26 Rab'iul Awwal 1447 H
Kesabaran
Khabbab bin Arats
Khabbab bin
Arats adalah seorang pandai besi yang ahli membuat persenjataan, terutama
pedang. Senjata yang dibuatnya kemudian dijual kepada penduduk Makkah. Karena
keunggulan kualitas, produknya itu laku di pasaran dan namanya pun kian
berkibar.
Sejak beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, Khabbab mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara
orang-orang yang tersiksa dan teraniaya. Walau pun miskin, dirinya berani
menghadapi kesombongan dan kesewenangan kaum Quraisy.
Karena itu,
banyak sejarawan memandangnya sebagai seorang perintis syiar Islam, khususnya
pada fase dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah. Sya’bi berkata, "Khabbab
menunjukkan ketabahannya, hingga tak sedikit pun hatinya terpengaruh oleh
tindakan biadab orang-orang kafir."
Kafir Quraisy
kian menggila. Suatu hari, mereka menjarah rumah Khabbab dan
mengambil semua besi dari sana. Kemudian, orang-orang itu mengikat sang
pemilik rumah pada sebuah tiang.
Besi-besi yang
mereka jarah lantas dimasukkan ke dalam api yang menyala. Tanpa rasa
perikemanusiaan sedikit pun, besi yang panas itu kemudian ditempelkan pada
tubuh, tangan dan kaki Khabbab.
Mengadu Kepada Rasulullah SAW untuk Memohon Pertolongan Allah SWT
Kejadian itu
merupakan teror baginya. Beberapa hari kemudian, ia bersama kawan-kawannya
sependeritaan menemui Rasulullah SAW. Bukan lantaran kecewa atas
pengorbanan, melainkan mengharapkan keselamatan.
Mereka berkata
: "Wahai Rasulullah, tidakkah Tuan hendak memintakan pertolongan bagi
kami?"
Rasulullah SAW
pun duduk, mukanya jadi merah, lalu sabdanya:
"Dulu
sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali
leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi
siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada
pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga
tidak dapat menggoyahkan keimanannya."
Beliau juga
menjanjikan, Islam akan berjaya hingga kelak suatu hari orang-orang Arab tidak
akan mengganggu satu sama lainnya. Mereka hanya takut kepada Allah SWT. "Sehingga
setiap pengembara yang bepergian dengan aman dari Sana'a Hadhramaut (dapat
menuju Makkah)."
Khabbab dengan
kawan-kawannya mendengarkan kata-kata itu, bertambahlah keimanan dan keteguhan
hati mereka. Dan masing-masing berikrar akan membuktikan kepada Allah dan
Rasul-Nya hal yang diharapkan dari mereka, ialah ketabahan, kesabaran dan
pengorbanan.
Khabbab
menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal.
Demikianlah,
Khabbab menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal. Orang-orang
Quraisy terpaksa meminta bantuan Ummi Anmar, yakni bekas majikan Khabbab yang
telah membebaskannya dari perbudakan. Wanita tersebut akhirnya turun tangan dan
turut mengambil bagian dalam menyiksa dan menderanya.
Dalam
penyiksaan terhadap Khabbab kali ini, wanita tersebut mengambil besi panas
yang menyala, lalu menaruhnya di atas kepala dan ubun-ubun orang Muslim
tersebut. Tentu saja, sahabat Nabi SAW ini kesakitan, tetapi sengaja
menahan nafasnya karena tidak ingin suara erangannya menjadi penyebab
para algojo tersebut puas dan gembira.
Pada suatu hari
Rasulullah SAW lewat di hadapannya, sedang besi yang membara di atas kepalanya
membakar dan menghanguskannya. Hingga kalbu Rasulullah pun bagaikan terangkat
karena pilu dan iba hati. Beliau berdoa, "Ya Allah, limpahkanlah
pertolongan-Mu kepada Khabbab!"
Ya
Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab!
Dan kehendak
Allah pun berlakulah, selang beberapa hari, Ummi Anmar menerima hukuman qishas.
Seolah-olah hendak dijadikan peringatan oleh Yang Maha Kuasa baik bagi dirinya
maupun bagi algojo-algojo lainnya. Ia diserang oleh semacam penyakit panas yang
aneh dan mengerikan. Menurut keterangan ahli sejarah ia melolong seperti
anjing.
Dan orang
memberi nasihat bahwa satu-satunya jalan atau obat yang dapat menyembuhkannya
ialah menyeterika kepalanya dengan besi menyala. Demikianlah, kepalanya yang
angkuh itu menjadi sasaran besi panas, yang disetrikakan orang kepadanya tiap
pagi dan petang.
Jika
orang-orang Quraisy hendak mematahkan keimanan dengan siksa, maka orang-orang
beriman mengatasi siksaan itu dengan pengorbanan. Dan Khabbab adalah salah
seorang yang terpilih. Boleh dikata seluruh waktu dan masa hidupnya
dibaktikannya untuk agama yang panji-panjinya mulai berkibar.
Dalam masa
kerasnya intimidasi yang dilakukan kafir Quraisy, Muslimin tetap teguh beriman.
Mereka pun terus melangsungkan majelis-majelis ilmu, termasuk membahas
ayat-ayat Alquran yang turun kepada Nabi SAW. Khabbab ikut dalam halakah ini. Di antara
para sahabat, ia tergolong fasih dalam mengaji.
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan mengenai
dirinya, bahwa Rasuiullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa ingin
membaca Alquran tepat sebagaimana diturunkan, hendaklah ia meniru bacaan Ibnu
Ummi Abdin (Khabbab bin Arats)!"
Khabbab adalah sosok yang mengajarkan
Alquran kepada Fatimah binti Khatthab dan suaminya Sa’id bin Zaid ketika
keduanya dipergoki oleh Umar bin Khatthab. Begitu mendengar ayat-ayat Alquran
dibacakan, tenanglah hati Umar dan bahkan lelaki dari Bani Adi ini bersegera
menyatakan iman dan Islam di hadapan Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar