Sahabat…
Pernah kita menyandarkan kehidupan kita kepada seseorang ?
Rasanya lumrah bila kita menyandarkan hidup kita kepada yang
lainnya bahkan merupakaan kehormatan bila seseorang yang dijadikan sandaran
hidup kita adalah orang terhormat, berpangkat dan mempunyai jabatan.
Lalu bagaimana jika sandaran hidup kita bukan sekedar orang terhormat dan berpangkat, tetapi Dzat
pemilik alam raya ini, bahkan diproklamirkan sendiri oleh Allah SWT. ?
Mungkinkah ? Ya sangat mungkin. Ibadah puasa menjadi jembatan yang diakuinya
seseorang di sisi Allah. Ya hanya karena puasa. Sebagaimana hadits qudsi dari
sahabat Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda :
كُلُّ عَمَلٍ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، اَلْحَسَنَةُ
بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ تَعاَلَى: إِلَّا
الصَّوْمُ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ
مِنْ أَجْلِيْ
Artinya : “Setiap amal manusia akan dilipatgandakan. Satu
kali kebaikan menjadi 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Allah berfirman :
kecuali puasa. Sesungguhnya puasa milik-KU dan saya yang akan memberikan
balasan puasanya, dia meninggalkan syahwat dan makannya karena AKU”. (HR.
Muslim)
Dalam riwayat imam Ahmad dikatakan :
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
Artinya : “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya),
“Setiap amalan adalah sebagai kafarah/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan
puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya ” (HR. Ahmad)
Kata-kata وَاَنَا أَجْزِيْ بِهِ merupakan isyarat
besarnya ganjaran dan pahala puasa. Bahkan imam Ibnu Rajab mengatakan bahwa pelipatgandaan
ganjaran puasa adalah pelipatgandaan yang banyak dan tak terbatas sebagaimana
janji Allah SWT pada QS. Az Zumar/39 : 10
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ
بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya : “Hanya
orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”
Wallhu a’lam
Jakarta, 7 Ramadhan 1445 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar