Selasa, 02 April 2024

AL QUR'AN BERTUTUR KISAH

 Sahabat…

Pernahkah anda membaca kisah masa lalu? Tentunya pernah. Tetapi tidak semua kejadian masa lalu menjadi kisah dan sejarah bagi seseorang. Seringkali secara subjektif manusia menetukan suatu kejadian menjadi kisah dan sejarah bagi dirinya dan mengabaikan bahkan melupakan kejadia-kejadian lain dari ingatannya. Apapun kisah dan sejarahnya, bagi peminatnya, sungguh sangat mengasikkan untuk dibaca dan dipelajari.

Al Qur’an juga memuat kisah-kisah dan sejarah masa lalu. Tentunya al Qur’an bukanlah buku sejarah tetapi memuat informasi sejarah. Dan yang tertuang dalam al Qur’an pasti benar terjadinya peristiwa itu, dan tentu saja kisah dan sejarah dalam al Qur’an bukan dongeng  belaka sebagaimana anggapan orang-orang kafir (QS. Al An’am/6 : 25)  yang dibantah Allah dalam QS. Ali Imran/3 : 62 bahkan kisa-kisah itu disampaikan dengan sangat baik (QS. Yusuf/12 : 3)

Prof. Nadirsyah menyatakan bahwa dalam al Qur’an ayat-ayat yang berisi kisah sejarah lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat hukum karena memang pada dasarnya manusia senang mendengar, membaca dan menyaksikan kisah. Di antara tujuan utama pemuatan kisah-kisah dan sejarah dalam al Qur’an sebagaimana diurai oleh Manna’  Khalil Qattan adalah untuk menampakkan kebenaran nabi Muhammad SAW tentang dakwahnya nabi-nabi terdahulu. Artinya bagaimana mungkin seseorang yag ummi yang tdak pernah berguru dapat megungkapkan sejarah masa lampau dengan sangat amat baik. Selain itu juga bertujuan untuk menyibak kebohongan ahlu kitab yang merombak dan mengubbah isi kitab mereka sendiri sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Ali Imran/3 : 93.

Dan pengungkapan kisah dan sejarah esensinya adalah ibrah pelajaran-pelajaran bagi manusia tentang banyak hal (QS. Yusuf/12 : 111) bukan sekedar kepada peristinwanya saja tetapi nilai dan hikmah yang semestinya diambil oleh setiap manusia. Karenanya mengingat begitu pentingnya makna peristiwa an sejarah itu, seringkali al Qur’an mengulang-ulang kisah peristiwa dan sejarah terebut agar pesan-pesaannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Bahkan pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi betapa besarya perhatian pada peristiwa tersebut. Demikian Manna’ Khalil Qattan menjelaskan

Wallahu A’lam

Jakarta, 23 Ramadhan 1445 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...