Bya Qowim
Kamis, 15 Januari 2026
Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup
Minggu, 21 September 2025
SAHABAT NABI TERKAYA YANG SELALU MENANGIS KARENA HARTANYA
29 Rabi'ul Awal 1447 H
Kisah Kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf
Sahabat Nabi
dikenal sebagai orang-orang mulia. Mereka adalah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan ajaran yang dibawa Rasulullah. Mereka tidak pernah membantah
apa pun perintah Nabi, karena mereka tahu bahwa perintah Nabi adalah perintah
Allah pula.
Abdurrahman Bin
'Auf, salah satu sahabat Nabi yang dikenal paling kaya. Tidak ada sahabat
terkaya dibanding dirinya. Di samping kaya, ia juga dinobatkan oleh Rasulullah
sebagai salah satu sahabat yang dipastikan masuk surga.
Namun, meskipun
ia dikenal sebagai sahabat terkaya, ia tidak pernah berfoya-foya karena
hartanya. Bahkan, selalu menangis dengan harta yang dimilikinya. Ia takut jika
harta yang dimiliki membuatnya berkurang dalam beribadah kepada Allah.
Pada zaman
Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan separuh hartanya. Kemudian ia
menyedekahkan lagi sebanyak 40.000 dinar. Namun, kekayaan yang dimiliki
Abdurrahman bin Auf justru menjadi suatu kekhawatiran baginya. Bahkan, sahabat
nabi ini sempat berusaha untuk menjadi orang miskin. Hal tersebut setelah ia
mendengar perkataan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berkata:
“Abdurrahman
bin Auf akan masuk surga paling akhir karena terlalu kaya. Ia akan dihisab
paling lama”.
Sahabat nabi
ini tidak ingin dihisab paling lama. Ia mencoba untuk menjadi miskin supaya
masuk surga lebih awal.
Suatu ketika
setelah perang Tabuk, kurma yang ditinggalkan sahabat di Madinah menjadi busuk.
Hal tersebut menyebabkan nilai jual kurma menurun. Kesempatan itu tak
disia-siakan oleh Abdurrahman bin Auf. Ia membeli kurma busuk dengan
harga yang normal. Tentu saja semua sahabat bersyukur karena yang
awalnya berpikiran tidak laku, kini ludes dibeli oleh Abdurrahman bin Auf. Akan
tetapi, usaha Abdurrahman bin Auf menjadi miskin gagal.
Abdurrahman
bin ‘Auf Gagal Menjadi Miskin
Suatu ketika
datang utusan dari Yaman yang sedang mencari kurma busuk. Utusan tersebut
bercerita jika di negerinya sedang terserang wabah penyakit menular.
Konon yang
menjadi obat penyakit menular itu adalah kurma busuk. Abdurrahman bin Auf mau
tak mau menjual kurma busuk itu. Oleh utusan Raja Yaman, kurma busuk itu dibeli
dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.
Apa yang
dilakukan Abdurrahman bin ‘Auf membuat Umar bin Khattab berkata:
"Sungguh
aku melihat 'Abdurrahman bin 'Auf telah berdosa. Ia telah menyumbangkan seluruh
hartanya tanpa menyisakannya untuk keluarga."
Mendengar itu
akhirnya Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman Bin 'Auf:
"Apakah
engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"
Dengan yakin
Abdurrahman menjawab,
"Ya, aku
bahkan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak." jawabnya. "Berapakah jumlahnya?" tanya kembali
Rasulullah.
"Sebanyak
janji Allah dan Rasul-Nya, yakni berupa balasan kebaikan, pahala dan
ganjaran," jawab Abdurrahman dengan ikhlasnya.
Abdurrahman Bin
'Auf dikenal sebagai orang yang dermawan kepada siapa pun. Hartanya tidak
membuat dirinya jumawa. Justru, ia selalu berlinang air mata karena takut tidak
akan masuk surga disebabkan kekayaan yang dimilikinya.
Dari kisah
sahabat nabi tersebut terdapat hikmah yang dapat kita ambil dan bisa
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti ketika memiliki harta
yang berlimpah janganlah sombong. Sesungguhnya harta hanyalah titipan dari
Allah. Dan janganlah di butakan dengan harta yang berlimpah dan selalu merasa
tidak cukup.
Dalam harta
yang berlimpah ada hak orang lain yang harus di bantu bahkan diberikan kepada
yang tidak punya. Harta tidak bisa dibawa mati kecuali dengan sedekah yang akan
mengalir terus pahalanya
Sabtu, 20 September 2025
KISAH SAHABAT YANG MEMBUAT RASULULLAH SAW MENANGIS
28 Rabi'ul Awwal 1447 H
Kisah Abu
Duljanah Yang Menjaga Keluarganya
Rasulullah SAW
memiliki sahabat-sahabat yang dekat dengan beliau dengan budi pekerti yang
luhur. Banyak dari sahabat Beliau SAW yang memiliki kisah yang diriwayatkan dan
diturunkan hingga masa kini, salah satunya Abu Dujanah.
Nama salah satu
sahabat yang memiliki kisah luar biasa adalah Abu Dujanah. Abu Dujanah sendiri
terkenal sebagai seorang yang pemberani di medan perang dan selalu menjaga
keluarganya dari suatu hal yang haram.
Pada zaman
kenabian Rasulullah SAW, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Abu
Dujanah. la seorang sahabat yang ketika selesai salat selalu langsung pulang
dengan tidak membaca doa.
Ia pun tidak menunggu agar Rasulullah SAW
selesai membaca doa terlebih dahulu. Perilaku Abu Dujanah ini pun kemudian
dirasakan oleh Rasulullah SAW, sehingga suatu saat beliau bertanya ke Abu
Dujanah.
“Apa yang menyebabkan engkau berperilaku
demikian wahai Abu Dujanah?”
Abu Dujanah selanjutnya menjawab,
“Ini karena ada pohon kurma yang menjuntai
di pekaranganku. Pohon ini bukan milikku. Jadi aku buru-buru membersihkannya
dan kurma itu aku serahkan kepada pemiliknya, yakni tetanggaku (dikenal sebagai
seorang yang munafik)”.
“Aku melakukannya tanpa sedikit pun diberi
dan mengharapkan imbalan. Hal ini aku lakukan juga agar anak-anakku tidak
memakan kurma tersebut karena kurma itu tidak halal untukku dan keluargaku.
Tetapi, suatu ketika aku jumpai anakku sudah lebih dahulu bangun dan kulihat
dia tengah memakan kurma tersebut. Oleh karena itu, aku datangi anakku dan
lekas aku masukkan tanganku agar bisa mengeluarkan kurma tersebut dari
mulutnya. Namun saking kencangnya, anakku menangis berlinangan air mata.
Begitulah ya Rasulullah,” jelas Abu Dujanah.
Mendengar kisah itu Rasulullah SAW seketika
menangis dan kemudian beliau memanggil tokoh munafik tersebut. Kepadanya,
Rasulullah berkata,
“Maukah engkau jika aku minta kamu menjual
pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan
membelinya dengan sepuluh kali lipat dari harga pohon kurma itu. Pohonnya
terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya
dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan
hitungan buah kurma yang ada.”
Abu Bakar Membeli Pohon Kurma 10 x lipat
Begitu tawaran
Nabi SAW Namun, lelaki yang dikenal sebagai seorang penjual yang munafik ini
lantas menjawab dengan tegas,
“Aku tak pernah
berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Aku tidak mau menjual apa pun
kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji.”
Di tengah
proses itu, tiba-tiba Sayidina Abu Bakar as-Shiddiq RA datang. Ia lantas
berkata,
“Ya sudah, aku
beli dengan sepuluh kali lipat dari harga kurma yang paling bagus di kota ini.”
Mendengar ini, orang munafik tersebut
berkata kegirangan,
“Baiklah, aku
jual pohon ini.”
Setelah
sepakat, Abu Bakar segera menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah pada saat
itu juga. Rasulullah SAW kemudian bersabda,
“Hai Abu Bakar,
aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar
sabda Nabi ini, Sayidina Abu Bakar merespon dengan bergembira bukan main.
Begitu pula Abu Dujanah.
Si munafik
berlalu. la berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja
terjadi pada hari itu.
“Aku telah
mendapat untung banyak hari ini. Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang lebih
bagus. Padahal kurma yang aku jual itu tidaklah berpindah dan masih tetap di
pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu lalu
buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit
pun.”
Pohon Kurma Berpindah
Pada malam harinya, saat si munafik tidur
terjadi peristiwa yang tak diduga. Pohon kurma yang berada di pekarangan rumah
si munafik itu tiba-tiba berpindah posisi.
Pohon kurma itu kini berdiri di atas tanah
milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut
tumbuh di atas tanah si munafik dan berpindah dengan bantuan tangan manusia ke
pekarangan Abu Dujanah.
Tempat asal pohon itu tumbuh diketahui rata
dengan tanah seperti tanah rata yang normal. Saat terbangun pagi harinya, si
munafik keheranan.
Kisah ini dapat dijadikan sebagai pelajaran
bagi kita, yakni betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah, Abu Dujanah, menjaga
diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Sesulit dan seberat apa pun
hidup, seseorang tidak boleh memakan makanan untuk dirinya sendiri dan
keluarganya dari barang haram.
Jumat, 19 September 2025
KISAH SEEKOR ULAR SAAT HIJRAH
27 Rabi'ul Awwal 1447 H
Gua Tsur Tempat Bernaung Rasulullah SAW
Cerita digigit ular berbisa pernah dialami Abu Bakar RA saat menemani Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Saat itu, keduanya memutuskan berlindung di Gua Tsur untuk menghindari kejaran orang-orang Quraisy pimpinan Abu Jahal.
Letak Gua Tsur
kira-kira 6 kilometer ke arah selatan dari kediaman Rasulullah saat itu, -kini
Masjidil Haram-. Tinggi gunung ini kurang lebih lima ribu kaki atau 1.400
meter. Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di tempat itu selama 3 hari.
Sampai di
puncak Gunung Tsur, keduanya memutuskan bersembunyi di sebuah gua. Abu Bakar RA
masuk terlebih dulu ke dalam gua. Dia membersihkan gua dari kotoran-kotoran
binatang juga menutup lubang-lubang agar tak ada ular berbisa masuk.
Rasulullah
ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa
dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.
Rasulullah
ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa
dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.
Pemeriksaan Abu Bakar RA Kondisi Gua Tsur
Saat itu di
dalam gua ditemukan banyak lubang, sehingga Abu Bakar RA menutupnya dengan baju
yang dikenakan. Abu Bakar RA merobek bajunya hingga hanya tersisa dua lubang di
sebelah kiri. Setelah dirasa semua lubang tertutup, Abu Bakar RA memanggil Nabi
Muhammad SAW untuk masuk dan beristirahat di dalam. Sayyidina Abu Bakar RA mengatakan,
sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab RA, “Aku bersumpah
demi Allah bahwa kamu (Nabi) tidak akan memasuki gua sebelum aku melakukannya,
karena jika ada sesuatu di dalamnya, aku akan diserang oleh itu, dan bukan
kamu. "
Setelah
semuanya lubang tersumbat, barulah Rasulullah SAW memasuki gua tersebut dan
tampaknya Rasulullah SAW kelelahan dan tertidur tertidur. Abu Bakar tak tega
melihat sang penghulu rasul itu tidur tanpa alas. Diraihnya pelan-pelan kepala sang rasul dan
ditaruh di atas pangkuannya. Sementara dua telapak kakinya digunakan untuk
menutup dua lubang gua agar tak dimasuki ular berbisa.
Namun ternyata, ada satu ular berbisa yang
masuk ke dalam lubang dan mengigit kaki Abu Bakar. Tidak ada penjelasan jenis
ular yang mengigit Abu Bakar dan kaki sebelah mana yang digigit.
Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis
keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar. Abu Bakar r.a menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua
kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu
dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah SAW.
Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah SWT itu.
Abu Bakar RA Digigit Ular
Abu Bakar r.a
menutup lubang itu dengan salah satu kakinya.lalu ular itu menggigit
pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun Dalam
hening, sekujur tubuh Abu Bakar r.a terasa panas, ketika bisa ular menjalar
cepat di dalam darahnya. Abu Bakar r.a tak kuasa menahan isak tangis ketika
rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes
mengenai pipi Rasulullah saw yang tengah berbaring.
Rasulullah SAW terbangun
dan berkata;
“Wahai hamba
Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” “Tentu
saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar r.a. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air
mata?” bertanya Rasulullah SAW dengan bersahaja. “Seekor ular, baru saja
menggigit saya, wahai Rasulullah SAW, dan bisanya menjalar begitu cepat ke
dalam tubuhku”.
Lalu Nabi
Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu:
” Wahai ular
apakah Kamu tidak tahu ? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu
Bakar pun haram Kamu makan?”
Rindu sang Ular Kepada Rasulullah SAW
Dialog
Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat
mukjizat Beliau.
“Ya…hamba
mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT
mengatakan :‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah
atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke
surga firdaus,” kata sang
ular.
“Ya Rabb, beri
aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang
wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut sang
ular.
Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam:
“Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana,
kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT
“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku
digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh
kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku
ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur.
“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari
gua Tsur-pun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan
rindu.
Selanjutnya tanpa menunggu waktu, dengan
penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar r.a. Dengan
mengagungkan nama Allah SWT Sang pencipta semesta, Nabi Muhammad SAW mengusap
bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah
SWT, seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.
Kamis, 18 September 2025
AZAB BAGI PENYIKSA SAHABAT
26 Rab'iul Awwal 1447 H
Kesabaran
Khabbab bin Arats
Khabbab bin
Arats adalah seorang pandai besi yang ahli membuat persenjataan, terutama
pedang. Senjata yang dibuatnya kemudian dijual kepada penduduk Makkah. Karena
keunggulan kualitas, produknya itu laku di pasaran dan namanya pun kian
berkibar.
Sejak beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, Khabbab mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara
orang-orang yang tersiksa dan teraniaya. Walau pun miskin, dirinya berani
menghadapi kesombongan dan kesewenangan kaum Quraisy.
Karena itu,
banyak sejarawan memandangnya sebagai seorang perintis syiar Islam, khususnya
pada fase dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah. Sya’bi berkata, "Khabbab
menunjukkan ketabahannya, hingga tak sedikit pun hatinya terpengaruh oleh
tindakan biadab orang-orang kafir."
Kafir Quraisy
kian menggila. Suatu hari, mereka menjarah rumah Khabbab dan
mengambil semua besi dari sana. Kemudian, orang-orang itu mengikat sang
pemilik rumah pada sebuah tiang.
Besi-besi yang
mereka jarah lantas dimasukkan ke dalam api yang menyala. Tanpa rasa
perikemanusiaan sedikit pun, besi yang panas itu kemudian ditempelkan pada
tubuh, tangan dan kaki Khabbab.
Mengadu Kepada Rasulullah SAW untuk Memohon Pertolongan Allah SWT
Kejadian itu
merupakan teror baginya. Beberapa hari kemudian, ia bersama kawan-kawannya
sependeritaan menemui Rasulullah SAW. Bukan lantaran kecewa atas
pengorbanan, melainkan mengharapkan keselamatan.
Mereka berkata
: "Wahai Rasulullah, tidakkah Tuan hendak memintakan pertolongan bagi
kami?"
Rasulullah SAW
pun duduk, mukanya jadi merah, lalu sabdanya:
"Dulu
sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali
leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi
siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada
pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga
tidak dapat menggoyahkan keimanannya."
Beliau juga
menjanjikan, Islam akan berjaya hingga kelak suatu hari orang-orang Arab tidak
akan mengganggu satu sama lainnya. Mereka hanya takut kepada Allah SWT. "Sehingga
setiap pengembara yang bepergian dengan aman dari Sana'a Hadhramaut (dapat
menuju Makkah)."
Khabbab dengan
kawan-kawannya mendengarkan kata-kata itu, bertambahlah keimanan dan keteguhan
hati mereka. Dan masing-masing berikrar akan membuktikan kepada Allah dan
Rasul-Nya hal yang diharapkan dari mereka, ialah ketabahan, kesabaran dan
pengorbanan.
Khabbab
menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal.
Demikianlah,
Khabbab menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal. Orang-orang
Quraisy terpaksa meminta bantuan Ummi Anmar, yakni bekas majikan Khabbab yang
telah membebaskannya dari perbudakan. Wanita tersebut akhirnya turun tangan dan
turut mengambil bagian dalam menyiksa dan menderanya.
Dalam
penyiksaan terhadap Khabbab kali ini, wanita tersebut mengambil besi panas
yang menyala, lalu menaruhnya di atas kepala dan ubun-ubun orang Muslim
tersebut. Tentu saja, sahabat Nabi SAW ini kesakitan, tetapi sengaja
menahan nafasnya karena tidak ingin suara erangannya menjadi penyebab
para algojo tersebut puas dan gembira.
Pada suatu hari
Rasulullah SAW lewat di hadapannya, sedang besi yang membara di atas kepalanya
membakar dan menghanguskannya. Hingga kalbu Rasulullah pun bagaikan terangkat
karena pilu dan iba hati. Beliau berdoa, "Ya Allah, limpahkanlah
pertolongan-Mu kepada Khabbab!"
Ya
Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab!
Dan kehendak
Allah pun berlakulah, selang beberapa hari, Ummi Anmar menerima hukuman qishas.
Seolah-olah hendak dijadikan peringatan oleh Yang Maha Kuasa baik bagi dirinya
maupun bagi algojo-algojo lainnya. Ia diserang oleh semacam penyakit panas yang
aneh dan mengerikan. Menurut keterangan ahli sejarah ia melolong seperti
anjing.
Dan orang
memberi nasihat bahwa satu-satunya jalan atau obat yang dapat menyembuhkannya
ialah menyeterika kepalanya dengan besi menyala. Demikianlah, kepalanya yang
angkuh itu menjadi sasaran besi panas, yang disetrikakan orang kepadanya tiap
pagi dan petang.
Jika
orang-orang Quraisy hendak mematahkan keimanan dengan siksa, maka orang-orang
beriman mengatasi siksaan itu dengan pengorbanan. Dan Khabbab adalah salah
seorang yang terpilih. Boleh dikata seluruh waktu dan masa hidupnya
dibaktikannya untuk agama yang panji-panjinya mulai berkibar.
Dalam masa
kerasnya intimidasi yang dilakukan kafir Quraisy, Muslimin tetap teguh beriman.
Mereka pun terus melangsungkan majelis-majelis ilmu, termasuk membahas
ayat-ayat Alquran yang turun kepada Nabi SAW. Khabbab ikut dalam halakah ini. Di antara
para sahabat, ia tergolong fasih dalam mengaji.
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan mengenai
dirinya, bahwa Rasuiullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa ingin
membaca Alquran tepat sebagaimana diturunkan, hendaklah ia meniru bacaan Ibnu
Ummi Abdin (Khabbab bin Arats)!"
Khabbab adalah sosok yang mengajarkan
Alquran kepada Fatimah binti Khatthab dan suaminya Sa’id bin Zaid ketika
keduanya dipergoki oleh Umar bin Khatthab. Begitu mendengar ayat-ayat Alquran
dibacakan, tenanglah hati Umar dan bahkan lelaki dari Bani Adi ini bersegera
menyatakan iman dan Islam di hadapan Rasulullah SAW.
Rabu, 17 September 2025
KARAMAH PARA SAHABAT
Kisah Sahabat Nabi yang Mulutnya Keluar Cahaya
Kisah ini sejatinya diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Ia bercerita, saat itu, Rasulullah SAW mengirim pasukan untuk menyerang suatu kaum yang memusuhi kaum muslimin.
Ketika Rasulullah tidak mendapatkan berita perkembangan keadaan pasukannya tersebut, lalu beliau bersabda, "Andaikan ada orang yang dapat mencari kabar tentang mereka dan memberitahukannya kepada kami."
Beberapa saat kemudian datanglah seseorang dan mengabarkan bahwa muslim utusan beliau telah meraih kemenangan dalam penyerangan itu. Setelahnya, saat pasukan kaum muslimin pulang dari peperangan menuju Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat menyambut mereka di dekat Madinah.
Sesampai dekat Madinah, pemimpin pasukan, Zaid bin Haritsah turun dari untanya dan mencium tangan Rasulullah. Rasulullah SAW kemudian merangkul dan seraya mencium kepalanya.
Lalu, Zaid diikuti oleh Abdullah bin Rawahah dan Qois bin Ashim. Nabi Muhammad SAW merangkul mereka berdua.
Selanjutnya, seluruh pasukan berkumpul di depan Rasulullah SAW. Mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dan beliau menjawab salam mereka. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Ceritakanlah apa yang terjadi selama bepergian kepada saudara-saudara kalian yang berada di sini, agar Aku memberikan kesaksian dari apa-apa yang kalian ucapkan, karena Jibril telah memberitahukan kepadaku tentang kebenaran yang kalian ucapkan."
Salah seorang pasukan kemudian menjawab, "Ya Rasulullah, ketika kami berada di dekat pasukan lawan, kami mengutus seorang mata-mata dari pihak mereka agar memberitahukan kepada pasukan kami mengenai kondisi dan jumlah mereka. Kemudian mata-mata tersebut menemui kami dan berkata, 'Jumlah mereka seribu orang', sedangkan jumlah kami dua ribu orang."Namun yang seribu pasukan lawan itu hanya menunggu di luar benteng kota. Sedangkan yang tiga ribu menunggu di jantung kota. Mereka sengaja menggunakan tipu daya dengan berbohong bahwa kekuatan mereka hanya seribu tentara supaya kami berani melawan mereka dan memenangkan pertempuran."
Cerita itu pun berlanjut, pasukan musuh di dalam kota kemudian menutup pintu gerbangnya, pasukan muslim kemudian menanti di luar. Ketika malam telah tiba, mereka tiba-tiba membuka pintu gerbang di kala pasukan muslim lelap tidur.
Namun, hal itu terkecuali Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah, Qatadah bin Nu'man, dan Qois bin Ashim yang sedang sibuk mengerjakan salat malam dan membaca Al-Qur'an di empat sudut perkemahan.
Di dalam kondisi yang gelap gulita itu, para musuh menyerang kaum muslim dan mereka menghujani mereka dengan panah hingga mereka tidak mampu menghalau karena gelapnya malam. Di tengah kekacauan tersebut, tiba-tiba kaum muslim tersebut melihat cahaya yang datangnya dari pembaca Al-Qur'an.
Cahaya seperti api mereka saksikan keluar dari mulut Qais bin Ashim, dan keluar cahaya seperti bintang kejora keluar dari mulut Qatadah bin Nu'man. Lalu, dari mulut Abdullah bin Rawahah keluar sinar seperti cahaya rembulan dan keluar sinar seperti cahaya Matahari dari mulut zaid bin Haritsah.
Keempat cahaya itulah yang menerangi muslim dan membuat gelapnya malam berubah seperti hari masih siang. Akan tetapi musuh kaum muslim tetap melihat seakan masih dalam keadaan kegelapan.
Sang panglima perang, Zaid bin Haritsah, kemudian memimpin pasukan muslim memasuki daerah lawan. Pasukan muslim dapat mengepung, membunuh sebagian mereka dan menawan mereka. Selanjutnya mereka mampu memasuki jantung kota dan mengumpulkan ghanimah perang."Wahai Rasulullah, yang membuat kami sangat heran adalah cahaya yang keluar dari keempat sahabat tersebut, dan kami tidak melihatnya sebelumnya. Cahaya dari mulut mereka itu mampu menerangi kami sehingga kami menang dan menebarkan kegelapan bagi musuh-musuh." terang salah satu pasukan itu.
Begitulah kisah sahabat nabi yang mulutnya keluar cahaya yang diduga karena keempat sahabat tersebut adalah pembaca Al-Qur'an yang taat beribadah kepada Allah SWT. Wallahua'lam.
Selasa, 16 September 2025
SAHABAT YANG DIMANDIKAN MALAIKAT
24 Rabi'ul Awwal 1447 H
Kisah Heroik Hanzalah
Pasca Perang Badr, kota Mekah diselimuti
bara dendam. Kaum Quraisy menelan kekalahan pahit. Para
pemimpin dan bangsawan mereka tewas di tangan kaum Muslimin. Kebencian ini membakar hati mereka, memicu keinginan kuat untuk
menuntut balas. Untuk menjaga semangat juang, para pemimpin Quraisy membuat
kebijakan tak biasa. Mereka melarang penduduk Mekah meratapi korban Perang
Badr. Mereka juga menunda penebusan para tawanan perang. Semua itu dilakukan
agar kaum Muslimin tidak melihat kesedihan dan kerapuhan mereka.
Di tengah suasana tegang inilah, seorang
pemuda mulia bernama Hanzhalah bin Abu Amir tampil sebagai teladan. Ironisnya,
ayahnya, Abu Amir, adalah seorang pemuka masyarakat yang menentang Rasulullah.
Ia bahkan mendapat julukan sebagai “Si Fasik” karena permusuhannya terhadap
Islam. Namun, Hanzhalah memilih jalan yang berbeda. Ia memeluk Islam dengan
tulus dan menjadi pembela Rasulullah yang setia.
Meski terlahir dari seorang pendeta,
Hanzhalah ternyata diberikan hidayah dan menyatakan diri menjadi pengikut Nabi
Muhammad SAW. Keislamannya pun diketahui oleh keluarga Hanzhalah. Meskipun ayah
dan keluarganya membenci keputusan Hanzhalah, ia tidak peduli. Menurut
Hanzhalah, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW di atas kecintaan kepada
keluarga.
Panggilan Jihad di Malam Pengantin
Kisah Hanzhalah mencapai puncaknya
menjelang Perang Uhud. Ia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Jamilah
binti Abdullah bin Ubay bin Salul. Malam itu adalah malam pertamanya sebagai
seorang suami. Hanzhalah masih dalam dekapan hangat istrinya saat seruan jihad
menggema. Panggilan untuk membela Islam di
medan Perang Uhud telah tiba.
Malam menjelang
keberangkatan pasukan Muslim ke Uhud, Nabi Muhammad SAW mengizinkan Hanzhalah
untuk pulang menemui isrrinya. Beliau paham betul, sebagai pengantin baru tentu
gejolak kerinduan dan syahwat selalu muncul. Nabi Muhammad SAW turut tersenyum
dengan mendengar Hanzhalah meminta izin untuk menemui istrinya.
Statusnya
sebagai seorang pemuda yang baru menikah, ternyata tidak menghalangnya untuk
pergi berjihad.
Tanpa keraguan
sedikit pun, Hanzhalah membuat keputusan besar. Ia melepaskan pelukan istrinya.
Cintanya pada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih besar dari kebahagiaan duniawi
yang baru saja ia cicipi. Dalam keadaan junub, tanpa sempat bersuci, ia
langsung menyambar pedangnya. Ia berlari menyambut panggilan jihad, bergabung
dengan pasukan Muslimin yang bergerak menuju Uhud. Pengorbanannya menunjukkan
tingkat keimanan yang luar biasa.
Keberanian
di Medan Uhud Hingga Syahid
Di medan
pertempuran, Hanzhalah bertarung dengan gagah berani. Semangatnya membakar,
membuat gentar siapapun yang berhadapan dengannya. Ia terus menerobos barisan
pertahanan musuh dengan satu tujuan. Ia ingin mencapai komandan tertinggi
pasukan musyrikin, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah rupanya tak kalah berani
dengan Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali in Abi Thalib, dan sahabat-sahabat
lainnya. Berkat keberaniannya itu pula, pasukan Muslim berhasil mendekati
pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah dengan gagah berani menyabetkan
pedangnya ke kaki kuda yang dinaiki oleh Abu Sufyan, sehingga ia pun terjatuh.
Usahanya nyaris
berhasil. Hanzhalah mampu mendesak Abu Sufyan dan hampir saja menebasnya.
Kemenangan strategis ini sudah di depan mata. Namun, seorang prajurit musyrik
bernama Syaddad bin Al-Aswad melihat kejadian itu. Dengan cepat, ia bergerak
dari belakang dan menikam Hanzhalah. Seketika, pahlawan pemberani itu pun gugur
sebagai syahid. Jiwanya terbang menghadap Sang Pencipta dengan kemuliaan.
Keajaiban
Setelah Pertempuran Usai
Perang Uhud berakhir dengan luka mendalam bagi kaum Muslimin. Saat mereka
mulai mengumpulkan jasad para syuhada untuk dimakamkan, mereka menyadari
sesuatu. Usungan jenazah Hanzhalah tidak dapat ditemukan. Para sahabat
mencarinya ke seluruh penjuru medan perang.
Setelah
pencarian yang teliti, mereka akhirnya menemukan jasadnya. Jasad Hanzhalah
terbaring di atas sebuah gundukan tanah. Ada sebuah keanehan yang membuat para
sahabat terheran. Tubuhnya basah kuyup, seolah baru saja dimandikan. Padahal,
saat itu tidak ada hujan dan sumber air pun jauh. Dari rambutnya, air segar
masih menetes membasahi tanah di sekitarnya.
Para sahabat
melaporkan kejadian aneh ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.
Beliau kemudian memberitakan sebuah kabar agung dari langit. Rasulullah
menjelaskan bahwa para malaikat telah turun untuk memandikan jasad Hanzhalah.
Untuk memastikan penyebab kemuliaan ini, Rasulullah bersabda, “Tanyakan kepada
keluarganya, ada apa dengan dirinya?”
Para sahabat segera mendatangi istri
Hanzhalah. Sang istri kemudian menceritakan
keadaan suaminya. Ia menjelaskan bahwa Hanzhalah berangkat ke medan perang
dalam keadaan junub. Ia bergegas memenuhi panggilan jihad sebelum sempat mandi
wajib. Dari peristiwa inilah, Hanzhalah bin Abu Amir mendapatkan gelar
kehormatan abadi, Ghasilil Malaikat, yang berarti “Orang yang
Dimandikan oleh Malaikat”. Kisahnya menjadi bukti bahwa niat tulus dan
pengorbanan tertinggi di jalan Allah akan selalu mendapatkan balasan yang
mulia. Wallahu ta’ala a’lam.
Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup
27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...
-
1 Rabi'ul Awwal 1447 H Tahun-Tahun Penuh Duka Rasulullah ﷺ adalah manusia pilihan Allah, tetapi perjalanan hidup beliau penuh dengan uji...
-
24 Rabi'ul Awwal 1447 H Kisah Heroik Hanzalah Pasca Perang Badr, kota Mekah diselimuti bara dendam. Kaum Quraisy menelan kekalaha...
-
7 Ramadhan 1446 H Kisah Sahabat Nabi yang gemar membaca alquran pada bulan Ramadan nampaknya penting untuk menjadi perhatian utama bagi kit...