Jumat, 05 September 2025

MADINAH: CAHAYA ISLAM MULAI BERSINAR

13 Rabi'ul Awwal 1447 H

 

Membangun Pondasi Islam di Tanah Baru

Setelah tiba di Madinah, Rasulullah langsung bergerak untuk membangun masyarakat yang kuat. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid.

"Di sinilah kita akan beribadah, berkumpul, dan mengatur urusan umat," kata Rasulullah sambil menunjuk sebidang tanah milik dua anak yatim.

Dengan suka rela, anak-anak itu menyerahkan tanahnya. Rasulullah sendiri ikut bekerja, mengangkat batu dan mencampur tanah. Para sahabat terharu melihat pemimpin mereka bekerja tanpa merasa lebih tinggi dari yang lain.

"Ya Allah, ini utusan-Mu… Namun ia tak segan mengotori tangannya demi agama ini…"  bisik salah seorang sahabat.

Masjid Nabawi pun akhirnya berdiri, menjadi pusat dakwah dan pemerintahan Islam pertama.

 

Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar

 Setelah masjid selesai, Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) dan Anshar (penduduk Madinah).

Beliau menggandeng tangan satu Muhajir dan satu  Anshar  lalu berkata:

"Kalian kini bersaudara di jalan Allah, saling membantu dan mengasihi!"

Para sahabat menangis haru. Mereka menerima saudara baru mereka dengan tangan terbuka. Salah satu contoh indahnya ukhuwah ini adalah ketika  Abdurrahman bin Auf  dipersaudarakan dengan  Sa’ad bin Rabi’.

"Saudaraku, aku punya dua kebun. Ambillah salah satunya!" kata Sa’ad dengan penuh ketulusan.

Namun, Abdurrahman bin Auf  menolak dengan lembut,

"Semoga Allah memberkahimu, aku hanya ingin kau tunjukkan pasar tempat aku bisa berdagang."

Inilah awal mula kekuatan ekonomi umat Islam di Madinah.

 

Ancaman dari Luar: Kaum Quraisy Tidak Tinggal Diam

Sementara itu, di Makkah, kaum Quraisy sangat marah mendengar kabar bahwa Islam semakin berkembang.

"Muhammad harus dihentikan! Jika tidak, ia akan menjadi lebih kuat!" seru Abu Jahal dalam sebuah pertemuan darurat.

Mereka mulai mengganggu kaum Muslim yang masih tinggal di Makkah. Mereka juga menghasut kabilah-kabilah Arab untuk memusuhi Madinah.

Tak lama kemudian, kabar mengejutkan datang…

 

Perintah Allah untuk Berjihad

Pada tahun kedua Hijriyah Allah menurunkan wahyu tentang jihad.

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi." [QS. Al-Hajj: 39]

Rasulullah pun mulai membentuk pasukan untuk melindungi Madinah. Beliau mengirim pasukan kecil untuk mengawasi pergerakan Quraisy.

Namun, takdir Allah telah menetapkan peristiwa besar…

 

Perang Pertama: Badar yang Menggetarkan Dunia

Kaum Quraisy mengirim 1.000 pasukan bersenjata lengkap untuk menyerang Madinah. Rasulullah hanya memiliki 313 orang,  dengan perlengkapan yang jauh lebih sedikit.

Sebelum perang dimulai, Rasulullah mengangkat tangan ke langit, memohon pertolongan Allah.

"Ya Allah, jika pasukan kecil ini binasa, tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu di bumi ini!"

Malam itu, hujan turun. Kaum Muslim merasakan ketenangan luar biasa, sementara pasukan Quraisy tidur dalam kegelisahan.

Saat fajar menyingsing, perang pun dimulai…

 

Malaikat Turun Membantu Pasukan Islam

Di tengah pertempuran, tiba-tiba terjadi keajaiban. Pasukan Muslim melihat sosok-sosok berpakaian putih turun dari langit dengan kuda yang berlari secepat angin.

Mereka adalah malaikat yang dikirim Allah untuk membantu kaum Muslim!

Pasukan Quraisy panik. Mereka tidak menyangka bahwa kekuatan Allah akan turun untuk membela Rasulullah .

Akhirnya, dengan pertolongan Allah, kaum Muslim meraih kemenangan besar. 70 orang Quraisy tewas, termasuk Abu Jahal, musuh utama Islam.

 Setelah perang usai, Rasulullah bersujud syukur. Namun, kemenangan ini hanyalah awal dari ujian yang lebih besar…

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana kaum Quraisy membalas kekalahan mereka? Bagaimana Rasulullah menghadapi perang Uhud yang penuh air mata?_*

 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...