Selasa, 12 Maret 2024

Puasa dan Syahwat

 

Sahabat…

Pernahkan anda bahagia ? Pastinya masing-masing pernah mengalami atau selalu bahagia. Karena bahagia adalah pilihan. The Happines is Choice.

Tapi mungkin yang berbeda adalah ekspresi kebahagiaan masing-masing individu yang sering tidak seragam.

Saat ini pun kita diminta untuk bahagia menyambut kedatangan buan Ramadhan 1445 H

Ada qaul dalam kitab Dzurrotin Nasihin yang menukil ungkapan berikut :

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

Siapa yang berbahagia menyambut kehadiran bulan Ramadhan maka Allah haramkan jasadnya dari api neraka.

Terlepas perdebatan kedudukan ungkapan  tersebut apakah hadits atau bukan, ataukah hadits shohih atau dho’if, menunjukkan keagungan bulan Ramadhan. Bahkan kebahagiaannnya saja sudah mempunyai kedudukan istimewa.

Kebahagiaan yang meskipun abstrak, tetapi menjadi dambaan setiap insan untuk hidup dalam kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan dapat mengontrol elemen dalam tubuh untuk bergerak melakukan sesuatu karena landasan kebhagiaan itu.

Jason Pollite (Senior employee Relations Advisor) dalam artikelnya mengatakan :

…This is because happiness leads to a number of positive psychological states. Happy employees are more motivated to do their best work. They are more likely to set goals for themselves and to work hard to achieve those goals. They are better able to focus and concentrate on their work. They are also less likely to be distracted by things like noise or interruptions.

... Ini karena kebahagiaan mengarah ke sejumlah keadaan psikologis positif. Karyawan yang bahagia lebih termotivasi untuk melakukan pekerjaan terbaik mereka. Mereka lebih cenderung menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri dan bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka lebih mampu fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan mereka. Mereka juga cenderung tidak terganggu oleh hal-hal seperti kebisingan atau interupsi. 

 

Tetapi Imam Ghozali mengingatkan bahwa ada kebahagiaan yang bisa dimasukkan kategori syukur dan juga sebaliknya. Karenanya jika seseorang bahagia hanya sekedar ingin meraih yang diinginkannya maka kebahagian yang mewujud saat mendapatkanya masih jauh darai kategori syukur. Dan kebahagiaan sesungguhnya adaah manakala seorang hamba memperoleh ni’mat dan diupayakan menjadi perantara untuk lebih dekat kepada sang pemberi ni’mat

الشكر التام ان يكون فرح العبد بنعمة الله من حيث انها يقدر بهاعلي التوصل الي القرب منه تعالي

Bulan Ramadhan adalah ni’mat yang Allah berikan kepada kita hambanya, maka kebahagian yang membuncah pada diri seorang muslim lagi mukmin adalah membuktinyatakan dengan amaliyah-amaliyah agar tercapai sasaran dari ibadah puasa  di bulan Ramadhan..

Wallahu A’lam

Jakarta 30 Sya’ban 1445 H

 

 

 

Sahabat…

Pernahkan kita dikuasai oleh syahwat kita ?

Syahwat adalah keinginan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk meraih sesuatu. Apabila syahwat tidak bisa dikendalikan, maka mudah bagi kita untuk melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya

Secara bahasa, syahwat artinya menyukai dan menyenangkan (shahiya, shaha-yasha atau shahwatan). Sedangkan secara istilah, syahwat adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya (nuzu’an nafs ila ma turi>du hu). Dalam al-Quran, kata syahwat terkadang dimaksudkan untuk obyek yang diinginkan. Di ayat lain syahwat dimaksudkan untuk menyebutkan potensi keinginan manusia, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 14.

Dalam Islam, syahwat harus ‘dijinakkan’ dan dikendalikan. Metode pengendalikan syahwat dilakukan secara sistemik baik syari’ah dan akhlak. Syahwat yang dikendalikan akal sehat dan hati yang bersih akan berfungsi sebagai penggerak tingkah laku atau motif dan menyuburkan motivasi kepada keutamaan dan kemaslahatan hidup. Kecuali itu, syahwat memiliki tabiat menuntut pemuasan seketika tanpa mempedulikan dampak bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Begitu kuatnya dorongan, maka al-Qur’an mengibaratkan kedudukan syahwat bagi orang yang tidak mampu mengendalikannya seperti tuhan yang harus disembah. Pengabdi syahwat akan menuruti apapun perilaku yang harus dikerjakan, betapa pun itu menjijikkan.

Maka sesungguhnya ibadah puasa seperti puasa di bulaan Ramadhan merupakan mekanisme syari’ah untuk mengekang syahwat dengan membatasi diri dari makan dan minum. Lebih dari itu ibadah puasa merupakan tamparan bagi setan karena ketidakmampuan setan untuk memperdya manuasia  ketika syahwat dikekang dan tidak dibiarkan bebas.

Rasulullah SAW  bersabada :

إن الشيطان ليجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع

“Sesungguhnya setan mengalir dalamdiri anak Adam melalui aliran darah. Maka semppitkanlah aliran itu dengan lapar”

Karena ibadah puasa merupakan penutup dan penghambat jalannya setan, maka sudah sepatutnya ibadah ini disandarkan kepada Allah SWT sebagaimana Allah-pun memposisikan ibadah puasa untuk diri-NYA. Maka dengan berpuasa kita berupaya untuk menaklukkan syahwat dan mengalahkan setan yang menjadi prasyarat kemenangan dan  pertolongan Allah SWT serta mendapatkan petunjuk Allah SWT. (QS. Muhammad/47 : 7 dan QS. Al Ankabut/29 : 69)

Syahwat ibarat ladang rumput yang hijau bagi setan. Selama rerumputan itu hijau selama itu pula setan nyaman tingggal dalam diri manusia. Selama setan masih betah dalam diri seseorang, dia akan menjadi penghalang dan tabir untuk menyingkap keagungan Allah SWT. Na’udzubillah.

Rasulullah SAW mengingatkan :

لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السموات

“Andai saja setan tidak bersemayam  dalam hati anak-anak Adam, niscaya mereka akan melihat kerajaan langit.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...