2 Ramadhan 1446
Kisah ini
termaktub dalam kitab An Nawadir dan juga kitab Uqudul Lujain dan mungkin juga
di beberapa kitab lainnya.
Al kisah ada
seorang wanita shalihah yang mempunyai suami munafik. Setiap kali hendak
mengucapkan atau melakukan suatu pekerjaan, wanita tersebut selalu membaca lafadz
basmalah, seolah lidahnya sudah basah dan loncer sekali mengucapkan
lafadz basmalah dalam berbagai hal. Suaminya yang munafik itu merasa
tidak nyaman dengan kebiasaan istrinya yang selalu mengucapkan basmalah.
Sehingga ada keinginan untuk mengerjai dan mempermalukan istrinya, jika ia
masih selalu melakukan kebiasaannya. Lalu suami itu memberikan segepok uang dalam
bungkusan kepada istrinya sambil berkata ; “Jagalah uang ini baik-baik dan
simpanlah di tempat yang aman”. Tentu saja uang itu diterima oleh istrinya dengan seraya membaca basmalah,
lalu istrinya membuka lemari dengan membaca basmalah, meletakkan segepok
uang tersebut-pun disertai dengan bacaan basmalah. Kemudian mengunci
lemari tersebut dan meletakkan kunci di tempat yang aman juga disertai dengan
bacaan basmalah. Rupanya suaminya mengintip di tempat mana uang tersebut
diletakkan oleh istrinya. Dan secara diam-diam sang suami mengambil uang tersebut dan
menceburkannya ke dalam sumur.
Kemudian sang suami meminta uang tadi
kepada istrinya, dan istrinya pun langsung begegas menuju tempat di mana ia
menaruh uang tersbut, seraya mengucapkan lafadz basmalah. Maka segera,
Allah swt memerintahkan malaikat Jibril AS untuk segera mengambil uang di dalam
sumur tadi, dan mengembalikannya ke tempat semula. Betapa kagetnya sang suami,
ketika istrinya merogoh kantong uang dan mengembalikannya dalam jumlah dan
wujud sama seperti sedia-kala. Maka sang suami tersebut langsung bertaubat
kepada Allah SWT dan menyesali perbuatannya.
Sahabat...
Lafadz basmalah adalah lafadz paling
awal dalam kitab suci Al Qur’an, maka sesungguhnya merupakan pengajaran kepada
kita agar hendaknya memulai berbagai aktivitas yang postitif dengan membaca basmalah.
Dalam haditsnya Rasulullah SAW yang
diriwayatkan imam Ibnu Majah menjelaskan :
مَنْ صَنَعَ
عَمَلًا لَمْ يَبْدَأْهُ بِاسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْطَرُ وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ
مِنْهُ
"Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan
tanpa memulainya dengan nama Allah, maka pekerjaan itu menjadi cacat dan tidak
diterima."
Dalam hadits
lainnya yang diriwayatkan imam Abu Daud dan Tarmidzi Rasulullah SAW bersabda :
كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لا يُبْدَأُ
بِهِ بِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْطَرُ
"Setiap
urusan yang penting, jika tidak dimulai dengan nama Allah, maka urusan itu
menjadi cacat."
Imam Ibnu Katsir
menukilkan riwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia menyebut surat Al-Fatihah dengan
nama: Asas Al-Qur'an. Ia berkata: Maka asasnya adalah Bismillahirrahmanirrahim.
Dan imam Qurutbi menukilkan Riwayat dari Ja'far Ash-Shadiq bahwa beliau
berkata, 'Basmalah adalah mahkota surat-surat Al-Qur'an.
Menyebut nama
Allah SWT dalam berbagai macam aktivitas dan pekerjaan, maka menjadikan Allah sebagai sandaran atas aktivitas dan
pekerjaan yang dilakukan. Maka pekerjaan sesulit apapun dalam ukuran logika manusia
bila disandarkan kepada Allah SWT maka tentunya tidak ada yang mustahil untuk
terwujud. Demikian Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsirnya. Dalam serba
keterbatasannya manusia sebagai seorang makhluk Ketika telah melewati prosesnya
berikhtiar maka tahapan berikutnya manusia hanya mengangkat tangan memohon
kepada Allah SWT sebagai wujud kelemahannya sebagai makhluk seraya berharap
Allah turun tangan atas keterbatasan makhluknya mengatasi pekerjaan dan
aktivitasnya. Sehingga dengan demikian, sesungguhnya manusia harus menyadari
bahwa keberhasilan pekerjaan dan aktivitasnya merupakan bagian qudrat
dan iradatnya Allah SWT.
Penyebutan nama
Allah merupakan hal yang familiar dilakukan oleh masyarakat arab dari masa ke
masa. Prof HAMKA dalam tafsir Al Azhar-nya meengutip keterangan imam Raghib al Isfahani yang menjelaskan bahwa
Kalimat ALLAH adalah perkembangan dari kalimat Al Ilah. Yang dalam
bahasa Melayu Kuno dapat diartikan Dawa atau Tuhan. Segala sesuatu yang mereka
anggap sakti dan mereka puja, mereka sebutkan dia Al Ilah.Dan kalau
hendak menyebutkan banyak Tuhan, mereka pakai kata jama', yaitu AL-ALIHAH.
Tetapi pikiran murni mereka telah sampai kepada kesimpulan bahwa dari
tuhan-tuhan dan dewa-dewa yang mereka katakan banyak itu, hanya SATU jua Yang
Maha Kuasa, Maha Tinggi, Maha Mulia. Maka untuk mengungkapkan pikiran kepada
Yang Maha Esa itu mereka pakailah kalimat ILAH itu, dan supaya lebih
khusus kepada Yang Esa itu, mereka cantumkan dipangkalnya ALIF dan LAM
pengenalan (Alif-Lam-Ta'rif), yaitu AL merrjadi Al Ilah. Lalu mereka
buangkan huruf hamzah yang ditengah, AL-l-LAH menjadi ALLAH. Dengan menyebut
Allah itu tidak ada lagi yang mereka maksud melainkan Zat Yang Maha Esa. Maha
Tinggi, Yang Berdiri sendirinya itulah, dan tidak lagi mereka pakai untuk yang
lain. Tidak ada satu berhalapun yang mereka namai ALLAH.
Dalam al-Quran
banyak bertemu ayat-ayat yang menerangkan, jika Nabi Muhammad s.a.w. bertanya
kepada musyrikin penyembah berhala itu siapa yang menjadikan semuanya ini pasti
mereka akan menjawab: "Allahlah yang menciptakan semuanya!" seperti
yang tercantum dalam QS. Al Ankabut : 61. Demikian penjelasan Prof. Hamka dalam
tafsirnya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar