1 Ramadhan 1447 H
Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan....
Tidak sedikit di antara kita yang menyambut kehadiran bukan Ramadhan dengan penuh suka cita, seolah memendam kerinduan lama yang membuncah yang betul-betul diharapkan kedatangannya sehingga ungkapan ahlan wa sahlan bahkan ditambahkan wa marhaban terucap darilidah kita. Sebuah ungkapan yang semestinya bukan basa-basi tetapi tulus dan keluar dari lubuk hati yang dalam.
Ramadhan adalah bentu rahmat (kasih sayang) Allah kepada kita hambanya dan tentu saja diharapkan hambanya memanfaatkannya untuk betul-betul menggapai rahmat-Nya. Karenanya Ramadhan merupakan bulan ibadah dan kepatuhan serta ketundukan kepada Allah semata.
Di antara beberapa keutamaan ibadah yang Allah berikan kepada kita adalah ibadah puasa. Dalam banyak riwayat menjelaskan bahwa ganjaran pahala ibadah puasa tidak terbatas dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya yang pelipatgandaan pahalanya 10 – 700 kali lipat. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
Artinya : “Setiap
amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh
kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku.
Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat
dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua
kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika
berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di
sisi Allah daripada bau minyak kasturi”
(HR. Imam Muslim)
Karena besarnya ganjaran pahala ibadah puasa terkhusus puasa Ramadhan, maka ummat Islam senantiasa merindukan kehadirannya, bahkan sejak dua bulan sebelumnya yaitu di bulan Rajab dan Sya’ban senantiasa dibacakan do’a diberikan keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban dan dipertemukan dengan bulan Ramadhan.
اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ
وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَانَ
Ya Allah berkahilah kami pada bulan
Rajab dan Sya’ban. Sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.
Meskipun hadits
ini dinilai dho’if tetapi imam Nawawi tetap mencantumkannya dalam kitabnya
Al Adzkar sehingga banyak diamalkan (dibaca) sebagai bentuk kerinduan dan
keinginan berjumpa dengan bulan Ramadhan.
Karenanya
Rasulullah SAW-pun mengingatkan agar ummat Islam memanfaatkan dengan maksimal
kehadiran bulan Ramadhan dan jangan sampai berakhirnya bulan Ramadhan tanpa
sedikitpun mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
رَغِمَ أَنفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ
خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
Terhinalah orang yang menjumpai Ramadhan,
kemudian Ramadhan berlalu sementara dosa-dosanya belum mendapat ampunan. (HR. Al-Bazzar, dan dishahihkan dalam kitab Al Jami’ Ash Shagir,
no.75.)
Sahabat..
Imam Ibnu Rajab
Hanbali dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif menjelaskan setidaknya ada
sebab kemulyaan amal ibadah; pertama Adalah karena kemulyaan tempat
ibadah. Seperti tanah haram, kota suci Mekkah dan Madinah yang diriwayatkan dalam
hadits shohih :
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ
أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
Shalat di
masjidku ini, lebih baik daripada seribu shalat di tempat lain, kecuali di
Masjidil Haram." (HR. Muslim)
Sholat di
masjid Nabawi dilipatbgandakan menjadi 1000 kali lipat sementara sholat di masjidil haram
dilipargandakan menjadi 100.000 kali lipat. Temasuk siapa yang menjalan ibadah
puasa terkhusus puasa Ramadhan maka bisa
jadi dilipatkangandakan menjadti 100.000 bulan Ramadhan. Karenanya tidak heran tidak sedikit ummat
Islam yang berharap bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di tanah suvu
Kedua¸ Adalah kemulyaan waktu. Tentu kita yang tidak tinggal di tanah
suci masih mendapatkan kesempatan pelipatgandaan amal di waktu-waktu yang Allah
mulyakan seperti bulan suci Ramadhan. Ibnu Rajab Al Hanbali mengutip hadits riwayat
Salman Al-Farisi yang termaktub dalam Kitab Shahih Ibnu Khuzaimah:
مَنْ تَطَوَّعَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الخَيْرِ كَانَ
كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فيِماَ سِوَاهُ وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْهِ كَانَ كَمَنْ
اّدّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةًً.
Siapa saja melakukan
kefardhuan di bulan Ramadhan maka dia seperti melaksanakan 70 kefardhuan.
Maka sangat
dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah saat melaksananakn ibadah puasa terlebih
puasa Ramadhan dikarenakan merupakan ibadah puasa yang diwajibkan Allah SWT
kepada hambaNya dan keberadaannya sebagai salah satu tegaknya Islam yaitu rukun
Islam.
Imam Nakho’I sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu
rajab mengatakan :
صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ
أَفضَلُ مِنْ أَلْفِ يَوْمٍ، وَتَسْبِيْحَةٌ فِيهِ أَفضَلُ مِنْ أَلْفِ تَسْبِيحِةٍ،
وِرِكْعَةً فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ رَكْعَةٍ.
”Puasa satu
hari dibulan Ramadhān lebih baik daripada puasa 1000 hari di bulan lainnya. Dan
satu kali seorang mengucapkan Subhānallāh pada bulan Ramadhān lebih utama
daripada 1000 tasbih di bulan yang lain. Dan satu raka’at lebih baik daripada
1000 raka’at dibulan yang lainnya.
Wallahu A’lam