Sahabat…
Pernahkan anda bahagia ? Pastinya masing-masing pernah mengalami
atau selalu bahagia. Karena bahagia adalah pilihan. The Happines is Choice.
Tapi mungkin yang berbeda adalah ekspresi kebahagiaan masing-masing
individu yang sering tidak seragam.
Saat ini pun kita diminta untuk bahagia menyambut kedatangan buan
Ramadhan 1445 H
Ada qaul dalam kitab Dzurrotin Nasihin yang menukil ungkapan
berikut :
من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران
Siapa yang berbahagia menyambut kehadiran bulan Ramadhan maka Allah
haramkan jasadnya dari api neraka.
Terlepas perdebatan kedudukan ungkapan tersebut apakah hadits atau bukan, ataukah
hadits shohih atau dho’if, menunjukkan keagungan bulan Ramadhan. Bahkan
kebahagiaannnya saja sudah mempunyai kedudukan istimewa.
Kebahagiaan yang meskipun abstrak, tetapi menjadi dambaan setiap
insan untuk hidup dalam kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan dapat mengontrol elemen
dalam tubuh untuk bergerak melakukan sesuatu karena landasan kebhagiaan itu.
Jason Pollite (Senior employee Relations Advisor) dalam artikelnya
mengatakan :
…This is because happiness leads to a number of positive
psychological states. Happy employees are more motivated to do their best work.
They are more likely to set goals for themselves and to work hard to achieve
those goals. They are better able to focus and concentrate on their work. They
are also less likely to be distracted by things like noise or interruptions.
... Ini karena kebahagiaan mengarah ke sejumlah keadaan psikologis
positif. Karyawan yang bahagia lebih termotivasi untuk melakukan pekerjaan
terbaik mereka. Mereka lebih cenderung menetapkan tujuan untuk diri mereka
sendiri dan bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka lebih mampu
fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan mereka. Mereka juga cenderung tidak
terganggu oleh hal-hal seperti kebisingan atau interupsi.
Tetapi Imam Ghozali mengingatkan bahwa ada kebahagiaan yang bisa
dimasukkan kategori syukur dan juga sebaliknya. Karenanya jika seseorang
bahagia hanya sekedar ingin meraih yang diinginkannya maka kebahagian yang
mewujud saat mendapatkanya masih jauh darai kategori syukur. Dan kebahagiaan
sesungguhnya adaah manakala seorang hamba memperoleh ni’mat dan diupayakan
menjadi perantara untuk lebih dekat kepada sang pemberi ni’mat
الشكر التام ان يكون فرح العبد بنعمة الله من حيث انها يقدر بهاعلي
التوصل الي القرب منه تعالي
Bulan Ramadhan adalah ni’mat yang Allah berikan kepada kita
hambanya, maka kebahagian yang membuncah pada diri seorang muslim lagi mukmin
adalah membuktinyatakan dengan amaliyah-amaliyah agar tercapai sasaran dari
ibadah puasa di bulan Ramadhan..
Wallahu A’lam
Jakarta 30 Sya’ban 1445 H
Sahabat…
Pernahkan kita dikuasai oleh syahwat kita ?
Syahwat adalah keinginan yang timbul dari dalam
diri seseorang untuk meraih sesuatu. Apabila syahwat tidak bisa dikendalikan,
maka mudah bagi kita untuk melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh
Allah dan Rasul-Nya
Secara bahasa, syahwat artinya menyukai dan menyenangkan (shahiya,
shaha-yasha atau shahwatan). Sedangkan secara istilah, syahwat adalah
kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya (nuzu’an nafs ila ma
turi>du hu). Dalam al-Quran, kata syahwat terkadang dimaksudkan untuk obyek
yang diinginkan. Di ayat lain syahwat dimaksudkan untuk menyebutkan potensi
keinginan manusia, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 14.
Dalam Islam, syahwat harus ‘dijinakkan’ dan dikendalikan. Metode
pengendalikan syahwat dilakukan secara sistemik baik syari’ah dan akhlak.
Syahwat yang dikendalikan akal sehat dan hati yang bersih akan berfungsi
sebagai penggerak tingkah laku atau motif dan menyuburkan motivasi kepada
keutamaan dan kemaslahatan hidup. Kecuali itu, syahwat memiliki tabiat menuntut
pemuasan seketika tanpa mempedulikan dampak bagi diri sendiri maupun bagi orang
lain. Begitu kuatnya dorongan, maka al-Qur’an mengibaratkan kedudukan syahwat
bagi orang yang tidak mampu mengendalikannya seperti tuhan yang harus disembah.
Pengabdi syahwat akan menuruti apapun perilaku yang harus dikerjakan, betapa
pun itu menjijikkan.
Maka sesungguhnya ibadah puasa seperti puasa di bulaan Ramadhan
merupakan mekanisme syari’ah untuk mengekang syahwat dengan membatasi diri dari
makan dan minum. Lebih dari itu ibadah puasa merupakan tamparan bagi setan
karena ketidakmampuan setan untuk memperdya manuasia ketika syahwat dikekang dan tidak dibiarkan
bebas.
Rasulullah SAW bersabada :
إن الشيطان ليجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع
“Sesungguhnya setan mengalir dalamdiri anak
Adam melalui aliran darah. Maka semppitkanlah aliran itu dengan lapar”
Karena ibadah puasa merupakan penutup dan penghambat jalannya
setan, maka sudah sepatutnya ibadah ini disandarkan kepada Allah SWT
sebagaimana Allah-pun memposisikan ibadah puasa untuk diri-NYA. Maka dengan
berpuasa kita berupaya untuk menaklukkan syahwat dan mengalahkan setan yang
menjadi prasyarat kemenangan dan
pertolongan Allah SWT serta mendapatkan petunjuk Allah SWT. (QS.
Muhammad/47 : 7 dan QS. Al Ankabut/29 : 69)
Syahwat ibarat ladang rumput yang hijau bagi setan. Selama
rerumputan itu hijau selama itu pula setan nyaman tingggal dalam diri manusia. Selama
setan masih betah dalam diri seseorang, dia akan menjadi penghalang dan tabir untuk
menyingkap keagungan Allah SWT. Na’udzubillah.
Rasulullah SAW mengingatkan :
لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السموات
“Andai saja setan tidak
bersemayam dalam hati anak-anak Adam, niscaya mereka akan
melihat kerajaan langit.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar