7 Ramadhan 1447 H
Dalam kitab An Nawadir Hikayah ke-15
dikisahkan tentang keutamaan ibadah puasa ramadan dan puasa enam
hari di bulan syawal, Nabi Muhammad SAW menjelaskan:
مَن صامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ
الدَّهْرِ
“Siapa yang berpuasa di bulan ramadhan
dan puasa enam hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.”
(HR. Muslim)
Sufyan al-Tsauri, seorang sufi, memiliki
pengalaman tentang keutamaan puasa ramadan dan syawal ini. Di suatu siang, ada
seorang pemuda penduduk Mekkah datang ke Masjidil Haram. Ia mengerjakan thawaf
dan shalat dua raka’at. Ia juga bertemu dengan Sufyan. Setelah mengucapkan
salam kepada Sufyan, pemuda itu kembali ke kediamannya. Atas kejadian itu,
Sufyan merasa cinta dan merasa bersahabat dengan pemuda itu. Sufyan juga
bingung dengan perasaannya itu. Suatu ketika, pemuda itu jatuh sakit. Lantas,
ia memanggil Sufyan dan berkata kepadanya:
“Sufyan, jika nanti aku telah tiada, aku
meminta pertolongan kepadamu untuk sudi kiranya engkau memandikan dan
menguburku,” pinta pemuda tadi kepada Sufyan.
“Aku juga memintamu agar engkau menalqin
aku dengan kalimat tauhid agar aku bisa menjawab pertanyaan yang diajukan
malaikat Munkar dan Nakir. Serta engkau tidak meninggalkan kuburanku di malam
pertama aku sana (kuburan),” tambahnya.
Sufyan pun menyanggupinya. Hingga, suatu
hari, pemuda itu benar-benar dipanggil ke hadirat Ilahi. Innalillahi wa inna
ilaihi raji’un, Sufyan mengerjakan apa yang menjadi permohonan pemuda itu
kepada dirinya Di malam pertama ia di kuburan, ia benar-benar menjaganya.
Hingga, suatu saat, ketika ia berada dalam keadaan antara tidur dan terjaga, ia
mendengar sebuah suara dari atas yang memanggil dan berkata kepadanya:
يَا سُفْيَانُ لَا حَاجَةَ لَهُ اِلَى حِفْظِكِ وَلَا اِلَى تَلْقِيْنِكَ وَلَا
اِلَى أنْسِكَ لِأَنَّا اّنَسْنَاهُ وَلَقّّنَّاهُ
“Sufyan, engkau tak perlu mengerjakan semua itu. Engkau tak perlu menjaga, menalqin, dan
menghiburnya. Karena Aku sendiri lah yang melakukannya,” kata suara yang tanpa rupa itu.
بِمَاذَا؟
“Karena
amal perbuatan apa sehingga ia bisa mendapat keistimewaan seperti itu?,”
tanya Sufyan keheranan.
بِصِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَاِتْبَاعِهَ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّال
“Berkah puasa ramadhan dan puasa 6 hari
di bulan Syawal yang ia kerjakan,” jawab suara itu.
Di saat ia terbangun dari tidur, ia merasa
aneh karena ia tak melihat dan menemukan satu orang pun di sekelilingnya. Akhirnya, ia mengambil air wudlu dan mengerjakan shalat. Selepas
itu tidur lagi. Anehnya, ia mengalami dan mendengar hal yang sama seperti peristiwa yang
pertama tadi (ada suara tanpa rupa yang berbicara dengannya tentang keadaan
pemuda itu). Sufyan mengalami hal serupa itu selama tiga kali. Hingga akhirnya,
ia meyakini bahwa suara itu bukan dari setan, namun dari Allah Swt. Ia pun
lantas meninggalkan kuburan pemuda itu sembari berdoa:
اَلَّلهُمَّ وَفِّقنْيِ ْلِصِيَامِ ذلِكَ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ. امين
Ya, Allah, aku memohon kepadaMu,
anugerahkan kepadaku kemampuan untuk mengerjakan puasa-puasa itu dengan
anugerah dan kemuliaanMu. Amin.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar