Sabtu, 30 Agustus 2025

KEHIDUPAN RUMAH TANGGA DAN TANDA-TANDA KENABIAN

7 Rabi'ul Awwal 1447 H 


Kehidupan Bersama Khadijah

Setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Muhammad menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh ketenangan dan kasih sayang.

Khadijah bukan hanya seorang istri, tetapi juga sahabat, penopang, dan penyemangat terbesar dalam hidup Muhammad .

Di rumahnya, Muhammad merasakan kedamaian yang jarang ia rasakan sejak kecil. Ia tidak lagi merasa kehilangan sosok yang menyayanginya. Khadijah selalu ada untuknya, memahami dan mendukungnya dalam segala hal.

"Wahai suamiku, engkau adalah manusia paling jujur dan berakhlak mulia. Aku bersyukur Allah mempertemukan kita…" ucap Khadijah suatu malam.

Muhammad tersenyum, membalas dengan penuh ketulusan.

 

Menjadi Seorang Ayah

Allah memberikan kebahagiaan lain dalam kehidupan rumah tangga Muhammad dengan hadirnya anak-anak. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai enam orang anak:

1. Qasim,  anak pertama yang wafat saat masih kecil.
2. Zainab,  putri sulung yang penuh kasih sayang.
3. Ruqayyah, lembut dan penyabar.
4. Ummu Kultsum, memiliki akhlak mulia seperti ibunya.
5. Fatimah, anak bungsu yang paling mirip dengan ayahnya.
6. Abdullah, juga wafat saat masih kecil.

Namun, meski dianugerahi kebahagiaan, Muhammad juga harus merasakan kesedihan yang mendalam.

Ketika Qasim dan Abdullah meninggal, hati Muhammad tersayat. Ia memandang jenazah anaknya dengan mata yang basah.

"Ya Allah… hanya kepada-Mu aku berserah…" bisiknya dalam hati.

Khadijah pun menangis, namun tetap tegar di sisi suaminya.

"Allah lebih menyayangi mereka, wahai suamiku…" katanya sambil menggenggam tangan Muhammad dengan lembut.

Muhammad mengangguk. Ia menerima takdir Allah dengan penuh ketabahan.

 

Tanda-Tanda Kenabian Mulai Tampak

Seiring bertambahnya usia, Muhammad semakin sering merenung. Ia merasa ada sesuatu yang besar menanti dirinya, sesuatu yang ia sendiri belum memahami sepenuhnya.

Hatinya gelisah melihat kebiasaan buruk kaumnya:
Mereka menyembah berhala.
Mereka memperlakukan anak perempuan dengan hina.
Mereka menindas yang lemah.
Muhammad
merasa muak dengan semua itu.

Ia mulai sering mengasingkan diri ke Gua Hira, tempat yang sunyi di puncak Jabal Nur. Di sana, ia beribadah, merenung, dan mencari ketenangan.

Malam-malam panjang ia habiskan dalam kesendirian. Suara angin gurun menemani zikirnya.

Hingga suatu malam, sesuatu yang luar biasa terjadi…

 

Pertemuan Pertama dengan Malaikat Jibril

Di dalam kegelapan gua, tiba-tiba Muhammad dikejutkan oleh sebuah suara.

"Iqra’…!" (Bacalah!)

Muhammad terkejut. Ia melihat sosok bercahaya yang memenuhi gua. Tubuhnya gemetar.

"Aku tidak bisa membaca…" jawabnya ketakutan.

Sosok itu mendekapnya dengan erat, lalu mengulang lagi,

"Iqra’…!"

Muhammad semakin bingung dan ketakutan.

"Aku tidak bisa membaca…" ucapnya lagi.

Untuk ketiga kalinya, sosok itu kembali mendekapnya dengan kuat, lalu berkata:

"Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq… Khalaqal insana min ‘alaq… Iqra’ wa rabbukal akram…"

(Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah… Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah…)

Mendengar ayat itu, tubuh Muhammad lemas. Ia merasa jiwanya terguncang.

 

Ketakutan dan Pelukan Penuh Kasih dari Khadijah

Dengan tubuh gemetar, Muhammad segera berlari turun dari gunung. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Begitu tiba di rumah, ia langsung memeluk Khadijah.

"Selimuti aku… Selimuti aku…" ucapnya dengan suara bergetar.

Khadijah segera menyelimuti suaminya dan menenangkan hatinya.

"Apa yang terjadi, wahai suamiku?" tanyanya lembut.

Muhammad menceritakan semuanya. Matanya masih dipenuhi rasa takut dan kebingungan.

Namun, Khadijah tidak ragu sedikit pun. Ia menggenggam tangan suaminya erat dan berkata,

"Demi Allah, engkau tidak akan ditinggalkan oleh-Nya. Engkau selalu jujur, menyambung silaturahmi, menolong orang miskin, dan menegakkan keadilan…"

"Tenanglah, wahai suamiku. Aku percaya ini adalah sesuatu yang besar…"

Khadijah lalu membawa Muhammad menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab yang sudah tua dan buta.

Setelah mendengar cerita Muhammad , Waraqah berkata,

"Demi Allah, ini adalah Malaikat Jibril yang pernah datang kepada Nabi Musa…"
"Engkau adalah nabi umat ini, wahai Muhammad…"

 Muhammad terkejut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Allah telah memilihnya sebagai utusan-Nya.

 Namun, inilah awal dari perjalanan besar… perjalanan yang akan mengubah dunia selamanya.

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad menghadapi wahyu pertama? Bagaimana tantangan yang ia hadapi setelah diangkat menjadi Rasul?_*

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...