Rabu, 10 September 2025

PERPISAHAN YANG MENYAYAT HATI

 18 Rabi'ul Awwal 1447 H

 

Tanda-Tanda Perpisahan

Setelah Fathu Makkah, Islam semakin berkembang pesat. Masyarakat dari berbagai penjuru Jazirah Arab datang untuk masuk Islam.

Namun, di balik kemenangan besar ini, ada sesuatu yang berbeda…

Para sahabat memperhatikan bahwa Rasulullah sering mengulang-ulang satu ayat dalam doa dan shalatnya:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat." (QS. An-Nasr: 1-3)

Mendengar ayat ini, Abu Bakar menangis.

Ia memahami bahwa ini bukan hanya tentang kemenangan, tapi juga tanda bahwa tugas Rasulullah di dunia hampir selesai…

 

Haji Perpisahan

Pada tahun 10 Hijriyah, Rasulullah memimpin haji terakhirnya yang dikenal sebagai Haji Wada’ (Haji Perpisahan).

Di Padang Arafah, di tengah lautan manusia, beliau berkhutbah dengan suara yang penuh ketegasan dan kelembutan:

"Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku! Aku tidak tahu apakah setelah tahun ini aku masih akan bertemu dengan kalian di tempat ini."

Tersentak, para sahabat mulai merasa gelisah…

Lalu, beliau melanjutkan,

"Telah aku sampaikan risalah ini kepada kalian… Ya Allah, saksikanlah!"

Dan saat itulah wahyu terakhir turun:

"Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian." (QS. Al-Ma’idah: 3)

Mendengar ini, Umar bin Khattab menangis.

"Jika agama telah sempurna, itu berarti tugas Rasulullah telah selesai… Dan jika tugasnya selesai, berarti beliau akan segera meninggalkan kita…"

 

Penyakit Rasulullah `

Beberapa bulan setelah kembali ke Madinah, Rasulullah mulai merasakan sakit yang luar biasa.

Beliau sering memegang kepalanya sambil berkata, "Aduh kepalaku… Aduh kepalaku…"

Demamnya semakin tinggi.

Di malam-malam terakhirnya, beliau meminta izin kepada istri-istrinya untuk tinggal di rumah Aisyah.

Di sana, Aisyah merawatnya dengan penuh cinta.

Suatu hari, Rasulullah berkata,

"Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat racun yang pernah kuminum di Khaibar… Saatnya sudah dekat…"

Aisyah tak bisa menahan air matanya…

 

Perpisahan dengan Para Sahabat

Pada hari-hari terakhirnya, Rasulullah berusaha keluar untuk shalat bersama para sahabat.

Namun, tubuhnya semakin lemah…

Akhirnya, beliau menunjuk Abu Bakar untuk menjadi imam shalat menggantikannya.

Saat mendengar suara Abu Bakar memimpin shalat, Umar dan sahabat lainnya menangis.

"Rasulullah semakin lemah… Apakah ini pertanda beliau akan pergi?"

 

Saat-Saat Terakhir Bersama Keluarga

Di hari terakhir kehidupannya, Rasulullah berada dalam pangkuan Aisyah.

Dengan sisa tenaga, beliau membasuh wajahnya dengan air lalu berbisik,

"La ilaha illallah… Sungguh, kematian itu memiliki sakarat yang sangat berat…"

Aisyah menangis.

Kemudian, beliau mengangkat tangannya, matanya menatap ke langit…

"Bersama orang-orang yang Kau beri nikmat… Bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang² shalih… Ya Allah, ampunilah aku… Sayangilah aku… Izinkan aku bertemu dengan-Mu…"

Lalu… tangan beliau perlahan turun…

Nafasnya terhenti…

Dunia menjadi sunyi.

Rasulullah telah kembali kepada Rabb-nya…

 

Kesedihan yang Tak Terlukiskan

Madinah berubah menjadi lautan tangis.

Umar bin Khattab tidak percaya, ia menghunus pedangnya dan berkata,

"Siapa yang mengatakan Rasulullah telah wafat, akan kupenggal lehernya! Beliau hanya pingsan!"

Namun, Abu Bakar datang dan berkata dengan suara bergetar,

"Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tapi barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati."

Kemudian ia membaca ayat:

"Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu rasul-rasul. Jika ia wafat atau terbunuh, apakah kalian akan berbalik ke belakang?" (QS. Ali Imran: 144)

Mendengar ini, Umar terjatuh.

Kakinya lemas…

Madinah tenggelam dalam kesedihan…

 

Pemakaman Rasulullah `

Jenazah Rasulullah dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib dengan penuh kehormatan.

Setelah itu, beliau dikafani dan dishalatkan oleh para sahabat dalam tangisan.

Sesuai dengan wasiatnya, Rasulullah dimakamkan di kamar Aisyah, tepat di tempat beliau menghembuskan nafas terakhirnya…

Dan sejak hari itu, dunia tidak pernah lagi melihat sosok semulia Rasulullah

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana para sahabat menghadapi kehilangan ini? Bagaimana Islam tetap tegak setelah wafatnya Rasulullah ?

 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...