16 Rabi'ul Awwal 1447 H
Niat Umrah yang Terhalang
Setelah Perang Khandaq, Islam semakin kuat. Rasulullah ﷺ merasakan panggilan untuk kembali ke Makkah, bukan untuk berperang, tetapi untuk beribadah.
Di bulan *Dzulqa’dah tahun 6 Hijriyah,* Rasulullah ﷺ
mengumumkan kepada para sahabat,
"Kita akan berangkat ke Makkah untuk menunaikan umrah. Tidak
ada perang, kita hanya ingin beribadah di Baitullah."
Sebanyak 1.400 sahabat bersiap. Mereka hanya membawa pedang sebagai perlindungan, tanpa persenjataan perang.
Saat rombongan mendekati Makkah, kabar ini sampai ke Quraisy.
Mereka langsung panik.
"Muhammad datang! Apakah dia akan menyerang kita?"
Meskipun niat Rasulullah ﷺ hanya untuk ibadah,
Quraisy tetap menghalangi.
Dihalang-halangi di Hudaibiyah
Saat mendekati Makkah, Rasulullah ﷺ mendengar bahwa pasukan Quraisy sudah bersiap untuk mencegah mereka masuk.
Beliau pun memutuskan berhenti di sebuah tempat bernama Hudaibiyah.
Di sini, kaum Muslim diuji kesabarannya. Mereka datang dengan
damai, tapi tetap tidak diizinkan masuk ke kota suci mereka sendiri.
Dikirimnya Utsman bin Affan
Untuk menghindari konflik, Rasulullah ﷺ mengutus Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menemui Quraisy,
"Sampaikan bahwa kita hanya ingin beribadah. Kita tidak
berniat berperang."
Utsman pun pergi ke Makkah.
Namun, tiba-tiba tersebar kabar bahwa Utsman dibunuh oleh Quraisy!
Kaum Muslim marah dan bersiap untuk bertempur. Rasulullah ﷺ
pun mengumpulkan mereka di bawah sebuah pohon dan meminta mereka berbaiat untuk
berjuang sampai titik darah penghabisan.
Baiat ini disebut Baiat Ridwan, dan Allah pun menurunkan ayat tentangnya,
"Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketik mereka
berjanji setia kepadamu di bawah pohon..."
{QS. Al-Fath: 18}.
Namun, ternyata kabar itu tidak benar. Utsman masih hidup, dan Quraisy akhirnya bersedia berunding.
Perjanjian yang Berat
Utusan Quraisy, Suhail bin Amr, datang untuk bernegosiasi. Setelah perundingan panjang, mereka sepakat membuat Perjanjian Hudaibiyah.
Namun isi perjanjian ini terasa berat bagi kaum Muslim
2)
Jika ada orang
Quraisy yang masuk Islam dan pergi ke Madinah tanpa izin walinya, ia harus
dikembalikan ke Makkah.
3)
Jika ada Muslim
yang keluar dari Madinah ke Quraisy, ia tidak perlu dikembalikan.
4)
Gencatan
senjata selama 10 tahun.
"Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di jalan yang benar? Mengapa kita harus menerima perjanjian
ini?"
"Aku adalah utusan Allah, dan Dia tidak akan
menyia-nyiakanku."
Kaum Muslim merasa sedih, tetapi mereka tetap patuh pada keputusan Rasulullah ﷺ.
Kesedihan di Hudaibiyah
Setelah perjanjian ditandatangani, Rasulullah ﷺ menyuruh para sahabat menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut sebagai tanda umrah telah selesai.
Namun, karena perasaan kecewa, mereka diam
dan tidak bergerak.
Melihat hal ini, Rasulullah ﷺ masuk ke tendanya dengan perasaan sedih.
Ummu Salamah, istri beliau, melihat wajah
Rasulullah ﷺ yang penuh
beban. Dengan lembut ia berkata,
"Wahai Rasulullah, jangan bersedih.
Keluarlah dan lakukan sendiri. Mereka akan mengikuti."
Mendengar nasihat istrinya, Rasulullah ﷺ bangkit, lalu menyembelih hewan kurban dan mencukur rambutnya.
Melihat itu, para sahabat pun segera
mengikuti beliau.
Sungguh, Ummu Salamah telah menjadi pendamping yang penuh hikmah di saat Rasulullah ﷺ menghadapi ujian besar.
Kemenangan yang Tak Terduga
Namun, di perjalanan, Allah menurunkan wahyu,
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang
nyata..." {QS. Al-Fath: 1}.
Ternyata, Perjanjian Hudaibiyah yang awalnya terasa berat justru menjadi kunci kemenangan Islam!
Dengan adanya gencatan senjata, dakwah
Islam bisa menyebar luas tanpa gangguan. Banyak orang dari berbagai suku mulai
mengenal Islam dan masuk Islam secara diam-diam.
Bahkan, hanya dalam dua tahun setelah
perjanjian ini, jumlah kaum Muslim bertambah sangat pesat.
Dan akhirnya, Quraisy sendiri yang nanti akan melanggar perjanjian
ini…
Kisah Selanjutnya: Bagaimana Perjanjian Hudaibiyah
akhirnya berujung pada Fathu Makkah? Bagaimana Rasulullah ﷺ
kembali ke kota kelahirannya dengan penuh kemenangan?_*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar