Jumat, 12 September 2025

KASIH SAYANG RASULULLAH ﷺ UNTUK KELUARGANYA

 20 Rabi'ul Awwal 1447 H

 

Idul Fitri yang Penuh Keajaiban

 

Hari Raya Idul Fitri adalah hari kebahagiaan bagi umat Islam. Namun, di rumah Fatimah Az-Zahra, ada kesedihan yang dirasakan oleh kedua cucu Rasulullah , Hasan dan Husain.

Menjelang hari raya, mereka melihat anak-anak di Madinah telah memakai pakaian baru. Dengan mata yang penuh harap, Hasan dan Husain bertanya kepada ibunya : “Wahai Ibu, anak-anak di Madinah sudah mengenakan pakaian lebaran, kecuali kami. Mengapa kami tidak memiliki pakaian baru?”

Fatimah tersenyum lembut, mencoba menenangkan hati putra-putranya, “Baju kalian masih di tukang jahit.”

Namun, di dalam hatinya, Fatimah merasa pilu. Ia dan suaminya, Ali bin Abi Thalib, bukanlah orang kaya. Mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian baru bagi anak-anaknya.

Malam takbiran tiba. Hasan dan Husain kembali bertanya, : “Ibu, di mana baju lebaran kami?”

Fatimah terdiam, air matanya menggenang. Ia tidak memiliki jawaban. Ia tidak ingin menyakiti hati putra-putranya, tapi kenyataannya, ia memang tak mampu membelikan mereka baju baru.

Ketika kesedihan menyelimuti rumah Fatimah, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.Fatimah segera bangkit dan bertanya, :“Siapa di luar?”

Terdengar suara lembut: “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit. Aku datang membawa pakaian untuk putra-putramu.”

Fatimah membuka pintu, dan tampaklah seseorang berdiri dengan membawa sebuah bingkisan. Dengan hati berdebar, Fatimah menerimanya. Ketika ia membuka bingkisan itu, matanya terbelalak.

Di dalamnya terdapat dua gamis indah, dua celana, dua mantel, dua sorban, dan dua pasang sepatu hitam semuanya terlihat begitu istimewa.

Fatimah memanggil Hasan dan Husain dengan penuh sukacita, lalu memakaikan pakaian baru itu kepada mereka. Betapa bahagianya mereka berdua, berseri-seri dengan pakaian baru yang sebelumnya hanya bisa mereka impikan.

Tak lama kemudian, Rasulullah datang ke rumah putrinya. Beliau melihat kedua cucunya yang telah rapi mengenakan pakaian baru. Senyuman beliau merekah, penuh kasih sayang. Rasulullah menggendong mereka, mencium mereka dengan penuh cinta, lalu bertanya kepada Fatimah: “Putriku, dari mana kau mendapatkan pakaian ini?”

Fatimah menjawab: “Seorang tukang jahit datang dan memberikannya.”

Rasulullah tersenyum, lalu berkata:  “Duhai putriku, dia bukan tukang jahit biasa. Dia adalah Malaikat Ridwan, penjaga surga, yang Allah utus untuk memenuhi keinginan kedua cucuku.”

 

Apa pelajaran dari kisah ini?

Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun keluarga Rasulullah hidup sederhana, Allah selalu mencukupi mereka dengan cara-Nya yang penuh hikmah. Rasulullah sendiri memiliki kesempatan untuk menjadi orang kaya jika beliau menginginkannya. Namun, beliau memilih kehidupan yang sederhana, mengajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah tentang harta, tetapi tentang keimanan dan ketakwaan.

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib
2. Al-Ridha, dinukil oleh Hakim Al-Naisaburi dalam Al-Amali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...