23 Rabiu'ul Awwal 1557 H
Sya’ban, Sahabat Nabi yang Menyesal Saat Sakaratul Maut
Sya’ban, salah seorang shabat yang namanya tidaklah menonjol
layaknya para sahabat yang lainnya, seperti Abu Bakar, Umar bin Khatthab,
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan lainnya.
Tidak seperti sahabat yang lainnya yang mebangun
rumah di sekitaran Masjid Nabawi dan rumah Nabi agar bisa terus mengikuti
shalat lima waktu bersama Nabi Muhammad, bergabung dalam majelis ilmu dan
hikmah yang diselenggarakan Nabi, dan lain sebagainya. Namun t Sya’ban memilih
memilih rumahnya berjauhan n bahkapaling jauh dari rumah Nabi Muhammad SAW
dan Masjid Nabawi.
Disebutkan bahwa jarak rumah Sya’ban dengan
Masjid Nabawi atau rumah Rasulullah SAW adalah kira-kira tiga jam dengan
berjalan kaki. Meski demikian, Sya’ban tidak pernah ketinggalan shalat
berjamaah bersama Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Sya’ban
bahkan selalu datang paling awal dibandingkan sahabat yang lain. Ia selalu
mengambil di posisi bagian pojok masjid ketika shalat dan i’tikaf. Alasannya,
dengan duduk di bagian pojok masjid ia tidak ingin mengganggu sahabat yang
datang kemudian. Oleh sebab itu, ia selalu datang pertama agar untuk tidak
ketinggalan, walau satu rakaat saja, shalat berjamaah bersama Nabi Muhammad SAW.
Rupanya, kabar Sya’ban –yang berjalan tiga jam dari rumahnya ke
Masjid Nabawi- sampai ke telinga Ubay bin Ka’ab. Seorang mantan
pendeta Yahudi yang memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW. Karena
kasihan, Ubay bin Ka’ab menyarankan Sya’ban agar membeli seekor keledai agar
perjalanannya lebih cepat dan kakinya tidak sakit.
“Demi Allah, aku tak senang kalau rumahku berdekatan dengan rumah
Rasulullah. Aku lebih suka tinggal di sebuah rumah yang jauh dari rumah
beliau,” Jawaban Sya’ban kepada Ubay bin Ka’ab.
Ubay bin Ka’ab kaget dengan jawaban Sya’ban. Kemudian ia melaporkan
kejadian itu kepada Rasulullah SAW. Tidak lama berselang, akhirnya Rasulullah
SAW mengonfirmasi kepada Sya’ban mengapa ia tidak suka tinggal
dengannya. Sya’ban mengungkapkan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah
bersabda bahwa setiap langkah seseorang yang menuju masjid, maka satu dosanya
akan diampuni atau derajatnya dinaikkan satu peringkat. Itulah
yang membuat Sya’ban ingin rumahnya jauh dari rumah Nabi Muhammad SAW yang
bersebelahan dengan Masjid Nabawi. Tidak lain, ia ingin agar langkahnya ke
Masjid Nabawi banyak, sehingga dosa-dosanya diampuni dan derajatnya
diangkat.
Sahabat Sya’ban memiliki kebiasaan unik yang selalu beliau jalani
sepanjang hidupnya.
Suatu ketika, Sya’ban tidak ada di posisi
tempat ia biasa beri’tikaf. Rasulullah SAW yang hendak memulai shalat shubuh
berjamaah pun mulai bertanya-tanya:
“dimana Sya’ban berada? Kok tidak biasanya?”\
Namun tidak ada seorang pun yang melihat
Sya’ban yang menyebabkan shalat jamaah pun ditunda beberapa saat. Setelah
beberapa waktu tidak ada tanda-tanda kehadiran Sya’ban, Rasulullah SAW-pun
segera melaksanakan jamaah shalat subuh. Rasulullah SAW khawatir jika terlalu
lama menunggu, shalat subuh berjamaah akan terlaksana terlalu siang.
Wafatnya Sya’ban
Selesai melaksanakan jamaah, Rasulullah SAW-pun
bertanya kepada para sahabat yang hadir dalam jamaah shalat subuh itu:
“Ada yang tahu dimana rumah Sya’ban?”
Salah seorang sahabat mengetahui dimana
persisnya letak rumah sahabat Sya’ban. Khawatir terjadi sesuatu terhadap
Sya’ban, Rasulullah meminta agar diantarkan ke tempat kediaman Sya’ban kala
itu. Dengan segera rombongan Rasulullah SAW bersama para sahabat pergi untuk
datang ke rumah Sya’ban. Perjalanan ditempuh amat panjang, hingga jarak
antara masjid menuju lokasi kira-kira ditempuh mulai setelah shalat shubuh
sampai waktu afdhal untuk melaksanakan shalat dhuha. (kisaran 2 jam perjalanan)
Sesampainya di depan rumah, Rasulullah SAW-pun
mengucap salam sambil mengetuk pintu. Kemudian, keluarlah seorang wanita sambil
membalas salam serta membukakan pintu. Rasulullah bertanya:
“Benarkah ini rumah Sya’ban?”.
Wanita itu menjawab: “Iya, saya
istrinya.”
Rasulullah kembali bertanya: “Bisa kah kami bertemu dengan Sya’ban? Tadi
pagi beliau tidak hadir waktu jamaah shalat subuh bersama kami.”
Wanita itu menjawab sambil menitikkan air
mata di pipinya:
“Mohon maaf ya Rasulallah. Beliau sudah
meninggal pagi tadi, tepat sebelum adzan subuh. “Innalillahi wa inna ilaihi
rajiun”.
Penyesalan Sya’ban
Beberapa saat kemudian, wanita itu bertanya
kepada Rasulullah:
“Ya Rasulullah, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada engkau”.
Rasulullah pun menjawab, “Silakan apa
yang hendak ingin kau tanyakan?”
Wanita itu berkata:
“Tadi sebelum ia meninggal, ia berteriak
tiga kali dengan kalimat yang berbeda”.
Rasulullah pun kembali bertanya:
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?”
“Dalam masing-masing teriakan ia berkata ‘Aduh,
mengapa tidak lebih jauh?
Aduh, mengapa tidak yang baru?
Aduh, mengapa tidak semuanya?’”
Rasulullah kemudian memberikan penjelasan dengan amat rinci. Ketika
menjelang sakaratul maut, seluruh amal perbuatan yang telah Sya’ban lakukan
ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Semua peristiwa yang disaksikan oleh Sya’ban,
tidak dapat dilihat oleh orang lain. Di samping amal perbuatan, Allah juga
memperlihatkan ganjaran yang Sya’ban terima.
Teriakan pertama, “Aduh, mengapa tidak lebih jauh?”
Dalam penayangan itu, Sya’ban menyaksikan suatu amal yang biasa ia
lakukan setiap hari berupa perjalanannya pergi ke masjid untuk melaksanakan
shalat berjamaah. Dari perjalanan yang amat panjang itu, Sya’ban diperlihatkan
ganjaran yang ia peroleh dari setiap langkah kakinya.
Saat ia berteriak, timbul penyesalan
dalam diri Sya’ban. Andaikan jarak rumahnya dengan
masjid lebih jauh lagi, tentu pahala yang ia peroleh semakin banyak dan
berlipat-lipat.
Teriakan kedua, “Aduh, mengapa tidak yang baru?”
Saat musim dingin, angin menghembuskan hawa dingin yang menusuk
hingga ke tulang. Sya’ban yang hendak pergi ke masjid pun kembali ke dalam
rumah dan mengambil baju untuk outer. Sya’ban sengaja mengenakan baju
yang baru di dalam sedangkan baju yang jelek di luar.
Sya’ban sengaja melakukannya karena nanti jika terkena debu atau
kotoran di jalan hanya terkena di baju yang luar, sedangkan baju yang dalam
masih bersih dan dapat digunakan untuk shalat berjamaah setelah menanggalkan
baju yang luar.
Di tengah perjalanan, Sya’ban menemukan seseorang yang kedinginan.
Tanpa ragu, Sya’ban segera menanggalkan bajunya yang luar lalu menyelimuti
orang itu sambil memapahnya menuju masjid. Orang itu selamat dari kedinginan
dan dapat melaksanakan shalat berjamaah.
Sya’ban melihat ganjaran yang ia terima sebagai balasan untuknya
yang telah memakaikan baju yang jelek kepada orang itu. Sya’ban menyesal,
seandainya ia memakaikan bajunya yang baru, pastilah ganjaran yang ia terima
jauh lebih banyak lagi.
Teriakan ketiga, “Aduh, mengapa tidak semua?”
Suatu pagi, Sya’ban hendak sarapan dengan sebuah roti dan segelas
susu. Roti itu dikonsumsi dengan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam susu
hangat sebelum disantap.
Sebelum memulai sarapan, datanglah pengemis di depan pintu rumah Sya’ban sambil
meminta makan. Pengemis itu mengaku sudah tiga hari tidak makan sama sekali. Sya’ban pun merasa iba. Ia pun membagi
rotinya menjadi dua bagian sama besar dan juga membagi susu ke dalam dua gelas
yang sama banyak.
Sya’ban pun diperlihatkan ganjaran yang ia
terima dari memberikan sebagian roti dan separuh susu yang hendak ia makan
untuk sarapan. Andaikan ia memberikan semuanya, tentu, pahalanya jauh
lebih besar lagi.
Sya’ban menyesali atas kebaikan yang tidak
dilakukan secara maksimal. Padahal Sya’ban telah memilih perjalanan yang jauh
dibandingkan dengan sahabat-sahabatnya yang lain..