Selasa, 26 Agustus 2025

PERPISAHAN YANG MENYEDIHKAN

 3 Rabi'ul Awwal 1447 H


Perjalanan ke Yatsrib

Setelah kembali ke pangkuan ibunya, Muhammad tumbuh menjadi anak yang penuh kelembutan. Ia selalu berada di sisi Aminah binti Wahab, mendengarkan setiap cerita dan nasihat ibunya dengan penuh perhatian.

Suatu hari, Aminah memutuskan untuk membawa Muhammad ke Yatsrib (Madinah) guna mengunjungi makam ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib. Perjalanan ini sangatlah jauh dan melelahkan.

Dengan ditemani oleh Barakah (Ummu Aiman), budak perempuan yang setia kepada keluarga mereka, Aminah membawa Muhammad yang saat itu baru berusia enam tahun.

Ketika tiba di Yatsrib, Muhammad melihat makam ayahnya untuk pertama kalinya. Hatinya yang masih kecil terasa pilu. Ia hanya bisa berdiri di depan makam itu, merasakan kesedihan yang mendalam.

Aminah berkata dengan suara lembut, "Anakku, di sinilah ayahmu beristirahat untuk selamanya…"

Muhammad hanya diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Namun, hatinya penuh dengan pertanyaan tentang sosok ayah yang belum pernah ia lihat.


Wafatnya Aminah binti Wahab

Setelah beberapa hari di Yatsrib mereka pun bersiap untuk kembali ke Makkah. Namun, dalam perjalanan pulang, sesuatu yang menyedihkan terjadi.

Di sebuah tempat bernama  Abwa’ Aminah jatuh sakit. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat, dan napasnya mulai berat.

Ummu Aiman mencoba merawatnya dengan penuh kasih sayang. Namun, penyakit itu semakin parah. Aminah memeluk erat Muhammad yang masih kecil. Dengan suara lemah, ia berbisik : "Anakku… hidup ini adalah perjalanan yang panjang… Aku mungkin tak bisa menemanimu lebih lama… Tapi yakinlah, Allah selalu bersamamu…"

 Muhammad menggenggam tangan ibunya. Matanya mulai basah. "Ibu… jangan tinggalkan aku…" ucapnya dengan suara lirih.

Namun, takdir telah tertulis. Aminah menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan anaknya yang masih berusia enam tahun.

Muhammad kini menjadi yatim piatu. Dalam usia yang masih begitu muda, ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan kedua orang tuanya. Ummu Aiman segera merangkul Muhammad yang menangis tanpa suara. Hatinya hancur melihat anak kecil itu harus melalui cobaan yang begitu besar. Ia membelai kepala Muhammad dan berkata dengan lembut : "Ya Sayyidi… Aku akan selalu menjagamu… Kau tidak sendiri…"

Dengan hati yang berat, mereka menguburkan Aminah di tanah  Abwa. Muhammad hanya bisa berdiri diam, menatap makam ibunya dengan mata penuh air mata. Setelah itu, Ummu Aiman membawa Muhammad kembali ke Makkah.


Kembali ke Pelukan Kakeknya, Abdul Muthalib

Sesampainya di Makkah, Muhammad dibawa ke rumah  Abdul Muthalib,  kakeknya. Orang tua itu segera merangkul cucunya dengan penuh kasih sayang.

"Cucuku… mulai hari ini, aku yang akan menjagamu…" kata Abdul Muthalib dengan suara penuh haru.

Sejak hari itu, Muhammad tinggal bersama kakeknya. Abdul Muthalib sangat menyayangi cucunya ini. Ia selalu memperlakukannya dengan lembut, bahkan lebih dari anak-anaknya sendiri.

 

Namun, ujian belum berakhir…

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad menghadapi kehilangan kakeknya? Seperti apa cobaan yang harus ia jalani setelah itu?*

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...