12 Rabi'ul Awwal 1447 H
Makkah yang Tak Lagi Ramah
Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj kaum Quraisy semakin keras menentang Rasulullah ﷺ. Mereka tidak hanya mengejek, tetapi juga merencanakan sesuatu yang lebih kejam.
"Muhammad harus dihentikan, atau kita akan kehilangan kekuasaan!" seru salah satu pemimpin Quraisy dalam sebuah pertemuan rahasia.
Abu Jahal, dengan penuh kebencian, mengusulkan rencana paling
jahat.
"Kita kumpulkan pemuda dari berbagai kabilah, lalu serang Muhammad bersama-sama! Dengan begitu, keluarganya tidak bisa menuntut balas."
Ide ini disepakati. Malam itu mereka bersiap mengepung rumah
Rasulullah ﷺ… tanpa tahu bahwa Allah telah menyiapkan skenario-Nya sendiri.
Malam Penuh Keajaiban
"Wahai Rasulullah, jangan tidur di
tempat tidurmu malam ini. Kaum Quraisy telah bersekongkol untuk
membunuhmu."_
"Tidurlah dengan tenang, wahai Ali. Aku titipkan amanah umat kepadamu."
Sementara itu, Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya dengan tenang. Para pemuda Quraisy telah mengepung rumah, tetapi dengan izin Allah, mereka dibuat buta dan tidak bisa melihatnya.
Beliau melewati mereka tanpa terdeteksi, sambil membaca ayat:
"Dan Kami adakan di hadapan mereka
dinding, dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup mata mereka sehingga
mereka tidak dapat melihat."
[QS. Yasin: 9]
Keajaiban terjadi. Rasulullah ﷺ berhasil meninggalkan Makkah, menuju rumah sahabat setianya, Abu Bakar.
Perjalanan Menuju Gua Tsur
Abu Bakar telah menyiapkan segala keperluan. Dengan air mata berlinang, ia berkata:
"Wahai Rasulullah, izinkan aku menemanimu dalam perjalanan
ini…"
"Tentu, engkau akan menemaniku, wahai sahabatku," jawab Rasulullah ﷺ dengan senyuman lembut.
Mereka segera pergi menuju Gua Tsur, tempat
persembunyian sementara.
Namun, perjalanan tidak mudah. Quraisy segera menyadari bahwa Rasulullah ﷺ telah pergi, dan mereka menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.
Selama tiga hari, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua.
Saat itu, terjadi kejadian yang begitu mendebarkan.
Jaring Laba-Laba dan Perlindungan Allah
Kaum Quraisy akhirnya tiba di depan Gua Tsur. Abu Bakar gemetar, bukan karena takut mati, tetapi karena takut sesuatu terjadi pada Rasulullah ﷺ.
"Jika mereka melihat ke bawah, kita pasti ketahuan!" bisiknya dengan wajah cemas.
Namun, Rasulullah ﷺ tetap tenang.
"Jangan bersedih, wahai Abu Bakar. Sesungguhnya Allah bersama
kita." [QS. At-Taubah: 40]
Sebuah keajaiban pun terjadi. Dalam sekejap, laba-laba membuat sarang di pintu gua, dan burung merpati bertelur di dekatnya.
Ketika para pengejar melihat gua, mereka berkata:
"Tak mungkin ada orang di dalam. Lihatlah sarang laba-laba
ini, pasti sudah lama tak tersentuh!"
Allah melindungi kekasih-Nya dengan cara yang begitu indah…
Melanjutkan Perjalanan Menuju Madinah
Setelah keadaan aman, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Madinah dengan dipandu oleh Abdullah bin Uraiqit.
Di tengah perjalanan, mereka dikejar oleh seorang prajurit Quraisy bernama Suraqah bin Malik, yang tergiur hadiah besar.
Namun, saat ia hampir menangkap Rasulullah ﷺ, tiba-tiba kudanya terperosok ke dalam pasir. Ia berusaha lagi, tetapi hal yang sama terjadi.
Suraqah pun sadar… ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan seorang utusan Allah!
"Wahai Muhammad, aku sadar engkau
benar. Tolong berdoalah agar aku selamat."
Rasulullah ﷺ pun berdoa, dan kaki kuda Suraqah berhasil keluar dari pasir. Sebagai balasannya, Suraqah berjanji tidak akan membocorkan keberadaan mereka.
Sambutan Haru di Madinah
Setelah perjalanan panjang, Rasulullah ﷺ akhirnya tiba di Madinah.
Warga Madinah, baik dari suku Aus maupun Khazraj, telah menunggu dengan penuh harap. Mereka menyanyikan syair kegembiraan:
"Thala’al Badru ‘Alayna, Min
Tsaniyyatil Wada’..."
("Telah terbit bulan purnama atas kami, dari celah
perbukitan Wada’…")
Ketika Rasulullah ﷺ tiba, semua orang berebut ingin menjamu beliau di rumah mereka.
Namun, beliau berkata:
"Aku akan tinggal di rumah orang yang dipilih oleh untaku."
Unta itu terus berjalan, hingga berhenti di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari.
Di sanalah Rasulullah ﷺ menetap sementara, sebelum membangun masjid dan rumahnya
sendiri.
Madinah pun menjadi cahaya baru bagi Islam…
Namun, perjuangan belum berakhir. Quraisy tidak akan tinggal diam.
Mereka segera merencanakan sesuatu yang lebih besar…
Kisah Selanjutnya: Bagaimana
Rasulullah ﷺ membangun masyarakat
Islam di Madinah? Bagaimana kaum Quraisy merespons hijrah ini?_*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar