4 Ramadhan 1446 H
Imam Qalyubi menukilkan sebuah cerita pada
Hikayat yang ke-15 dalam karyanya An Nawadir dari sahabat Sofyan Ats Tsauri,
beliau menceritakan bahwa :
Saya pernah tinggal di kota Makkah selama
tiga tahun. Di masjid AI-Haram, saya melihat seorang laki-laki penduduk kota
tersebut yang datang setiap waktu zhuhur untuk melaksanakan thawaf di Ka'bah
dan shalat dua raka'at. Seusai shalat, laki-laki mengucapkan salam kepada saya
dan langsung pulang ke rumahnya. (Sikapnya yang baik itu) menimbulkan perasaan
simpatik kepada laki-laki iu, apa lagi
hal tersebut ia lakukan hampir setiap kali bertemu.
Pada suatu hari laki-laki itü jatuh sakit
dan ia minta saya untuk menjenguknya. la berkata kepada saya : “jika saya telah
meninggal dunia nanti tolong anda yang memandikan saya dengan tanganmu sendiri,
lalu shalatkanlah dan kuburkanlah saya serta jangan kamu tinggalkan saya
sendirian şampai satu malam penuh. Tuntunlah (talqinkan) saya dengan kalimat
Tauhid ketika malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku”.
Permohonan laki-laki itu saya sanggupi dan
ketika ia benar-benar meninggal dunia, maka semua permohonannya tadi saya penuhi.
Termasuk ketika malam harinya setelah ia kami kuburkan, saya juga
bermalam di atas kuburannya. Ketika saya dalam keadaan antara sadar dan tidur,
tiba-tiba saya mendengar suara yang memanggil-manggil nama saya dari ataş kepala
saya. Katanya, “wahai Sufyan! Sesungguhnya orang yang kamu tunggui itu sama
sekali tidak butuh penjagaanmu, tuntunanmu maupun simpatimu kepadanya. Karena
pada dasarnya saya telah menghibur dan menuntunnya ketika malaikat Munkar dan
Nakir melontarkan pertanyaan”. Saya (Sufyan) bertanya, dengan apa kamu memberİkan semua itu? Suara itü
berkata ; “dengan puasa Ramadlan yang ia lakukan, lalu diikuti dengan puasa
enam hari di bulan Syawal”. Saya (Sufyan) terbelalak dan tidak ada seorang pun
yang dapat kulihat di sekililingku. Buru-buru saya mengambil air wudhu dan melakukan
shalat sehingga saya tertidur kembali, begitulah seterusnya yang saya lakukan sampai
tiga kali. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa, suara tadi datangnya dari Allah SWT dan bukan dari setan. Seketika itü
juga saya pergi meninggalkan kuburan laki-laki tadi sambil berdo'a: “Ya.. Allah!
Tolonglah hamba sebagaimana puasanya orang itu dengan Kemulyaan dan
Kemurahan-Mu. Âmien...”
Kisah tersebut menggambarkan bahwa syari’at mempunyai keagungan yang luar biasa, dan sungguh sangat beruntung umat Nabi Muhammad SAW mendapatkan syari’at puasa. Sebagaimana banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan puasa dan keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri yang merupakan bulan kewajiban melaksanakan ibadah puasa.
Maka perlu direnungkan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ
عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“..Dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian
keluar sebelum ia mendapatkan ampunan,..” (HR. Tirmidzi)
Sungguh sangat disayang bulan Ramadhan sebagai bulan ampunan, bulan rahmat, dan bulan berkah, saat pintu surga dibuka lebar-lebar, sebagai simbol kemudahan akses dan sarana beribadah. Sebagai tanda bahwa pahala amal sholeh akan dilipatgandakan, namun di saat tersebut, kita tidak memanfaatakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT
Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup
rapat-rapat. Sebagai simbol bahwa sebenarnya kesempatan untuk berbuat dosa
lebih diperkecil peluangnya. Dinyatakan juga bahwa setan dibelenggu, yang
menandakan bahwa manusia diberikan kekuatan lebih untuk menahan bisikan setan. Namun
sayang sekali jika masih ada yang berbuat bermaksiat.
Syaikh Abdulaah Sirajuddin Al Husaini dalam kitabnya as Siyam menyebutkan beberapa keistimewaan puasa, yaitu :
1. Pengampunan
Dosa: Puasa Ramadan dapat mengampuni dosa-dosa
yang telah lalu.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa
yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan kepada Allah
maka diampuni dosa-dosa masa lalunya”(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah
menjelaskan
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan
jika kamu berpuasa itu lebih baik jika kamu mengetahuinya”.(QS. Al-Baqarah: 184)
2. Derajat
yang Tinggi dan Pahala yang Berlipat: Puasa Ramadan dapat memperoleh pahala yang berlipat,
bahkan dapat mencapai 70 kali lipat.
كُلُ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَعَّفُ
الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَهُ
تَعَالَى وَإِنَّ الصِيَامَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap
amal perbuatan bani Adam (manusia) dilipatgandakan 10 sampai 700 kebaikan. Dan
Allah berfirman dan sesungguhnya puasa iti milikku dan AKU yang memberikan
ganjarannya” (HR. Bukhari)
3.
Puasa mempunyai Kedudukan yang tinggi dan mulia, karena
ibadah puasa senantiasa disandingkan kepada Allah sebagai isyarat hadits وَإِنَّ الصِيَامَ لِي (dan
sesungguhnya puasa itu milik-KU). Pengkhususan ini disebabkan karena ibadah
puasa adalah ibadah yang sulit dijadikan ajang pamer (riya’) yang sangat mungkin
dilakukan pada ibadah lainnya
Di
samping itu, Allah SWT membangga-banggakan orang yang berpuasa di depan para
malaikat. Dakam
haditsya Rasulullah SAW menyatakan :
اتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، يَغْشَاكُمُ اللَهُ فِيهِ
بِالرَّحْمَةِ، وَيَنْزِلُ فِيهِ الْحَمْدَ، وَيُحَطُّ فِيهِ الْخَطَايَا،
وَيُسْتَجَابُ فِيهِ الدُّعَاءُ، وَيُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةُ
"Telah tiba bulan Ramadan, bulan
yang penuh berkah. Allah akan meliputi kalian dengan rahmat-Nya, menurunkan
kebaikan, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan doa-doa, dan membanggakan
kalian di hadapan malaikat-malaikat." (HR.
Al-Baihaqi dan Al-Tabrani)
4. Para
malaikat mencium bau mulut orang yang berpuasa dengan aroma yang lebih semerbak
dari aroma minyak wangi. Dalam haditsnya Rasulullah SAW menyatakan :
لِخُلُوفِ فَمِ الصَائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
"Bau
mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak
misk." (HR. Abu Daud dan lainnya)
5. Para
Malaikat bertasbih kepada orang yang berpuasa yang menandakan bahwa orang yang berpuasa mendapatkan kehormatan dan
pujian dari para malaikat bahkan tulang belulangpun ikut bertasbuh dan bumi
bersyukur kepada orang yang berpuasa :
تُسَبِّحُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُفْطِرَ وَتَشْكُرُ لَهُ الْأَرْضُ
حَتَّى يُفْطِرَ
"Malaikat-malaikat
bertasbih kepadanya hingga ia berbuka puasa, dan bumi bersyukur kepadanya
hingga ia berbuka puasa." (HR. Ibnu
Majah dan Hakim)
6. Pintu Royyan khusus pintu masuk surga
bagi orang yang berpuasa. Rasulullah
SAW bersabda :
إِنَّ لِلْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، لا يَدْخُلُ مِنْهُ
أَحَدٌ إِلَّا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya
surga memiliki sebuah pintu yang disebut Rooyyan. Tidak ada seorang pun yang
masuk melalui pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari
kalangan orang-orang yang beriman." (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
7. Kebahagiaan orang puasa saat buka karena berlimpah ganjaran pahaka atas kesempurnaan
puasanya dan Bahagia ssat bertemu dengan Tuhannya
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ إِفْطَارِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ
لِقَاءِ رَبِّهِ
"Orang
yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa dan
kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya."(HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar