20 Rabi'ul Awwal 1447 H
Idul Fitri yang Penuh Keajaiban
Hari Raya Idul Fitri adalah hari kebahagiaan bagi umat Islam.
Namun, di rumah Fatimah Az-Zahra, ada kesedihan yang dirasakan oleh kedua cucu
Rasulullah ﷺ, Hasan dan Husain.
Menjelang hari raya, mereka melihat anak-anak di Madinah telah
memakai pakaian baru. Dengan mata yang penuh harap, Hasan dan Husain bertanya
kepada ibunya : “Wahai Ibu, anak-anak di Madinah sudah mengenakan pakaian
lebaran, kecuali kami. Mengapa kami tidak memiliki pakaian baru?”
Fatimah tersenyum lembut, mencoba menenangkan hati putra-putranya, “Baju
kalian masih di tukang jahit.”
Namun, di dalam hatinya, Fatimah merasa
pilu. Ia dan suaminya, Ali bin Abi Thalib, bukanlah orang kaya. Mereka tidak
memiliki cukup uang untuk membeli pakaian baru bagi anak-anaknya.
Malam takbiran tiba. Hasan dan Husain
kembali bertanya, : “Ibu, di mana baju lebaran kami?”
Fatimah terdiam, air matanya menggenang. Ia
tidak memiliki jawaban. Ia tidak ingin menyakiti hati putra-putranya, tapi
kenyataannya, ia memang tak mampu membelikan mereka baju baru.
Ketika kesedihan menyelimuti rumah Fatimah,
tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.Fatimah segera bangkit dan bertanya, :“Siapa
di luar?”
Terdengar suara lembut: “Wahai putri
Rasulullah, aku adalah tukang jahit. Aku datang membawa pakaian untuk
putra-putramu.”
Fatimah membuka pintu, dan tampaklah
seseorang berdiri dengan membawa sebuah bingkisan. Dengan hati berdebar,
Fatimah menerimanya. Ketika ia membuka bingkisan itu, matanya terbelalak.
Di dalamnya terdapat dua gamis indah, dua
celana, dua mantel, dua sorban, dan dua pasang sepatu hitam semuanya terlihat
begitu istimewa.
Fatimah memanggil Hasan dan Husain dengan penuh sukacita, lalu
memakaikan pakaian baru itu kepada mereka. Betapa bahagianya mereka berdua,
berseri-seri dengan pakaian baru yang sebelumnya hanya bisa mereka impikan.
Tak lama kemudian, Rasulullah ﷺ datang ke rumah putrinya. Beliau melihat kedua cucunya yang telah rapi mengenakan pakaian baru. Senyuman beliau merekah, penuh kasih sayang. Rasulullah ﷺ menggendong mereka, mencium mereka dengan penuh cinta, lalu bertanya kepada Fatimah: “Putriku, dari mana kau mendapatkan pakaian ini?”
Fatimah menjawab: “Seorang tukang jahit datang dan
memberikannya.”
Rasulullah ﷺ tersenyum, lalu berkata: “Duhai putriku, dia bukan tukang jahit
biasa. Dia adalah Malaikat Ridwan, penjaga surga, yang Allah utus untuk
memenuhi keinginan kedua cucuku.”
Apa pelajaran dari kisah ini?
Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun
keluarga Rasulullah ﷺ
hidup sederhana, Allah selalu mencukupi mereka dengan cara-Nya yang penuh
hikmah. Rasulullah ﷺ
sendiri memiliki kesempatan untuk menjadi orang kaya jika beliau
menginginkannya. Namun, beliau memilih kehidupan yang sederhana, mengajarkan
bahwa kebahagiaan bukanlah tentang harta, tetapi tentang keimanan dan
ketakwaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar