5 Rabi'ul Awwal 1447 H
Menjalani Kehidupan Tanpa Kakek
Setelah kehilangan ibunya, Muhammad ﷺ menemukan kasih sayang dalam pelukan kakeknya, Abdul Muthalib.
Orang tua itu sangat mencintai cucunya yang yatim piatu. Namun, kebahagiaan itu
tak berlangsung lama. Dua tahun setelah kepulangan Muhammad ﷺ ke Makkah, Abdul Muthalib jatuh sakit.
Muhammad ﷺ yang saat itu berusia
delapan tahun selalu berada di sisi kakeknya. Ia menggenggam tangan lelaki tua itu dengan
penuh kasih sayang.
"Cucuku, kau adalah amanah yang paling
berharga bagiku…" suara Abdul Muthalib terdengar lemah.
"Kakek… jangan tinggalkan aku…" Muhammad ﷺ menatapnya dengan mata penuh
kesedihan.
Namun, takdir Allah telah ditetapkan. Abdul
Muthalib menghembuskan napas terakhirnya di hadapan Muhammad ﷺ. Tangis lirih bocah delapan
tahun itu pecah. Ia merasa kehilangan lagi, kali ini sosok yang sangat
menyayanginya setelah ibunya.
Jenazah Abdul Muthalib dimakamkan dengan penuh penghormatan. Sejak
saat itu, tanggung jawab menjaga Muhammad ﷺ jatuh ke tangan pamannya, Abu Thalib.
Tinggal Bersama Abu Thalib
Abu Thalib adalah saudara kandung ayah Muhammad ﷺ. Meskipun tidak kaya, ia adalah orang yang sangat dermawan dan
penuh kasih sayang. Ia menerima Muhammad ﷺ dengan hati terbuka, memperlakukannya layaknya anak sendiri.
Suatu malam, Abu Thalib melihat Muhammad ﷺ tertidur tanpa selimut. Dengan lembut, ia menyelimutinya, lalu
membisikkan doa,
"Ya Allah, lindungilah anak ini… Aku akan menjaganya dengan
seluruh hidupku…"
Di rumah Abu Thalib, Muhammad ﷺ tumbuh dengan penuh akhlak yang luhur. Ia sering membantu
pekerjaan rumah, tidak pernah menyusahkan keluarganya, dan selalu berusaha
membuat orang-orang di sekitarnya nyaman.
Namun, kehidupan tidaklah mudah. Abu Thalib memiliki banyak anak
dan keadaan ekonomi mereka cukup sulit. Muhammad ﷺ memahami kondisi ini dan bertekad untuk tidak menjadi beban.
Belajar Bekerja di Usia Muda
Sejak kecil, Muhammad ﷺ tidak pernah tinggal diam. Ia mulai membantu mencari nafkah dengan
menggembalakan kambing di padang pasir Makkah.
Dalam keheningan padang pasir, ia merenung, mengamati
bintang-bintang di langit, dan menikmati ketenangan yang menyejukkan hatinya.
"Gembala adalah pekerjaan para
nabi…" ucapnya dalam hati.
Meskipun pekerjaannya terlihat sederhana,
dari sinilah Muhammad ﷺ
belajar banyak hal: kesabaran, ketelitian, dan tanggung jawab. Ia juga semakin
mengenal alam dan merenungi ciptaan Allah.
Suatu hari, Abu Thalib melihat Muhammad ﷺ pulang dengan membawa
kambing-kambing dalam kondisi baik. Ia tersenyum bangga,
"Engkau memang anak yang luar biasa,
Wahai keponakanku… Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan padamu."
Muhammad ﷺ membalas senyuman pamannya,
merasa bersyukur atas semua kasih sayang yang diberikan kepadanya.
Mengikuti Perdagangan ke Syam
Ketika Muhammad ﷺ menginjak usia dua belas
tahun, Abu Thalib bersiap untuk
melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam (Suriah). Muhammad ﷺ yang penuh rasa ingin tahu
memohon agar ia diperbolehkan ikut serta.
Pamanku, izinkan aku ikut bersamamu… Aku ingin belajar tentang dunia
perdagangan…" pintanya dengan penuh harap.
Abu Thalib awalnya ragu. Perjalanan ke Syam
sangatlah jauh dan penuh tantangan. Namun, melihat semangat keponakannya, ia
pun mengizinkannya.
Di perjalanan, Muhammad ﷺ melihat berbagai macam
budaya, pedagang dari berbagai negeri, dan suasana pasar yang ramai. Ia belajar
bagaimana cara berdagang dengan jujur dan amanah.
Namun, dalam perjalanan itu pula, terjadi
sebuah peristiwa yang mengejutkan…
Ketika kafilah dagang mereka tiba di Bushra-Syam,
seorang pendeta bernama Buhaira memperhatikan Muhammad ﷺ dengan penuh perhatian. Ia
melihat tanda-tanda kenabian dalam diri anak muda itu.
Buhaira berkata kepada Abu Thalib,
"Anak ini memiliki cahaya kenabian. Aku melihat tanda-tanda
yang sama seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab suci… Jagalah dia
baik-baik…"
Abu Thalib terkejut. Ia semakin menyadari bahwa keponakannya
bukanlah anak biasa.
Setelah perjalanan panjang itu, Muhammad ﷺ kembali ke Makkah dengan pengalaman baru dan semakin matang dalam
memahami kehidupan.
Namun, perjalanan hidupnya masih panjang…
Kisah Selanjutnya: Bagaimana
Muhammad ﷺ tumbuh menjadi pemuda
jujur dan terpercaya? Bagaimana ia mulai dikenal dengan gelar Al-Amin?
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar