Sabtu, 06 September 2025

PERANG UHUD: UJIAN YANG MENYAKITKAN

 14 Rabi'ul Awwal 1447 H

 

Quraisy Bersumpah untuk Balas Dendam

 

Setelah kekalahan besar di Badar, kaum Quraisy sangat marah dan merasa terhina.

"Kita tidak bisa membiarkan Muhammad menang lagi!" seru Abu Sufyan dalam pertemuan darurat di Makkah.

Mereka mengumpulkan pasukan besar 3.000 prajurit bersenjata lengkap, termasuk 200 pasukan berkuda. Bahkan, para wanita Quraisy ikut serta untuk menyemangati pasukan, termasuk Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Ia membawa dendam pribadi karena ayahnya terbunuh di Badar.

Sementara itu, di Madinah, Rasulullah mendapat kabar tentang serangan ini.

 

Musyawarah Rasulullah dengan Para Sahabat

Rasulullah mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah.

"Apakah kita bertahan di Madinah atau keluar menghadapi mereka?" tanya beliau.

Pendapat para sahabat terbagi. Beberapa orang tua dan sahabat senior menyarankan untuk bertahan di Madinah. Namun, para pemuda yang bersemangat ingin keluar dan menghadapi Quraisy secara langsung.

Rasulullah akhirnya memutuskan untuk keluar dari Madinah dan menghadapi mereka di Bukit Uhud.

 

Pasukan Islam yang Lebih Sedikit

Rasulullah memimpin 1.000 pasukan menuju Uhud. Namun, di tengah perjalanan, 300 orang dari kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay membelot dan kembali ke Madinah.

Kini, kaum Muslim hanya tersisa 700 orang. Mereka harus menghadapi 3.000 pasukan Quraisy yang jauh lebih kuat.

Meskipun jumlahnya sedikit, para sahabat tetap yakin dengan pertolongan Allah.

 

Strategi Rasulullah

Rasulullah menempatkan 50 pemanah di Bukit Uhud yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair.

"Jangan tinggalkan posisi kalian, apapun yang terjadi! Jika kalian melihat kami menang atau kalah, tetaplah  di tempat!" pesan Rasulullah .

Mereka pun bersiap menghadapi perang yang berat.

 

Awal Perang: Kemenangan di Tangan Muslim

Perang pun dimulai! Dengan keberanian luar biasa, pasukan Muslim berhasil memukul mundur Quraisy.

Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah , bertarung dengan gagah berani. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan sahabat lainnya menebas musuh-musuh mereka satu per satu.

Pasukan Quraisy mulai goyah dan berlarian mundur. Kaum Muslim hampir memenangkan pertempuran!

Namun, saat itulah kesalahan besar terjadi…


Kesalahan Fatal: Pasukan Pemanah Meninggalkan Posisi

Melihat Quraisy mundur, sebagian pemanah di Bukit Uhud merasa yakin bahwa kemenangan telah tiba.

"Ayo, kita ambil harta rampasan perang!" seru mereka.

Meskipun pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, mengingatkan, banyak yang tetap turun dari bukit, meninggalkan posisi strategis mereka.

Saat itulah Khalid bin Walid, yang saat itu masih dalam barisan Quraisy, melihat celah ini. Ia memimpin pasukan berkuda dan menyerang dari belakang!

 

Situasi Berbalik: Kaum Muslim Kocar-Kacir

Serangan mendadak ini mengubah keadaan. Kaum Muslim panik dan mulai tercerai-berai.

Di tengah kekacauan, Hamzah bin Abdul Muthalib bertarung dengan gagah berani. Namun, ia diam-diam diintai oleh Wahsyi, seorang budak yang diperintahkan Hindun untuk membunuhnya.

Dengan tombaknya, Wahsyi melemparkan senjatanya ke arah Hamzah…

Tombak itu menembus tubuh Hamzah! Paman Rasulullah gugur sebagai syahid. Hindun, yang menyimpan dendam, bahkan mencabik-cabik tubuh Hamzah dan memakan hatinya…

Rasulullah sangat berduka atas kematian paman tercintanya.

 

Isu Palsu: Rasulullah Gugur?

Dalam pertempuran itu, Rasulullah juga terkena pukulan musuh. Wajah beliau terluka, gigi beliau patah, dan darah mengalir di pipinya.

Seorang sahabat, Ka’ab bin Malik melihat Rasulullah dan berteriak,

"Wahai kaum Muslim, Rasulullah masih hidup!"

Seruan ini mengembalikan semangat kaum Muslim. Mereka segera berkumpul dan melindungi Rasulullah dari serangan musuh.

 

Kaum Quraisy Mengira MerekaMenang

Setelah pertempuran berakhir, Abu Sufyan berdiri di atas bukit dan berteriak,

"Kita telah membunuh Muhammad!"

Namun, Umar bin Khattab membalas,

"Tidak! Muhammad masih hidup dan akan membalas kalian!"

Mendengar ini, Abu Sufyan sadar bahwa mereka belum benar-benar menang. Ia pun menarik pasukannya dan kembali ke Makkah.

 

Kesedihan di Madinah

Saat pasukan Muslim kembali ke Madinah, suasana dipenuhi duka. Banyak wanita dan anak-anak menangisi para syuhada.

Salah satu wanita, Fatimah binti Rasulullah , menangis melihat luka ayahnya. Ia segera membersihkan darah dari wajah Rasulullah dengan kain, namun darah terus mengalir.

Akhirnya, Fatimah menggunakan abu dari daun kurma yang dibakar untuk menghentikan darah di wajah Rasulullah .

Rasulullah memandang para sahabatnya dengan penuh cinta dan berkata,

"Janganlah kalian bersedih. Ini adalah ujian dari Allah. Kita harus lebih kuat."

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Rasulullah menghadapi pengkhianatan Yahudi? Bagaimana islam bertahan meskipun banyak cobaan?

 

 Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...