Sabtu, 08 Maret 2025

KELUARGA YANG MENGHINDARI KEHARAMAN

 9 Ramadhan 1446 H

Dikisahkan oleh Imam Ibnu al Jauzi dalam kitbnya Uyun al Hikayat Min Qashas ash Sholihin wa Nawadzir az Zahidin bahwa pada zaman Bani Israil, hidup seorang raja yang dzalim. Ia terkenal sebagai penguasa yang suka memaksa penduduknya untuk memakan daging babi. Hari itu, sang raja memanggil Sarah, janda yang memiliki tujuh anak. Ia dipanggil bersama seluruh anaknya. Ketika Sarah dan anak-anaknya telah berada di istana, pertama-tama raja memanggil anak Sarah yang sulung. Raja memberinya daging babi sembari berkata, “Makanlah ini!”Selamanya saya tak akan memakan apapun yang diharamkan Allah,” jawabnya tegas. Karena menolak perintahnya, raja pun segera memanggil tentaranya (baca: algojo) untuk memotong kedua tangan dan kaki anak itu. Tak hanya itu, tentara itu juga terus memotong seluruh anggota badannya. Satu persatu. Hingga ia menemui ajalnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Raja kembali memanggil anak kedua Sarah. Ia menyuruhnya untuk memakan daging babi. Tapi, anak itu menolak. Raja pun murka. Ia lantas menyuruh algojo untuk mengambil sebuah ceret yang berisi tembaga. Ceret itu pun diisi dengan aspal dan kemudian dipanaskan. Setelah mendidih, isi ceret itu pun disiramkan ke badan anak itu hingga akhirnya ia meninggal dunia. Anak ketiga dipanggil dan diperintah dengan perintah yang sama. Ia justru berkata, “Di hadapan Allah, Engkau adalah manusia yang lebih hina dibanding jika aku memakan hal yang diharamkan Allah.”  Raja hanya tertawa sinis. Ia berkata kepada seluruh penghuni kerajaan, “Apakah kalian tahu mengapa anak ini berani menghinaku? Ia menginginkan aku marah dan agar aku segera menghabisinya.  Namun dia salah besar”. Ia kemudian memerintahkan agar anak itu dikupas kulit leher, kepala, dan wajahnya. Ia akhirnya meninggal dunia.

Begitu seterusnya dengan tiga anak lainnya. Mereka diperintahkan untuk memakan daging namun mereka menolak. Raja membunuh mereka dengan cara sadis dan berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Kini, tinggal Sarah dan anaknya bungsunya yang hidup. Kemudian ia berkata kepada Sarah : “Saya telah menyakitimu dengan memperlihatkan kepadamu penyiksanan dan pembunuhan anak-anakmu di hadapanmu. Sekarang bawalah anakmu yang kecil itu dan bujuklah dia agar di mau makan dagung itu meskipun satu suapan saja, maka dia boleh hidup seterusnya bersamamu.” Ibu itu (sarah) menjawab : “Ya..baiklah”

Lalu ibu itu (Sarah) mengajak anaknya dan berkata kepada anaknya :  "Anakku, apakah engkau tahu bahwa aku mempunyai hak pada setiap saudara- saudaramu yang telah dibunuh raja? Sementara padamu aku mempunyai dua hak? Hal itu karena aku menyusui mereka masing-masing selama dua tahun. Kemudian ayahmu meninggal, sementara engkau masih berada dałam kandunganku. Maka setelah engkau lahir, aku susui dirimu empat tahun, karena kelemahan tubuhmu, dan karena kasih sayangku padamu. Maka aku meminta kepadamu dengan nama Allah. dan dengan hakku atasmu saat engkau telah besar ini, agar engkau tidak memakan sesuatu Yang diharamkan Allah bagimu, dan agar engkau menjaga jangan sampai engkau nanti berłemu dengan saudara-saudaramu di hari kiamat sementara engkau tidak menjadi bagian dari mereka," 

Anak iłu menjawab, "Aku tidak akan memakan sesuatu Yang diharamkan Allah kepadaku." Dengan jawaban iłu, maka anak iłu dibunuh oleh raja, sehingga dia mati sebagaimana saudara-saudaranya. 

Kemudian raja ilu berkala kepada Sang ibu, "Saya merasa sedih melihat dirimu menyaksikan itu hari ini. Celaka engkau! Makanlah sesuap, niscaya saya akan kabulkan apa saja Yang engkau mau, dan saya akan berikan apa saja yang engkau kehendaki dałam hidup ini,n 

Perempuan iłu menjawab, "Tidak mungkin saya menyatukan antara kehilangan anak-anakku dengan kemaksiatan kepada Allah. Jika saya hidup setelah mereka maka saya tidak mau iłu terjadi padaku. Dan saya tidak akan makan sesuatu yang diharamkan Allah bagiku sama sekali." Mendengar jawabannya itu, raja pun segera metnbunuhnya, dan menyatukannya bersarna anak- anaknya. Semoga Allah merahmati mereka seluruhnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...