Minggu, 31 Agustus 2025

COBAAN PERTAMA SEBAGAI RASUL DAN KASIH SAYANG YANG TAK BERTEPI

 8 Rabi'ul Awwal 1447 H


Wahyu Kedua dan Tugas Besar sebagai Rasul

Setelah kejadian di Gua Hira, Muhammad masih merasa gemetar setiap kali mengingat suara yang ia dengar. Namun, hatinya kini mulai tenang berkat dukungan penuh dari Khadijah.

Suatu hari, ketika ia sedang duduk merenung, tiba-tiba Malaikat Jibril kembali datang kepadanya.

"Wahai Muhammad, bangkitlah dan sampaikan peringatan!"

Kemudian turunlah ayat:

"Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu!" [ QS. Al-Muddassir: 1-3 ]

Inilah perintah Allah kepada Muhammad untuk mulai berdakwah.

Namun, perjalanan ini tidaklah mudah…

 

Kasih Sayang Rasulullah untuk Keluarga di Tengah Cobaan

Sejak wahyu turun, Muhammad mulai menyampaikan pesan tauhid secara sembunyi-sembunyi. Orang-orang terdekatnya adalah yang pertama beriman:

* Ali bin Abi Thalib sepupu yang masih kecil namun sangat percaya kepadanya.
* Khadijah istri tercinta yang selalu mendukungnya.
* Abu Bakar sahabat setia yang akan menjadi pendukung utama.

Di tengah beratnya dakwah, Rasulullah tidak pernah melupakan keluarganya. Ia tetap menjadi suami yang penuh cinta dan ayah yang penyayang.

Setiap kali ia pulang dalam keadaan lelah, Khadijah selalu menyambutnya dengan senyuman.

Wahai suamiku, engkau telah bekerja keras… Beristirahatlah, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu."

Muhammad memandang istrinya dengan penuh kasih.

"Engkau adalah anugerah terbesar dalam hidupku, wahai Khadijah…" bisiknya lembut.

Di rumah, Rasulullah selalu meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anaknya. Ia menggendong Fatimah kecil, mendekapnya dengan penuh cinta.

"Anakku, engkau akan menjadi wanita yang penuh keberkahan…" ucapnya sambil mencium keningnya.

Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum pun selalu mendapat perhatian. Rasulullah bukan hanya seorang nabi, tetapi juga seorang ayah yang penyayang.

 

Perlawanan dari Kaum Quraisy

Namun, kebahagiaan di rumah tidak menghilangkan fakta bahwa kaum Quraisy mulai menentangnya.

Ketika Rasulullah mulai berdakwah secara terang-terangan, pemuka Quraisy murka.

"Muhammad telah menghina berhala kita! Ia mengancam tradisi nenek moyang kita!" teriak mereka.

Tantangan semakin berat. Orang-orang mulai mencemoohnya, melemparinya dengan batu, bahkan merencanakan sesuatu yang lebih buruk…

 

Dukungan Tanpa Batas dari Khadijah

Saat Rasulullah kembali ke rumah dengan wajah penuh debu setelah dilempari oleh kaum Quraisy, Khadijah segera menyambutnya.

"Ya Rasulullah, mereka tidak akan bisa menyakitimu… Aku akan selalu bersamamu…" katanya sambil menghapus debu dari wajah suaminya.

Muhammad menatap istrinya penuh cinta.

"Engkau adalah cahaya dalam hidupku, wahai Khadijah…"

Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat, seolah ingin mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah selama ada Khadijah di sisinya.

 

Perlakuan Lembut kepada Anak-anaknya

Meski menghadapi tekanan dari masyarakat, Rasulullah tetap menjadi ayah yang penuh kelembutan.

Saat Fatimah melihat ayahnya pulang dalam keadaan terluka, air matanya mengalir.

"Ayah, siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanyanya sedih.

Muhammad tersenyum dan mengusap kepala putrinya.

"Jangan menangis, putriku… Allah selalu bersamaku…"

Fatimah kecil mendekap ayahnya erat, berusaha menghiburnya.

Di tengah badai yang menerpa, Rasulullah tetap berdiri teguh. Bersama Khadijah dan anak-anaknya, ia menemukan kekuatan.

Namun, ujian yang lebih besar masih menanti…

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Rasulullah menghadapi penyiksaan Quraisy? Bagaimana keteguhan Khadijah dan anak-anaknya dalam mendukungnya?*_

 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...