2 Rabi'ul Awwal 1447 H
Bayi yang Penuh Berkah
Setelah kelahirannya, Muhammad ﷺ
tumbuh menjadi bayi yang sangat istimewa. Wajahnya bercahaya dan penuh
ketenangan. Setiap orang yang melihatnya merasa sejuk di hati.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada kesedihan yang mendalam. Sejak
dalam kandungan, ayahnya telah tiada. Muhammad ﷺ
terlahir sebagai seorang yatim.
Aminah binti Wahab sering memeluk erat putranya, membisikkan
doa-doa dengan penuh cinta.
"Anakku… kau tidak memiliki ayah di dunia ini. Tapi
ketahuilah, Allah selalu menjagamu…"
Setiap malam, Aminah menatap langit. Hatinya merasa berat, karena ia
tahu bahwa putranya akan menjalani kehidupan yang tidak mudah.
Disusui oleh Halimah As-Sa’diyah
Di kalangan Arab saat itu, bayi-bayi dari keluarga bangsawan Quraisy
biasanya disusui oleh wanita dari suku Badui. Mereka percaya bahwa udara padang
pasir yang bersih dan kehidupan sederhana akan membuat anak-anak tumbuh kuat.
Di antara wanita yang datang ke Makkah untuk mencari bayi yang bisa
mereka susui adalah Halimah As-Sa’diyah dari suku Bani Sa’d. Namun, tak ada
satu pun keluarga kaya yang mau menyerahkan anaknya kepadanya karena ia berasal
dari keluarga miskin.
Halimah dan suaminya, Harits, datang ke Makkah dengan keledai yang kurus
dan unta yang hampir tak bisa menghasilkan susu. Mereka sangat miskin.
Saat melihat Muhammad ﷺ
yang yatim, awalnya Halimah ragu.
"Anak ini yatim… tidak ada ayah yang bisa memberi hadiah atau
bayaran untuk menyusuinya…"
Namun, hatinya tiba-tiba luluh. Ada cahaya di wajah bayi itu yang membuatnya merasa damai.
Suaminya berkata, "Halimah, ambillah bayi ini. Aku yakin dia
membawa keberkahan."
Dengan penuh kasih sayang, Halimah menggendong Muhammad ﷺ
dan membawanya pulang.
Sejak saat itu, keajaiban terjadi…
Unta mereka yang sebelumnya kering mendadak mengeluarkan susu yang
melimpah. Keledai mereka yang lemah tiba-tiba menjadi
kuat. Padang rumput yang tadinya kering, kini penuh dengan tanaman hijau.
Halimah dan keluarganya menyadari bahwa Muhammad ﷺ
adalah anak yang penuh berkah.
"Sejak bayi ini berada di rumah kita, hidup kita berubah menjadi
lebih baik…" ujar Harits kepada istrinya.
Masa Kanak-Kanak di Bani Sa’d
Muhammad ﷺ tumbuh dengan sehat di tengah
suku Bani Sa’d. Ia belajar berjalan, berbicara, dan bermain bersama anak-anak
lainnya.
Namun, sejak kecil, Muhammad ﷺ
berbeda dari anak-anak seusianya. Ia tidak pernah berkata kasar, tidak pernah
berbohong, dan selalu membantu siapa pun yang membutuhkan.
Suatu hari, saat teman-temannya bermain kasar, Muhammad ﷺ
menolak ikut serta. Ia lebih senang duduk di bawah pohon dan merenung.
Halimah sering memperhatikan anak asuhnya itu. Ia merasa bahwa
Muhammad ﷺ memiliki sesuatu yang istimewa.
Namun, di usia empat tahun, sesuatu yang mengejutkan terjadi…
Peristiwa Pembelahan Dada
Pada suatu hari, Muhammad ﷺ
bermain dengan anak-anak Bani Sa’d di padang pasir. Tiba-tiba, dua sosok
laki-laki berbaju putih turun dari langit. Mereka adalah Malaikat Jibril dan
Mikail.
Mereka menghampiri Muhammad ﷺ,
lalu membawanya ke sebuah tempat tersembunyi.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak anak-anak yang
ketakutan, lalu berlari ke rumah Halimah.
Malaikat Jibril membaringkan Muhammad ﷺ
dan membelah dadanya. Dengan lembut, ia mengeluarkan segumpal darah hitam dari
dalam hatinya.
"Ini adalah bagian dari setan yang ada dalam dirimu."
Jibril kemudian mencuci hati Muhammad ﷺ
dengan air Zamzam hingga bersih dan mengembalikannya ke tempat semula. Setelah
itu, mereka pergi.
Muhammad ﷺ bangun dengan wajah
pucat. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Sementara itu, anak-anak yang menyaksikan kejadian tersebut berlari
ke rumah Halimah sambil menangis.
"Halimah! Muhammad telah diambil oleh dua orang pria
berbaju putih! Mereka membelah dadanya!"
Halimah dan suaminya bergegas mencari Muhammad ﷺ. Ketika menemukannya, mereka melihat wajahnya tenang, meskipun
tubuhnya sedikit gemetar.
"Apa yang terjadi, nak?" tanya Halimah sambil
mendekapnya.
Muhammad ﷺ dengan polos
menjawab, "Aku tidak tahu… Mereka datang dan membersihkan hatiku…"
Halimah dan suaminya merasa sangat khawatir. Mereka takut akan ada
sesuatu yang buruk menimpa Muhammad ﷺ.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengembalikan Muhammad ﷺ kepada ibunya, Aminah binti Wahab, di
Makkah.
Kembali ke Pangkuan Sang Ibu
Saat melihat putranya kembali, Aminah langsung memeluknya erat.
"Anakku… Aku merindukanmu…"
Halimah menceritakan kejadian yang menimpa Muhammad ﷺ. Aminah mendengarkan dengan penuh
perhatian, lalu tersenyum dan berkata,
"Aku tahu… Anakku memang bukan anak biasa. Saat aku
mengandungnya, aku sering bermimpi melihat cahaya yang menerangi seluruh dunia…"
Sejak saat itu, Muhammad ﷺ
kembali tinggal bersama ibunya di Makkah. Namun, kebersamaan mereka tidak
berlangsung lama…
➡ Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad ﷺ
kehilangan ibunya? Seperti apa kesedihan yang harus ia lalui
sebagai seorang yatim piatu?
📚 Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar