Senin, 08 September 2025

PERJANJIAN HUDAIBIYAH: UJIAN KESABARAN YANG BERBUAH KEMENANGAN

 16 Rabi'ul Awwal 1447 H

 

Niat Umrah yang Terhalang

Setelah Perang Khandaq, Islam semakin kuat. Rasulullah merasakan panggilan untuk kembali ke Makkah, bukan untuk berperang, tetapi untuk beribadah.

Di bulan *Dzulqa’dah tahun 6 Hijriyah,* Rasulullah mengumumkan kepada para sahabat,

"Kita akan berangkat ke Makkah untuk menunaikan umrah. Tidak ada perang, kita hanya ingin beribadah di Baitullah."

Sebanyak 1.400 sahabat bersiap. Mereka hanya membawa pedang sebagai perlindungan, tanpa persenjataan perang.

Saat rombongan mendekati Makkah, kabar ini sampai ke Quraisy. Mereka langsung panik.

"Muhammad datang! Apakah dia akan menyerang kita?"

Meskipun niat Rasulullah hanya untuk ibadah, Quraisy tetap menghalangi.

 

Dihalang-halangi di Hudaibiyah

Saat mendekati Makkah, Rasulullah mendengar bahwa pasukan Quraisy sudah bersiap untuk mencegah mereka masuk.

Beliau pun memutuskan berhenti di sebuah tempat bernama Hudaibiyah.

Di sini, kaum Muslim diuji kesabarannya. Mereka datang dengan damai, tapi tetap tidak diizinkan masuk ke kota suci mereka sendiri.

 

Dikirimnya Utsman bin Affan

Untuk menghindari konflik, Rasulullah mengutus Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menemui Quraisy,

"Sampaikan bahwa kita hanya ingin beribadah. Kita tidak berniat berperang."

Utsman pun pergi ke Makkah.

Namun, tiba-tiba tersebar kabar bahwa Utsman dibunuh oleh Quraisy!

Kaum Muslim marah dan bersiap untuk bertempur. Rasulullah pun mengumpulkan mereka di bawah sebuah pohon dan meminta mereka berbaiat untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Baiat ini disebut Baiat Ridwan, dan Allah pun menurunkan ayat tentangnya,

"Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketik mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..." {QS. Al-Fath: 18}.

Namun, ternyata kabar itu tidak benar. Utsman masih hidup, dan Quraisy akhirnya bersedia berunding.


Perjanjian yang Berat

Utusan Quraisy, Suhail bin Amr, datang untuk bernegosiasi. Setelah perundingan panjang, mereka sepakat membuat Perjanjian Hudaibiyah.

Namun isi perjanjian ini terasa berat bagi kaum Muslim

 1)        Rasulullah dan kaum Muslim tidak diizinkan masuk ke Makkah tahun ini, tetapi boleh kembali tahun depan.
2)        Jika ada orang Quraisy yang masuk Islam dan pergi ke Madinah tanpa izin walinya, ia harus dikembalikan ke Makkah.
3)        Jika ada Muslim yang keluar dari Madinah ke Quraisy, ia tidak perlu dikembalikan.
4)        Gencatan senjata selama 10 tahun.

 Ketika isi perjanjian ini dibacakan, Umar bin Khattab r.a sangat kecewa,

"Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di jalan yang benar? Mengapa kita harus menerima perjanjian ini?"

 Namun, Rasulullah dengan tenang menjawab,

"Aku adalah utusan Allah, dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku."

Kaum Muslim merasa sedih, tetapi mereka tetap patuh pada keputusan Rasulullah .

 

Kesedihan di Hudaibiyah

Setelah perjanjian ditandatangani, Rasulullah menyuruh para sahabat menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut sebagai tanda umrah telah selesai.

Namun, karena perasaan kecewa, mereka diam dan tidak bergerak.

Melihat hal ini, Rasulullah masuk ke tendanya dengan perasaan sedih.

Ummu Salamah, istri beliau, melihat wajah Rasulullah yang penuh beban. Dengan lembut ia berkata,

"Wahai Rasulullah, jangan bersedih. Keluarlah dan lakukan sendiri. Mereka akan mengikuti."

Mendengar nasihat istrinya, Rasulullah bangkit, lalu menyembelih hewan kurban dan mencukur rambutnya.

Melihat itu, para sahabat pun segera mengikuti beliau.

Sungguh, Ummu Salamah telah menjadi pendamping yang penuh hikmah di saat Rasulullah menghadapi ujian besar.

 

Kemenangan yang Tak Terduga

 Setelah perjanjian ini, kaum Muslim mulai kembali ke Madinah dengan perasaan berat.

Namun, di perjalanan, Allah menurunkan wahyu,

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata..." {QS. Al-Fath: 1}.

Ternyata, Perjanjian Hudaibiyah yang awalnya terasa berat justru menjadi kunci kemenangan Islam!

Dengan adanya gencatan senjata, dakwah Islam bisa menyebar luas tanpa gangguan. Banyak orang dari berbagai suku mulai mengenal Islam dan masuk Islam secara diam-diam.

Bahkan, hanya dalam dua tahun setelah perjanjian ini, jumlah kaum Muslim bertambah sangat pesat.

Dan akhirnya, Quraisy sendiri yang nanti akan melanggar perjanjian ini…

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Perjanjian Hudaibiyah akhirnya berujung pada Fathu Makkah? Bagaimana Rasulullah kembali ke kota kelahirannya dengan penuh kemenangan?_*

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...