Kamis, 04 September 2025

HIJRAH: PERJALANAN PENUH AIR MATA MENUJU CAHAYA

 12 Rabi'ul Awwal 1447 H

 

Makkah yang Tak Lagi Ramah

Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj kaum Quraisy semakin keras menentang Rasulullah . Mereka tidak hanya mengejek, tetapi juga merencanakan sesuatu yang lebih kejam.

"Muhammad harus dihentikan, atau kita akan kehilangan kekuasaan!" seru salah satu pemimpin Quraisy dalam sebuah pertemuan rahasia.

 

Abu Jahal, dengan penuh kebencian, mengusulkan rencana paling jahat.

"Kita kumpulkan pemuda dari berbagai kabilah, lalu serang Muhammad bersama-sama! Dengan begitu, keluarganya tidak bisa menuntut balas."

 

Ide ini disepakati. Malam itu mereka bersiap mengepung rumah Rasulullah tanpa tahu bahwa Allah telah menyiapkan skenario-Nya sendiri.

 

Malam Penuh Keajaiban

 Jibril datang memberi peringatan:

"Wahai Rasulullah, jangan tidur di tempat tidurmu malam ini. Kaum Quraisy telah bersekongkol untuk membunuhmu."_

 Maka, Rasulullah pun memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya.

"Tidurlah dengan tenang, wahai Ali. Aku titipkan amanah umat kepadamu."

 Ali, dengan penuh keberanian, menerima tugas itu.

Sementara itu, Rasulullah keluar dari rumahnya dengan tenang. Para pemuda Quraisy telah mengepung rumah, tetapi dengan izin Allah, mereka dibuat buta dan tidak bisa melihatnya.

Beliau melewati mereka tanpa terdeteksi, sambil membaca ayat:

"Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding, dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat."

[QS. Yasin: 9]

Keajaiban terjadi. Rasulullah berhasil meninggalkan Makkah, menuju rumah sahabat setianya, Abu Bakar.

 

Perjalanan Menuju Gua Tsur

Abu Bakar telah menyiapkan segala keperluan. Dengan air mata berlinang, ia berkata:

"Wahai Rasulullah, izinkan aku menemanimu dalam perjalanan ini…"

"Tentu, engkau akan menemaniku, wahai sahabatku," jawab Rasulullah dengan senyuman lembut.

 

Mereka segera pergi menuju Gua Tsur, tempat persembunyian sementara.

Namun, perjalanan tidak mudah. Quraisy segera menyadari bahwa Rasulullah telah pergi, dan mereka menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.

Selama tiga hari, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua.

Saat itu, terjadi kejadian yang begitu mendebarkan.

 

Jaring Laba-Laba dan Perlindungan Allah

Kaum Quraisy akhirnya tiba di depan Gua Tsur.  Abu Bakar gemetar, bukan karena takut mati, tetapi karena takut sesuatu terjadi pada Rasulullah .

"Jika mereka melihat ke bawah, kita pasti ketahuan!"  bisiknya dengan wajah cemas.

Namun, Rasulullah tetap tenang.

"Jangan bersedih, wahai Abu Bakar. Sesungguhnya Allah bersama kita."  [QS. At-Taubah: 40]

Sebuah keajaiban pun terjadi. Dalam sekejap, laba-laba membuat sarang di pintu gua, dan burung merpati bertelur di dekatnya.

Ketika para pengejar melihat gua, mereka berkata:

"Tak mungkin ada orang di dalam. Lihatlah sarang laba-laba ini, pasti sudah lama tak tersentuh!"

Allah melindungi kekasih-Nya dengan cara yang begitu indah…

 

Melanjutkan Perjalanan Menuju Madinah

Setelah keadaan aman, Rasulullah dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Madinah dengan dipandu oleh Abdullah bin Uraiqit.

Di tengah perjalanan, mereka dikejar oleh seorang prajurit Quraisy bernama Suraqah bin Malik, yang tergiur hadiah besar.

Namun, saat ia hampir menangkap Rasulullah , tiba-tiba kudanya terperosok ke dalam pasir. Ia berusaha lagi, tetapi hal yang sama terjadi.

Suraqah pun sadar… ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan seorang utusan Allah!

 Dengan penuh rasa hormat, ia berkata:

"Wahai Muhammad, aku sadar engkau benar. Tolong berdoalah agar aku selamat."

Rasulullah pun berdoa, dan kaki kuda Suraqah berhasil keluar dari pasir. Sebagai balasannya, Suraqah berjanji tidak akan membocorkan keberadaan mereka.

 

Sambutan Haru di Madinah

Setelah perjalanan panjang, Rasulullah akhirnya tiba di Madinah.

Warga Madinah, baik dari suku  Aus  maupun Khazraj, telah menunggu dengan penuh harap. Mereka menyanyikan syair kegembiraan:

"Thala’al Badru ‘Alayna, Min Tsaniyyatil Wada’..."

("Telah terbit bulan purnama atas kami, dari celah perbukitan Wada’…")

Ketika Rasulullah tiba, semua orang berebut ingin menjamu beliau di rumah mereka.

Namun, beliau berkata:

"Aku akan tinggal di rumah orang yang dipilih oleh untaku."

Unta itu terus berjalan, hingga berhenti di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari.

Di sanalah Rasulullah menetap sementara, sebelum membangun masjid dan rumahnya sendiri.

Madinah pun menjadi cahaya baru bagi Islam…

Namun, perjuangan belum berakhir. Quraisy tidak akan tinggal diam. Mereka segera merencanakan sesuatu yang lebih besar…

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Rasulullah membangun masyarakat Islam di Madinah? Bagaimana kaum Quraisy merespons hijrah ini?_*

 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...