8 Ramadhan 1447 H
Untuk membiasakan diri pada kebaikan, ada
kalanya kita memerlukan inspirasi dari kisah-kisah yang patut diteladan.
Terlebih lagi, dalam melaksanakan pelbagai ibadah pada bulan suci Ramadhan.
Penyemangat untuk kita lebih tekun lagi beramal saleh kiranya cukup perlu.
Di tengah kaum Muslimin umumnya, kalangan
alim ulama merupakan sumber keteladanan. Mulai dari zaman dahulu hingga kini,
mereka bagaikan mata air yang menyejukkan. Tentu saja, suri teladan paripurna
adalah Nabi Muhammad SAW. Darinya, memancar segala contoh kebaikan.
Berikut ini kisah orang-orang saleh ketika
mereka menghabiskan waktunya selama bulan suci Ramadhan. Seorang sahabat
Nabi SAW, Abdullah bin Umar, diketahui biasa berbuka puasa dengan anak-anak
yatim dan kaum miskin. Begitu pentingnya memakan takjil bersama-sama dengan
mereka, sampai-sampai ia pernah menasihati keluarganya agar terus
melanjutkan tradisi itu.
Di antara para sahabat, Ibnu Umar termasuk
kaya raya. Harta dari perniagaannya yang sukses tidak membuatnya lupa diri.
Justru, penghasilannya banyak dialokasikan untuk bersedekah. Mengenai
kedermawanannya, Ayub bin Wail ar-Rasibi pernah memberikan kesaksian. “Pada
suatu hari bulan Ramadhan,” tuturnya, “Ibnu Umar mendapat kiriman harta
senilai empat ribu keping dirham. Ada pula satu baju bagus di antara kiriman
hadiah itu.”
Yang mengherankan Ayub adalah, ternyata
keesokan harinya ia berpapasan dengan Ibnu Umar. Sang sahabat Nabi justru
berutang kepada seorang pedagang untuk bisa membeli pakan kudanya. Mengapa
harus utang? Pakai saja dana yang kemarin diterimanya sebagai hadiah?
Karena penasaran, Ayub langsung datang
menemui keluarga Ibnu Umar. Maka seorang penghuni rumah sang sahabat memberi
tahu. Benar bahwa uang dalam jumlah banyak itu telah diterima Ibnu Umar. Namun,
tidak semalam pun harta tersebut “menginap” di rumah ini.
Sebab, semua dirham itu sudah
dibagi-bagikannya kepada kaum fakir dan miskin. Bahkan, Ibnu Umar juga
memberikan baju indah yang diterimanya hari itu kepada orang papa. “Saat kami
tanyakan, ia menjawab sembari tersenyum, ‘Baju dan semua uang itu sudah saya
sedekahkan,’” kata seorang penghuni rumah Ibnu Umar.
Begitulah cara Ibnu Umar
menjalani Ramadhan. Teladan yang juga mempesona ditunjukkan seorang
tabiin, yakni Qatadah as-Sadusi. Murid Imam Malik itu memiliki disabilitas pada
kedua matanya. Walaupun buta, ahli hadis dari Kota Basrah ini tidak patah arang.
Di luar Ramadhan, ia rutin mengkhatamkan Alquran sepekan
sekali. Selama bulan
suci, durasi khatamnya itu lebih pendek, yakni tiga hari sekali. Bahkan, saat
10 hari terakhir Ramadhan, sehari sekali ditamatkannya bacaan Alquran.
Kitabullah dan Ramadhan—keduanya tak terpisahkan. Salafush shalih sangat
menjaga interaksi mereka dengan Alquran tatkala bulan puasa. Ibnu Syihab
az-Zuhri, misalnya. Ulama yang hafal 2.200 hadis itu tinggal di Syam. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz,
dialah alim terbesar di kawasan tersebut.
Pada hari-hari biasa, kesibukannya terpusat
di masjid dan majelis-majelis ilmu. Di sepanjang Ramadhan, Ibnu Syihab
total berkonsentrasi pada mengaji Alquran. Ditinggalkannya untuk sebulan penuh
itu kegiatan di luar tadarus, semisal mengunjungi ulama atau membacakan hadis
kepada murid.
Imam Syafii pun demikian. Rutinitas yang
dijalaninya tidak lepas dari mengajar, menulis, dan ibadah mahdhah. Ar-Rabi
pernah mengatakan, “Imam Syafii selalu membagi waktu malamnya menjadi tiga
bagian. Sepertiga pertama digunakannya untuk menulis. Sepertiga yang kedua
dipakainya untuk shalat. Adapun yang terakhir untuk tidur.”
Begitu memasuki bulan suci Ramadhan,
kesehariannya lebih tercurah pada Alquran. Selama bulan
kesembilan dalam penanggalan Hijriyah itu, ia sering menamatkan bacaan
Kitabullah. Bahkan, khatamnya itu sampai 60 kali selama Ramadhan. Caranya
dengan mengkhatamkan satu kali tiap siang hari, lalu sekali lagi pada malam
hari. Perhitungan itu masih meluarkan yang dibacanya dalam shalat.
Semoga kita semua diberi petunjuk dan hidayah oleh Allah Ta’ala
agar dimampukan untuk mengikuti contoh mereka. Ramadhan bulan mulia.
Janganlah momen luar biasa terlewati sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar