4 Ramadhan 1447 H
Dalam sejarah Islam, ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang ia segani dalam hidup. Abu Thalhah namanya. Termasuk salah satu sahabat Nabi yang mendermakan seluruh hal yang dimiliki dan dicintainya kepada orang lain. Kebaikan dan kemurahan hati Abu Thalhah dan istrinya dalam menjamu tamu, adalah salah satu perbuatan mulia bagi Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepada Abu Thalhah: Wahai Abu Thalhah,
Allah SWT kagum dengan perbuatanmu menjamu tamu semalam. Bahkan Allah SWT
menurunkan sebuah ayat tentang hal itu kepadaku, yang tertuang dalam QS
al-Hasyr ayat 9 yang artinya: Mereka lebih mengutamakan (orang Muhajirin)
daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka memerlukannya
Ia merupakan sosok yang sangat rajin
menunaikan ibadah puasa. Melalui riwayat Anas bin Malik, diceritakan bahwa Abu
Thalhah selalu berpuasa sepeninggalan Nabi Muhammad SAW selama 40 tahun.
Ada satu kisah yang menjelaskan bahwa Abu
Thalhah terus mengarungi bumi untuk menegakkan kalimat Allah SWT dan memuliakan
agama-Nya. Pada suatu kisah, ketika pasukan muslim di masa Khalifah
Usman bin Affan akan berperang di lautan, Abu Thalhah ikut bersama rombongan.
Namun, anaknya seperti tidak mengizinkan karena kondisi Abu Thalhah yang sudah
tua renta.
Dalam
buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah, dijelaskan Abu Thalhah tidak
menunaikan puasa hanya pada hari-hari yang diharamkan, hari besar, atau saat ia
sedang sakit. Selain rajin menunaikan puasa, Abu Thalhah juga tak pernah
meninggalkan salat malam dan selalu berjihad di jalan Allah.
Ia tak pernah
lelah menegakkan ajaran Allah SWT dalam keseharian hidupnya, bahkan hingga
sudah berusia lanjut yang renta. Anak-anaknya memperingatkan dengan menasihati
Abu Thalhah perihal umurnya yang sudah renta, namun ia tetap bulat akan
tekadnya untuk berjihad dan berlaut bersama pasukan pengembara Muslim lainnya.
Seorang anak
dari Abu Thalhah berujar:
“Semoga
Allah memberikanmu rahmat selalu, wahai ayah kami. Kau sekarang sudah amat tua.
Sudah berjuang bersama Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Mengapa kau tidak rehat
saja dan biarkan kami melanjutkan jihadmu?”
Segera Abu
Thalhah menimpali melalui firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 41:
ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا
وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ
خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: "Berangkatlah
kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan
harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui,"
Lantas, Abu
Thalhah pun berangkat dalam rombongan untuk ikut berjihad. Namu, kematian
selalu bisa dipastikan akan terjadi dalam hidup. Abu Thalhah meninggal saat
berada di tengah lautan bersama pasukan muslimin lainnya. Mereka (kaum
muslimin) berusaha mencari pulau untuk menguburkan jasadnya, tetapi tidak
menemukan satu pulau pun saat perjalanan kecuali setelah tujuh hari lamanya.
Anehnya, selama
tujuh hari itu jasad Abu Thalhah seperti tidak berubah. Seakan-akan Abu Thalhah
hanya sedang tertidur pulas. Jauh dari keluarga, jasad Abu Thalhah dimakamkan
di tempat yang jauh, namun dekat kepada Allah SWT.
Begitulah kisah
perjuangan Abu Thalhah yang tetap ingin berjuang dalam menegakkan ajaran Allah
SWT dan amalan puasa yang dilakukannya. Dengan usahanya, Abu Thalhah diberikan
kemudahan saat bertemu Allah SWT.
Wallahu A'lam