5 Ramadhan 1446 H
Dalam kitab "Al-Minhaaj Al-Qawim" karya Syaikh Ibn
Hajar, terdapat sebuah kisah yang sangat indah tentang Ramadan:
"Pada suatu hari, Abu Hurairah, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, sedang berpuasa. Tiba-tiba, seorang laki-laki datang dan meminta Abu Hurairah untuk makan bersamanya. Abu Hurairah menjawab, "Aku sedang berpuasa." Laki-laki itu menjawab, "Aku juga berpuasa." Abu Hurairah bertanya, "Mengapa kamu meminta aku untuk makan bersamamu jika kamu juga berpuasa?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa dari shalat, jadi aku tidak shalat." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak shalat?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak makan, jadi jika aku makan, maka puasaku tidak sah." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak meninggalkan makanan?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak minum, jadi jika aku minum, maka puasaku tidak sah." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak meninggalkan minuman?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak berbicara, jadi jika aku berbicara, maka puasaku tidak sah." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak meninggalkan percakapan?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak melakukan kejahatan, jadi jika aku melakukan kejahatan, maka puasaku tidak sah."
Abu Hurairah berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, puasa bukan
hanya meninggalkan makanan dan minuman, tetapi juga meninggalkan semua hal yang
melanggar perintah Allah. Puasa adalah kesempatan bagi kita untuk bertaubat
kepada Allah, meninggalkan semua hal yang melanggar perintah-Nya, dan
mendekatkan diri kepada-Nya."
Laki-laki itu berkata, "Wahai Abu Hurairah, kamu telah
mengajarkan aku apa itu puasa yang sebenarnya. Aku bertaubat kepada Allah,
meninggalkan semua hal yang melanggar perintah-Nya."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa puasa bukan hanya meninggalkan makanan dan minuman, tetapi juga meninggalkan semua hal yang melanggar perintah Allah. Puasa adalah kesempatan bagi kita untuk bertaubat kepada Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan memperoleh ampunan dan ridha-Nya.
Dengan alasan mengerjakan puasa tidak sepatutnya meninggalkan
kewajiban yang lain. Maka kalimat yang diucapkan oleh Abu Hurairah kepada
laki-laki yang mengatakan bahwa ia berpuasa dari shalat. Abu Hurairah ingin
menekankan bahwa shalat adalah salah satu rukun Islam yang sangat penting dan
tidak dapat dipisahkan dari puasa. Dan puasa tidak akan memiliki nilai jika
tidak diiringi dengan shalat. Shalat adalah cara untuk mendekatkan diri kepada
Allah dan memperoleh ampunan-Nya, sedangkan puasa adalah cara untuk
meningkatkan kesabaran dan ketakwaan kepada Allah.
Menurut Imam Ghazali, hakekat puasa adalah:
الصرح عن
الشهوات و التقرب إلى الله
Artinya: "Menjauhkan diri dari syahwat dan mendekatkan diri
kepada Allah."
Imam Ghazali menjelaskan bahwa puasa bukan hanya sekedar meninggalkan makanan dan minuman, tetapi juga meninggalkan semua hal yang dapat mengalihkan perhatian kita dari Allah, seperti syahwat, kemarahan, dan lain-lain.
Dalam kitabnya "Ihya' Ulumuddin", Imam Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki beberapa hakekat, antara lain:
1. Menjauhkan diri dari syahwat dan keinginan duniawi.
2. Mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kesadaran
spiritual.
3. Meningkatkan kesabaran dan ketakwaan kepada Allah.
4. Membersihkan jiwa dari dosa dan kesalahan.
Dengan demikian, puasa bukan hanya sekedar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan sarana untuk meningkatkan kesadaran spiritual, mendekatkan diri kepada Allah, dan membersihkan jiwa dari dosa dan kesalahan. Lebih jauh belia menjelaskan :
اَلصِيَامُ هُوَ
اِخْلَاصُ النَّفْسِ لِلَّهِ تَعَالَى، وَ اِبْعَادُهَا عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَ
تَقْوِيَةُ الْإِرَادَةِ، وَ تَطْهِيرُ النَّفْسِ، وَ اِعْدَادُهَا لِتَقْبَلِ
الطَّاعَاتِ، وَ اِزَالَةُ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَحُولُ بَيْنَهَا وَ بَيْنَ
اللَّهِ تَعَالَى.
1. Puasa yang paling rendah: Puasa yang hanya meninggalkan makanan dan minuman, tetapi tidak meninggalkan perkara-perkara yang haram dan tidak melakukan amal-amal yang baik.
2. Puasa yang biasa: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, tetapi tidak melakukan amal-amal yang baik secara optimal.
3. Puasa yang mulia: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, dan melakukan amal-amal yang baik secara optimal, seperti shalat, sedekah, dan membaca Al-Quran.
4. Puasa yang paling mulia: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, dan melakukan amal-amal yang baik secara optimal, serta memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, seperti merasa dekat dengan Allah, memiliki rasa syukur yang besar, dan memiliki kesabaran yang kuat.
Imam Ghazali membagi level puasa menjadi
tiga tingkatan:
1. Puasa orang awam: Puasa yang hanya meninggalkan makanan dan minuman.
2. Puasa orang khawas: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram.
3. Puasa orang khawasul khawas: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, dan melakukan amal-amal yang baik secara optimal, serta memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.
Wallahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar