Selasa, 02 September 2025

PERJALANAN KE THA’IF: LUKA YANG MENDALAM

 10 Robi'ul Awwal 1447 H

 

Harapan di Kota Tha’if

Setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib, Rasulullah merasakan kesedihan yang luar biasa. Ia kini tidak lagi memiliki pelindung di Makkah. Kaum Quraisy semakin berani menyakiti dan menghinanya.

Namun, Rasulullah tidak menyerah. Dengan penuh harapan, beliau memutuskan pergi ke Tha’if, sebuah kota yang dihuni oleh Bani Tsaqif. Ia berharap penduduk Tha’if mau menerima dakwah Islam.

Rasulullah pergi bersama Zaid bin Haritsah, sahabat setianya. Perjalanan ini berat, menempuh lebih dari 60 km berjalan kaki di bawah terik matahari.

Setibanya di Tha’if, Rasulullah mendatangi para pemuka Bani Tsaqif dan menyampaikan ajakan kepada Islam dengan penuh kelembutan.

"Wahai kaum Tsaqif, aku datang membawa kebaikan. Berimanlah kepada Allah yang Maha Esa…"

Namun, jawaban mereka justru penuh penghinaan.

 

Penghinaan yang Menyayat Hati

Tiga orang pemimpin Tha’if, yaitu Abdu Yalail, Mas’ud, dan Habib bin Amr, menatap Rasulullah dengan sinis.

"Engkau yang diutus sebagai Nabi? Bukankah Allah bisa memilih orang yang lebih mulia dari dirimu?" ejek mereka sambil tertawa.

"Jika engkau benar seorang Nabi, maka aku tak mau berbicara denganmu, karena itu berbahaya. Tapi jika engkau pendusta, maka kau tak pantas aku ajak bicara!" kata yang lain dengan nada merendahkan.

Rasulullah tetap sabar, mencoba berbicara lagi.

Namun, mereka justru menyuruh para pemuda dan budak-budak kota untuk mengusirnya dengan kasar.

"Usir orang ini dari kota kita!" teriak mereka.

 

Dilempari Batu dan Luka yang Menganga

Saat Rasulullah dan Zaid bin Haritsah berjalan keluar dari Tha`if, segerombolan anak-anak dan para budak mengikuti mereka sambil melempari batu.

💔 Rasulullah terluka di kepala dan tubuhnya. Kakinya berdarah, hingga sandal beliau dipenuhi oleh darah yang mengering.

Zaid mencoba melindungi beliau dengan tubuhnya, tetapi ia sendiri juga terkena lemparan batu.

"Ya Rasulullah, biarkan aku melawan mereka!" ujar Zaid dengan wajah penuh amarah.

Namun Rasulullah menahannya.

"Jangan, Zaid… Biarkan mereka… Aku hanya ingin menyampaikan risalah Allah…"

Mereka terus berjalan dalam keadaan lemah dan penuh luka. Setelah jauh dari kota, Rasulullah bersandar di sebuah kebun anggur, berusaha menahan rasa sakit.


Doa Rasulullah yang Menggetarkan Langit

Di bawah pohon anggur, Rasulullah menengadahkan tangan ke langit. Dengan suara lirih dan penuh kesedihan, ia berdoa:

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia… Ya Arhamar Rahimin… Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Rabb-ku… Kepada siapa Engkau menyerahkanku? Kepada orang asing yang bermuka masam kepadaku? Atau kepada musuh yang telah menguasai urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli… Namun, ampunan-Mu lebih luas bagiku…"

Air mata mengalir dari wajah Rasulullah . Ia merasa sangat sendirian.

Namun, langit tak tinggal diam…

 

Pertolongan Allah: Malaikat Gunung Datang

Saat Rasulullah duduk dalam kesedihan, tiba-tiba Jibril turun dari langit bersama malaikat penjaga gunung.

"Wahai Rasulullah, Allah mendengar doamu. Aku bersama malaikat penjaga gunung ini diperintahkan untuk memenuhi apa pun yang kau inginkan. Jika kau mau, kami akan menghancurkan penduduk Tha’if dengan menimpakan gunung kepada mereka!"

Malaikat gunung itu menunggu perintah Rasulullah .

Namun, dengan hati penuh kasih sayang, Rasulullah berkata:

"Tidak… Jangan hancurkan mereka… Aku berharap, suatu hari nanti, anak-anak keturunan mereka akan beriman kepada Allah…"

Jibril tersenyum.

"Sungguh, engkau adalah Nabi yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad…"

 

Diterima di Kebun Anggur

Saat Rasulullah masih dalam keadaan lemah, dua saudara pemilik kebun anggur, Utbah dan Syaibah, melihat beliau dari kejauhan.

Mereka merasa iba dan mengirim seorang budak bernama Addas untuk memberikan anggur kepada Rasulullah .

"Makanlah, wahai lelaki yang malang,"  kata Addas sambil menyerahkan anggur.

Namun, ketika Rasulullah mengambil anggur itu, beliau mengucapkan:

"Bismillah.."

Addas terkejut.

"Apa yang baru saja kau ucapkan? Tidak ada seorang pun di Tha’if yang mengatakan itu!"

Rasulullah tersenyum.

"Aku adalah seorang Nabi. Dari mana asalmu, wahai Addas?"

"Aku dari Niniwe," jawabnya.

 Rasulullah tersenyum semakin lebar.

"Itu adalah negeri seorang nabi saleh, Yunus bin Matta…"

 Mata Addas membesar.

"Kau tahu tentang Yunus? Ia adalah nabi kami!" serunya penuh keheranan.

"Ia adalah saudaraku. Ia seorang nabi, dan aku juga seorang nabi…"

 Addas langsung bersimpuh dan mencium tangan Rasulullah .

"Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah!"

 Rasulullah tersenyum dalam kelelahan. Di tengah penderitaannya, Allah memberinya cahaya.

 

Kembali ke Makkah dengan Hati Tabah

Setelah beberapa hari, Rasulullah dan Zaid memutuskan kembali ke Makkah. Namun, mereka masih harus menghadapi satu masalah: Quraisy telah mengetahui perjalanan mereka dan tidak mengizinkan mereka masuk kembali.

Dalam keadaan sulit ini, akhirnya Mut’im bin Adi, seorang pemimpin Quraisy yang masih memiliki hati baik, memberikan perlindungan bagi Rasulullah hingga beliau bisa masuk kembali ke Makkah dengan selamat.

Namun, cobaan Rasulullah belum berakhir…

Allah sedang menyiapkan hadiah terbesar bagi beliau…


Kisah Selanjutnya: Bagaimana Allah menghibur Rasulullah dengan peristiwa Isra’ Mi’raj? Bagaimana Rasulullah naik ke langit dan bertemu dengan para nabi?_*

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. MMuslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...