Selasa, 16 September 2025

SAHABAT YANG DIMANDIKAN MALAIKAT

 24 Rabi'ul Awwal 1447 H

Kisah Heroik Hanzalah

Pasca Perang Badr, kota Mekah diselimuti bara dendam. Kaum Quraisy menelan kekalahan pahit. Para pemimpin dan bangsawan mereka tewas di tangan kaum Muslimin. Kebencian ini membakar hati mereka, memicu keinginan kuat untuk menuntut balas. Untuk menjaga semangat juang, para pemimpin Quraisy membuat kebijakan tak biasa. Mereka melarang penduduk Mekah meratapi korban Perang Badr. Mereka juga menunda penebusan para tawanan perang. Semua itu dilakukan agar kaum Muslimin tidak melihat kesedihan dan kerapuhan mereka.

Di tengah suasana tegang inilah, seorang pemuda mulia bernama Hanzhalah bin Abu Amir tampil sebagai teladan. Ironisnya, ayahnya, Abu Amir, adalah seorang pemuka masyarakat yang menentang Rasulullah. Ia bahkan mendapat julukan sebagai “Si Fasik” karena permusuhannya terhadap Islam. Namun, Hanzhalah memilih jalan yang berbeda. Ia memeluk Islam dengan tulus dan menjadi pembela Rasulullah yang setia.

Meski terlahir dari seorang pendeta, Hanzhalah ternyata diberikan hidayah dan menyatakan diri menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Keislamannya pun diketahui oleh keluarga Hanzhalah. Meskipun ayah dan keluarganya membenci keputusan Hanzhalah, ia tidak peduli. Menurut Hanzhalah, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW di atas kecintaan kepada keluarga.

 

Panggilan Jihad di Malam Pengantin

Kisah Hanzhalah mencapai puncaknya menjelang Perang Uhud. Ia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul. Malam itu adalah malam pertamanya sebagai seorang suami. Hanzhalah masih dalam dekapan hangat istrinya saat seruan jihad menggema. Panggilan untuk membela Islam di medan Perang Uhud telah tiba.

Malam menjelang keberangkatan pasukan Muslim ke Uhud, Nabi Muhammad SAW mengizinkan Hanzhalah untuk pulang menemui isrrinya. Beliau paham betul, sebagai pengantin baru tentu gejolak kerinduan dan syahwat selalu muncul. Nabi Muhammad SAW turut tersenyum dengan mendengar Hanzhalah meminta izin untuk menemui istrinya.

Statusnya sebagai seorang pemuda yang baru menikah, ternyata tidak menghalangnya untuk pergi berjihad.

Tanpa keraguan sedikit pun, Hanzhalah membuat keputusan besar. Ia melepaskan pelukan istrinya. Cintanya pada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih besar dari kebahagiaan duniawi yang baru saja ia cicipi. Dalam keadaan junub, tanpa sempat bersuci, ia langsung menyambar pedangnya. Ia berlari menyambut panggilan jihad, bergabung dengan pasukan Muslimin yang bergerak menuju Uhud. Pengorbanannya menunjukkan tingkat keimanan yang luar biasa.

 

Keberanian di Medan Uhud Hingga Syahid

Di medan pertempuran, Hanzhalah bertarung dengan gagah berani. Semangatnya membakar, membuat gentar siapapun yang berhadapan dengannya. Ia terus menerobos barisan pertahanan musuh dengan satu tujuan. Ia ingin mencapai komandan tertinggi pasukan musyrikin, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah rupanya tak kalah berani dengan Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali in Abi Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya. Berkat keberaniannya itu pula, pasukan Muslim berhasil mendekati pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah dengan gagah berani menyabetkan pedangnya ke kaki kuda yang dinaiki oleh Abu Sufyan, sehingga ia pun terjatuh.

Usahanya nyaris berhasil. Hanzhalah mampu mendesak Abu Sufyan dan hampir saja menebasnya. Kemenangan strategis ini sudah di depan mata. Namun, seorang prajurit musyrik bernama Syaddad bin Al-Aswad melihat kejadian itu. Dengan cepat, ia bergerak dari belakang dan menikam Hanzhalah. Seketika, pahlawan pemberani itu pun gugur sebagai syahid. Jiwanya terbang menghadap Sang Pencipta dengan kemuliaan.

Keajaiban Setelah Pertempuran Usai

Perang Uhud berakhir dengan luka mendalam bagi kaum Muslimin. Saat mereka mulai mengumpulkan jasad para syuhada untuk dimakamkan, mereka menyadari sesuatu. Usungan jenazah Hanzhalah tidak dapat ditemukan. Para sahabat mencarinya ke seluruh penjuru medan perang.

Setelah pencarian yang teliti, mereka akhirnya menemukan jasadnya. Jasad Hanzhalah terbaring di atas sebuah gundukan tanah. Ada sebuah keanehan yang membuat para sahabat terheran. Tubuhnya basah kuyup, seolah baru saja dimandikan. Padahal, saat itu tidak ada hujan dan sumber air pun jauh. Dari rambutnya, air segar masih menetes membasahi tanah di sekitarnya.

Para sahabat melaporkan kejadian aneh ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau kemudian memberitakan sebuah kabar agung dari langit. Rasulullah menjelaskan bahwa para malaikat telah turun untuk memandikan jasad Hanzhalah. Untuk memastikan penyebab kemuliaan ini, Rasulullah bersabda, “Tanyakan kepada keluarganya, ada apa dengan dirinya?”

Para sahabat segera mendatangi istri Hanzhalah. Sang istri kemudian menceritakan keadaan suaminya. Ia menjelaskan bahwa Hanzhalah berangkat ke medan perang dalam keadaan junub. Ia bergegas memenuhi panggilan jihad sebelum sempat mandi wajib. Dari peristiwa inilah, Hanzhalah bin Abu Amir mendapatkan gelar kehormatan abadi, Ghasilil Malaikat, yang berarti “Orang yang Dimandikan oleh Malaikat”. Kisahnya menjadi bukti bahwa niat tulus dan pengorbanan tertinggi di jalan Allah akan selalu mendapatkan balasan yang mulia. Wallahu ta’ala a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...