7 Rabi'ul Awwal 1447 H
Kehidupan Bersama Khadijah
Setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwailid,
Muhammad ﷺ menjalani kehidupan
rumah tangga yang penuh ketenangan dan kasih sayang.
Khadijah bukan hanya seorang istri, tetapi juga sahabat, penopang, dan penyemangat terbesar dalam hidup Muhammad ﷺ.
Di rumahnya, Muhammad ﷺ merasakan kedamaian yang jarang ia rasakan sejak kecil. Ia tidak lagi merasa kehilangan sosok yang menyayanginya. Khadijah selalu ada untuknya, memahami dan mendukungnya dalam segala hal.
"Wahai suamiku, engkau adalah manusia paling jujur dan berakhlak mulia. Aku bersyukur Allah mempertemukan kita…" ucap Khadijah suatu malam.
Muhammad ﷺ tersenyum, membalas dengan penuh ketulusan.
Menjadi Seorang Ayah
Allah memberikan kebahagiaan lain dalam kehidupan rumah tangga Muhammad ﷺ dengan hadirnya anak-anak. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai enam orang anak:
1. Qasim, anak
pertama yang wafat saat masih kecil.
2. Zainab, putri
sulung yang penuh kasih sayang.
3. Ruqayyah, lembut dan penyabar.
4. Ummu Kultsum, memiliki akhlak mulia seperti ibunya.
5. Fatimah, anak bungsu yang paling mirip dengan ayahnya.
6. Abdullah, juga wafat saat masih kecil.
Namun, meski dianugerahi kebahagiaan, Muhammad ﷺ juga harus merasakan kesedihan yang mendalam.
Ketika Qasim dan Abdullah meninggal, hati Muhammad ﷺ tersayat. Ia memandang jenazah anaknya dengan mata yang basah.
"Ya Allah… hanya kepada-Mu aku berserah…" bisiknya dalam hati.
Khadijah pun menangis, namun tetap tegar di sisi suaminya.
"Allah lebih menyayangi mereka, wahai suamiku…" katanya sambil menggenggam tangan Muhammad ﷺ dengan lembut.
Muhammad ﷺ mengangguk. Ia menerima takdir Allah dengan penuh ketabahan.
Tanda-Tanda Kenabian Mulai Tampak
Seiring bertambahnya usia, Muhammad ﷺ semakin sering merenung. Ia merasa ada sesuatu yang besar menanti dirinya, sesuatu yang ia sendiri belum memahami sepenuhnya.
Hatinya gelisah melihat kebiasaan buruk
kaumnya:
Mereka menyembah berhala.
Mereka memperlakukan anak perempuan dengan hina.
Mereka menindas yang lemah.
Muhammad ﷺ merasa muak dengan semua itu.
Ia mulai sering mengasingkan diri ke Gua Hira, tempat yang sunyi di puncak Jabal Nur. Di sana, ia beribadah, merenung, dan mencari ketenangan.
Malam-malam panjang ia habiskan dalam kesendirian. Suara angin gurun menemani zikirnya.
Hingga suatu malam, sesuatu yang luar biasa
terjadi…
Pertemuan Pertama dengan Malaikat Jibril
Di dalam kegelapan gua, tiba-tiba Muhammad ﷺ dikejutkan oleh sebuah suara.
"Iqra’…!" (Bacalah!)
Muhammad ﷺ terkejut. Ia melihat sosok bercahaya yang memenuhi gua. Tubuhnya gemetar.
"Aku tidak bisa membaca…" jawabnya ketakutan.
Sosok itu mendekapnya dengan erat, lalu mengulang lagi,
"Iqra’…!"
Muhammad ﷺ semakin bingung dan ketakutan.
"Aku tidak bisa membaca…" ucapnya lagi.
Untuk ketiga kalinya, sosok itu kembali mendekapnya dengan kuat, lalu berkata:
"Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq… Khalaqal insana min ‘alaq… Iqra’ wa rabbukal akram…"
(Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah… Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah…)
Mendengar ayat itu, tubuh Muhammad ﷺ lemas. Ia merasa jiwanya terguncang.
Ketakutan dan Pelukan Penuh Kasih dari Khadijah
Dengan tubuh gemetar, Muhammad ﷺ segera berlari turun dari gunung. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Begitu tiba di rumah, ia langsung memeluk Khadijah.
"Selimuti aku… Selimuti aku…" ucapnya dengan suara bergetar.
Khadijah segera menyelimuti suaminya dan menenangkan hatinya.
"Apa yang terjadi, wahai suamiku?" tanyanya lembut.
Muhammad ﷺ menceritakan semuanya. Matanya masih dipenuhi rasa takut dan kebingungan.
Namun, Khadijah tidak ragu sedikit pun. Ia
menggenggam tangan suaminya erat dan berkata,
"Demi Allah, engkau tidak akan ditinggalkan oleh-Nya. Engkau selalu jujur, menyambung silaturahmi, menolong orang miskin, dan menegakkan keadilan…"
"Tenanglah, wahai suamiku. Aku percaya ini adalah sesuatu yang besar…"
Khadijah lalu membawa Muhammad ﷺ menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab yang sudah tua dan buta.
Setelah mendengar cerita Muhammad ﷺ, Waraqah berkata,
"Demi Allah, ini adalah Malaikat Jibril yang pernah datang
kepada Nabi Musa…"
"Engkau adalah nabi umat ini, wahai Muhammad…"
Kisah Selanjutnya: Bagaimana
Muhammad ﷺ menghadapi wahyu
pertama? Bagaimana tantangan yang ia hadapi setelah diangkat menjadi Rasul?_*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar