28 Rabi'ul Awwal 1447 H
Kisah Abu
Duljanah Yang Menjaga Keluarganya
Rasulullah SAW
memiliki sahabat-sahabat yang dekat dengan beliau dengan budi pekerti yang
luhur. Banyak dari sahabat Beliau SAW yang memiliki kisah yang diriwayatkan dan
diturunkan hingga masa kini, salah satunya Abu Dujanah.
Nama salah satu
sahabat yang memiliki kisah luar biasa adalah Abu Dujanah. Abu Dujanah sendiri
terkenal sebagai seorang yang pemberani di medan perang dan selalu menjaga
keluarganya dari suatu hal yang haram.
Pada zaman
kenabian Rasulullah SAW, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Abu
Dujanah. la seorang sahabat yang ketika selesai salat selalu langsung pulang
dengan tidak membaca doa.
Ia pun tidak menunggu agar Rasulullah SAW
selesai membaca doa terlebih dahulu. Perilaku Abu Dujanah ini pun kemudian
dirasakan oleh Rasulullah SAW, sehingga suatu saat beliau bertanya ke Abu
Dujanah.
“Apa yang menyebabkan engkau berperilaku
demikian wahai Abu Dujanah?”
Abu Dujanah selanjutnya menjawab,
“Ini karena ada pohon kurma yang menjuntai
di pekaranganku. Pohon ini bukan milikku. Jadi aku buru-buru membersihkannya
dan kurma itu aku serahkan kepada pemiliknya, yakni tetanggaku (dikenal sebagai
seorang yang munafik)”.
“Aku melakukannya tanpa sedikit pun diberi
dan mengharapkan imbalan. Hal ini aku lakukan juga agar anak-anakku tidak
memakan kurma tersebut karena kurma itu tidak halal untukku dan keluargaku.
Tetapi, suatu ketika aku jumpai anakku sudah lebih dahulu bangun dan kulihat
dia tengah memakan kurma tersebut. Oleh karena itu, aku datangi anakku dan
lekas aku masukkan tanganku agar bisa mengeluarkan kurma tersebut dari
mulutnya. Namun saking kencangnya, anakku menangis berlinangan air mata.
Begitulah ya Rasulullah,” jelas Abu Dujanah.
Mendengar kisah itu Rasulullah SAW seketika
menangis dan kemudian beliau memanggil tokoh munafik tersebut. Kepadanya,
Rasulullah berkata,
“Maukah engkau jika aku minta kamu menjual
pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan
membelinya dengan sepuluh kali lipat dari harga pohon kurma itu. Pohonnya
terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya
dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan
hitungan buah kurma yang ada.”
Abu Bakar Membeli Pohon Kurma 10 x lipat
Begitu tawaran
Nabi SAW Namun, lelaki yang dikenal sebagai seorang penjual yang munafik ini
lantas menjawab dengan tegas,
“Aku tak pernah
berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Aku tidak mau menjual apa pun
kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji.”
Di tengah
proses itu, tiba-tiba Sayidina Abu Bakar as-Shiddiq RA datang. Ia lantas
berkata,
“Ya sudah, aku
beli dengan sepuluh kali lipat dari harga kurma yang paling bagus di kota ini.”
Mendengar ini, orang munafik tersebut
berkata kegirangan,
“Baiklah, aku
jual pohon ini.”
Setelah
sepakat, Abu Bakar segera menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah pada saat
itu juga. Rasulullah SAW kemudian bersabda,
“Hai Abu Bakar,
aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar
sabda Nabi ini, Sayidina Abu Bakar merespon dengan bergembira bukan main.
Begitu pula Abu Dujanah.
Si munafik
berlalu. la berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja
terjadi pada hari itu.
“Aku telah
mendapat untung banyak hari ini. Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang lebih
bagus. Padahal kurma yang aku jual itu tidaklah berpindah dan masih tetap di
pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu lalu
buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit
pun.”
Pohon Kurma Berpindah
Pada malam harinya, saat si munafik tidur
terjadi peristiwa yang tak diduga. Pohon kurma yang berada di pekarangan rumah
si munafik itu tiba-tiba berpindah posisi.
Pohon kurma itu kini berdiri di atas tanah
milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut
tumbuh di atas tanah si munafik dan berpindah dengan bantuan tangan manusia ke
pekarangan Abu Dujanah.
Tempat asal pohon itu tumbuh diketahui rata
dengan tanah seperti tanah rata yang normal. Saat terbangun pagi harinya, si
munafik keheranan.
Kisah ini dapat dijadikan sebagai pelajaran
bagi kita, yakni betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah, Abu Dujanah, menjaga
diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Sesulit dan seberat apa pun
hidup, seseorang tidak boleh memakan makanan untuk dirinya sendiri dan
keluarganya dari barang haram.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar