Sahabat…
Pernahkah anda membaca kisah
masa lalu? Tentunya pernah. Tetapi tidak semua kejadian masa lalu menjadi kisah
dan sejarah bagi seseorang. Seringkali secara subjektif manusia menetukan suatu
kejadian menjadi kisah dan sejarah bagi dirinya dan mengabaikan bahkan
melupakan kejadia-kejadian lain dari ingatannya. Apapun kisah dan sejarahnya,
bagi peminatnya, sungguh sangat mengasikkan untuk dibaca dan dipelajari.
Al Qur’an juga memuat kisah-kisah
dan sejarah masa lalu. Tentunya al Qur’an bukanlah buku sejarah tetapi memuat
informasi sejarah. Dan yang tertuang dalam al Qur’an pasti benar terjadinya
peristiwa itu, dan tentu saja kisah dan sejarah dalam al Qur’an bukan
dongeng belaka sebagaimana anggapan
orang-orang kafir (QS. Al An’am/6 : 25)
yang dibantah Allah dalam QS. Ali Imran/3 : 62 bahkan kisa-kisah itu
disampaikan dengan sangat baik (QS. Yusuf/12 : 3)
Prof. Nadirsyah menyatakan
bahwa dalam al Qur’an ayat-ayat yang berisi kisah sejarah lebih banyak
dibandingkan dengan ayat-ayat hukum karena memang pada dasarnya manusia senang
mendengar, membaca dan menyaksikan kisah. Di antara tujuan utama pemuatan
kisah-kisah dan sejarah dalam al Qur’an sebagaimana diurai oleh Manna’ Khalil Qattan adalah untuk menampakkan
kebenaran nabi Muhammad SAW tentang dakwahnya nabi-nabi terdahulu. Artinya
bagaimana mungkin seseorang yag ummi yang tdak pernah berguru dapat
megungkapkan sejarah masa lampau dengan sangat amat baik. Selain itu juga
bertujuan untuk menyibak kebohongan ahlu kitab yang merombak dan mengubbah
isi kitab mereka sendiri sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Ali Imran/3 : 93.
Dan pengungkapan kisah dan
sejarah esensinya adalah ibrah pelajaran-pelajaran bagi manusia tentang
banyak hal (QS. Yusuf/12 : 111) bukan sekedar kepada peristinwanya saja tetapi
nilai dan hikmah yang semestinya diambil oleh setiap manusia. Karenanya
mengingat begitu pentingnya makna peristiwa an sejarah itu, seringkali al Qur’an
mengulang-ulang kisah peristiwa dan sejarah terebut agar pesan-pesaannya lebih
mantap dan melekat dalam jiwa. Bahkan pengulangan merupakan salah satu cara
pengukuhan dan indikasi betapa besarya perhatian pada peristiwa tersebut.
Demikian Manna’ Khalil Qattan menjelaskan
Wallahu A’lam
Jakarta, 23 Ramadhan 1445 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar