27 Rabi'ul Awwal 1447 H
Gua Tsur Tempat Bernaung Rasulullah SAW
Cerita digigit ular berbisa pernah dialami Abu Bakar RA saat menemani Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Saat itu, keduanya memutuskan berlindung di Gua Tsur untuk menghindari kejaran orang-orang Quraisy pimpinan Abu Jahal.
Letak Gua Tsur
kira-kira 6 kilometer ke arah selatan dari kediaman Rasulullah saat itu, -kini
Masjidil Haram-. Tinggi gunung ini kurang lebih lima ribu kaki atau 1.400
meter. Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di tempat itu selama 3 hari.
Sampai di
puncak Gunung Tsur, keduanya memutuskan bersembunyi di sebuah gua. Abu Bakar RA
masuk terlebih dulu ke dalam gua. Dia membersihkan gua dari kotoran-kotoran
binatang juga menutup lubang-lubang agar tak ada ular berbisa masuk.
Rasulullah
ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa
dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.
Rasulullah
ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa
dilewati para kafillah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.
Pemeriksaan Abu Bakar RA Kondisi Gua Tsur
Saat itu di
dalam gua ditemukan banyak lubang, sehingga Abu Bakar RA menutupnya dengan baju
yang dikenakan. Abu Bakar RA merobek bajunya hingga hanya tersisa dua lubang di
sebelah kiri. Setelah dirasa semua lubang tertutup, Abu Bakar RA memanggil Nabi
Muhammad SAW untuk masuk dan beristirahat di dalam. Sayyidina Abu Bakar RA mengatakan,
sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab RA, “Aku bersumpah
demi Allah bahwa kamu (Nabi) tidak akan memasuki gua sebelum aku melakukannya,
karena jika ada sesuatu di dalamnya, aku akan diserang oleh itu, dan bukan
kamu. "
Setelah
semuanya lubang tersumbat, barulah Rasulullah SAW memasuki gua tersebut dan
tampaknya Rasulullah SAW kelelahan dan tertidur tertidur. Abu Bakar tak tega
melihat sang penghulu rasul itu tidur tanpa alas. Diraihnya pelan-pelan kepala sang rasul dan
ditaruh di atas pangkuannya. Sementara dua telapak kakinya digunakan untuk
menutup dua lubang gua agar tak dimasuki ular berbisa.
Namun ternyata, ada satu ular berbisa yang
masuk ke dalam lubang dan mengigit kaki Abu Bakar. Tidak ada penjelasan jenis
ular yang mengigit Abu Bakar dan kaki sebelah mana yang digigit.
Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis
keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar. Abu Bakar r.a menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua
kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu
dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah SAW.
Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah SWT itu.
Abu Bakar RA Digigit Ular
Abu Bakar r.a
menutup lubang itu dengan salah satu kakinya.lalu ular itu menggigit
pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun Dalam
hening, sekujur tubuh Abu Bakar r.a terasa panas, ketika bisa ular menjalar
cepat di dalam darahnya. Abu Bakar r.a tak kuasa menahan isak tangis ketika
rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes
mengenai pipi Rasulullah saw yang tengah berbaring.
Rasulullah SAW terbangun
dan berkata;
“Wahai hamba
Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” “Tentu
saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar r.a. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air
mata?” bertanya Rasulullah SAW dengan bersahaja. “Seekor ular, baru saja
menggigit saya, wahai Rasulullah SAW, dan bisanya menjalar begitu cepat ke
dalam tubuhku”.
Lalu Nabi
Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu:
” Wahai ular
apakah Kamu tidak tahu ? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu
Bakar pun haram Kamu makan?”
Rindu sang Ular Kepada Rasulullah SAW
Dialog
Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat
mukjizat Beliau.
“Ya…hamba
mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT
mengatakan :‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah
atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke
surga firdaus,” kata sang
ular.
“Ya Rabb, beri
aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang
wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut sang
ular.
Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam:
“Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana,
kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT
“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku
digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh
kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku
ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur.
“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari
gua Tsur-pun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan
rindu.
Selanjutnya tanpa menunggu waktu, dengan
penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar r.a. Dengan
mengagungkan nama Allah SWT Sang pencipta semesta, Nabi Muhammad SAW mengusap
bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah
SWT, seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar