Senin, 15 September 2025

SAHABAT YANG MENYESALI KEBAIKANNYA SAAT SAKARATUL MAUT

 23 Rabiu'ul Awwal 1557 H


Sya’ban, Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut

Sya’ban, salah seorang shabat yang namanya tidaklah menonjol layaknya para sahabat yang lainnya, seperti Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan lainnya.

Tidak seperti sahabat yang lainnya yang mebangun rumah di sekitaran Masjid Nabawi dan rumah Nabi agar bisa terus mengikuti shalat lima waktu bersama Nabi Muhammad, bergabung dalam majelis ilmu dan hikmah yang diselenggarakan Nabi, dan lain sebagainya. Namun t Sya’ban memilih memilih rumahnya berjauhan n bahkapaling jauh dari rumah Nabi Muhammad SAW dan Masjid Nabawi.

Disebutkan bahwa jarak rumah Sya’ban dengan Masjid Nabawi atau rumah Rasulullah SAW adalah kira-kira tiga jam dengan berjalan kaki. Meski demikian, Sya’ban tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah bersama Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Sya’ban bahkan selalu datang paling awal dibandingkan sahabat yang lain. Ia selalu mengambil di posisi bagian pojok masjid ketika shalat dan i’tikaf. Alasannya, dengan duduk di bagian pojok masjid ia tidak ingin mengganggu sahabat yang datang kemudian. Oleh sebab itu, ia selalu datang pertama agar untuk tidak ketinggalan, walau satu rakaat saja, shalat berjamaah bersama Nabi Muhammad SAW.

Rupanya, kabar Sya’ban –yang berjalan tiga jam dari rumahnya ke Masjid Nabawi- sampai ke telinga Ubay bin Ka’ab. Seorang mantan pendeta Yahudi yang memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW. Karena kasihan, Ubay bin Ka’ab menyarankan Sya’ban agar membeli seekor keledai agar perjalanannya lebih cepat dan kakinya tidak sakit.

“Demi Allah, aku tak senang kalau rumahku berdekatan dengan rumah Rasulullah. Aku lebih suka tinggal di sebuah rumah yang jauh dari rumah beliau,” Jawaban Sya’ban kepada Ubay bin Ka’ab.

Ubay bin Ka’ab kaget dengan jawaban Sya’ban. Kemudian ia melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah SAW. Tidak lama berselang, akhirnya Rasulullah SAW mengonfirmasi kepada Sya’ban mengapa ia tidak suka tinggal dengannya. Sya’ban mengungkapkan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa setiap langkah seseorang yang menuju masjid, maka satu dosanya akan diampuni  atau derajatnya dinaikkan satu peringkat. Itulah yang membuat Sya’ban ingin rumahnya jauh dari rumah Nabi Muhammad SAW yang bersebelahan dengan Masjid Nabawi. Tidak lain, ia ingin agar langkahnya ke Masjid Nabawi banyak, sehingga dosa-dosanya diampuni dan derajatnya diangkat. 

Sahabat Sya’ban memiliki kebiasaan unik yang selalu beliau jalani sepanjang hidupnya.

Suatu ketika, Sya’ban tidak ada di posisi tempat ia biasa beri’tikaf. Rasulullah SAW yang hendak memulai shalat shubuh berjamaah pun mulai bertanya-tanya:

“dimana Sya’ban berada? Kok tidak biasanya?”\

Namun tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban yang menyebabkan shalat jamaah pun ditunda beberapa saat. Setelah beberapa waktu tidak ada tanda-tanda kehadiran Sya’ban, Rasulullah SAW-pun segera melaksanakan jamaah shalat subuh. Rasulullah SAW khawatir jika terlalu lama menunggu, shalat subuh berjamaah akan terlaksana terlalu siang.

 

Wafatnya Sya’ban

Selesai melaksanakan jamaah, Rasulullah SAW-pun bertanya kepada para sahabat yang hadir dalam jamaah shalat subuh itu:

“Ada yang tahu dimana rumah Sya’ban?”

Salah seorang sahabat mengetahui dimana persisnya letak rumah sahabat Sya’ban. Khawatir terjadi sesuatu terhadap Sya’ban, Rasulullah meminta agar diantarkan ke tempat kediaman Sya’ban kala itu. Dengan segera rombongan Rasulullah SAW bersama para sahabat pergi untuk datang ke rumah Sya’ban. Perjalanan ditempuh amat panjang, hingga jarak antara masjid menuju lokasi kira-kira ditempuh mulai setelah shalat shubuh sampai waktu afdhal untuk melaksanakan shalat dhuha. (kisaran 2 jam perjalanan)

Sesampainya di depan rumah, Rasulullah SAW-pun mengucap salam sambil mengetuk pintu. Kemudian, keluarlah seorang wanita sambil membalas salam serta membukakan pintu. Rasulullah bertanya:

“Benarkah ini rumah Sya’ban?”.

Wanita itu menjawab: “Iya, saya istrinya.”

Rasulullah kembali bertanya:  “Bisa kah kami bertemu dengan Sya’ban? Tadi pagi beliau tidak hadir waktu jamaah shalat subuh bersama kami.”

Wanita itu menjawab sambil menitikkan air mata di pipinya:  

“Mohon maaf ya Rasulallah. Beliau sudah meninggal pagi tadi, tepat sebelum adzan subuh. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”.

 

Penyesalan Sya’ban

Beberapa saat kemudian, wanita itu bertanya kepada Rasulullah:

“Ya Rasulullah, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada engkau”.

Rasulullah pun menjawab, “Silakan apa yang hendak ingin kau tanyakan?”

Wanita itu berkata:  

“Tadi sebelum ia meninggal, ia berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda”.

Rasulullah pun kembali bertanya:  

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?”

“Dalam masing-masing teriakan ia berkata ‘Aduh, mengapa tidak lebih jauh?

Aduh, mengapa tidak yang baru?

Aduh, mengapa tidak semuanya?’”

Rasulullah kemudian memberikan penjelasan dengan amat rinci. Ketika menjelang sakaratul maut, seluruh amal perbuatan yang telah Sya’ban lakukan ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Semua peristiwa yang disaksikan oleh Sya’ban, tidak dapat dilihat oleh orang lain. Di samping amal perbuatan, Allah juga memperlihatkan ganjaran yang Sya’ban terima.

Teriakan pertama, “Aduh, mengapa tidak lebih jauh?”

Dalam penayangan itu, Sya’ban menyaksikan suatu amal yang biasa ia lakukan setiap hari berupa perjalanannya pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dari perjalanan yang amat panjang itu, Sya’ban diperlihatkan ganjaran yang ia peroleh dari setiap langkah kakinya.

Saat ia berteriak, timbul penyesalan dalam diri Sya’ban. Andaikan jarak rumahnya dengan masjid lebih jauh lagi, tentu pahala yang ia peroleh semakin banyak dan berlipat-lipat.

Teriakan kedua, “Aduh, mengapa tidak yang baru?”

Saat musim dingin, angin menghembuskan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Sya’ban yang hendak pergi ke masjid pun kembali ke dalam rumah dan mengambil baju untuk outer. Sya’ban sengaja mengenakan baju yang baru di dalam sedangkan baju yang jelek di luar.

Sya’ban sengaja melakukannya karena nanti jika terkena debu atau kotoran di jalan hanya terkena di baju yang luar, sedangkan baju yang dalam masih bersih dan dapat digunakan untuk shalat berjamaah setelah menanggalkan baju yang luar.

Di tengah perjalanan, Sya’ban menemukan seseorang yang kedinginan. Tanpa ragu, Sya’ban segera menanggalkan bajunya yang luar lalu menyelimuti orang itu sambil memapahnya menuju masjid. Orang itu selamat dari kedinginan dan dapat melaksanakan shalat berjamaah.

Sya’ban melihat ganjaran yang ia terima sebagai balasan untuknya yang telah memakaikan baju yang jelek kepada orang itu. Sya’ban menyesal, seandainya ia memakaikan bajunya yang baru, pastilah ganjaran yang ia terima jauh lebih banyak lagi.

Teriakan ketiga, “Aduh, mengapa tidak semua?”

Suatu pagi, Sya’ban hendak sarapan dengan sebuah roti dan segelas susu. Roti itu dikonsumsi dengan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam susu hangat sebelum disantap.
Sebelum memulai sarapan, datanglah pengemis di depan pintu rumah Sya’ban sambil meminta makan. Pengemis itu mengaku sudah tiga hari tidak makan sama sekali.
Sya’ban pun merasa iba. Ia pun membagi rotinya menjadi dua bagian sama besar dan juga membagi susu ke dalam dua gelas yang sama banyak.

Sya’ban pun diperlihatkan ganjaran yang ia terima dari memberikan sebagian roti dan separuh susu yang hendak ia makan untuk sarapan. Andaikan ia memberikan semuanya, tentu, pahalanya jauh lebih besar lagi.

Sya’ban menyesali atas kebaikan yang tidak dilakukan secara maksimal. Padahal Sya’ban telah memilih perjalanan yang jauh dibandingkan dengan sahabat-sahabatnya yang lain..

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...