14 Rabi'ul Awwal 1447 H
Quraisy Bersumpah untuk Balas Dendam
Setelah kekalahan besar di Badar, kaum
Quraisy sangat marah dan merasa terhina.
"Kita tidak bisa membiarkan Muhammad menang lagi!" seru Abu Sufyan dalam pertemuan darurat di Makkah.
Mereka mengumpulkan pasukan besar 3.000 prajurit bersenjata lengkap, termasuk 200 pasukan berkuda. Bahkan, para wanita Quraisy ikut serta untuk menyemangati pasukan, termasuk Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Ia membawa dendam pribadi karena ayahnya terbunuh di Badar.
Sementara itu, di Madinah, Rasulullah ﷺ mendapat kabar tentang serangan ini.
Musyawarah Rasulullah ﷺ dengan Para Sahabat
Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah.
"Apakah kita bertahan di Madinah atau keluar menghadapi
mereka?" tanya beliau.
Pendapat para sahabat terbagi. Beberapa orang tua dan sahabat senior menyarankan untuk bertahan di Madinah. Namun, para pemuda yang bersemangat ingin keluar dan menghadapi Quraisy secara langsung.
Rasulullah ﷺ akhirnya memutuskan untuk keluar dari Madinah dan menghadapi mereka di Bukit Uhud.
Pasukan Islam yang Lebih Sedikit
Rasulullah ﷺ memimpin 1.000 pasukan menuju Uhud. Namun, di tengah perjalanan, 300 orang dari kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay membelot dan kembali ke Madinah.
Kini, kaum Muslim hanya tersisa 700 orang. Mereka harus menghadapi 3.000 pasukan Quraisy yang jauh lebih kuat.
Meskipun jumlahnya sedikit, para sahabat tetap yakin dengan pertolongan Allah.
Strategi Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ menempatkan 50 pemanah di Bukit Uhud yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair.
"Jangan tinggalkan posisi kalian, apapun yang terjadi! Jika
kalian melihat kami menang atau kalah, tetaplah
di tempat!" pesan Rasulullah ﷺ.
Mereka pun bersiap menghadapi perang yang berat.
Awal Perang: Kemenangan di Tangan Muslim
Perang pun dimulai! Dengan keberanian luar biasa, pasukan Muslim berhasil memukul mundur Quraisy.
Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah ﷺ, bertarung dengan gagah berani. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan sahabat lainnya menebas musuh-musuh mereka satu per satu.
Pasukan Quraisy mulai goyah dan berlarian mundur. Kaum Muslim hampir memenangkan pertempuran!
Namun, saat itulah kesalahan besar terjadi…
Kesalahan Fatal: Pasukan Pemanah Meninggalkan Posisi
Melihat Quraisy mundur, sebagian pemanah di Bukit Uhud merasa yakin bahwa kemenangan telah tiba.
"Ayo, kita ambil harta rampasan perang!" seru mereka.
Meskipun pemimpin mereka, Abdullah bin Jubair, mengingatkan, banyak yang tetap turun dari bukit, meninggalkan posisi strategis mereka.
Saat itulah Khalid bin Walid, yang saat itu masih dalam barisan Quraisy, melihat celah ini. Ia memimpin pasukan berkuda dan menyerang dari belakang!
Situasi Berbalik: Kaum Muslim Kocar-Kacir
Serangan mendadak ini mengubah keadaan. Kaum Muslim panik dan mulai tercerai-berai.
Di tengah kekacauan, Hamzah bin Abdul Muthalib bertarung dengan gagah berani. Namun, ia diam-diam diintai oleh Wahsyi, seorang budak yang diperintahkan Hindun untuk membunuhnya.
Dengan tombaknya, Wahsyi melemparkan senjatanya ke arah Hamzah…
Tombak itu menembus tubuh Hamzah! Paman Rasulullah ﷺ gugur sebagai syahid. Hindun, yang menyimpan dendam, bahkan mencabik-cabik tubuh Hamzah dan memakan hatinya…
Rasulullah ﷺ sangat berduka atas kematian paman tercintanya.
Isu Palsu: Rasulullah ﷺ Gugur?
Dalam pertempuran itu, Rasulullah ﷺ juga terkena pukulan musuh. Wajah beliau terluka, gigi beliau patah, dan darah mengalir di pipinya.
Seorang sahabat, Ka’ab bin Malik melihat Rasulullah ﷺ dan berteriak,
"Wahai kaum Muslim, Rasulullah masih hidup!"
Seruan ini mengembalikan semangat kaum Muslim. Mereka segera berkumpul dan melindungi Rasulullah ﷺ dari serangan musuh.
Kaum Quraisy Mengira MerekaMenang
Setelah pertempuran berakhir, Abu Sufyan berdiri di atas bukit dan berteriak,
"Kita telah membunuh Muhammad!"
Namun, Umar bin Khattab membalas,
"Tidak! Muhammad masih hidup dan akan membalas kalian!"
Mendengar ini, Abu Sufyan sadar bahwa mereka belum benar-benar menang. Ia pun menarik pasukannya dan kembali ke Makkah.
Kesedihan di Madinah
Saat pasukan Muslim kembali ke Madinah, suasana dipenuhi duka. Banyak wanita dan anak-anak menangisi para syuhada.
Salah satu wanita, Fatimah binti Rasulullah ﷺ, menangis melihat luka ayahnya. Ia segera membersihkan darah dari wajah Rasulullah ﷺ dengan kain, namun darah terus mengalir.
Akhirnya, Fatimah menggunakan abu dari daun kurma yang dibakar untuk menghentikan darah di wajah Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ memandang para sahabatnya dengan penuh cinta dan berkata,
"Janganlah kalian bersedih. Ini adalah ujian dari Allah. Kita
harus lebih kuat."
Kisah Selanjutnya: Bagaimana Rasulullah ﷺ
menghadapi pengkhianatan Yahudi? Bagaimana islam bertahan meskipun banyak
cobaan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar