6 Rabi'ul Awwal 1447 H
Tumbuh dengan Akhlak yang Mulia
Seiring berjalannya waktu, Muhammad ﷺ semakin dikenal sebagai pemuda yang jujur dan amanah. Ia tidak pernah berkata dusta, tidak pernah mengkhianati orang lain, dan selalu menepati janji.
Di pasar Makkah, orang-orang mulai memperhatikannya. Ia berbeda dari para pedagang lain yang sering curang dan menipu pembeli. Muhammad ﷺ selalu memberikan takaran yang pas dan tidak pernah mengambil keuntungan yang tidak halal.
"Muhammad adalah pemuda yang berbeda…" bisik para penduduk Makkah satu sama lain.
"Ia tidak seperti kebanyakan orang…"
Lama-kelamaan, semua orang mulai memanggilnya dengan gelar Al-Amin -orang yang terpercaya. Sebuah gelar yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
Kisah Kejujuran yang Menggetarkan Hati
Suatu hari, seorang saudagar kaya mempercayakan sejumlah uang kepada Muhammad ﷺ untuk suatu urusan dagang. Namun, saudagar itu tiba-tiba meninggal sebelum sempat mengambil kembali uangnya.
Muhammad ﷺ merasa bertanggung jawab. Ia pun mencari keluarga saudagar tersebut untuk mengembalikan harta yang dititipkan kepadanya.
Saat keluarga itu menerima uang tersebut, mereka terharu hingga meneteskan air mata.
"Sungguh, engkau benar-benar Al-Amin… Tidak ada yang sejujur engkau di kota ini…" ucap mereka dengan penuh rasa hormat._
Muhammad ﷺ hanya tersenyum, karena baginya, kejujuran adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Pertemuan dengan Khadijah binti Khuwailid
Kejujuran dan amanah Muhammad ﷺ akhirnya sampai ke telinga seorang wanita bangsawan Quraisy bernama Khadijah binti Khuwailid.
Khadijah adalah seorang wanita terpandang, cerdas, dan kaya. Ia sering menjalankan perdagangan ke negeri-negeri jauh, tetapi sulit menemukan orang yang benar-benar dapat dipercaya untuk mengurus perdagangannya.
Maka, ia pun mengutus seseorang untuk memanggil Muhammad ﷺ.
"Wahai Muhammad, aku mendengar banyak hal baik tentangmu. Aku ingin kau mengurus perdaganganku ke negeri Syam. Aku akan membayarmu lebih banyak dari siapa pun sebelumnya…"
Muhammad ﷺ menerima tawaran itu dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak tertarik pada harta, tetapi ingin membantu dengan kejujurannya.
Perjalanan Dagang yang Mengubah Segalanya
Bersama seorang pembantu Khadijah yang bernama Maisarah, Muhammad ﷺ berangkat ke Syam. Dalam perjalanan, Maisarah memperhatikan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Muhammad ﷺ.
Ia melihat betapa jujurnya Muhammad ﷺ dalam berdagang. Tidak pernah sekalipun ia menipu atau berbuat curang. Bahkan, banyak pedagang yang rela berbisnis dengannya karena kejujurannya.
Ketika kembali ke Makkah, Maisarah segera menemui Khadijah dan berkata,
"Wahai tuanku, belum pernah aku melihat seseorang seperti Muhammad. Ia jujur, sabar, dan penuh kebijaksanaan. Bahkan, ada pedagang yang berkata bahwa awan selalu menaunginya di bawah terik matahari…"
Khadijah terdiam. Hatinya mulai tergerak.
Sebuah Cinta yang Tulus
Setelah mendengar kisah Muhammad ﷺ, Khadijah semakin mengagumi akhlaknya. Ia tahu bahwa di Makkah, tidak ada laki-laki sebaik Muhammad ﷺ.
Setelah beberapa waktu, dengan perantaraan seorang sahabatnya, Khadijah mengirimkan pesan kepada Muhammad ﷺ bahwa ia ingin menikah dengannya.
Awalnya, Muhammad ﷺ merasa ragu karena Khadijah lebih tua darinya. Namun, setelah bermusyawarah dengan pamannya, Abu Thalib, akhirnya ia menerima lamaran itu.
Maka, di usia 25 tahun, Muhammad ﷺ menikahi Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita yang kelak menjadi pendamping setianya dalam suka dan duka.
Kisah Selanjutnya : Bagaimana
kehidupan rumah tangga Muhammad ﷺ bersama Khadijah? Bagaimana ia mulai menerima tanda-tanda
kenabian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar