Sabtu, 01 Maret 2025

KEUTAMAAN LAFADZ BASMALAH

 2 Ramadhan 1446 

Kisah ini termaktub dalam kitab An Nawadir dan juga kitab Uqudul Lujain dan mungkin juga di beberapa kitab lainnya.

Al kisah ada seorang wanita shalihah yang mempunyai suami munafik. Setiap kali hendak mengucapkan atau melakukan suatu pekerjaan, wanita tersebut selalu membaca lafadz basmalah, seolah lidahnya sudah basah dan loncer sekali mengucapkan lafadz basmalah dalam berbagai hal. Suaminya yang munafik itu merasa tidak nyaman dengan kebiasaan istrinya yang selalu mengucapkan basmalah. Sehingga ada keinginan untuk mengerjai dan mempermalukan istrinya, jika ia masih selalu melakukan kebiasaannya. Lalu suami itu memberikan segepok uang dalam bungkusan kepada istrinya sambil berkata ; “Jagalah uang ini baik-baik dan simpanlah di tempat yang aman”. Tentu saja uang itu  diterima oleh istrinya dengan seraya membaca basmalah, lalu istrinya membuka lemari dengan membaca basmalah, meletakkan segepok uang tersebut-pun disertai dengan bacaan basmalah. Kemudian mengunci lemari tersebut dan meletakkan kunci di tempat yang aman juga disertai dengan bacaan basmalah. Rupanya suaminya mengintip di tempat mana uang tersebut diletakkan oleh istrinya. Dan secara diam-diam sang suami mengambil uang tersebut dan menceburkannya ke dalam sumur.

Kemudian sang suami meminta uang tadi kepada istrinya, dan istrinya pun langsung begegas menuju tempat di mana ia menaruh uang tersbut, seraya mengucapkan lafadz basmalah. Maka segera, Allah swt memerintahkan malaikat Jibril AS untuk segera mengambil uang di dalam sumur tadi, dan mengembalikannya ke tempat semula. Betapa kagetnya sang suami, ketika istrinya merogoh kantong uang dan mengembalikannya dalam jumlah dan wujud sama seperti sedia-kala. Maka sang suami tersebut langsung bertaubat kepada  Allah SWT dan menyesali perbuatannya.

Sahabat...

Lafadz basmalah adalah lafadz paling awal dalam kitab suci Al Qur’an, maka sesungguhnya merupakan pengajaran kepada kita agar hendaknya memulai berbagai aktivitas yang postitif dengan membaca basmalah.  Dalam haditsnya Rasulullah SAW yang diriwayatkan imam Ibnu Majah menjelaskan :

مَنْ صَنَعَ عَمَلًا لَمْ يَبْدَأْهُ بِاسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْطَرُ وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ

"Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa memulainya dengan nama Allah, maka pekerjaan itu menjadi cacat dan tidak diterima."

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan imam Abu Daud dan Tarmidzi Rasulullah SAW bersabda :

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لا يُبْدَأُ بِهِ بِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْطَرُ

"Setiap urusan yang penting, jika tidak dimulai dengan nama Allah, maka urusan itu menjadi cacat."

Imam Ibnu Katsir menukilkan riwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia menyebut surat Al-Fatihah dengan nama: Asas Al-Qur'an. Ia berkata: Maka asasnya adalah Bismillahirrahmanirrahim. Dan imam Qurutbi menukilkan Riwayat dari Ja'far Ash-Shadiq bahwa beliau berkata, 'Basmalah adalah mahkota surat-surat Al-Qur'an.

Menyebut nama Allah SWT dalam berbagai macam aktivitas dan pekerjaan, maka menjadikan  Allah sebagai sandaran atas aktivitas dan pekerjaan yang dilakukan. Maka pekerjaan sesulit apapun dalam ukuran logika manusia bila disandarkan kepada Allah SWT maka tentunya tidak ada yang mustahil untuk terwujud. Demikian Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsirnya. Dalam serba keterbatasannya manusia sebagai seorang makhluk Ketika telah melewati prosesnya berikhtiar maka tahapan berikutnya manusia hanya mengangkat tangan memohon kepada Allah SWT sebagai wujud kelemahannya sebagai makhluk seraya berharap Allah turun tangan atas keterbatasan makhluknya mengatasi pekerjaan dan aktivitasnya. Sehingga dengan demikian, sesungguhnya manusia harus menyadari bahwa keberhasilan pekerjaan dan aktivitasnya merupakan bagian qudrat dan iradatnya Allah SWT.

Penyebutan nama Allah merupakan hal yang familiar dilakukan oleh masyarakat arab dari masa ke masa. Prof HAMKA dalam tafsir Al Azhar-nya meengutip keterangan  imam Raghib al Isfahani yang menjelaskan bahwa Kalimat ALLAH adalah perkembangan dari kalimat Al Ilah. Yang dalam bahasa Melayu Kuno dapat diartikan Dawa atau Tuhan. Segala sesuatu yang mereka anggap sakti dan mereka puja, mereka sebutkan dia Al Ilah.Dan kalau hendak menyebutkan banyak Tuhan, mereka pakai kata jama', yaitu AL-ALIHAH. Tetapi pikiran murni mereka telah sampai kepada kesimpulan bahwa dari tuhan-tuhan dan dewa-dewa yang mereka katakan banyak itu, hanya SATU jua Yang Maha Kuasa, Maha Tinggi, Maha Mulia. Maka untuk mengungkapkan pikiran kepada Yang Maha Esa itu mereka pakailah kalimat ILAH itu, dan supaya lebih khusus kepada Yang Esa itu, mereka cantumkan dipangkalnya ALIF dan LAM pengenalan (Alif-Lam-Ta'rif), yaitu AL merrjadi Al Ilah. Lalu mereka buangkan huruf hamzah yang ditengah, AL-l-LAH menjadi ALLAH. Dengan menyebut Allah itu tidak ada lagi yang mereka maksud melainkan Zat Yang Maha Esa. Maha Tinggi, Yang Berdiri sendirinya itulah, dan tidak lagi mereka pakai untuk yang lain. Tidak ada satu berhalapun yang mereka namai ALLAH.

Dalam al-Quran banyak bertemu ayat-ayat yang menerangkan, jika Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada musyrikin penyembah berhala itu siapa yang menjadikan semuanya ini pasti mereka akan menjawab: "Allahlah yang menciptakan semuanya!" seperti yang tercantum dalam QS. Al Ankabut : 61. Demikian penjelasan Prof. Hamka dalam tafsirnya..

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...