Jumat, 19 September 2025

KISAH SEEKOR ULAR SAAT HIJRAH

 27 Rabi'ul Awwal 1447 H

Gua Tsur Tempat Bernaung Rasulullah SAW

Cerita digigit ular berbisa pernah dialami Abu Bakar RA saat menemani Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Saat itu, keduanya memutuskan berlindung di Gua Tsur untuk menghindari kejaran orang-orang Quraisy pimpinan Abu Jahal.

Letak Gua Tsur kira-kira 6 kilometer ke arah selatan dari kediaman Rasulullah saat itu, -kini Masjidil Haram-. Tinggi gunung ini kurang lebih lima ribu kaki atau 1.400 meter. Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di tempat itu selama 3 hari.

Sampai di puncak Gunung Tsur, keduanya memutuskan bersembunyi di sebuah gua. Abu Bakar RA masuk terlebih dulu ke dalam gua. Dia membersihkan gua dari kotoran-kotoran binatang juga menutup lubang-lubang agar tak ada ular berbisa masuk.

Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.

Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.


Pemeriksaan Abu Bakar RA Kondisi Gua Tsur

Saat itu di dalam gua ditemukan banyak lubang, sehingga Abu Bakar RA menutupnya dengan baju yang dikenakan. Abu Bakar RA merobek bajunya hingga hanya tersisa dua lubang di sebelah kiri. Setelah dirasa semua lubang tertutup, Abu Bakar RA memanggil Nabi Muhammad SAW untuk masuk dan beristirahat di dalam. Sayyidina Abu Bakar RA mengatakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab RA, “Aku bersumpah demi Allah bahwa kamu (Nabi) tidak akan memasuki gua sebelum aku melakukannya, karena jika ada sesuatu di dalamnya, aku akan diserang oleh itu, dan bukan kamu. "

Setelah semuanya lubang tersumbat, barulah Rasulullah SAW memasuki gua tersebut dan tampaknya Rasulullah SAW kelelahan dan tertidur tertidur. Abu Bakar tak tega melihat sang penghulu rasul itu tidur tanpa alas. Diraihnya pelan-pelan kepala sang rasul dan ditaruh di atas pangkuannya. Sementara dua telapak kakinya digunakan untuk menutup dua lubang gua agar tak dimasuki ular berbisa.

Namun ternyata, ada satu ular berbisa yang masuk ke dalam lubang dan mengigit kaki Abu Bakar. Tidak ada penjelasan jenis ular yang mengigit Abu Bakar dan kaki sebelah mana yang digigit.

Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar.
Abu Bakar r.a menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah SWT itu.


Abu Bakar RA Digigit Ular

Abu Bakar r.a menutup lubang itu dengan salah satu kakinya.lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun Dalam hening, sekujur tubuh Abu Bakar r.a terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya. Abu Bakar r.a tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah saw yang tengah berbaring.

Rasulullah SAW terbangun dan berkata;

“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” “Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar r.a. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah SAW dengan bersahaja. “Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah SAW, dan bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku”.

Lalu Nabi Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu:

” Wahai ular apakah Kamu tidak tahu ? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?”


Rindu sang Ular Kepada Rasulullah SAW

Dialog Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

“Ya…hamba mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT mengatakan :‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga firdaus,” kata sang ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut sang ular.

Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam:

“Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur.

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari gua Tsur-pun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan rindu.

Selanjutnya tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar r.a. Dengan mengagungkan nama Allah SWT Sang pencipta semesta, Nabi Muhammad SAW mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah SWT, seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERKAH RAMADHAN BAGI BANGSA INDONESIA

16 Ramadhan 1447 H Kita tahu bahwa Indonesia merdeka dari penjajah pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Bun...