9 Rabi'ul Awwal 1447 H
Kaum Quraisy Semakin Murka
Seiring berjalannya waktu, dakwah Rasulullah ﷺ semakin dikenal. Namun, semakin banyak yang beriman, semakin keras pula perlawanan dari kaum Quraisy.
Para pemuka Quraisy seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan Walid bin Mughirah berkumpul dan menyusun rencana.
"Muhammad semakin berani! Jika kita tidak menghentikannya sekarang, seluruh Makkah akan mengikutinya!" seru Abu Jahal dengan wajah merah padam.
ereka memutuskan untuk menggunakan cara yang lebih kejam: menyiksa dan menindas kaum Muslimin yang lemah.
Penyiksaan terhadap Kaum Muslimin
Para pengikut Rasulullah ﷺ mengalami siksaan yang luar biasa:
Bilal bin Rabah, ia dijemur di bawah terik matahari, tubuhnya yang hitam legam ditindih batu besar. Setiap kali ia diminta untuk meninggalkan Islam, ia hanya berkata "Ahad… Ahad… (Allah Maha Esa)"
Ammar bin Yasir dan Keluarganya : Ayahnya, Yasir, dipukul hingga tewas. Ibunya, Sumayyah, ditusuk tombak oleh Abu Jahal. Ammar dipaksa melihat kedua orang tuanya disiksa.
Khabbab bin Al-Aratt . Ia disiksa dengan besi panas yang ditempelkan ke punggungnya hingga kulitnya terbakar.
Sa'id bin Zaid dan Fatimah binti Khattab. Dipukuli oleh Umar bin Khattab sebelum akhirnya Umar masuk Islam.
Rasulullah ﷺ tidak bisa melihat pengikutnya menderita seperti ini. Ia menatap Bilal yang lemah dengan air mata berlinang, lalu berbisik,
"Bersabarlah, wahai Bilal… Surga telah menantimu."
Rasulullah ﷺ Pun Tak
Luput dari Siksaan
Tidak hanya para sahabat, Rasulullah ﷺ sendiri mengalami perlakuan keji:
Dilempari kotoran saat sedang shalat di Ka'bah.
Diludahi dan dihina oleh Abu Jahal dan Abu Lahab.
Dilempari batu hingga kakinya berdarah.
Dicekik oleh Uqbah bin Abi Mu'ith
saat sedang sujud, sampai Abu Bakar datang menyelamatkannya.
Suatu hari, Fatimah kecil melihat ayahnya pulang dengan tubuh penuh luka. Ia menangis dan membersihkan debu dari wajah Rasulullah ﷺ.
"Siapa yang melakukan ini kepadamu, Ayah?" tanyanya dengan suara bergetar.
Rasulullah ﷺ tersenyum lemah.
"Jangan menangis, putriku… Allah selalu bersamaku…"
Fatimah kecil mendekap ayahnya erat, berusaha menghiburnya.
Khadijah Selalu Menjadi Pelipur Lara
Di tengah penderitaan itu, Rasulullah ﷺ selalu menemukan ketenangan dalam pelukan Khadijah.
Setiap kali Rasulullah ﷺ pulang dalam keadaan lelah dan terluka, Khadijah selalu menyambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Ya Rasulullah, mereka tidak akan bisa menyakitimu… aku akan selalu bersamamu…" katanya sambil menghapus debu dari wajah suaminya.
Muhammad ﷺ menatap istrinya penuh cinta.
"Engkau adalah cahaya dalam hidupku, wahai Khadijah…"
Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat, seolah ingin mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah selama ada Khadijah di sisinya.
Pemboikotan Quraisy: Tahun-Tahun yang Paling Berat
Kaum Quraisy kemudian membuat keputusan keji: mereka memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib, dua suku yang melindungi Rasulullah ﷺ.
Isi perjanjian kejam mereka
Tidak
boleh ⇨ ada yang
berdagang dengan kaum Muslimin.
Tidak boleh ⇨ ada yang
menikahkan anaknya dengan mereka.
Tidak
boleh ⇨ ada yang
memberikan makanan atau bantuan apa pun.
Muslimin terisolasi di lembah Abu Thalib. Mereka kelaparan, hingga terpaksa memakan daun-daun kering. Suara tangisan anak-anak terdengar di malam hari karena perut mereka kosong.
Suatu malam, Khadijah jatuh sakit. Tubuhnya lemah karena tidak mendapat makanan yang cukup. Rasulullah ﷺ menggenggam tangannya, air mata menggenang di matanya.
"Khadijah… bertahanlah…"
Namun, keadaan semakin memburuk. Hingga akhirnya, di tahun ke-10 kenabian, Khadijah wafat…
💔 Rasulullah ﷺ sangat terpukul. Ia menangis di sisi jenazah istrinya, mencium keningnya untuk terakhir kali.
"Engkau adalah wanita terbaik yang pernah kumiliki…" bisiknya lirih.
Namun, ujian belum selesai…
Tak lama setelah itu, Abu Thalib – paman yang selalu melindunginya juga wafat. Rasulullah ﷺ kini benar-benar kehilangan dua orang yang paling dicintainya…
Kisah Selanjutnya: Bagaimana perjalanan Rasulullah ﷺ ke Tha’if? Bagaimana ia
menghadapi penghinaan dan kekerasan dari penduduk Tha’if?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar