Minggu, 24 Agustus 2025

HIDUP RASULULLAH SAW PENUH DENGAN UJIAN

1 Rabi'ul Awwal 1447 H

Tahun-Tahun Penuh Duka

Rasulullah ﷺ adalah manusia pilihan Allah, tetapi perjalanan hidup beliau penuh dengan ujian dan kesedihan sejak kecil. Seorang anak yang sejak lahir telah kehilangan ayah, lalu tumbuh dengan harapan pada ibunya, tetapi lagi-lagi kehilangan. Kemudian, saat menemukan perlindungan pada kakeknya, takdir kembali merenggutnya. Rasulullah ﷺ menjalani kehidupan yang penuh duka, tetapi Allah telah menyiapkan beliau untuk menjadi pemimpin yang penuh kasih dan keteguhan.

Yatim Sejak Dalam Kandungan

Pernikahan Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah binti Wahb adalah pernikahan yang penuh kebahagiaan. Abdullah adalah seorang pemuda Quraisy yang rupawan, sementara Aminah dikenal sebagai wanita yang cerdas dan memiliki keturunan terhormat dari Bani Zuhrah.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah pernikahan, Abdullah meninggalkan Makkah untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan pulang, saat singgah di Madinah, ia jatuh sakit. Ia tidak sempat kembali ke Makkah dan meninggal di kota itu.

Kabar kematian Abdullah sampai ke Makkah seperti petir yang menyambar hati Aminah. Dalam kondisi mengandung, ia harus menerima kenyataan bahwa anak yang dikandungnya akan lahir tanpa kehadiran seorang ayah.

Suasana rumah yang semula penuh kegembiraan berubah menjadi duka. Aminah menangis dalam diam. Setiap hari, ia mengelus perutnya, berbicara lembut pada anaknya yang belum lahir.

"Nak, kau akan lahir tanpa ayah… Tapi kau akan tumbuh menjadi manusia yang kuat. Aku akan menjagamu dengan seluruh cinta yang kupunya."

Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki yang bersih dan bercahaya. Kelahirannya membawa kebahagiaan, meskipun tetap ada kesedihan yang mengiringi. Bayi itu diberi nama Muhammad.

Kasih Sayang yang Singkat
Aminah merawat Rasulullah ﷺ dengan penuh kasih sayang. Meskipun sebagai seorang janda ia harus menjalani hidup yang sulit, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya.

Saat berusia beberapa bulan, Muhammad ﷺ disusukan kepada Halimah As-Sa’diyah, sebagaimana tradisi bangsawan Quraisy yang menitipkan anak-anak mereka kepada wanita pedalaman agar tumbuh kuat dalam lingkungan yang lebih sehat.

Halimah dan suaminya sangat mencintai Muhammad ﷺ. Selama diasuh oleh mereka, kehidupan Halimah yang sebelumnya sulit berubah menjadi berkah. Kambing-kambingnya menjadi lebih gemuk dan air susunya semakin berlimpah.

Namun, setelah empat tahun, Muhammad ﷺ harus kembali ke pelukan ibunya. Aminah sangat bahagia melihat anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Ia sering membelai kepala putranya dan berkata dengan lembut:
"Nak, kau adalah cahaya hatiku…"

Namun, kebahagiaan itu hanya sementara.

Perjalanan yang Mengubah Segalanya

Saat Rasulullah ﷺ berusia 6 tahun, Aminah mengajaknya dalam perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam ayahnya, Abdullah.

Perjalanan itu penuh emosi bagi Aminah. Sepanjang jalan, ia bercerita kepada Muhammad ﷺ tentang ayahnya, bagaimana Abdullah adalah lelaki yang baik, penyayang, dan sangat menantikan kelahirannya.

"Ayahmu adalah pria yang gagah, Nak… Jika ia masih hidup, ia pasti akan sangat bangga melihatmu."

Muhammad ﷺ yang masih kecil hanya bisa mendengarkan dengan mata berbinar. Ia tidak pernah melihat ayahnya, tetapi dari cerita ibunya, ia merasa memiliki ikatan kuat dengan sang ayah.

Setelah beberapa hari di Madinah, rombongan kecil mereka kembali ke Makkah. Namun, di tengah perjalanan, di daerah Abwa, Aminah jatuh sakit.

Suhu tubuhnya meningkat, wajahnya pucat, dan nafasnya melemah. Muhammad ﷺ kecil memegang tangan ibunya dengan cemas.
"Ibu… bangunlah… jangan tinggalkan aku…"

Aminah membuka matanya, tersenyum lemah, lalu dengan suara lirih berbisik:
"Nak… Allah akan menjagamu… Jangan takut… Kau bukan sendirian…"

Tak lama setelah itu, Aminah menghembuskan nafas terakhir.

Muhammad ﷺ hanya bisa menatap tubuh ibunya yang sudah kaku. Ia menangis, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan. Barakah (Ummu Aiman), pembantu setia keluarga, menangis dan memeluknya erat.

Di tengah gurun yang sepi, seorang anak kecil baru saja menjadi yatim piatu.

Kesedihan yang Tak Berujung
Setelah kehilangan ibunya, Muhammad ﷺ dibawa kembali ke Makkah oleh Ummu Aiman. Ia kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, seorang pemuka Quraisy yang sangat berwibawa.

Abdul Muththalib sangat mencintai cucunya. Setiap hari, Muhammad ﷺ selalu berada di dekatnya. Jika Abdul Muththalib duduk di kursi kehormatannya di dekat Ka’bah, para pemuka Quraisy tidak ada yang berani duduk di sana. Tetapi Muhammad ﷺ kecil dengan polosnya duduk di samping kakeknya, dan kakeknya hanya tersenyum.
"Biarkan dia… Cucuku ini akan menjadi orang besar nanti…"

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan dua tahun. Ketika Muhammad ﷺ berusia 8 tahun, kakeknya jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia.

Saat pemakaman, Muhammad ﷺ berdiri di dekat pusara kakeknya. Ia menangis, merasakan lagi kehilangan orang yang dicintainya.
"Sekarang aku benar-benar sendiri…"

Tetapi Allah tidak pernah meninggalkannya. Setelah kakeknya wafat, Muhammad ﷺ kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Meskipun Abu Thalib bukan orang kaya, ia mencintai Muhammad ﷺ seperti anaknya sendiri. Ia selalu melindungi, memberi makan, dan menjaga keponakannya itu dengan penuh kasih sayang.

Kesimpulan
Hidup Rasulullah ﷺ sejak kecil dipenuhi dengan kesedihan. Namun, semua itu membentuk beliau menjadi pribadi yang kuat, penyayang, dan penuh empati terhadap sesama.

Ketika beliau melihat anak yatim, beliau tahu rasanya kehilangan orang tua. Ketika beliau melihat orang miskin, beliau tahu rasanya hidup dalam keterbatasan.

Kesedihan yang beliau alami bukan tanpa tujuan. Semua itu adalah bagian dari rencana Allah untuk menjadikannya pemimpin yang tidak hanya kuat, tetapi juga penuh kasih sayang terhadap umatnya.

*➡ Kisah Selanjutnya: Bagaimana kehidupan Rasulullah ﷺ saat mulai tumbuh remaja? Ujian demi ujian terus datang… Bagaimana perjuangan beliau sebelum menjadi nabi?*

*📚 Sumber Rujukan:*
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah, Jilid 1
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra, Jilid 1
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 2
4. HR. Muslim, No. 976

1 komentar:

  1. Tulisan ini dan berikutnya seputar Kisah Rasulillah SAW merupakan copast dari postingan teman dari penulis yang anonim di grup WA. Saya salin secara utuh hanya sekedar editing bentuk font dan sejeninsya dan saya posting ulang di sepanjang bulan Maulid, insya Allah, hanya sekedar berharap syafa'at Rasulillah SAW. Dan kepada penulis aslinya yang tidak disebutkan identitasnya diucapkan terima kasih dan semoga berkah selalu...

    BalasHapus

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...