Rabu, 27 Agustus 2025

KEHILANGAN KAKEK TERCINTA

 4 Rabi'ul Awwal 1447 H

Kasih Sayang Abdul Muthalib

Setelah kehilangan ibunya di Abwa’, Muhammad kembali ke Makkah dalam keadaan yang sangat sedih. Matanya masih menyisakan air mata, dan hatinya terasa begitu hampa. Satu-satunya yang ia miliki kini hanyalah kakeknya, Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy yang sangat dihormati.

Saat Muhammad tiba di rumah kakeknya, Abdul Muthalib segera memeluknya erat. Ia membelai kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.

"Cucuku… Aku tahu kau telah kehilangan banyak hal dalam hidupmu… Tapi aku berjanji, aku akan selalu menjagamu…"

Sejak saat itu, Muhammad menjadi anak yang sangat dekat dengan kakeknya. Ia selalu berada di sisinya, duduk di sampingnya saat Abdul Muthalib duduk di sekitar Ka’bah. Orang-orang Quraisy biasa melihat pemandangan itu seorang pemimpin yang begitu mencintai cucunya lebih dari siapa pun.

Ketika orang-orang Quraisy berusaha menyingkirkan Muhammad dari tempat duduk Abdul Muthalib, ia langsung mencegah mereka.

"Jangan usik cucuku! Biarkan ia duduk di sampingku… Ia bukan anak biasa…" kata Abdul Muthalib dengan tegas.

Muhammad tumbuh dalam naungan kasih sayang kakeknya. Setiap hari, ia mendengar kisah-kisah tentang kebaikan dan kebijaksanaan dari Abdul Muthalib. Ia mulai belajar tentang kehidupan, tentang kehormatan, dan tentang arti menjaga amanah.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama…

Wafatnya Abdul Muthalib

Di usia delapan tahun, Muhammad harus menghadapi ujian berat lagi. Kakeknya, yang selama ini menjadi pelindungnya, jatuh sakit. Tubuh Abdul Muthalib mulai melemah. Wajahnya yang dulu gagah, kini terlihat letih. Muhammad selalu berada di sisinya, menggenggam tangannya, seolah-olah ingin menahan waktu agar tidak merenggut orang yang ia cintai lagi.

Suatu hari, di tempat tidurnya, Abdul Muthalib menatap cucunya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Muhammad… cucuku yang kusayangi… Aku mungkin tak bisa menemanimu lebih lama…"
 
Muhammad hanya diam. Dadanya terasa sesak. Ia tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai lagi.

"Jangan pergi, Kakek… Aku masih ingin bersamamu…"  suaranya lirih, nyaris bergetar.

 Abdul Muthalib tersenyum lemah. Ia mengusap kepala cucunya dengan lembut.

"Anakku… kau harus kuat… Kau akan menjadi seseorang yang besar… Aku yakin, Allah telah menyiapkan jalan yang indah untukmu…"

Air mata menetes di pipi Muhammad . Ia menggenggam erat tangan kakeknya, tetapi takdir tidak bisa diubah. Tak lama setelah itu, Abdul Muthalib menghembuskan napas terakhirnya.

Muhammad kini benar-benar seorang yatim piatu yang sebatang kara.

 

Berpindah ke Asuhan Abu Thalib

Setelah wafatnya Abdul Muthalib, Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.  Ia adalah saudara kandung ayahnya, Abdullah, dan merupakan seseorang yang sangat baik hati.


Saat Muhammad memasuki rumah Abu Thalib, ia disambut dengan hangat oleh bibinya, Fatimah binti Asad. Wanita itu melihat wajah Muhammad yang penuh kesedihan dan segera mendekapnya.

"Nak… Jangan bersedih. Mulai sekarang, kau adalah bagian dari keluarga kami…"

Abu Thalib pun memegang bahu Muhammad dengan lembut. 

"Aku akan menjagamu, Muhammad… Seperti aku menjaga anak-anakku sendiri…"

Meski hatinya masih berduka, Muhammad merasa sedikit tenang karena mendapatkan kasih sayang dari paman dan bibinya. Namun, kehidupan di rumah Abu Thalib tidaklah mudah.

Pamannya bukanlah orang kaya. Abu Thalib memiliki banyak anak, dan kehidupan mereka cukup sulit. Namun, meskipun hidup dalam kesederhanaan, Muhammad tetap mendapatkan kasih sayang yang besar dari keluarganya.

Setiap hari, ia membantu pekerjaan rumah, menggembala kambing, dan belajar bagaimana hidup dengan penuh kesabaran. Ia mulai memahami arti kerja keras dan tanggung jawab sejak usia yang sangat muda.

Namun, ujian demi ujian masih belum berakhir…


Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad menjalani masa remajanya? Bagaimana ia mulai bekerja dan belajar tentang kehidupan?

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...