15 Rabi'ul Awwal 1447 H
Kaum Quraisy Tak Mau Mengalah
Setelah Perang Uhud, kaum Quraisy tidak puas hanya dengan satu kemenangan. Mereka masih ingin menghancurkan Islam sepenuhnya.
Abu Sufyan dan para pemimpin Quraisy mulai menyusun rencana besar. Mereka tidak hanya mengerahkan pasukan sendiri, tapi juga mengajak suku-suku lain untuk bergabung, termasuk Bani Ghatafan dan beberapa suku Yahudi yang membenci Islam.
Di sisi lain, kaum Muslim di Madinah tetap bersiaga. Mereka tahu bahwa ujian belum berakhir…
Pengkhianatan Kaum Yahudi
Di Madinah, terdapat beberapa suku Yahudi yang sebelumnya telah membuat perjanjian damai dengan Rasulullah ﷺ, di antaranya Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.
Namun, setelah Perang Uhud, suku Bani Nadhir mulai berkhianat. Mereka diam-diam bersekongkol dengan Quraisy dan berencana membunuh Rasulullah ﷺ.
Saat Rasulullah ﷺ bersama beberapa sahabat mengunjungi benteng mereka, salah satu pemuka Bani Nadhir merencanakan untuk menjatuhkan batu besar dari atas dan membunuh Rasulullah ﷺ.
Namun, sebelum rencana itu terlaksana, Jibril turun dan memperingatkan beliau. Rasulullah ﷺ segera meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya, beliau mengirim utusan kepada mereka dan berkata,
"Kalian telah mengkhianati perjanjian! Pergilah dari Madinah
dalam sepuluh hari, atau kalian akan diperangi!"
Namun, Bani Nadhir menolak. Akhirnya, pasukan Muslim mengepung mereka hingga mereka menyerah dan diusir dari Madinah.
Sementara itu, suku Yahudi lainnya, Bani Quraizhah, masih terlihat netral… tapi apakah mereka benar-benar setia?
Pasukan Sekutu Bersatu untuk Menghancurkan Islam
Kaum Quraisy akhirnya berhasil mengumpulkan pasukan terbesar dalam sejarah Arab saat itu sekitar 10.000 pasukan dari berbagai suku!
Mereka bergerak menuju Madinah dengan niat menghancurkan Islam sekali untuk selamanya.
Di Madinah, Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah.
"Kita akan menghadapi pasukan yang sangat besar. Apa yang
harus kita lakukan?" tanya beliau.
Saat itulah Salman Al-Farisi, sahabat dari Persia, mengusulkan sesuatu,
"Wahai Rasulullah, di negeri Persia, kami menghadapi musuh
dengan menggali parit sebagai pertahanan. Mungkin kita bisa melakukan hal yang
sama."
Rasulullah ﷺ menyetujui usulan ini, dan segera para sahabat bekerja keras menggali parit di bagian utara Madinah satu-satunya jalur masuk pasukan musuh.
Ujian Berat saat Menggali Parit
Masa penggalian parit bukanlah hal yang mudah. Cuaca dingin, rasa lapar, dan kelelahan semakin menguji kaum Muslim.
Suatu hari, saat menggali, para sahabat menemukan batu besar yang sulit dihancurkan. Mereka pun memanggil Rasulullah ﷺ.
Beliau mengambil kapak dan memukul batu itu sambil bertakbir. Dalam tiga kali pukulan, batu itu hancur, dan Rasulullah ﷺ berkata,
"Dengan izin Allah, kita akan menaklukkan Persia, Romawi, dan Yaman!"
Para sahabat semakin yakin bahwa kemenangan Islam akan datang.
Kaum Quraisy Tiba di Madinah
Setelah parit selesai, pasukan Quraisy tiba dan terkejut.
"Apa ini? Sejak kapan orang Arab berperang dengan
parit?!" seru mereka.
Mereka tidak bisa menyeberangi parit, dan kaum Muslim dengan mudah menghalau serangan mereka.
Namun, peperangan ini menjadi perang ketahanan. Kaum Muslim harus bertahan selama sebulan penuh, menghadapi cuaca dingin, kelaparan, dan ancaman musuh.
Pengkhianatan Bani Quraizhah
Di tengah keadaan sulit ini, datang kabar yang sangat mengejutkan.
Suku Yahudi Bani Quraizhah, yang tadinya netral, ternyata berkhianat!
Mereka diam-diam bersekutu dengan Quraisy dan berencana menyerang kaum Muslim dari dalam kota Madinah!
Saat mendengar kabar ini, Rasulullah ﷺ sangat sedih. Madinah dalam bahaya besar musuh dari luar, pengkhianat dari dalam.
Doa dan Pertolongan Allah
Di saat kaum Muslim dalam ketakutan dan kesulitan, Rasulullah ﷺ berdoa dengan penuh harap,
"Ya Allah, Engkaulah satu-satunya penolong kami… Kirimkanlah
pertolongan-Mu!"
Allah mengabulkan doa tersebut dengan cara yang tidak terduga.
Tiba-tiba, angin kencang menerjang perkemahan Quraisy!
Tenda-tenda mereka beterbangan, api unggun mereka padam, dan suasana menjadi sangat kacau.
Kaum Quraisy mulai putus asa. Abu Sufyan akhirnya memutuskan untuk mundur.
Madinah selamat! Allah telah memberikan kemenangan tanpa pertumpahan darah besar.
Penghukuman untuk Bani Quraizhah
Setelah Perang Khandaq, Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah dan segera menghadapi pengkhianatan Bani Quraizhah.
Kaum Muslim mengepung benteng mereka, hingga akhirnya mereka menyerah.
Penghukuman atas mereka diputuskan berdasarkan hukum yang mereka yakini sendiri Taurat.
Mereka yang terlibat dalam pengkhianatan dihukum, sementara wanita dan anak-anak mereka diperlakukan dengan baik.
Islam Semakin Kuat
Peristiwa ini menjadi titik balik besar bagi kaum Muslim.
Kini, Quraisy mulai menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi menghancurkan Islam.
Kisah Selanjutnya: Bagaimana Rasulullah ﷺ
mulai membangun perjanjian dengan Quraisy? Bagaimana peristiwa Hudaibiyah
menjadi kunci kemenangan Islam?_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar