Minggu, 31 Agustus 2025

COBAAN PERTAMA SEBAGAI RASUL DAN KASIH SAYANG YANG TAK BERTEPI

 8 Rabi'ul Awwal 1447 H


Wahyu Kedua dan Tugas Besar sebagai Rasul

Setelah kejadian di Gua Hira, Muhammad masih merasa gemetar setiap kali mengingat suara yang ia dengar. Namun, hatinya kini mulai tenang berkat dukungan penuh dari Khadijah.

Suatu hari, ketika ia sedang duduk merenung, tiba-tiba Malaikat Jibril kembali datang kepadanya.

"Wahai Muhammad, bangkitlah dan sampaikan peringatan!"

Kemudian turunlah ayat:

"Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu!" [ QS. Al-Muddassir: 1-3 ]

Inilah perintah Allah kepada Muhammad untuk mulai berdakwah.

Namun, perjalanan ini tidaklah mudah…

 

Kasih Sayang Rasulullah untuk Keluarga di Tengah Cobaan

Sejak wahyu turun, Muhammad mulai menyampaikan pesan tauhid secara sembunyi-sembunyi. Orang-orang terdekatnya adalah yang pertama beriman:

* Ali bin Abi Thalib sepupu yang masih kecil namun sangat percaya kepadanya.
* Khadijah istri tercinta yang selalu mendukungnya.
* Abu Bakar sahabat setia yang akan menjadi pendukung utama.

Di tengah beratnya dakwah, Rasulullah tidak pernah melupakan keluarganya. Ia tetap menjadi suami yang penuh cinta dan ayah yang penyayang.

Setiap kali ia pulang dalam keadaan lelah, Khadijah selalu menyambutnya dengan senyuman.

Wahai suamiku, engkau telah bekerja keras… Beristirahatlah, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu."

Muhammad memandang istrinya dengan penuh kasih.

"Engkau adalah anugerah terbesar dalam hidupku, wahai Khadijah…" bisiknya lembut.

Di rumah, Rasulullah selalu meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anaknya. Ia menggendong Fatimah kecil, mendekapnya dengan penuh cinta.

"Anakku, engkau akan menjadi wanita yang penuh keberkahan…" ucapnya sambil mencium keningnya.

Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum pun selalu mendapat perhatian. Rasulullah bukan hanya seorang nabi, tetapi juga seorang ayah yang penyayang.

 

Perlawanan dari Kaum Quraisy

Namun, kebahagiaan di rumah tidak menghilangkan fakta bahwa kaum Quraisy mulai menentangnya.

Ketika Rasulullah mulai berdakwah secara terang-terangan, pemuka Quraisy murka.

"Muhammad telah menghina berhala kita! Ia mengancam tradisi nenek moyang kita!" teriak mereka.

Tantangan semakin berat. Orang-orang mulai mencemoohnya, melemparinya dengan batu, bahkan merencanakan sesuatu yang lebih buruk…

 

Dukungan Tanpa Batas dari Khadijah

Saat Rasulullah kembali ke rumah dengan wajah penuh debu setelah dilempari oleh kaum Quraisy, Khadijah segera menyambutnya.

"Ya Rasulullah, mereka tidak akan bisa menyakitimu… Aku akan selalu bersamamu…" katanya sambil menghapus debu dari wajah suaminya.

Muhammad menatap istrinya penuh cinta.

"Engkau adalah cahaya dalam hidupku, wahai Khadijah…"

Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat, seolah ingin mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah selama ada Khadijah di sisinya.

 

Perlakuan Lembut kepada Anak-anaknya

Meski menghadapi tekanan dari masyarakat, Rasulullah tetap menjadi ayah yang penuh kelembutan.

Saat Fatimah melihat ayahnya pulang dalam keadaan terluka, air matanya mengalir.

"Ayah, siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanyanya sedih.

Muhammad tersenyum dan mengusap kepala putrinya.

"Jangan menangis, putriku… Allah selalu bersamaku…"

Fatimah kecil mendekap ayahnya erat, berusaha menghiburnya.

Di tengah badai yang menerpa, Rasulullah tetap berdiri teguh. Bersama Khadijah dan anak-anaknya, ia menemukan kekuatan.

Namun, ujian yang lebih besar masih menanti…

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Rasulullah menghadapi penyiksaan Quraisy? Bagaimana keteguhan Khadijah dan anak-anaknya dalam mendukungnya?*_

 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Sabtu, 30 Agustus 2025

KEHIDUPAN RUMAH TANGGA DAN TANDA-TANDA KENABIAN

7 Rabi'ul Awwal 1447 H 


Kehidupan Bersama Khadijah

Setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Muhammad menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh ketenangan dan kasih sayang.

Khadijah bukan hanya seorang istri, tetapi juga sahabat, penopang, dan penyemangat terbesar dalam hidup Muhammad .

Di rumahnya, Muhammad merasakan kedamaian yang jarang ia rasakan sejak kecil. Ia tidak lagi merasa kehilangan sosok yang menyayanginya. Khadijah selalu ada untuknya, memahami dan mendukungnya dalam segala hal.

"Wahai suamiku, engkau adalah manusia paling jujur dan berakhlak mulia. Aku bersyukur Allah mempertemukan kita…" ucap Khadijah suatu malam.

Muhammad tersenyum, membalas dengan penuh ketulusan.

 

Menjadi Seorang Ayah

Allah memberikan kebahagiaan lain dalam kehidupan rumah tangga Muhammad dengan hadirnya anak-anak. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai enam orang anak:

1. Qasim,  anak pertama yang wafat saat masih kecil.
2. Zainab,  putri sulung yang penuh kasih sayang.
3. Ruqayyah, lembut dan penyabar.
4. Ummu Kultsum, memiliki akhlak mulia seperti ibunya.
5. Fatimah, anak bungsu yang paling mirip dengan ayahnya.
6. Abdullah, juga wafat saat masih kecil.

Namun, meski dianugerahi kebahagiaan, Muhammad juga harus merasakan kesedihan yang mendalam.

Ketika Qasim dan Abdullah meninggal, hati Muhammad tersayat. Ia memandang jenazah anaknya dengan mata yang basah.

"Ya Allah… hanya kepada-Mu aku berserah…" bisiknya dalam hati.

Khadijah pun menangis, namun tetap tegar di sisi suaminya.

"Allah lebih menyayangi mereka, wahai suamiku…" katanya sambil menggenggam tangan Muhammad dengan lembut.

Muhammad mengangguk. Ia menerima takdir Allah dengan penuh ketabahan.

 

Tanda-Tanda Kenabian Mulai Tampak

Seiring bertambahnya usia, Muhammad semakin sering merenung. Ia merasa ada sesuatu yang besar menanti dirinya, sesuatu yang ia sendiri belum memahami sepenuhnya.

Hatinya gelisah melihat kebiasaan buruk kaumnya:
Mereka menyembah berhala.
Mereka memperlakukan anak perempuan dengan hina.
Mereka menindas yang lemah.
Muhammad
merasa muak dengan semua itu.

Ia mulai sering mengasingkan diri ke Gua Hira, tempat yang sunyi di puncak Jabal Nur. Di sana, ia beribadah, merenung, dan mencari ketenangan.

Malam-malam panjang ia habiskan dalam kesendirian. Suara angin gurun menemani zikirnya.

Hingga suatu malam, sesuatu yang luar biasa terjadi…

 

Pertemuan Pertama dengan Malaikat Jibril

Di dalam kegelapan gua, tiba-tiba Muhammad dikejutkan oleh sebuah suara.

"Iqra’…!" (Bacalah!)

Muhammad terkejut. Ia melihat sosok bercahaya yang memenuhi gua. Tubuhnya gemetar.

"Aku tidak bisa membaca…" jawabnya ketakutan.

Sosok itu mendekapnya dengan erat, lalu mengulang lagi,

"Iqra’…!"

Muhammad semakin bingung dan ketakutan.

"Aku tidak bisa membaca…" ucapnya lagi.

Untuk ketiga kalinya, sosok itu kembali mendekapnya dengan kuat, lalu berkata:

"Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq… Khalaqal insana min ‘alaq… Iqra’ wa rabbukal akram…"

(Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah… Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah…)

Mendengar ayat itu, tubuh Muhammad lemas. Ia merasa jiwanya terguncang.

 

Ketakutan dan Pelukan Penuh Kasih dari Khadijah

Dengan tubuh gemetar, Muhammad segera berlari turun dari gunung. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Begitu tiba di rumah, ia langsung memeluk Khadijah.

"Selimuti aku… Selimuti aku…" ucapnya dengan suara bergetar.

Khadijah segera menyelimuti suaminya dan menenangkan hatinya.

"Apa yang terjadi, wahai suamiku?" tanyanya lembut.

Muhammad menceritakan semuanya. Matanya masih dipenuhi rasa takut dan kebingungan.

Namun, Khadijah tidak ragu sedikit pun. Ia menggenggam tangan suaminya erat dan berkata,

"Demi Allah, engkau tidak akan ditinggalkan oleh-Nya. Engkau selalu jujur, menyambung silaturahmi, menolong orang miskin, dan menegakkan keadilan…"

"Tenanglah, wahai suamiku. Aku percaya ini adalah sesuatu yang besar…"

Khadijah lalu membawa Muhammad menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab yang sudah tua dan buta.

Setelah mendengar cerita Muhammad , Waraqah berkata,

"Demi Allah, ini adalah Malaikat Jibril yang pernah datang kepada Nabi Musa…"
"Engkau adalah nabi umat ini, wahai Muhammad…"

 Muhammad terkejut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Allah telah memilihnya sebagai utusan-Nya.

 Namun, inilah awal dari perjalanan besar… perjalanan yang akan mengubah dunia selamanya.

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad menghadapi wahyu pertama? Bagaimana tantangan yang ia hadapi setelah diangkat menjadi Rasul?_*

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim


Jumat, 29 Agustus 2025

AL-AMIN: PEMUDA YANG DIPERCAYA

 6 Rabi'ul Awwal 1447 H

Tumbuh dengan Akhlak yang Mulia

Seiring berjalannya waktu, Muhammad semakin dikenal sebagai pemuda yang jujur dan amanah. Ia tidak pernah berkata dusta, tidak pernah mengkhianati orang lain, dan selalu menepati janji.

Di pasar Makkah, orang-orang mulai memperhatikannya. Ia berbeda dari para pedagang lain yang sering curang dan menipu pembeli. Muhammad selalu memberikan takaran yang pas dan tidak pernah mengambil keuntungan yang tidak halal.

"Muhammad adalah pemuda yang berbeda…" bisik para penduduk Makkah satu sama lain.

"Ia tidak seperti kebanyakan orang…"

Lama-kelamaan, semua orang mulai memanggilnya dengan gelar Al-Amin -orang yang terpercaya. Sebuah gelar yang tidak diberikan kepada sembarang orang.

 

Kisah Kejujuran yang Menggetarkan Hati

Suatu hari, seorang saudagar kaya mempercayakan sejumlah uang kepada Muhammad untuk suatu urusan dagang. Namun, saudagar itu tiba-tiba meninggal sebelum sempat mengambil kembali uangnya.

Muhammad merasa bertanggung jawab. Ia pun mencari keluarga saudagar tersebut untuk mengembalikan harta yang dititipkan kepadanya.

Saat keluarga itu menerima uang tersebut, mereka terharu hingga meneteskan air mata.

"Sungguh, engkau benar-benar Al-Amin… Tidak ada yang sejujur engkau di kota ini…" ucap mereka dengan penuh rasa hormat._

Muhammad hanya tersenyum, karena baginya, kejujuran adalah hal yang tidak bisa ditawar.

 

Pertemuan dengan Khadijah binti Khuwailid

Kejujuran dan amanah Muhammad akhirnya sampai ke telinga seorang wanita bangsawan Quraisy bernama Khadijah binti Khuwailid.

Khadijah adalah seorang wanita terpandang, cerdas, dan kaya. Ia sering menjalankan perdagangan ke negeri-negeri jauh, tetapi sulit menemukan orang yang benar-benar dapat dipercaya untuk mengurus perdagangannya.

Maka, ia pun mengutus seseorang untuk memanggil Muhammad .

"Wahai Muhammad, aku mendengar banyak hal baik tentangmu. Aku ingin kau mengurus perdaganganku ke negeri Syam. Aku akan membayarmu lebih banyak dari siapa pun sebelumnya…"

Muhammad menerima tawaran itu dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak tertarik pada harta, tetapi ingin membantu dengan kejujurannya.

 

Perjalanan Dagang yang Mengubah Segalanya

Bersama seorang pembantu Khadijah yang bernama Maisarah, Muhammad berangkat ke Syam. Dalam perjalanan, Maisarah memperhatikan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Muhammad .

Ia melihat betapa jujurnya Muhammad dalam berdagang. Tidak pernah sekalipun ia menipu atau berbuat curang. Bahkan, banyak pedagang yang rela berbisnis dengannya karena kejujurannya.

Ketika kembali ke Makkah, Maisarah segera menemui Khadijah dan berkata,

"Wahai tuanku, belum pernah aku melihat seseorang seperti Muhammad. Ia jujur, sabar, dan penuh kebijaksanaan. Bahkan, ada pedagang yang berkata bahwa awan selalu menaunginya di bawah terik matahari…"

Khadijah terdiam. Hatinya mulai tergerak.

 

Sebuah Cinta yang Tulus

Setelah mendengar kisah Muhammad , Khadijah semakin mengagumi akhlaknya. Ia tahu bahwa di Makkah, tidak ada laki-laki sebaik Muhammad .

Setelah beberapa waktu, dengan perantaraan seorang sahabatnya, Khadijah mengirimkan pesan kepada Muhammad bahwa ia ingin menikah dengannya.

Awalnya, Muhammad merasa ragu karena Khadijah lebih tua darinya. Namun, setelah bermusyawarah dengan pamannya, Abu Thalib, akhirnya ia menerima lamaran itu.

Maka, di usia 25 tahun, Muhammad menikahi Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita yang kelak menjadi pendamping setianya dalam suka dan duka.

 

Kisah Selanjutnya : Bagaimana kehidupan rumah tangga Muhammad bersama Khadijah? Bagaimana ia mulai menerima tanda-tanda kenabian?


 اللهم صل وسلم وبارك علي سيدنا محمد

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. MMusli

Kamis, 28 Agustus 2025

MASA REMAJA YANG PENUH PERJUANGAN

 5 Rabi'ul Awwal 1447 H


Menjalani Kehidupan Tanpa Kakek

Setelah kehilangan ibunya, Muhammad menemukan kasih sayang dalam pelukan kakeknya, Abdul Muthalib. Orang tua itu sangat mencintai cucunya yang yatim piatu. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Dua tahun setelah kepulangan Muhammad ke Makkah, Abdul Muthalib jatuh sakit.
 
Muhammad yang saat itu berusia delapan tahun selalu berada di sisi kakeknya. Ia menggenggam tangan lelaki tua itu dengan penuh kasih sayang.
 
"Cucuku, kau adalah amanah yang paling berharga bagiku…" suara Abdul Muthalib terdengar lemah.
 
"Kakek… jangan tinggalkan aku…" Muhammad menatapnya dengan mata penuh kesedihan.
 
Namun, takdir Allah telah ditetapkan. Abdul Muthalib menghembuskan napas terakhirnya di hadapan Muhammad . Tangis lirih bocah delapan tahun itu pecah. Ia merasa kehilangan lagi, kali ini sosok yang sangat menyayanginya setelah ibunya.
 
Jenazah Abdul Muthalib dimakamkan dengan penuh penghormatan. Sejak saat itu, tanggung jawab menjaga Muhammad jatuh ke tangan pamannya, Abu Thalib.
 
Tinggal Bersama Abu Thalib
 
Abu Thalib adalah saudara kandung ayah Muhammad . Meskipun tidak kaya, ia adalah orang yang sangat dermawan dan penuh kasih sayang. Ia menerima Muhammad dengan hati terbuka, memperlakukannya layaknya anak sendiri.
 
Suatu malam, Abu Thalib melihat Muhammad tertidur tanpa selimut. Dengan lembut, ia menyelimutinya, lalu membisikkan doa,
 
"Ya Allah, lindungilah anak ini… Aku akan menjaganya dengan seluruh hidupku…"
 
Di rumah Abu Thalib, Muhammad tumbuh dengan penuh akhlak yang luhur. Ia sering membantu pekerjaan rumah, tidak pernah menyusahkan keluarganya, dan selalu berusaha membuat orang-orang di sekitarnya nyaman.
 
Namun, kehidupan tidaklah mudah. Abu Thalib memiliki banyak anak dan keadaan ekonomi mereka cukup sulit. Muhammad memahami kondisi ini dan bertekad untuk tidak menjadi beban.
 
Belajar Bekerja di Usia Muda
 
Sejak kecil, Muhammad tidak pernah tinggal diam. Ia mulai membantu mencari nafkah dengan menggembalakan kambing di padang pasir Makkah.
 
Dalam keheningan padang pasir, ia merenung, mengamati bintang-bintang di langit, dan menikmati ketenangan yang menyejukkan hatinya.
 
"Gembala adalah pekerjaan para nabi…" ucapnya dalam hati.
 
Meskipun pekerjaannya terlihat sederhana, dari sinilah Muhammad belajar banyak hal: kesabaran, ketelitian, dan tanggung jawab. Ia juga semakin mengenal alam dan merenungi ciptaan Allah.
 
Suatu hari, Abu Thalib melihat Muhammad pulang dengan membawa kambing-kambing dalam kondisi baik. Ia tersenyum bangga,
 
"Engkau memang anak yang luar biasa, Wahai keponakanku… Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan padamu."
 
Muhammad membalas senyuman pamannya, merasa bersyukur atas semua kasih sayang yang diberikan kepadanya.
 
Mengikuti Perdagangan ke Syam
 
Ketika Muhammad menginjak usia dua belas tahun,  Abu Thalib bersiap untuk melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam (Suriah). Muhammad yang penuh rasa ingin tahu memohon agar ia diperbolehkan ikut serta.
 
Pamanku, izinkan aku ikut bersamamu… Aku ingin belajar tentang dunia perdagangan…" pintanya dengan penuh harap.
 
Abu Thalib awalnya ragu. Perjalanan ke Syam sangatlah jauh dan penuh tantangan. Namun, melihat semangat keponakannya, ia pun mengizinkannya.
 
Di perjalanan, Muhammad melihat berbagai macam budaya, pedagang dari berbagai negeri, dan suasana pasar yang ramai. Ia belajar bagaimana cara berdagang dengan jujur dan amanah.
 
Namun, dalam perjalanan itu pula, terjadi sebuah peristiwa yang mengejutkan…
 
Ketika kafilah dagang mereka tiba di Bushra-Syam, seorang pendeta bernama Buhaira memperhatikan Muhammad dengan penuh perhatian. Ia melihat tanda-tanda kenabian dalam diri anak muda itu.
 
Buhaira berkata kepada Abu Thalib,
 
"Anak ini memiliki cahaya kenabian. Aku melihat tanda-tanda yang sama seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab suci… Jagalah dia baik-baik…"
 
Abu Thalib terkejut. Ia semakin menyadari bahwa keponakannya bukanlah anak biasa.
 
Setelah perjalanan panjang itu, Muhammad kembali ke Makkah dengan pengalaman baru dan semakin matang dalam memahami kehidupan.
 
Namun, perjalanan hidupnya masih panjang…
 
Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad tumbuh menjadi pemuda jujur dan terpercaya? Bagaimana ia mulai dikenal dengan gelar Al-Amin?
 
Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Rabu, 27 Agustus 2025

KEHILANGAN KAKEK TERCINTA

 4 Rabi'ul Awwal 1447 H

Kasih Sayang Abdul Muthalib

Setelah kehilangan ibunya di Abwa’, Muhammad kembali ke Makkah dalam keadaan yang sangat sedih. Matanya masih menyisakan air mata, dan hatinya terasa begitu hampa. Satu-satunya yang ia miliki kini hanyalah kakeknya, Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy yang sangat dihormati.

Saat Muhammad tiba di rumah kakeknya, Abdul Muthalib segera memeluknya erat. Ia membelai kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.

"Cucuku… Aku tahu kau telah kehilangan banyak hal dalam hidupmu… Tapi aku berjanji, aku akan selalu menjagamu…"

Sejak saat itu, Muhammad menjadi anak yang sangat dekat dengan kakeknya. Ia selalu berada di sisinya, duduk di sampingnya saat Abdul Muthalib duduk di sekitar Ka’bah. Orang-orang Quraisy biasa melihat pemandangan itu seorang pemimpin yang begitu mencintai cucunya lebih dari siapa pun.

Ketika orang-orang Quraisy berusaha menyingkirkan Muhammad dari tempat duduk Abdul Muthalib, ia langsung mencegah mereka.

"Jangan usik cucuku! Biarkan ia duduk di sampingku… Ia bukan anak biasa…" kata Abdul Muthalib dengan tegas.

Muhammad tumbuh dalam naungan kasih sayang kakeknya. Setiap hari, ia mendengar kisah-kisah tentang kebaikan dan kebijaksanaan dari Abdul Muthalib. Ia mulai belajar tentang kehidupan, tentang kehormatan, dan tentang arti menjaga amanah.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama…

Wafatnya Abdul Muthalib

Di usia delapan tahun, Muhammad harus menghadapi ujian berat lagi. Kakeknya, yang selama ini menjadi pelindungnya, jatuh sakit. Tubuh Abdul Muthalib mulai melemah. Wajahnya yang dulu gagah, kini terlihat letih. Muhammad selalu berada di sisinya, menggenggam tangannya, seolah-olah ingin menahan waktu agar tidak merenggut orang yang ia cintai lagi.

Suatu hari, di tempat tidurnya, Abdul Muthalib menatap cucunya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Muhammad… cucuku yang kusayangi… Aku mungkin tak bisa menemanimu lebih lama…"
 
Muhammad hanya diam. Dadanya terasa sesak. Ia tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai lagi.

"Jangan pergi, Kakek… Aku masih ingin bersamamu…"  suaranya lirih, nyaris bergetar.

 Abdul Muthalib tersenyum lemah. Ia mengusap kepala cucunya dengan lembut.

"Anakku… kau harus kuat… Kau akan menjadi seseorang yang besar… Aku yakin, Allah telah menyiapkan jalan yang indah untukmu…"

Air mata menetes di pipi Muhammad . Ia menggenggam erat tangan kakeknya, tetapi takdir tidak bisa diubah. Tak lama setelah itu, Abdul Muthalib menghembuskan napas terakhirnya.

Muhammad kini benar-benar seorang yatim piatu yang sebatang kara.

 

Berpindah ke Asuhan Abu Thalib

Setelah wafatnya Abdul Muthalib, Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.  Ia adalah saudara kandung ayahnya, Abdullah, dan merupakan seseorang yang sangat baik hati.


Saat Muhammad memasuki rumah Abu Thalib, ia disambut dengan hangat oleh bibinya, Fatimah binti Asad. Wanita itu melihat wajah Muhammad yang penuh kesedihan dan segera mendekapnya.

"Nak… Jangan bersedih. Mulai sekarang, kau adalah bagian dari keluarga kami…"

Abu Thalib pun memegang bahu Muhammad dengan lembut. 

"Aku akan menjagamu, Muhammad… Seperti aku menjaga anak-anakku sendiri…"

Meski hatinya masih berduka, Muhammad merasa sedikit tenang karena mendapatkan kasih sayang dari paman dan bibinya. Namun, kehidupan di rumah Abu Thalib tidaklah mudah.

Pamannya bukanlah orang kaya. Abu Thalib memiliki banyak anak, dan kehidupan mereka cukup sulit. Namun, meskipun hidup dalam kesederhanaan, Muhammad tetap mendapatkan kasih sayang yang besar dari keluarganya.

Setiap hari, ia membantu pekerjaan rumah, menggembala kambing, dan belajar bagaimana hidup dengan penuh kesabaran. Ia mulai memahami arti kerja keras dan tanggung jawab sejak usia yang sangat muda.

Namun, ujian demi ujian masih belum berakhir…


Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad menjalani masa remajanya? Bagaimana ia mulai bekerja dan belajar tentang kehidupan?

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Urgensi Sholat: Tiang Agama dan Kunci Keberkahan Hidup

 27 Rajab 1447 H 1. Sholat sebagai Identitas Utama Seorang Muslim Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan pembeda utama antara seorang muk...