. Apabila Allah meluhurkan mereka maka hal inilah yang beliau inginkan. Bila tidak, beliau duduk di atas kendaraan dan bertemu dengan orang-orang di Madinah. 

Ketika dua pasukan tempur itu akan bertempur, Rasulullah segera menyiapkan barisan Muslimin sambil mendorong mereka untuk bertempur dan menanamkan kecintaan mati syahid. Beliau bersabda,

"Demi Dzat yang diriku ada pada genggaman-Nya, pada hari ini, tidak seorang pun berjuang melawan mereka (kafir Quraisy), lalu ia gugur dalam kondisi sabar dan mengharap rida Allah serta pantang mundur, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga.

Setelah itu, Rasulullah Saw. kembali ke tenda bersama Abu Bakar, sedang Sa'd bin Mu'adz mengawal beliau dengan pedang terhunus. Rasulullah Saw. mulai berdoa. Di antara doanya,

Ya Allah, aku mengingatkan kekuasaan dan janji-Mu; Ya Allah, jika Engkau binasakan golongan ini (kaum mukmin yang bertempur), Engkau tidak akan disembah di bumi

Nabi bersujud begitu lama, sampai Abu Bakar berkata,

"Cukup Rasulullah, sungguh Allah akan memenuhi janji-Nya."

Tak lama kemudian, pertempuran berjalan dengan panasnya dan berakhir dengan kemenangan di pihak kaum Muslimin.  Dari pihak musyrikin terbunuh sekitar 70 orang. Di antara korban itu terdapat para pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal dan 70 orang lainnya menjadi tawanan perang. Rasulullah memerintahkan untuk menguburkan seluruh prajurit yang gugur, lalu beliau kembali ke Madinah.  Beberapa sahabat memberi saran perihal tawanan perang Umar menyarankan agar seluruh tawanan perang dibunuh. Sedang Abu Bakar berpendapat supaya mereka dibebaskan dengan membayar tebusan. Rasulullah menerima saran Abu Bakar. Akhirnya, kaum musyrik harus menebus tawanan mereka dengan sejumlah uang.

Hikmah dan Pelajaran 

1) Bulan Puasa Bukan Alasan untuk Bermalas-Malasan  Sebagaimana dijelaskan di atas, perang Badar Kubra terjadi pada bulan Ramadhan. Artinya, sat itu kondisi umat Muslim sedang dalam keadaan berpuasa. Tetapi hal itu tidak menyurutkan spirit mereka untuk berperang menegakkan agama Allah. Bahkan saat jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding kubu kaum Musyrik.   

2) Pentingnya Bermusyawarah  Saat pasukan Muslim sampai di sumber air terdekat dari Badar dan berhenti di sana, Al-Habbab bin Al-Mundzir mengusulkan strategi kepada Rasulullah. Rasulullah dengan terbuka menerima usulannya. Dari sikap Rasulullah tersebut, kita bisa mengambil pelajaran penting, bahwa musyawarah itu perlu. Kendati beliau seorang nabi sekaligus kepala negara, tetapi tidak membuatnya merasa paling benar. Beliau mau menerima masukan sahabatnya dengan bijak.   

3) Selalu Berdoa kepada Allah  Meskipun Nabi Muhammad saw seorang rasul dan pasti dikabulkan semua doanya, tidak kemudian menjadikan beliau bersikap santai. Beliau tetap berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar diberi kemenangan atas kaum Musyrik. Saking khusyuknya doa Nabi saat perang Badar Kubra, Abu Bakar merasa iba melihat beliau terlalu lama bersujud dalam doanya.   

4) Pentingnya Sikap Tawakal  Nabi Muhammad saw tidak hanya dikenal sebagai tokoh spiritual di tengah umatnya, tetapi juga sebagai komandan yang menguasai betul strategi perang. Dalam perang Badar Kubra, kita melihat bagaimana Nabi mengatur barisan tentara Muslim dan mengobarkan semangat jihad mereka. Tidak hanya itu, selain usaha zahir, beliau juga tetap berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberi kemenangan.    Hasilnya, pasukan Muslim memenangkan perang besar itu. Inilah balasan bagi hamba-hamba-Nya yang bertawakal. Mengimbangi amal dengan doa. Beramal tanpa doa adalah sombong, berdoa saja tanpa bertindak sama saja bohong.   

5) Tidak Menuntut Balas  Ketika pasukan Muslim berhasil memenangkan perang, tidak hanya memperoleh harta rampasan perang (ghanimah) saja. Tetapi juga beberapa tawanan perang. Terhadap tawanan itu, Nabi tidak membunuh mereka sebagaimana usul Umar bin al-Khattab. Nabi memilih usulan Abu Bakar agar tawanan jangan dibunuh, melainkan dibebaskan dengan syarat membayar tebusan.    Apa yang Nabi pilih itu adalah bentuk kasih sayang beliau terhadap sesama manusia. Meskipun tawanan itu adalah orang-orang Kafir yang baru saja memerangi kaum Muslim, tapi Nabi tidak menyimpan dendam sedikitpun.

Relevansi Perang Badar di Masa Kini

Perang Badar bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga mengandung pelajaran yang relevan hingga saat ini. Dalam konteks modern, perjuangan melawan ketidakadilan, penindasan, dan ketimpangan sosial dapat diinspirasi oleh semangat Perang Badar. Nilai-nilai seperti kesabaran, ketahanan, dan keadilan tetap menjadi panduan bagi umat Muslim dalam menghadapi tantangan zaman.

Perang Badar adalah bukti nyata bahwa iman dan ketergantungan kepada Allah SWT dapat mengalahkan segala rintangan. Peristiwa ini, yang terjadi pada bulan Ramadhan, mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran, keadilan, dan persatuan. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengambil inspirasi dari Perang Badar untuk menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati.



Senin, 02 Maret 2026

MUSTAJABNYA DOA DI BULAN RAMADAN

 13 Ramadhan 1447 H

Siapa saja yang sungguh-sungguh berdoa dan memohon kepada Allah SWT, maka doanya akan dikabulkan di bulan istimewa tersebut. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya, dalam salah satu karyanya yang berjudul Mujabud Da’wah. Di dalam kitab itu dijelaskan, Syu’aib bin Muhriz menceritakan, bahwa pada masa Muhammad bin Sulaiman, seorang tokoh penting dalam Dinasti ‘Abbasiyyah, terdapat seorang wanita yang buta. Suatu hari pada malam ke-24 bulan Ramadan tiba-tiba saja matanya sembuh. Syu’aib bin Muhriz yang kaget mendengar kabar seorang yang buta dan tiba-tiba sembuh mencoba untuk mendatanginya untuk memastikan kebenaran kabar tersebut.


Syu’aib pun mendatangi perempuan tersebut di rumah Musa al-Muhtasib di Bashrah. Ketika mengetahui ada yang mengunjunginya, perempuan tersebut meminta untuk duduk menunggu di depan rumah. Tatkala keluar rumah tersebut, Syu’aib melihat bahwa mata wanita tersebut normal layaknya tidak pernah terjadi kebutaan sebelumnya. Syu’aib pun bertanya kepadanya:

 “Wahai hamba Allah, doa apa yang engkau panjatkan kepada Tuhanmu?

“Aku melaksanakan salat pada malam pertama bulan Ramadan di masjid Al-Hay. Kemudian di waktu sahur, aku pun melaksanakan salat di tempat salat di rumahku, aku berdoa:

 يَا كَاشِفَ ضُرِّ أَيُّوبَ، يَا مَنْ رَحِمَ شَيْبَةَ يَعْقُوبَ، يَا مَنْ رَدَّ يُوسُفَ عَلَى يَعْقُوبَ، رُدَّ عَلَيَّ بَصَرِي

Artinya, “Wahai Yang Menyingkap kesulitan Nabi Ayub, wahai Yang Maha Penyayang kepada Nabi Ya’qub yang telah beruban, wahai Yang mengembalikan Nabi Yusuf kepada Nabi Ya’qub, mohon kembalikanlah penglihatanku kepadaku.

Seketika saja, setelah aku berdoa demikian seolah ada yang melepaskan sesuatu yang selama ini menutupi mataku, sehingga aku pun bisa melihat.” (Ibnu Abi Dunya, Mujabud Da’wah, [Beirut: Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, 1993], jilid I, hal. 79).

Hikmah Kisah Dalam cerita di atas, tidak dapat dipastikan siapa nama wanita dalam kisah tersebut, akan tetapi ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari kisah di atas. Di antara hikmah kisah di atas adalah hendaknya kita memaksimalkan Ramadan untuk beribadah kepada Allah, misalnya dengan mengisi malam-malam Ramadan dengan ibadah sunnah seperti salat tarawih, tahajud, witir dan zikir serta doa kepada Allah. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:

 إِنَّ للصَائِم عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

Artinya: “Sungguh ketika berbuka, orang yang berpuasa mempunyai doa yang tidak tertolak (baca:dikabulkan).” (HR Ibnu Majah)

Minggu, 01 Maret 2026

KISAH MENGHARUKAN, SITI KHADIJAH DAN RASULULLAH DI BULAN RAMADAN

12 Ramadhan 1447 H

 Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada Allah Ta'ala dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, 3 tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahuntahun

 Permintaan Terakhir

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

"Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu."

"Jauh dari itu ya Khadijah, Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya," jawab Rasulullah

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

"Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku."

Mendengar itu Rasulullah berkata,

"Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga."

Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

 Kain Kafan Dari Allah

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

"Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?"

"Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan" jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, "Kenapa, ya Jibril?"

"Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan", sahut Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,

"Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu."

"Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu."

"Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?"

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Seluruh kekayaan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah.

"Ya Allah, Ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?"

Tiba-tiba Ali berkata: , Aku, Ya Rasulullah!

 Pengorbanan Siti Khadijah Semasa Hidup

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,

"Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu."

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.

Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

"Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?", tanya Rasulullah dengan lembut.

 "Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?", lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

 "Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan." jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya."

"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu."

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah."

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.

Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah ......

Kitab Al Busyro, yang ditulis oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani.

Smg bs menjadi suri tauladan, menjadi uswah bagi kita semua.

Allohumma Sholi 'ala Sayyidina Muhammad



https://www.ngopibareng.id/read/kisahvmengharukan-siti-khadijah-dan-rasulullah-di-bulan-ramadan

BERKAH RAMADHAN BAGI BANGSA INDONESIA

16 Ramadhan 1447 H Kita tahu bahwa Indonesia merdeka dari penjajah pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Bun...