17 Rabi'ul Awwal 1447 H
Quraisy Melanggar Perjanjian
Setelah Perjanjian Hudaibiyah, Islam berkembang pesat. Banyak suku mulai masuk Islam tanpa takut diganggu oleh Quraisy.
Namun, Quraisy tidak bisa menerima kenyataan ini.
Suatu malam, mereka bersekongkol dengan sekutu mereka, Bani
Bakr, untuk menyerang suku Khuza’ah yang merupakan sekutu
Rasulullah ﷺ.
Tanpa peringatan, mereka menyerbu dan membantai orang-orang
Khuza’ah di dekat sumur Al-Watir.
Salah seorang dari Khuza’ah yang selamat segera pergi ke
Madinah dan mengadukan kejadian ini kepada Rasulullah ﷺ.
Dengan wajah penuh duka, Rasulullah ﷺ berkata:
"Demi Allah, aku tidak akan membiarkan kezaliman ini!"
Rasulullah ﷺ Bersiap Menuju Makkah
Quraisy sadar bahwa mereka telah melanggar
perjanjian dan mencoba meminta maaf. Abu Sufyan datang ke Madinah untuk
meminta Rasulullah ﷺ membatalkan niatnya menyerang Makkah.
Namun, Rasulullah ﷺ tetap diam.
Abu Sufyan lalu menemui Abu Bakar,
Umar, dan Ali, tetapi mereka semua menolak membantunya.
Ia pun kembali ke Makkah dengan perasaan putus asa.
Sementara itu, Rasulullah ﷺ mulai mempersiapkan
pasukan.
10.000 Pasukan Berangkat ke Makkah
Pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah, Rasulullah ﷺ memimpin 10.000 pasukan menuju Makkah.
Beliau merahasiakan pergerakan ini agar Quraisy tidak sempat
bersiap untuk perang.
Saat mendekati Makkah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pasukannya
menyalakan ribuan api unggun.
Melihat ini, Abu Sufyan terkejut.
"Siapa ini?" tanyanya.
Abbas, paman Rasulullah ﷺ, yang telah masuk Islam,
lalu membawa Abu Sufyan ke hadapan Rasulullah ﷺ.
Abu Sufyan Masuk Islam
Di hadapan Rasulullah ﷺ, Abu Sufyan masih merasa ragu.
"Wahai Muhammad, aku melihat pasukanmu sangat besar. Aku tahu
kami tidak bisa melawanmu."
Rasulullah ﷺ menatapnya dengan tenang,
"Wahai Abu Sufyan, tidakkah kau lihat bahwa tiada Tuhan selain
Allah?"
Abu Sufyan menunduk, lalu berkata,
"Seandainya ada Tuhan selain Allah, tentu ia sudah menolong
kami. Tapi kami kalah… Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah."
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya lagi,
"Dan tidakkah kau lihat bahwa aku adalah utusan Allah?"
Abu Sufyan terdiam. Ia mengingat semua permusuhannya terhadap Rasulullah ﷺ, tetapi ia juga melihat kebesaran Islam.
Akhirnya, dengan suara lirih, ia berkata,
"Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."
Maka, Abu Sufyan pun masuk Islam.
Rasulullah ﷺ Memasuki Makkah dengan
Kerendahan Hati
Pada tanggal 20 Ramadhan 8 Hijriyah, Rasulullah ﷺ
dan pasukannya memasuki Makkah.
Namun, tidak ada tanda-tanda kesombongan dalam dirinya.
Beliau menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh pelana
untanya, penuh dengan rasa syukur dan kerendahan hati.
Makkah yang dulu mengusirnya… kini menyambutnya sebagai pemenang.
Pengampunan Besar-besaran
Kaum Quraisy berkumpul di depan Ka’bah, gemetar ketakutan.
Mereka teringat bagaimana mereka telah menyiksa Rasulullah ﷺ
dan para sahabatnya.
Mereka khawatir akan dibalas.
Rasulullah ﷺ lalu berdiri di depan mereka dan berkata,
"Wahai penduduk Makkah, menurut kalian, apa yang akan
kulakukan kepada kalian?"
Mereka menjawab dengan penuh harap,
Engkau adalah saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang
mulia."
Lalu, dengan suara lembut, Rasulullah ﷺ berkata,
"Hari ini aku katakan kepada kalian sebagaimana Yusuf berkata
kepada saudara-saudaranya: Tidak ada balas dendam atas kalian. Pergilah, kalian semua bebas!"
Tangis haru pun pecah di Makkah.
Islam telah menang, tetapi tanpa
pertumpahan darah.
Rasulullah ﷺ Menghancurkan Berhala-berhala
Setelah itu, Rasulullah ﷺ naik ke Ka’bah. Dengan tongkatnya, beliau menghancurkan berhala-berhala yang ada di sekelilingnya sambil membaca ayat:
"Katakanlah, kebenaran telah datang dan kebatilan telah
lenyap. Sungguh, kebatilan itu pasti lenyap."
(QS. Al-Isra: 81).
Berhala-berhala jatuh satu per satu.
Makkah kini kembali suci.
Bilal Mengumandangkan Adzan di Ka’bah
Setelah pembersihan Ka’bah selesai, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal bin Rabah untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan.
Suara Bilal yang merdu menggema di seluruh Makkah.
Orang-orang Quraisy yang dulu pernah menyiksa Bilal, kini hanya
bisa menunduk.
Islam telah menang dengan penuh kemuliaan.
Kisah Selanjutnya: Bagaimana kehidupan Rasulullah ﷺ setelah kemenangan ini? Bagaimana beliau mengajarkan kasih sayang hingga akhir hayatnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar