Senin, 03 Maret 2025

KEUTAMAAN PUASA

 4 Ramadhan 1446 H

Imam Qalyubi menukilkan sebuah cerita pada Hikayat yang ke-15 dalam karyanya An Nawadir dari sahabat Sofyan Ats Tsauri, beliau menceritakan bahwa :

Saya pernah tinggal di kota Makkah selama tiga tahun. Di masjid AI-Haram, saya melihat seorang laki-laki penduduk kota tersebut yang datang setiap waktu zhuhur untuk melaksanakan thawaf di Ka'bah dan shalat dua raka'at. Seusai shalat, laki-laki mengucapkan salam kepada saya dan langsung pulang ke rumahnya. (Sikapnya yang baik itu) menimbulkan perasaan simpatik  kepada laki-laki iu, apa lagi hal tersebut ia lakukan hampir setiap kali bertemu.

Pada suatu hari laki-laki itü jatuh sakit dan ia minta saya untuk menjenguknya. la berkata kepada saya : “jika saya telah meninggal dunia nanti tolong anda yang memandikan saya dengan tanganmu sendiri, lalu shalatkanlah dan kuburkanlah saya serta jangan kamu tinggalkan saya sendirian şampai satu malam penuh. Tuntunlah (talqinkan) saya dengan kalimat Tauhid ketika malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku”.

Permohonan laki-laki itu saya sanggupi dan ketika ia benar-benar meninggal dunia, maka semua permohonannya tadi saya penuhi. Termasuk ketika malam harinya setelah ia kami kuburkan, saya juga bermalam di atas kuburannya. Ketika saya dalam keadaan antara sadar dan tidur, tiba-tiba saya mendengar suara yang memanggil-manggil nama saya dari ataş kepala saya. Katanya, “wahai Sufyan! Sesungguhnya orang yang kamu tunggui itu sama sekali tidak butuh penjagaanmu, tuntunanmu maupun simpatimu kepadanya. Karena pada dasarnya saya telah menghibur dan menuntunnya ketika malaikat Munkar dan Nakir melontarkan pertanyaan”. Saya (Sufyan) bertanya, dengan apa kamu memberİkan semua itu? Suara itü berkata ; “dengan puasa Ramadlan yang ia lakukan, lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal”. Saya (Sufyan) terbelalak dan tidak ada seorang pun yang dapat kulihat di sekililingku. Buru-buru saya mengambil air wudhu dan melakukan shalat sehingga saya tertidur kembali, begitulah seterusnya yang saya lakukan sampai tiga kali. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa, suara tadi datangnya dari  Allah SWT dan bukan dari setan. Seketika itü juga saya pergi meninggalkan kuburan laki-laki tadi sambil berdo'a: “Ya.. Allah! Tolonglah hamba sebagaimana puasanya orang itu dengan Kemulyaan dan Kemurahan-Mu. Âmien...”

Kisah tersebut menggambarkan bahwa syari’at mempunyai keagungan yang luar biasa, dan sungguh sangat beruntung umat Nabi Muhammad SAW mendapatkan syari’at puasa. Sebagaimana banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan puasa dan keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri yang merupakan bulan kewajiban melaksanakan ibadah puasa.

Maka perlu direnungkan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan 

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“..Dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan,..” (HR. Tirmidzi)

Sungguh sangat disayang bulan Ramadhan sebagai bulan ampunan, bulan rahmat, dan bulan berkah, saat pintu surga dibuka lebar-lebar, sebagai simbol kemudahan akses dan sarana beribadah. Sebagai tanda bahwa pahala amal sholeh akan dilipatgandakan, namun di saat tersebut, kita tidak memanfaatakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup rapat-rapat. Sebagai simbol bahwa sebenarnya kesempatan untuk berbuat dosa lebih diperkecil peluangnya. Dinyatakan juga bahwa setan dibelenggu, yang menandakan bahwa manusia diberikan kekuatan lebih untuk menahan bisikan setan. Namun sayang sekali jika masih ada yang berbuat bermaksiat.

Syaikh Abdulaah Sirajuddin Al Husaini dalam kitabnya as Siyam menyebutkan beberapa keistimewaan puasa, yaitu :

1.  Pengampunan Dosa: Puasa Ramadan dapat mengampuni dosa-dosa yang telah lalu.

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

     “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan kepada Allah maka diampuni dosa-dosa  masa lalunya”(HR. Bukhari dan Muslim)

 

     Allah menjelaskan

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

     “Dan jika kamu berpuasa itu lebih baik jika kamu mengetahuinya”.(QS. Al-Baqarah: 184)

 

2. Derajat yang Tinggi dan Pahala yang Berlipat: Puasa Ramadan dapat memperoleh pahala yang berlipat, bahkan dapat mencapai 70 kali lipat.

 

كُلُ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَعَّفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَهُ تَعَالَى وَإِنَّ الصِيَامَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

     Setiap amal perbuatan bani Adam (manusia) dilipatgandakan 10 sampai 700 kebaikan. Dan Allah berfirman dan sesungguhnya puasa iti milikku dan AKU yang memberikan ganjarannya” (HR. Bukhari)

 

3. Puasa mempunyai Kedudukan yang tinggi dan mulia, karena ibadah puasa senantiasa disandingkan kepada Allah sebagai isyarat hadits وَإِنَّ الصِيَامَ لِي (dan sesungguhnya puasa itu milik-KU). Pengkhususan ini disebabkan karena ibadah puasa adalah ibadah yang sulit dijadikan ajang pamer (riya’) yang sangat mungkin dilakukan pada ibadah lainnya

     Di samping itu, Allah SWT membangga-banggakan orang yang berpuasa di depan para malaikat. Dakam haditsya Rasulullah SAW menyatakan :

اتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، يَغْشَاكُمُ اللَهُ فِيهِ بِالرَّحْمَةِ، وَيَنْزِلُ فِيهِ الْحَمْدَ، وَيُحَطُّ فِيهِ الْخَطَايَا، وَيُسْتَجَابُ فِيهِ الدُّعَاءُ، وَيُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةُ

     "Telah tiba bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah akan meliputi kalian dengan rahmat-Nya, menurunkan kebaikan, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan doa-doa, dan membanggakan kalian di hadapan malaikat-malaikat." (HR. Al-Baihaqi dan Al-Tabrani)

 

4. Para malaikat mencium bau mulut orang yang berpuasa dengan aroma yang lebih semerbak dari aroma minyak wangi. Dalam haditsnya Rasulullah SAW menyatakan :

 

لِخُلُوفِ فَمِ الصَائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

 

     "Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak misk." (HR. Abu Daud dan lainnya)

 

5. Para Malaikat bertasbih kepada orang yang berpuasa yang menandakan bahwa orang yang berpuasa mendapatkan kehormatan dan pujian dari para malaikat bahkan tulang belulangpun ikut bertasbuh dan bumi bersyukur kepada orang yang berpuasa :

 

تُسَبِّحُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُفْطِرَ وَتَشْكُرُ لَهُ الْأَرْضُ حَتَّى يُفْطِرَ

 

     "Malaikat-malaikat bertasbih kepadanya hingga ia berbuka puasa, dan bumi bersyukur kepadanya hingga ia berbuka puasa." (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

 

6. Pintu Royyan khusus pintu masuk surga bagi orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ لِلْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، لا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ إِلَّا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

 

     "Sesungguhnya surga memiliki sebuah pintu yang disebut Rooyyan. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari kalangan orang-orang yang beriman." (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

 

7. Kebahagiaan orang puasa saat buka karena berlimpah ganjaran pahaka atas kesempurnaan puasanya  dan Bahagia ssat  bertemu dengan Tuhannya

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ إِفْطَارِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

 

     "Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya."(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...