13 Ramadhan 1447 H
Siapa saja yang sungguh-sungguh berdoa dan memohon kepada Allah SWT, maka doanya akan dikabulkan di bulan istimewa tersebut. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya, dalam salah satu karyanya yang berjudul Mujabud Da’wah. Di dalam kitab itu dijelaskan, Syu’aib bin Muhriz menceritakan, bahwa pada masa Muhammad bin Sulaiman, seorang tokoh penting dalam Dinasti ‘Abbasiyyah, terdapat seorang wanita yang buta. Suatu hari pada malam ke-24 bulan Ramadan tiba-tiba saja matanya sembuh. Syu’aib bin Muhriz yang kaget mendengar kabar seorang yang buta dan tiba-tiba sembuh mencoba untuk mendatanginya untuk memastikan kebenaran kabar tersebut.
Syu’aib pun mendatangi perempuan tersebut di rumah Musa al-Muhtasib di Bashrah. Ketika mengetahui ada yang mengunjunginya, perempuan tersebut meminta untuk duduk menunggu di depan rumah. Tatkala keluar rumah tersebut, Syu’aib melihat bahwa mata wanita tersebut normal layaknya tidak pernah terjadi kebutaan sebelumnya. Syu’aib pun bertanya kepadanya:
“Wahai hamba Allah, doa apa yang engkau panjatkan kepada Tuhanmu?”
“Aku melaksanakan salat pada malam pertama bulan Ramadan di masjid Al-Hay. Kemudian di waktu sahur, aku pun melaksanakan salat di tempat salat di rumahku, aku berdoa:
يَا كَاشِفَ ضُرِّ أَيُّوبَ، يَا مَنْ رَحِمَ شَيْبَةَ يَعْقُوبَ، يَا مَنْ رَدَّ يُوسُفَ عَلَى يَعْقُوبَ، رُدَّ عَلَيَّ بَصَرِي
Artinya, “Wahai Yang Menyingkap kesulitan Nabi Ayub, wahai Yang Maha Penyayang kepada Nabi Ya’qub yang telah beruban, wahai Yang mengembalikan Nabi Yusuf kepada Nabi Ya’qub, mohon kembalikanlah penglihatanku kepadaku.”
“Seketika saja, setelah aku berdoa demikian seolah ada yang melepaskan sesuatu yang selama ini menutupi mataku, sehingga aku pun bisa melihat.” (Ibnu Abi Dunya, Mujabud Da’wah, [Beirut: Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, 1993], jilid I, hal. 79).
Hikmah Kisah Dalam cerita di atas, tidak dapat dipastikan siapa nama wanita dalam kisah tersebut, akan tetapi ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari kisah di atas. Di antara hikmah kisah di atas adalah hendaknya kita memaksimalkan Ramadan untuk beribadah kepada Allah, misalnya dengan mengisi malam-malam Ramadan dengan ibadah sunnah seperti salat tarawih, tahajud, witir dan zikir serta doa kepada Allah. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:
إِنَّ للصَائِم عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
Artinya: “Sungguh ketika berbuka, orang yang berpuasa mempunyai doa yang tidak tertolak (baca:dikabulkan).” (HR Ibnu Majah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar