Rabu, 03 September 2025

ISRA’ MI’RAJ: HADIAH DI TENGAH KESEDIHAN

 11 Rabi'ul Awwal 1447 H

 

Kesedihan yang Mendalam

Setelah perjalanan penuh luka di Tha’if, Rasulullah kembali ke Makkah dengan hati yang penuh kesedihan. Tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzn (Tahun Kesedihan) karena kehilangan dua orang yang paling ia cintai— Khadijah dan Abu Thalib.

Di tengah tekanan kaum Quraisy yang semakin kejam, Rasulullah sering merenung, menghabiskan malam-malamnya dalam doa panjang.

Hingga suatu malam… terjadi sesuatu yang luar biasa.

Isra’: Perjalanan Malam ke Masjidil Aqsa

Di tengah malam, ketika Rasulullah berada di rumah Ummu Hani, datanglah Jibril bersama Buraq, makhluk putih bersayap dengan kecepatan luar biasa.

"Wahai Muhammad, malam ini Allah mengundangmu dalam perjalanan yang agung," kata Jibril.

Dengan penuh ketundukan, Rasulullah naik ke atas Buraq. Dalam sekejap, ia dibawa melintasi padang pasir dan kota-kota, hingga tiba di Masjidil Aqsa di Palestina.

Setibanya di sana, beliau melihat para nabi telah berkumpul.

"Engkau adalah pemimpin mereka, wahai Muhammad," bisik Jibril.

Lalu, Rasulullah maju dan menjadi imam dalam shalat yang diikuti oleh para nabi: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya.

Sungguh, sebuah kehormatan yang luar biasa…

Namun, perjalanan ini belum berakhir.

Mi’raj: Naik ke Langit Bertemu Para Nabi

Setelah shalat di Masjidil Aqsa, Jibril membawa Rasulullah naik ke langit.

Langit Pertama Di sini, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam.
"Selamat datang, wahai anakku yang saleh…" kata Adam dengan senyuman bangga.
Langit Kedua Di sini, Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya.
"Selamat datang, wahai saudara yang saleh…" ucap mereka dengan penuh penghormatan.
Langit Ketiga Rasulullah bertemu dengan Nabi Yusuf, yang wajahnya bersinar seperti bulan purnama.
Langit Keempat Di sini, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris.
Langit Kelima Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun, yang memiliki pengikut sangat banyak.
Langit Keenam Di langit ini, beliau bertemu dengan Nabi Musa. Saat Rasulullah hendak naik ke langit berikutnya, Musa menangis.

"Mengapa engkau menangis, wahai Musa?" tanya Rasulullah .
"Aku menangis karena umatmu akan lebih banyak yang masuk surga dibanding umatku…" jawab Musa dengan penuh haru.
Langit Ketujuh Di langit tertinggi, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim, yang bersandar di Baitul Ma’mur, tempat ibadah para malaikat.
"Wahai Muhammad, sampaikan kepada umatmu agar tanah surga mereka ditanami dengan dzikir: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar," pesan Ibrahim.

Sidratul Muntaha dan Perintah Shalat

Setelah bertemu para nabi, Rasulullah dibawa ke Sidratul Muntaha, tempat paling tinggi di alam semesta, yang bahkan malaikat pun tidak bisa melewatinya.

Di sinilah Rasulullah menerima perintah langsung dari Allah:

"Wahai Muhammad, Aku wajibkan shalat 50 kali sehari bagi umatmu."

Dalam perjalanan kembali, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa AS, yang menyarankan agar jumlah shalat dikurangi karena umat Islam tidak akan mampu.

Rasulullah kembali menghadap Allah beberapa kali, hingga akhirnya jumlahnya dikurangi menjadi 5 kali sehari.

"Wahai Muhammad, ini tetap 50 kali dalam pahala, tetapi Aku ringankan menjadi 5 kali sehari," firman Allah.

Kembali ke Makkah

Setelah perjalanan luar biasa ini, Rasulullah kembali ke Makkah sebelum fajar menyingsing. Saat pagi tiba, beliau menceritakan pengalaman ini kepada orang-orang Quraisy.

Namun, mereka malah menertawakannya.

"Mana mungkin seseorang bisa pergi ke Palestina dan naik ke langit dalam semalam?" ejek mereka.

Bahkan ada beberapa orang yang hampir murtad karena merasa tidak masuk akal.

Namun, Abu Bakar dengan tegas berkata:

"Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku percaya. Karena ia tidak pernah berdusta!"

Sejak hari itu, Abu Bakar mendapat gelar As-Siddiq, yaitu orang yang membenarkan kebenaran Rasulullah .

Hikmah Perjalanan Isra’ Mi’raj

Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah hadiah dari Allah untuk menguatkan hati Rasulullah setelah mengalami berbagai kesedihan.

Dari sinilah, shalat menjadi tiang agama, hadiah yang sangat berharga bagi umat Islam.

Namun, perjuangan Rasulullah belum berakhir. Setelah peristiwa ini, Allah membuka jalan baru baginya…

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Rasulullah mulai mencari perlindungan di luar Makkah? Bagaimana akhirnya Allah mengantarkan beliau ke Madinah?_

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...