Senin, 01 September 2025

PENDERITAAN DI JALAN DAKWAH DAN UJIAN YANG KIAN BERAT

 9 Rabi'ul Awwal 1447 H


Kaum Quraisy Semakin Murka

Seiring berjalannya waktu, dakwah Rasulullah semakin dikenal. Namun, semakin banyak yang beriman, semakin keras pula perlawanan dari kaum Quraisy.

Para pemuka Quraisy seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan Walid bin Mughirah berkumpul dan menyusun rencana.

"Muhammad semakin berani! Jika kita tidak menghentikannya sekarang, seluruh Makkah akan mengikutinya!"  seru Abu Jahal dengan wajah merah padam.

ereka memutuskan untuk menggunakan cara yang lebih kejam: menyiksa dan menindas kaum Muslimin yang lemah.

 

Penyiksaan terhadap Kaum Muslimin

Para pengikut Rasulullah mengalami siksaan yang luar biasa:

Bilal bin Rabah, ia dijemur di bawah terik matahari, tubuhnya yang hitam legam ditindih batu besar. Setiap kali ia diminta untuk meninggalkan Islam, ia hanya berkata "Ahad… Ahad… (Allah Maha Esa)"

Ammar bin Yasir dan Keluarganya : Ayahnya, Yasir, dipukul hingga tewas. Ibunya, Sumayyah, ditusuk tombak oleh Abu Jahal. Ammar dipaksa melihat kedua orang tuanya disiksa.

Khabbab bin Al-Aratt . Ia disiksa dengan besi panas yang ditempelkan ke punggungnya hingga kulitnya terbakar.

Sa'id bin Zaid dan Fatimah binti Khattab. Dipukuli oleh Umar bin Khattab sebelum akhirnya Umar masuk Islam.

Rasulullah tidak bisa melihat pengikutnya menderita seperti ini. Ia menatap Bilal yang lemah dengan air mata berlinang, lalu berbisik,

"Bersabarlah, wahai Bilal… Surga telah menantimu."

 

Rasulullah Pun Tak Luput dari Siksaan

Tidak hanya para sahabat, Rasulullah sendiri mengalami perlakuan keji:

Dilempari kotoran saat sedang shalat di Ka'bah.

Diludahi dan dihina oleh Abu Jahal dan Abu Lahab.

Dilempari batu hingga kakinya berdarah.

Dicekik oleh Uqbah bin Abi Mu'ith saat sedang sujud, sampai Abu Bakar datang menyelamatkannya.

Suatu hari, Fatimah kecil melihat ayahnya pulang dengan tubuh penuh luka. Ia menangis dan membersihkan debu dari wajah Rasulullah .

"Siapa yang melakukan ini kepadamu, Ayah?" tanyanya dengan suara bergetar.

Rasulullah tersenyum lemah.

"Jangan menangis, putriku… Allah selalu bersamaku…"

Fatimah kecil mendekap ayahnya erat, berusaha menghiburnya.

 

Khadijah Selalu Menjadi Pelipur Lara

Di tengah penderitaan itu, Rasulullah selalu menemukan ketenangan dalam pelukan Khadijah.

Setiap kali Rasulullah pulang dalam keadaan lelah dan terluka, Khadijah selalu menyambutnya dengan penuh kasih sayang.

"Ya Rasulullah, mereka tidak akan bisa menyakitimu… aku akan selalu bersamamu…" katanya sambil menghapus debu dari wajah suaminya.

Muhammad menatap istrinya penuh cinta.

"Engkau adalah cahaya dalam hidupku, wahai Khadijah…"

Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat, seolah ingin mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah selama ada Khadijah di sisinya.

 

Pemboikotan Quraisy: Tahun-Tahun yang Paling Berat

Kaum Quraisy kemudian membuat keputusan keji: mereka memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib, dua suku yang melindungi Rasulullah .

Isi perjanjian kejam mereka

Tidak boleh ada yang berdagang dengan kaum Muslimin.
Tidak boleh ada yang menikahkan anaknya dengan mereka.
Tidak boleh ada yang memberikan makanan atau bantuan apa pun.

Muslimin terisolasi di lembah Abu Thalib. Mereka kelaparan, hingga terpaksa memakan daun-daun kering. Suara tangisan anak-anak terdengar di malam hari karena perut mereka kosong.

Suatu malam, Khadijah jatuh sakit. Tubuhnya lemah karena tidak mendapat makanan yang cukup. Rasulullah menggenggam tangannya, air mata menggenang di matanya.

"Khadijah… bertahanlah…"

Namun, keadaan semakin memburuk. Hingga akhirnya, di tahun ke-10 kenabian, Khadijah wafat…

💔 Rasulullah sangat terpukul. Ia menangis di sisi jenazah istrinya, mencium keningnya untuk terakhir kali.

"Engkau adalah wanita terbaik yang pernah kumiliki…" bisiknya lirih.

Namun, ujian belum selesai…

Tak lama setelah itu, Abu Thalib – paman yang selalu melindunginya  juga wafat. Rasulullah kini benar-benar kehilangan dua orang yang paling dicintainya…

 Inilah tahun yang disebut sebagai Tahun Kesedihan (Aamul Huzn).

 Rasulullah kini sendirian menghadapi dunia.

 Namun, Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih besar untuknya…

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana perjalanan Rasulullah ke Tha’if? Bagaimana ia menghadapi penghinaan dan kekerasan dari penduduk Tha’if?

 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...