Selasa, 09 September 2025

FATHU MAKKAH: KEMENANGAN YANG PALING MENYENTUH HATI

 17 Rabi'ul Awwal 1447 H


Quraisy Melanggar Perjanjian

Setelah Perjanjian Hudaibiyah, Islam berkembang pesat. Banyak suku mulai masuk Islam tanpa takut diganggu oleh Quraisy.

Namun, Quraisy tidak bisa menerima kenyataan ini.

Suatu malam, mereka bersekongkol dengan sekutu mereka, Bani Bakr, untuk menyerang suku Khuza’ah yang merupakan sekutu Rasulullah .

Tanpa peringatan, mereka menyerbu dan membantai orang-orang Khuza’ah di dekat sumur Al-Watir.

Salah seorang dari Khuza’ah yang selamat segera pergi ke Madinah dan mengadukan kejadian ini kepada Rasulullah .

Dengan wajah penuh duka, Rasulullah berkata:

"Demi Allah, aku tidak akan membiarkan kezaliman ini!"

 

Rasulullah Bersiap Menuju Makkah

Quraisy sadar bahwa mereka telah melanggar perjanjian dan mencoba meminta maaf. Abu Sufyan datang ke Madinah untuk meminta Rasulullah membatalkan niatnya menyerang Makkah.

Namun, Rasulullah tetap diam.

Abu Sufyan lalu menemui Abu Bakar, Umar, dan Ali, tetapi mereka semua menolak membantunya.

Ia pun kembali ke Makkah dengan perasaan putus asa.

Sementara itu, Rasulullah mulai mempersiapkan pasukan.

 

10.000 Pasukan Berangkat ke Makkah

Pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah, Rasulullah memimpin 10.000 pasukan menuju Makkah.

Beliau merahasiakan pergerakan ini agar Quraisy tidak sempat bersiap untuk perang.

Saat mendekati Makkah, Rasulullah memerintahkan pasukannya menyalakan ribuan api unggun.

Melihat ini, Abu Sufyan terkejut.

"Siapa ini?" tanyanya.

Abbas, paman Rasulullah , yang telah masuk Islam, lalu membawa Abu Sufyan ke hadapan Rasulullah .

 

Abu Sufyan Masuk Islam

Di hadapan Rasulullah , Abu Sufyan masih merasa ragu.

"Wahai Muhammad, aku melihat pasukanmu sangat besar. Aku tahu kami tidak bisa melawanmu."

Rasulullah menatapnya dengan tenang,

"Wahai Abu Sufyan, tidakkah kau lihat bahwa tiada Tuhan selain Allah?"

Abu Sufyan menunduk, lalu berkata,

"Seandainya ada Tuhan selain Allah, tentu ia sudah menolong kami. Tapi kami kalah… Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah."

Kemudian Rasulullah bertanya lagi,

"Dan tidakkah kau lihat bahwa aku adalah utusan Allah?"

Abu Sufyan terdiam. Ia mengingat semua permusuhannya terhadap Rasulullah , tetapi ia juga melihat kebesaran Islam.

Akhirnya, dengan suara lirih, ia berkata,

"Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."

Maka, Abu Sufyan pun masuk Islam.

 

Rasulullah Memasuki Makkah dengan Kerendahan Hati

Pada tanggal 20 Ramadhan 8 Hijriyah, Rasulullah dan pasukannya memasuki Makkah.

Namun, tidak ada tanda-tanda kesombongan dalam dirinya.

Beliau menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh pelana untanya, penuh dengan rasa syukur dan kerendahan hati.

Makkah yang dulu mengusirnya… kini menyambutnya sebagai pemenang.

 

Pengampunan Besar-besaran

Kaum Quraisy berkumpul di depan Ka’bah, gemetar ketakutan.

Mereka teringat bagaimana mereka telah menyiksa Rasulullah dan para sahabatnya.

Mereka khawatir akan dibalas.

Rasulullah lalu berdiri di depan mereka dan berkata,

"Wahai penduduk Makkah, menurut kalian, apa yang akan kulakukan kepada kalian?"

Mereka menjawab dengan penuh harap,

Engkau adalah saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang mulia."

Lalu, dengan suara lembut, Rasulullah berkata,

"Hari ini aku katakan kepada kalian sebagaimana Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: Tidak ada balas dendam atas kalian. Pergilah, kalian semua bebas!"

Tangis haru pun pecah di Makkah.

Islam telah menang, tetapi tanpa pertumpahan darah.

 

Rasulullah Menghancurkan Berhala-berhala

Setelah itu, Rasulullah naik ke Ka’bah. Dengan tongkatnya, beliau menghancurkan berhala-berhala yang ada di sekelilingnya sambil membaca ayat:

"Katakanlah, kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sungguh, kebatilan itu pasti lenyap." (QS. Al-Isra: 81).

Berhala-berhala jatuh satu per satu.

Makkah kini kembali suci.

 

Bilal Mengumandangkan Adzan di Ka’bah

Setelah pembersihan Ka’bah selesai, Rasulullah memerintahkan Bilal bin Rabah untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan.

Suara Bilal yang merdu menggema di seluruh Makkah.

Orang-orang Quraisy yang dulu pernah menyiksa Bilal, kini hanya bisa menunduk.

Islam telah menang dengan penuh kemuliaan.


Kisah Selanjutnya: Bagaimana kehidupan Rasulullah setelah kemenangan ini? Bagaimana beliau mengajarkan kasih sayang hingga akhir hayatnya?

 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...