Sabtu, 21 Februari 2026

Abu Thalhah, sahabat Nabi yang Jasadnya Utuh Karena Rajin Puasa

 4 Ramadhan 1447 H

Dalam sejarah Islam, ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang ia segani dalam hidup. Abu Thalhah namanya. Termasuk salah satu sahabat Nabi yang mendermakan seluruh hal yang dimiliki dan dicintainya kepada orang lain. Kebaikan dan kemurahan hati Abu Thalhah dan istrinya dalam menjamu tamu, adalah salah satu perbuatan mulia bagi Nabi Muhammad SAW.


Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepada Abu Thalhah: Wahai Abu Thalhah, Allah SWT kagum dengan perbuatanmu menjamu tamu semalam. Bahkan Allah SWT menurunkan sebuah ayat tentang hal itu kepadaku, yang tertuang dalam QS al-Hasyr ayat 9 yang artinya: Mereka lebih mengutamakan (orang Muhajirin) daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka memerlukannya

Ia merupakan sosok yang sangat rajin menunaikan ibadah puasa. Melalui riwayat Anas bin Malik, diceritakan bahwa Abu Thalhah selalu berpuasa sepeninggalan Nabi Muhammad SAW selama 40 tahun.

Ada satu kisah yang menjelaskan bahwa Abu Thalhah terus mengarungi bumi untuk menegakkan kalimat Allah SWT dan memuliakan agama-Nya.   Pada suatu kisah, ketika pasukan muslim di masa Khalifah Usman bin Affan akan berperang di lautan, Abu Thalhah ikut bersama rombongan. Namun, anaknya seperti tidak mengizinkan karena kondisi Abu Thalhah yang sudah tua renta.

Dalam buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah, dijelaskan Abu Thalhah tidak menunaikan puasa hanya pada hari-hari yang diharamkan, hari besar, atau saat ia sedang sakit. Selain rajin menunaikan puasa, Abu Thalhah juga tak pernah meninggalkan salat malam dan selalu berjihad di jalan Allah.

Ia tak pernah lelah menegakkan ajaran Allah SWT dalam keseharian hidupnya, bahkan hingga sudah berusia lanjut yang renta. Anak-anaknya memperingatkan dengan menasihati Abu Thalhah perihal umurnya yang sudah renta, namun ia tetap bulat akan tekadnya untuk berjihad dan berlaut bersama pasukan pengembara Muslim lainnya.

Seorang anak dari Abu Thalhah berujar:

Semoga Allah memberikanmu rahmat selalu, wahai ayah kami. Kau sekarang sudah amat tua. Sudah berjuang bersama Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Mengapa kau tidak rehat saja dan biarkan kami melanjutkan jihadmu?”

Segera Abu Thalhah menimpali melalui firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 41:

ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,"

Lantas, Abu Thalhah pun berangkat dalam rombongan untuk ikut berjihad. Namu, kematian selalu bisa dipastikan akan terjadi dalam hidup. Abu Thalhah meninggal saat berada di tengah lautan bersama pasukan muslimin lainnya. Mereka (kaum muslimin) berusaha mencari pulau untuk menguburkan jasadnya, tetapi tidak menemukan satu pulau pun saat perjalanan kecuali setelah tujuh hari lamanya.  

Anehnya, selama tujuh hari itu jasad Abu Thalhah seperti tidak berubah. Seakan-akan Abu Thalhah hanya sedang tertidur pulas. Jauh dari keluarga, jasad Abu Thalhah dimakamkan di tempat yang jauh, namun dekat kepada Allah SWT.  

Begitulah kisah perjuangan Abu Thalhah yang tetap ingin berjuang dalam menegakkan ajaran Allah SWT dan amalan puasa yang dilakukannya. Dengan usahanya, Abu Thalhah diberikan kemudahan saat bertemu Allah SWT. 


Wallahu A'lam

Jumat, 20 Februari 2026

KISAH RASULLAH DI BULAN RAMADHAN (2)

3 Ramadhan 1447 H

Kisah Nabi Muhammad memenangkan perang Badar, pertempuran besar di Bulan Ramadhan

Perang Badar adalah perang antara umat Muslim dan kaum Quraisy, yang dikenal sebagai perang besar pertama dalam Sejarah Islam. Perang ini mengalami perpecahan pada 17 Ramadhan di tahun kedua Hijriah.

Merujuk pada Islamic Relief, penyebab adanya perang Badar disebabkan oleh perseteruan di antara keduanya. Kaum Quraisy seringkali menghalangi jalan penyebaran ajaran Islam. Mereka menyulitkan para Muslimin yang ingin berbagi ajaran Allah SWT, seperti yang diceritakan dalam Kitab As-Sirah an-Nabawiyah oleh Abdul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi.

Saat itu, perbandingan pasukan antara Muslim dan Quraisy berbanding jauh, di mana mereka berisikan kurang lebih 1.000 prajurit, dengan 100 ekor kuda. Sedangkan umat Muslim hanya terdiri dari sekumpulan 300 laki-laki dengan dua ekor kuda. Dengan perbandingan jumlah yang sangat signifikan, dapat dikatakan bahwa umat Muslim akan dengan mudahnya dikalahkan oleh suku Quraisy.

Dalam Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah oleh Shafiyurrahma al-Mabarakfuri, perang ini mengambil waktu saat kafilah dagang Quraisy yang sedang perjalanan pulang dari Syam menuju Makkah, dihadang oleh pasukan Madinah. Kafilah dagang Quraisy tersebut membawa kekayaan penduduk Makkah, sebanyak 1.000 ekor unta membawa harta benda bernilai 5.000 dinar.

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW berkata pada para Muslim, “Ini adalah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Halangi ia, semoga Allah SWT memberikan barang rampasan itu pada kalian.”

Peperangan pun dimulai. Tak ada rasa takut tergambar di wajah Nabi Muhammad SAW selama ia dan pasukannya berjalan dari Madinah menuju medan peperangan. Dengan menyiapkan taktik serta siasat dari Nabi Muhammad SAW, pasukan Muslim sampai pada mata air Badar lebih dahulu dibandingkan kaum Quraisy. Hal ini sebagai upaya untuk mengamankan air beserta cadangannya di tengah lembah gurun Badar.

Orang yang pertama kali gugur adalah Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, seorang kaum Quraisy yang kasar, yang berusaha merebut pasokan air dari para Muslim. Tetapi, gerakannya itu dihalangi oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Kemudian, ia menebas kaki Al-Aswad hingga terputus dan membuatnya tercebur dalam mata Air Badar, hingga berakhir meninggal dunia dihabisi oleh Hamzah.

Selanjutnya, perang semakin pecah dengan jatuhnya 3 penunggang kuda Quraisy yang juga komando pasukan. Hal itu membuat kaum Quraisy naik pitam dan semakin murka dalam penyerangan ke pasukan Muslim.

Sedangkan itu, Rasulullah SAW berdoa dan memohon bantuan pada Allah SWT, memohon akan kemenangan, hingga pada akhirnya dalam riwayat Muhammad bin Ishaq menyebutkan: “Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar. Telah datang pertolongan Allah SWT kepadamu. Inilah Jibril yang datang sambil memegang tali kekang kuda yang ditungganginya di atas gulungan-gulungan debu.”

Dengan bantuan para malaikat, para Muslim pun berperang. Dalam riwayat Ibnu Sa’ad dari Ikrimah, dia berucap, “Pada saat itu ada kepala orang musyrik yang terkulai, yang tak diketahui siapa yang melakukannya. Ada juga tangan yang terputus, juga tanpa diketahui siapa yang melakukannya.”

Peperangan besar ini terjadi dalam dua jam, yang berakhir kemenangan pada pasukan Muslim. Mereka berhasil meruntuhkan pertahanan kaum Quraisy hingga mereka mundur dan menyerah. Setelah enam tahun berakhirnya Perang Badar, para Muslim berhasil menyebarkan ajaran Islam di Makkah dengan damai, tanpa adanya gangguan dari kaum Quraisy.

Perang besar Badar ini pun disebut dalam surah Ali Imran ayat 123-126

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur”. (QS Ali Imran 3:123)

Perang Badar ini memiliki nilai penting dalam ajaran Islam. Ia menggambarkan bagaimana rasa tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT dapat memberikan bantuan tiada tara kepada hambaNya.

Kisah Nabi Muhammad melakukan pembebasan kota Makkah di bulan Ramadhan

Kisah selanjutnya adalah mengenai peristiwa pembebasan Mekkah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama dengan pasukan Muslim lainnya. Peristiwa ini kerap disebut dengan nama Fathu Makkah.

Fathu Makkah adalah peristiwa di mana kemenangan telak umat Islam atas kaum kafir Quraisy. Umat Islam berhasil menguasai kota Makkah, sehingga kota tersebut kembali suci dari patung berhala. Peristiwa ini terjadi semasa bulan Ramadhan, tepatnya pada hari Jumat, di tanggal 20 dan 21 Ramadan di tahun ke-8 Hijriah.

Mengutip buku Wealth Management (Manajemen Harta) Rasulullah SAW: Metode Pembelajaran dari Hal yang belum Pernah Dibahas karya Dodik Siswntoro, penyebab munculnya kejadian Fathu Makkah ini dimulai dengan adanya pelanggaran dalam Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian yang berisi bahwasanya jika ada satu pihak yang diserang, maka penyerangan tersebut harus dilakukan dengan menyeluruh.

Kala itu, pihak Rasulullah, bani Khuza’ah, diserang oleh bani Bakar yang merupakan kelompok dari Quraisy. Mengetahui kabar ini, Rasulullah SAW, yang saat itu sedang di Madinah, langsung bergegas mendatangi Makkah dengan pasukan Muslim lainnya.

Lantas dengan membagi jumlah pasukan menjadi beberapa kelompok, Rasulullah melancarkan strateginya dalam kemudahan melakukan penyerangan serta pengecohan kaum Quraisy. Seorang panglima Islam yang paling terkenal, Khalid bin Walid, pun ditunjuk Rasulullah untuk memimpin ribuan pasukan Muslim dengan senjata yang sudah lengkap itu.

Keadaan kota saat itu mendorong pasukan Rasulullah untuk berdiam di atas bukit-bukit sekitaran kota Makkah. Selanjutnya, mereka juga membangun deretan pagar betis, guna melindungi diri dari penyerangan pasukan kaum Quraisy. Tak hanya itu, masing-masing dari kelompok pasukan Muslim tersebut juga mengepung kota Makkah dari tiap-tiap arah mata angin, demi menyudutkan Quraisy.

Sehingga akhirnya, peristiwa tersebut menghasilkan kemenangan umat Islam atas kaum Quraisy. Panglima Khalid bin Walid serta pasukannya berhasil merampas dan mengamankan senjata-senjata miliki pasukan Quraisy, dan memastikan memberikan gempuran yang maksimal pada mereka. Berbagai perlawanan yang dilakukan Quraisy sama sekali tak membuat pasukan umat Islam mengambil langkah mundur.

Peristiwa Fathu Makkah disebut dalam QS Al-Fath ayat 1, yang berbunyi:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."

Selain itu, dalam bukunya yang bertajuk Sejarah Kebudayaan Islam karya Yusak Burhanuddin dan Ahmad Fida’, kemenangan umat Islam di Fathu Makkah adalah bukti pertolongan dari Allah SWT.

"Seorang Muslim yang beriman dan bertakwa hendaknya selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT. Hal itu karena Allah SWT merupakan satu-satunya tempat bagi manusia untuk memohon perlindungan dan pertolongan. Manusia tak akan dapat melakukan sesuatu apa pun tanpa adanya pertolongan dari Allah SWT," jelasnya.

Sumber :

Kamis, 19 Februari 2026

KISAH RASULLAH DI BULAN RAMADHAN (1)

 

2 Ramadhan 1447  H

Kisah Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menjalankan puasa Ramadhan

Berpuasa merupakan suatu kewajiban umat Muslim di sepanjang Ramadhan. Tapi apakah ada yang tahu bagaimana puasa Ramadhan pertama kali dijalani? Bagaimana seorang Rasulullah menyikapi hari pertamanya berpuasa di Ramadhan?

Perintah melakukan puasa dikeluarkan pertama kali saat tahun kedua Hijriah, yakni tahun 624 Masehi. Tetapi, berpuasa bukan lain hal yang asing bagi masyarakat Arab pra-Islam. Mereka sudah sering melakukan puasa, sehingga berpuasa tidaklah dianggap hal baru yang merugikan.

Dilansir dalam TRT World, Ramadhan pertama kali terjadi pada bulan Maret, di tengah musim semi, di saat suhu di Semenanjung Arab termasuk Madinah berada kondisi yang sejuk. Perintah berpuasa ini terjadi setelah turunnya wahyu QS Al-Baqarah ayat 183-185 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah:183)

Mengutip perkataan Profesor Teologi Islam Universitas Hitit Turki, Kasif Hamdi Okur, terlepas puasa bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Arab, tetap saja mereka butuh waktu untuk menyesuaikan fisik dan mentalnya untuk menjalani puasa 30 hari penuh. Sedangkan di sisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, mereka sudah menjalankan puasa sejak bulan Syaban di tahun kedua Hijriyah tersebut.

Kisah Nabi Muhammad SAW dalam menjalani puasa Ramadhan pertama kali tidaklah mengejutkan baginya. Karena beliau sendiri juga sudah terbiasa puasa di waktu sebelumnya. Sehingga, dari kisah ini dapat ditiru bagaimana konsistensi menjaga keimanan yang dimiliki Rasulullah pada ibadah berpuasa, di saat puasa sebelumnya bukanlah suatu kewajiban.

Kisah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di bulan Ramadhan

Wahyu yang pertama kali turun adalah QS. Al-Alaq ayat 1-5. Ayat ini diturunkan dan diterima oleh Rasulullah SAW saat sedang beribadah di Gua Hira, yang terletak sejauh 5 kilometer dari kota Makkah. Wahyu ini turun pada 17 Ramadhan 610 Masehi, yang kemudian disebut sebagai malam Nuzulul Quran. Dengan diturunkannya wahyu pertama ini, menandakan sebuah peristiwa yang memulai peradaban Islam.

Turunnya wahyu ini menjadikan sebuah cahaya bagi Rasulullah SAW dalam mengarahkan masyarakat Makkah pada jalan yang benar. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang suka merenungkan suatu hal dan senantiasa berdoa pada Allah SWT, meminta cahaya pertolongan terhadap kaumnya. Hal ini dikarenakan, sebelum wahyu pertama turun, kondisi moral masyarakat Makkah mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan.

Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas bagai cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; menyendiri di Gua Hira untuk bertahannuts (menyepi).

Beliau bertahannuts, beribadah di sana beberapa malam, dan tak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan dibawanya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di Gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, "Bacalah!" Jawab beliau, "Aku tidak bisa membaca." Nabi bercerita, "Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kesulitan."

Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, "Bacalah!" dan aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, "Bacalah!" Aku kembali menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Sebagaimana surah Al-Alaq 1-5 berbunyi:

(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)

Karena hal itu, Rasulullah SAW pulang ke rumah Khadijah dengan penuh ketakutan bahkan hingga tubuhnya bergetar. Beliau berkata pada Khadijah, “Selimutilah aku!”. Segeralah si Khadijah menyelimuti Rasulullah hingga hilang rasa takut itu.

Setelahnya, Rasulullah menceritakan apa saja yang dialaminya pada Khadijah, ia berkata “Sesungguhnya aku mencemaskan diriku.” Mendengarnya, Khadijah membalas, “Sama sekali tidak, Demi Allah, Allah selamanya tak akan menghina engkau. Sesungguhnya engkaulah yang selalu menyambung persaudaraan, menanggung orang yang kesusahan, mengusahakan apa yang dibutuhkan, menghormati tamu dan membantu derita orang akan kebenaran”.

Lalu, Khadijah mengajak Rasulullah SAW menemui anak dari pamannya, bernama Waraqah bin Naufal bin Asad, yang merupakan seorang Nasrani. Ia ahli dalam Bahasa Ibrani bahkan menulis sejumlah kitab dan Injil dalam bahasa Ibrani, walau ia buta dan sudah tua.

Sesampainya di sana, Khadijah meminta Rasulullah bercerita pada Warawah akan kejadian di Gua Hira. Kemudian Waraqah menimpali bahwa, “Itulah Namus (Jibril) yang diutus Allah pada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup di saat engkau diusir kaummu!

Rasulullah kembali bertanya, "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya, sebab setiap orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi orang. Jadi kelak engkau mengalami masa-masa seperti itu, dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenagaku."

Tak berselang lama setelah pertemuan itu Waraqah meninggal dunia. Selanjutnya, Nabi Muhammad menerima wahyu secara berlanjut selama kurang lebih 23 tahun sebagai tanda dimulainya peradaban umat manusia, khususnya Islam.

Dari kisah satu ini, terlihat bagaimana sifat teladan Rasulullah yang dikisahkan. Bagaimana ia begitu peduli pada kondisi dan nasib para umatnya, hingganya ia selalu berdoa memohon petunjuk pada Allah SWT.

Rabu, 18 Februari 2026

Mengapa Puasa Ramadhan Itu Penting?

 

1 Ramadhan 1447 H

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan....

Tidak sedikit di antara kita yang menyambut kehadiran bukan Ramadhan dengan penuh suka cita, seolah memendam kerinduan lama yang membuncah yang betul-betul diharapkan kedatangannya sehingga ungkapan ahlan wa sahlan bahkan ditambahkan wa marhaban terucap dari lidah kita Sebuah ungkapan yang semestinya bukan basa-basi tetapi tulus dan keluar dari lubuk hati yang dalam.

Ramadhan adalah bentu rahmat (kasih sayang) Allah kepada kita hambanya dan tentu saja diharapkan hambanya memanfaatkannya untuk betul-betul menggapai rahmat-Nya. Karenanya Ramadhan merupakan bulan ibadah dan kepatuhan serta ketundukan kepada Allah semata.

Di antara beberapa keutamaan ibadah yang Allah berikan kepada kita adalah ibadah puasa. Dalam banyak riwayat menjelaskan bahwa ganjaran pahala ibadah puasa tidak terbatas dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya yang pelipatgandaan pahalanya 10 – 700 kali lipat. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ  إِلاَّ الصَّوْمَ  فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِى  بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ  لِقَاءِ رَبِّهِ  وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Artinya : “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi (HR. Imam Muslim)

Karena besarnya ganjaran pahala ibadah puasa terkhusus puasa Ramadhan, maka ummat Islam senantiasa merindukan kehadirannya, bahkan sejak dua bulan sebelumnya yaitu di bulan Rajab dan Sya’ban senantiasa dibacakan do’a agar  diberikan keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban dan dipertemukan dengan bulan Ramadhan.

اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban. Sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.

Meskipun hadits ini dinilai dho’if tetapi imam Nawawi tetap mencantumkannya dalam kitabnya Al Adzkar sehingga banyak diamalkan (dibaca) sebagai bentuk kerinduan dan keinginan berjumpa dengan bulan Ramadhan.

Karenanya Rasulullah SAW-pun mengingatkan agar ummat Islam memanfaatkan dengan maksimal kehadiran bulan Ramadhan dan jangan sampai berakhirnya bulan Ramadhan tanpa sedikitpun mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

رَغِمَ أَنفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Terhinalah orang yang menjumpai Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sementara dosa-dosanya belum mendapat ampunan. (HR. Al-Bazzar, dan dishahihkan dalam kitab Al Jami’ Ash Shagir, no.75.)

Sahabat..

Imam Ibnu Rajab Hanbali dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif menjelaskan setidaknya ada dua sebab kemulyaan amal ibadah; pertama Adalah karena kemulyaan tempat ibadah. Seperti tanah haram, kota suci Mekkah dan Madinah yang diriwayatkan dalam hadits shohih :

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

Shalat di masjidku ini, lebih baik daripada seribu shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram." (HR. Muslim)

Sholat di masjid Nabawi dilipatbgandakan menjadi 1000 kali lipat  sementara sholat di masjidil haram dilipargandakan menjadi 100.000 kali lipat. Temasuk siapa yang menjalani ibadah puasa terkhusus puasa  Ramadhan maka bisa jadi dilipatkangandakan seeperti 100.000 bulan Ramadhan.  Karenanya tidak heran tidak sedikit ummat Islam yang berharap bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di tanah suci.

Kedua¸ Adalah kemulyaan waktu. Tentu kita yang tidak tinggal di tanah suci masih mendapatkan kesempatan pelipatgandaan amal di waktu-waktu yang Allah mulyakan seperti bulan suci Ramadhan. Ibnu Rajab Al Hanbali mengutip hadits riwayat Salman Al-Farisi yang termaktub dalam Kitab Shahih Ibnu Khuzaimah:

مَنْ تَطَوَّعَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فيِماَ سِوَاهُ وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْهِ كَانَ كَمَنْ اّدّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةًً.

Siapa saja melakukan satu kebaikan maka seperti melakukan yang fardhu, dan siaopa saja yang melakukan satu kefardhuan di bulan Ramadhan maka dia seperti melaksanakan 70 kefardhuan.

Maka sangat dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah saat melaksananakn ibadah puasa terlebih puasa Ramadhan dikarenakan merupakan ibadah puasa yang diwajibkan Allah SWT kepada hambaNya dan keberadaannya sebagai salah satu tegaknya Islam yaitu rukun Islam.

Imam Nakho’i sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu rajab mengatakan :

صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ أَفضَلُ مِنْ أَلْفِ يَوْمٍ، وَتَسْبِيْحَةٌ فِيهِ أَفضَلُ مِنْ أَلْفِ تَسْبِيحِةٍ، وِرِكْعَةً فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ رَكْعَةٍ.

”Puasa satu hari dibulan Ramadhān lebih baik daripada puasa 1000 hari di bulan lainnya. Dan satu kali seorang mengucapkan Subhānallāh pada bulan Ramadhān lebih utama daripada 1000 tasbih di bulan yang lain. Dan satu raka’at lebih baik daripada 1000 raka’at dibulan yang lainnya.

 

Wallahu A’lam

Kamis, 15 Januari 2026

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H

1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim
Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang mukmin dengan yang lainnya. Tanpa sholat, bangunan Islam dalam diri seseorang akan runtuh.• 
Dalil Hadits :
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ"
Pembatas antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan sholat."Rujukan: HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, No. 82.

 رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat.”(HR. Tirmidzi no. 26 

Umar bin Khattab mengatakan:
إن من أهم أمور كم عندي الصلاة. فمن حفظها حفظ الدين ومن ضيعها فهو لما سواه تدأضيع. فلا حظ فى الاسلام لمن ترك الصلاة

Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Ash-Sholah wa Hukmu Tarikiha menyatakan:
جاء في الحديث: "لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة" وكل شيء ذهب أوله فقد ذهب آخره، وإذا ذهبت صلاة المرء ذهب دينه"
Dalam hadits disebutkan: 'Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.' Segala sesuatu yang hilang awalnya, maka akan hilang pula akhirnya. Jika sholat seseorang hilang, maka hilanglah agamanya.

Imam Ghazali mengatakan:
" كل عز ليس يؤيده دين فهو ذل، وكل قدر ليس يزينة صلاة فهو نقص"
Setiap kemuliaan yang tidak didukung oleh agama adalah kehinaan, dan setiap kedudukan yang tidak dihiasi dengan sholat adalah kekurangan." 

2. Sholat sebagai Penolong dalam Menghadapi Ujian Hidup 
Dunia adalah tempat ujian. Allah SWT memberikan "alat komunikasi" khusus bagi hamba-Nya untuk meminta kekuatan, yaitu melalui kesabaran dan sholat.• 
Dalil Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ"
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."Rujukan: QS. Al-Baqarah: 153.

3. Sholat sebagai Barometer Amal di Akhirat
Kualitas hidup manusia di akhirat ditentukan oleh satu poin pemeriksaan pertama: sholatnya. Jika sholatnya baik, maka urusan lainnya akan dimudahkan.

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ"
Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka ia telah beruntung dan selamat. Jika sholatnya rusak, maka ia telah merugi."Rujukan: HR. At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi, No. 413 (Hadits Hasan).

4. Transformasi Karakter melalui Sholat
Sholat yang dilakukan dengan khusyuk akan membentuk perisai mental yang melindungi seseorang dari perbuatan buruk dan maksiat.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ"

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar."Rujukan: QS. Al-Ankabut: 45.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa menjelaskan:
فالصلاة فيها دفع للمكروه وهو الفحشاء والمنكر، وفيها تحصيل 
للمحبوب وهو ذكر الله"

Dalam sholat terkandung penolakan terhadap hal yang dibenci (yaitu kekejian dan kemungkaran), dan di dalamnya terkandung pencapaian atas apa yang dicintai (yaitu dzikrullah)."

Minggu, 21 September 2025

SAHABAT NABI TERKAYA YANG SELALU MENANGIS KARENA HARTANYA

 29 Rabi'ul Awal 1447 H

Kisah Kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf

Sahabat Nabi dikenal sebagai orang-orang mulia. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan ajaran yang dibawa Rasulullah. Mereka tidak pernah membantah apa pun perintah Nabi, karena mereka tahu bahwa perintah Nabi adalah perintah Allah pula.

Abdurrahman Bin 'Auf, salah satu sahabat Nabi yang dikenal paling kaya. Tidak ada sahabat terkaya dibanding dirinya. Di samping kaya, ia juga dinobatkan oleh Rasulullah sebagai salah satu sahabat yang dipastikan masuk surga.

Namun, meskipun ia dikenal sebagai sahabat terkaya, ia tidak pernah berfoya-foya karena hartanya. Bahkan, selalu menangis dengan harta yang dimilikinya. Ia takut jika harta yang dimiliki membuatnya berkurang dalam beribadah kepada Allah.

Pada zaman Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan separuh hartanya. Kemudian ia menyedekahkan lagi sebanyak 40.000 dinar. Namun, kekayaan yang dimiliki Abdurrahman bin Auf justru menjadi suatu kekhawatiran baginya. Bahkan, sahabat nabi ini sempat berusaha untuk menjadi orang miskin. Hal tersebut setelah ia mendengar perkataan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berkata:

Abdurrahman bin Auf akan masuk surga paling akhir karena terlalu kaya. Ia akan dihisab paling lama”.

Sahabat nabi ini tidak ingin dihisab paling lama. Ia mencoba untuk menjadi miskin supaya masuk surga lebih awal.

Suatu ketika setelah perang Tabuk, kurma yang ditinggalkan sahabat di Madinah menjadi busuk. Hal tersebut menyebabkan nilai jual kurma menurun. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Abdurrahman bin Auf. Ia membeli kurma busuk dengan harga yang normal. Tentu saja semua sahabat bersyukur karena yang awalnya berpikiran tidak laku, kini ludes dibeli oleh Abdurrahman bin Auf. Akan tetapi, usaha Abdurrahman bin Auf menjadi miskin gagal.

Abdurrahman bin ‘Auf Gagal Menjadi Miskin

Suatu ketika datang utusan dari Yaman yang sedang mencari kurma busuk. Utusan tersebut bercerita jika di negerinya sedang terserang wabah penyakit menular.

Konon yang menjadi obat penyakit menular itu adalah kurma busuk. Abdurrahman bin Auf mau tak mau menjual kurma busuk itu. Oleh utusan Raja Yaman, kurma busuk itu dibeli dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Apa yang dilakukan Abdurrahman bin ‘Auf membuat Umar bin Khattab berkata:

"Sungguh aku melihat 'Abdurrahman bin 'Auf telah berdosa. Ia telah menyumbangkan seluruh hartanya tanpa menyisakannya untuk keluarga."

Mendengar itu akhirnya Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman Bin 'Auf:

"Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"

Dengan yakin Abdurrahman menjawab,

"Ya, aku bahkan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak." jawabnya. "Berapakah jumlahnya?" tanya kembali Rasulullah.

"Sebanyak janji Allah dan Rasul-Nya, yakni berupa balasan kebaikan, pahala dan ganjaran," jawab Abdurrahman dengan ikhlasnya.

Abdurrahman Bin 'Auf dikenal sebagai orang yang dermawan kepada siapa pun. Hartanya tidak membuat dirinya jumawa. Justru, ia selalu berlinang air mata karena takut tidak akan masuk surga disebabkan kekayaan yang dimilikinya.

Dari kisah sahabat nabi tersebut terdapat hikmah yang dapat kita ambil dan bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti ketika memiliki harta yang berlimpah janganlah sombong. Sesungguhnya harta hanyalah titipan dari Allah. Dan janganlah di butakan dengan harta yang berlimpah dan selalu merasa tidak cukup.

Dalam harta yang berlimpah ada hak orang lain yang harus di bantu bahkan diberikan kepada yang tidak punya. Harta tidak bisa dibawa mati kecuali dengan sedekah yang akan mengalir terus pahalanya

Sabtu, 20 September 2025

KISAH SAHABAT YANG MEMBUAT RASULULLAH SAW MENANGIS

 28 Rabi'ul Awwal 1447 H

Kisah Abu Duljanah Yang Menjaga Keluarganya

Rasulullah SAW memiliki sahabat-sahabat yang dekat dengan beliau dengan budi pekerti yang luhur. Banyak dari sahabat Beliau SAW yang memiliki kisah yang diriwayatkan dan diturunkan hingga masa kini, salah satunya Abu Dujanah.

Nama salah satu sahabat yang memiliki kisah luar biasa adalah Abu Dujanah. Abu Dujanah sendiri terkenal sebagai seorang yang pemberani di medan perang dan selalu menjaga keluarganya dari suatu hal yang haram.

Pada zaman kenabian Rasulullah SAW, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Abu Dujanah. la seorang sahabat yang ketika selesai salat selalu langsung pulang dengan tidak membaca doa.

Ia pun tidak menunggu agar Rasulullah SAW selesai membaca doa terlebih dahulu. Perilaku Abu Dujanah ini pun kemudian dirasakan oleh Rasulullah SAW, sehingga suatu saat beliau bertanya ke Abu Dujanah.

“Apa yang menyebabkan engkau berperilaku demikian wahai Abu Dujanah?”

Abu Dujanah selanjutnya menjawab,

“Ini karena ada pohon kurma yang menjuntai di pekaranganku. Pohon ini bukan milikku. Jadi aku buru-buru membersihkannya dan kurma itu aku serahkan kepada pemiliknya, yakni tetanggaku (dikenal sebagai seorang yang munafik)”.

“Aku melakukannya tanpa sedikit pun diberi dan mengharapkan imbalan. Hal ini aku lakukan juga agar anak-anakku tidak memakan kurma tersebut karena kurma itu tidak halal untukku dan keluargaku. Tetapi, suatu ketika aku jumpai anakku sudah lebih dahulu bangun dan kulihat dia tengah memakan kurma tersebut. Oleh karena itu, aku datangi anakku dan lekas aku masukkan tanganku agar bisa mengeluarkan kurma tersebut dari mulutnya. Namun saking kencangnya, anakku menangis berlinangan air mata. Begitulah ya Rasulullah,” jelas Abu Dujanah.

Mendengar kisah itu Rasulullah SAW seketika menangis dan kemudian beliau memanggil tokoh munafik tersebut. Kepadanya, Rasulullah berkata,

“Maukah engkau jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari harga pohon kurma itu. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.”


Abu Bakar Membeli Pohon Kurma 10 x lipat

Begitu tawaran Nabi SAW Namun, lelaki yang dikenal sebagai seorang penjual yang munafik ini lantas menjawab dengan tegas,

“Aku tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Aku tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji.”

Di tengah proses itu, tiba-tiba Sayidina Abu Bakar as-Shiddiq RA datang. Ia lantas berkata,

“Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari harga kurma yang paling bagus di kota ini.”

Mendengar ini, orang munafik tersebut berkata kegirangan,

“Baiklah, aku jual pohon ini.”

Setelah sepakat, Abu Bakar segera menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah pada saat itu juga. Rasulullah SAW kemudian bersabda,

“Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Sayidina Abu Bakar merespon dengan bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah.

Si munafik berlalu. la berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi pada hari itu.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu tidaklah berpindah dan masih tetap di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu lalu buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”


Pohon Kurma Berpindah

Pada malam harinya, saat si munafik tidur terjadi peristiwa yang tak diduga. Pohon kurma yang berada di pekarangan rumah si munafik itu tiba-tiba berpindah posisi.

Pohon kurma itu kini berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik dan berpindah dengan bantuan tangan manusia ke pekarangan Abu Dujanah.

Tempat asal pohon itu tumbuh diketahui rata dengan tanah seperti tanah rata yang normal. Saat terbangun pagi harinya, si munafik keheranan.

Kisah ini dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita, yakni betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah, Abu Dujanah, menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Sesulit dan seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memakan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram.

Abu Thalhah, sahabat Nabi yang Jasadnya Utuh Karena Rajin Puasa

  4 Ramadhan 1447 H Dalam sejarah Islam, ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang ia segani dalam hidup. Abu Thalhah namanya. Termasuk s...