Senin, 25 Agustus 2025

"Masa Kecil yang Penuh Ujian"

 2 Rabi'ul Awwal 1447 H


Bayi yang Penuh Berkah

Setelah kelahirannya, Muhammad tumbuh menjadi bayi yang sangat istimewa. Wajahnya bercahaya dan penuh ketenangan. Setiap orang yang melihatnya merasa sejuk di hati.

Namun, di balik kebahagiaan itu, ada kesedihan yang mendalam. Sejak dalam kandungan, ayahnya telah tiada. Muhammad terlahir sebagai seorang yatim.

Aminah binti Wahab sering memeluk erat putranya, membisikkan doa-doa dengan penuh cinta.

"Anakku… kau tidak memiliki ayah di dunia ini. Tapi ketahuilah, Allah selalu menjagamu…"

Setiap malam, Aminah menatap langit. Hatinya merasa berat, karena ia tahu bahwa putranya akan menjalani kehidupan yang tidak mudah.

 

Disusui oleh Halimah As-Sa’diyah

Di kalangan Arab saat itu, bayi-bayi dari keluarga bangsawan Quraisy biasanya disusui oleh wanita dari suku Badui. Mereka percaya bahwa udara padang pasir yang bersih dan kehidupan sederhana akan membuat anak-anak tumbuh kuat.

Di antara wanita yang datang ke Makkah untuk mencari bayi yang bisa mereka susui adalah Halimah As-Sa’diyah dari suku Bani Sa’d. Namun, tak ada satu pun keluarga kaya yang mau menyerahkan anaknya kepadanya karena ia berasal dari keluarga miskin.

Halimah dan suaminya, Harits, datang ke Makkah dengan keledai yang kurus dan unta yang hampir tak bisa menghasilkan susu. Mereka sangat miskin.

Saat melihat Muhammad yang yatim, awalnya Halimah ragu.

"Anak ini yatim… tidak ada ayah yang bisa memberi hadiah atau bayaran untuk menyusuinya…"

Namun, hatinya tiba-tiba luluh. Ada cahaya di wajah bayi itu yang membuatnya merasa damai.

Suaminya berkata, "Halimah, ambillah bayi ini. Aku yakin dia membawa keberkahan."

Dengan penuh kasih sayang, Halimah menggendong Muhammad dan membawanya pulang.

Sejak saat itu, keajaiban terjadi…

Unta mereka yang sebelumnya kering mendadak mengeluarkan susu yang melimpah. Keledai mereka yang lemah tiba-tiba menjadi kuat. Padang rumput yang tadinya kering, kini penuh dengan tanaman hijau.

Halimah dan keluarganya menyadari bahwa Muhammad adalah anak yang penuh berkah.

"Sejak bayi ini berada di rumah kita, hidup kita berubah menjadi lebih baik…" ujar Harits kepada istrinya.

 

Masa Kanak-Kanak di Bani Sa’d

Muhammad tumbuh dengan sehat di tengah suku Bani Sa’d. Ia belajar berjalan, berbicara, dan bermain bersama anak-anak lainnya.

Namun, sejak kecil, Muhammad berbeda dari anak-anak seusianya. Ia tidak pernah berkata kasar, tidak pernah berbohong, dan selalu membantu siapa pun yang membutuhkan.

Suatu hari, saat teman-temannya bermain kasar, Muhammad menolak ikut serta. Ia lebih senang duduk di bawah pohon dan merenung.

Halimah sering memperhatikan anak asuhnya itu. Ia merasa bahwa Muhammad memiliki sesuatu yang istimewa.

Namun, di usia empat tahun, sesuatu yang mengejutkan terjadi…

 

Peristiwa Pembelahan Dada

Pada suatu hari, Muhammad bermain dengan anak-anak Bani Sa’d di padang pasir. Tiba-tiba, dua sosok laki-laki berbaju putih turun dari langit. Mereka adalah Malaikat Jibril dan Mikail.

Mereka menghampiri Muhammad , lalu membawanya ke sebuah tempat tersembunyi.

"Apa yang kalian lakukan?!" teriak anak-anak yang ketakutan, lalu berlari ke rumah Halimah.

Malaikat Jibril membaringkan Muhammad dan membelah dadanya. Dengan lembut, ia mengeluarkan segumpal darah hitam dari dalam hatinya.

"Ini adalah bagian dari setan yang ada dalam dirimu."

Jibril kemudian mencuci hati Muhammad dengan air Zamzam hingga bersih dan mengembalikannya ke tempat semula. Setelah itu, mereka pergi.

Muhammad bangun dengan wajah pucat. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.

Sementara itu, anak-anak yang menyaksikan kejadian tersebut berlari ke rumah Halimah sambil menangis.

"Halimah! Muhammad telah diambil oleh dua orang pria berbaju putih! Mereka membelah dadanya!"

Halimah dan suaminya bergegas mencari Muhammad . Ketika menemukannya, mereka melihat wajahnya tenang, meskipun tubuhnya sedikit gemetar.

"Apa yang terjadi, nak?" tanya Halimah sambil mendekapnya.

Muhammad dengan polos menjawab, "Aku tidak tahu… Mereka datang dan membersihkan hatiku…"

Halimah dan suaminya merasa sangat khawatir. Mereka takut akan ada sesuatu yang buruk menimpa Muhammad .

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya, Aminah binti Wahab, di Makkah.

 

Kembali ke Pangkuan Sang Ibu

Saat melihat putranya kembali, Aminah langsung memeluknya erat.

"Anakku… Aku merindukanmu…"

Halimah menceritakan kejadian yang menimpa Muhammad . Aminah mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu tersenyum dan berkata,

"Aku tahu… Anakku memang bukan anak biasa. Saat aku mengandungnya, aku sering bermimpi melihat cahaya yang menerangi seluruh dunia…"

Sejak saat itu, Muhammad kembali tinggal bersama ibunya di Makkah. Namun, kebersamaan mereka tidak berlangsung lama…

➡ Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad kehilangan ibunya? Seperti apa kesedihan yang harus ia lalui sebagai seorang yatim piatu?

 

📚 Sumber Rujukan:

1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah

2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra

3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah

4. HR. Muslim


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...