24 Rabi'ul Awwal 1447 H
Kisah Heroik Hanzalah
Pasca Perang Badr, kota Mekah diselimuti
bara dendam. Kaum Quraisy menelan kekalahan pahit. Para
pemimpin dan bangsawan mereka tewas di tangan kaum Muslimin. Kebencian ini membakar hati mereka, memicu keinginan kuat untuk
menuntut balas. Untuk menjaga semangat juang, para pemimpin Quraisy membuat
kebijakan tak biasa. Mereka melarang penduduk Mekah meratapi korban Perang
Badr. Mereka juga menunda penebusan para tawanan perang. Semua itu dilakukan
agar kaum Muslimin tidak melihat kesedihan dan kerapuhan mereka.
Di tengah suasana tegang inilah, seorang
pemuda mulia bernama Hanzhalah bin Abu Amir tampil sebagai teladan. Ironisnya,
ayahnya, Abu Amir, adalah seorang pemuka masyarakat yang menentang Rasulullah.
Ia bahkan mendapat julukan sebagai “Si Fasik” karena permusuhannya terhadap
Islam. Namun, Hanzhalah memilih jalan yang berbeda. Ia memeluk Islam dengan
tulus dan menjadi pembela Rasulullah yang setia.
Meski terlahir dari seorang pendeta,
Hanzhalah ternyata diberikan hidayah dan menyatakan diri menjadi pengikut Nabi
Muhammad SAW. Keislamannya pun diketahui oleh keluarga Hanzhalah. Meskipun ayah
dan keluarganya membenci keputusan Hanzhalah, ia tidak peduli. Menurut
Hanzhalah, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW di atas kecintaan kepada
keluarga.
Panggilan Jihad di Malam Pengantin
Kisah Hanzhalah mencapai puncaknya
menjelang Perang Uhud. Ia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Jamilah
binti Abdullah bin Ubay bin Salul. Malam itu adalah malam pertamanya sebagai
seorang suami. Hanzhalah masih dalam dekapan hangat istrinya saat seruan jihad
menggema. Panggilan untuk membela Islam di
medan Perang Uhud telah tiba.
Malam menjelang
keberangkatan pasukan Muslim ke Uhud, Nabi Muhammad SAW mengizinkan Hanzhalah
untuk pulang menemui isrrinya. Beliau paham betul, sebagai pengantin baru tentu
gejolak kerinduan dan syahwat selalu muncul. Nabi Muhammad SAW turut tersenyum
dengan mendengar Hanzhalah meminta izin untuk menemui istrinya.
Statusnya
sebagai seorang pemuda yang baru menikah, ternyata tidak menghalangnya untuk
pergi berjihad.
Tanpa keraguan
sedikit pun, Hanzhalah membuat keputusan besar. Ia melepaskan pelukan istrinya.
Cintanya pada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih besar dari kebahagiaan duniawi
yang baru saja ia cicipi. Dalam keadaan junub, tanpa sempat bersuci, ia
langsung menyambar pedangnya. Ia berlari menyambut panggilan jihad, bergabung
dengan pasukan Muslimin yang bergerak menuju Uhud. Pengorbanannya menunjukkan
tingkat keimanan yang luar biasa.
Keberanian
di Medan Uhud Hingga Syahid
Di medan
pertempuran, Hanzhalah bertarung dengan gagah berani. Semangatnya membakar,
membuat gentar siapapun yang berhadapan dengannya. Ia terus menerobos barisan
pertahanan musuh dengan satu tujuan. Ia ingin mencapai komandan tertinggi
pasukan musyrikin, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah rupanya tak kalah berani
dengan Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali in Abi Thalib, dan sahabat-sahabat
lainnya. Berkat keberaniannya itu pula, pasukan Muslim berhasil mendekati
pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb. Hanzhalah dengan gagah berani menyabetkan
pedangnya ke kaki kuda yang dinaiki oleh Abu Sufyan, sehingga ia pun terjatuh.
Usahanya nyaris
berhasil. Hanzhalah mampu mendesak Abu Sufyan dan hampir saja menebasnya.
Kemenangan strategis ini sudah di depan mata. Namun, seorang prajurit musyrik
bernama Syaddad bin Al-Aswad melihat kejadian itu. Dengan cepat, ia bergerak
dari belakang dan menikam Hanzhalah. Seketika, pahlawan pemberani itu pun gugur
sebagai syahid. Jiwanya terbang menghadap Sang Pencipta dengan kemuliaan.
Keajaiban
Setelah Pertempuran Usai
Perang Uhud berakhir dengan luka mendalam bagi kaum Muslimin. Saat mereka
mulai mengumpulkan jasad para syuhada untuk dimakamkan, mereka menyadari
sesuatu. Usungan jenazah Hanzhalah tidak dapat ditemukan. Para sahabat
mencarinya ke seluruh penjuru medan perang.
Setelah
pencarian yang teliti, mereka akhirnya menemukan jasadnya. Jasad Hanzhalah
terbaring di atas sebuah gundukan tanah. Ada sebuah keanehan yang membuat para
sahabat terheran. Tubuhnya basah kuyup, seolah baru saja dimandikan. Padahal,
saat itu tidak ada hujan dan sumber air pun jauh. Dari rambutnya, air segar
masih menetes membasahi tanah di sekitarnya.
Para sahabat
melaporkan kejadian aneh ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.
Beliau kemudian memberitakan sebuah kabar agung dari langit. Rasulullah
menjelaskan bahwa para malaikat telah turun untuk memandikan jasad Hanzhalah.
Untuk memastikan penyebab kemuliaan ini, Rasulullah bersabda, “Tanyakan kepada
keluarganya, ada apa dengan dirinya?”
Para sahabat segera mendatangi istri
Hanzhalah. Sang istri kemudian menceritakan
keadaan suaminya. Ia menjelaskan bahwa Hanzhalah berangkat ke medan perang
dalam keadaan junub. Ia bergegas memenuhi panggilan jihad sebelum sempat mandi
wajib. Dari peristiwa inilah, Hanzhalah bin Abu Amir mendapatkan gelar
kehormatan abadi, Ghasilil Malaikat, yang berarti “Orang yang
Dimandikan oleh Malaikat”. Kisahnya menjadi bukti bahwa niat tulus dan
pengorbanan tertinggi di jalan Allah akan selalu mendapatkan balasan yang
mulia. Wallahu ta’ala a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar