29 Rabi'ul Awal 1447 H
Kisah Kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf
Sahabat Nabi
dikenal sebagai orang-orang mulia. Mereka adalah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan ajaran yang dibawa Rasulullah. Mereka tidak pernah membantah
apa pun perintah Nabi, karena mereka tahu bahwa perintah Nabi adalah perintah
Allah pula.
Abdurrahman Bin
'Auf, salah satu sahabat Nabi yang dikenal paling kaya. Tidak ada sahabat
terkaya dibanding dirinya. Di samping kaya, ia juga dinobatkan oleh Rasulullah
sebagai salah satu sahabat yang dipastikan masuk surga.
Namun, meskipun
ia dikenal sebagai sahabat terkaya, ia tidak pernah berfoya-foya karena
hartanya. Bahkan, selalu menangis dengan harta yang dimilikinya. Ia takut jika
harta yang dimiliki membuatnya berkurang dalam beribadah kepada Allah.
Pada zaman
Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf menyedekahkan separuh hartanya. Kemudian ia
menyedekahkan lagi sebanyak 40.000 dinar. Namun, kekayaan yang dimiliki
Abdurrahman bin Auf justru menjadi suatu kekhawatiran baginya. Bahkan, sahabat
nabi ini sempat berusaha untuk menjadi orang miskin. Hal tersebut setelah ia
mendengar perkataan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berkata:
“Abdurrahman
bin Auf akan masuk surga paling akhir karena terlalu kaya. Ia akan dihisab
paling lama”.
Sahabat nabi
ini tidak ingin dihisab paling lama. Ia mencoba untuk menjadi miskin supaya
masuk surga lebih awal.
Suatu ketika
setelah perang Tabuk, kurma yang ditinggalkan sahabat di Madinah menjadi busuk.
Hal tersebut menyebabkan nilai jual kurma menurun. Kesempatan itu tak
disia-siakan oleh Abdurrahman bin Auf. Ia membeli kurma busuk dengan
harga yang normal. Tentu saja semua sahabat bersyukur karena yang
awalnya berpikiran tidak laku, kini ludes dibeli oleh Abdurrahman bin Auf. Akan
tetapi, usaha Abdurrahman bin Auf menjadi miskin gagal.
Abdurrahman
bin ‘Auf Gagal Menjadi Miskin
Suatu ketika
datang utusan dari Yaman yang sedang mencari kurma busuk. Utusan tersebut
bercerita jika di negerinya sedang terserang wabah penyakit menular.
Konon yang
menjadi obat penyakit menular itu adalah kurma busuk. Abdurrahman bin Auf mau
tak mau menjual kurma busuk itu. Oleh utusan Raja Yaman, kurma busuk itu dibeli
dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.
Apa yang
dilakukan Abdurrahman bin ‘Auf membuat Umar bin Khattab berkata:
"Sungguh
aku melihat 'Abdurrahman bin 'Auf telah berdosa. Ia telah menyumbangkan seluruh
hartanya tanpa menyisakannya untuk keluarga."
Mendengar itu
akhirnya Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman Bin 'Auf:
"Apakah
engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"
Dengan yakin
Abdurrahman menjawab,
"Ya, aku
bahkan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak." jawabnya. "Berapakah jumlahnya?" tanya kembali
Rasulullah.
"Sebanyak
janji Allah dan Rasul-Nya, yakni berupa balasan kebaikan, pahala dan
ganjaran," jawab Abdurrahman dengan ikhlasnya.
Abdurrahman Bin
'Auf dikenal sebagai orang yang dermawan kepada siapa pun. Hartanya tidak
membuat dirinya jumawa. Justru, ia selalu berlinang air mata karena takut tidak
akan masuk surga disebabkan kekayaan yang dimilikinya.
Dari kisah
sahabat nabi tersebut terdapat hikmah yang dapat kita ambil dan bisa
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti ketika memiliki harta
yang berlimpah janganlah sombong. Sesungguhnya harta hanyalah titipan dari
Allah. Dan janganlah di butakan dengan harta yang berlimpah dan selalu merasa
tidak cukup.
Dalam harta
yang berlimpah ada hak orang lain yang harus di bantu bahkan diberikan kepada
yang tidak punya. Harta tidak bisa dibawa mati kecuali dengan sedekah yang akan
mengalir terus pahalanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar