Jumat, 07 Maret 2025

KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR'AN

 8 Ramadhan 1446 H

Kisah para sahabat dan salafus shooleh dalam membaca al qur’an memberikan gambaran bahwa mereka bukan sekedar membaca tetapi berinteraksi yaitu membangun proses komunikasi dan informasi. Ini menjadi bukti bahwa al Qur’an betul-betul dijadikan pedoman hidup dan kehidupan mereka. Maka sudah sepatutnya sebagai umat Islam, kita perlu berupaya menjadikan al Qur’an sebagai dasar dan pedoman hidup kita dan paling dasarnya kita memulai untuk selalu membaca kitab suci al Qur’an.

Syekhul Islam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam kitabnya, Riyädhus-Shälihȉn, membuat bab khusus tentang Keutamaan Membaca Al-Qur'an, di antaranya:

Pertama, Al-Qur’an akan menjadi syafaat atau penolong di hari kiamat untuk para pembacanya.

عن أَبي أُمامَةَ رضي اللَّه عنهُ قال : سمِعتُ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : اقْرَؤُا القُرْآنَ فإِنَّهُ يَأْتي يَوْم القيامةِ شَفِيعاً لأصْحابِهِ  )رواه مسلم(

Dari Abu Amamah ra, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim);

Kedua, orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan sebaik-baik manusia.

عن عثمانَ بن عفانَ رضيَ اللَّه عنهُ قال : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ  )رواه البخاري(

Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi);

Ketiga, untuk orang-orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka kelak ia akan bersama para malaikat-Nya;

عن عائشة رضي اللَّه عنها قالتْ : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : الَّذِي يَقرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكرَامِ البررَةِ  )متفقٌ عليه .(

Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim);

Keempat, untuk mereka yang belum lancar dalam membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an, tidak boleh bersedih, sebab Allah tetap berikan dua pahala.

وَاٌلَذِي يَقُراٌ القُرانَ وَيَتَتَعتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه اَجَران  )متفقٌ عليه(

Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim);

Kelima, Allah memberikan ganjaran pahala yang berlipat atas setiap hutup yang dibaca. Rasulullah SAW mengatakan :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنَ الْقُرْآنِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَإِنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَاتٌ كَثِيرَةٌ وَأَنَا لَا أَقُولُ أَلِفْ لَامْ مِيمْ حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفُ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya akan mendapatkan satu kebaikan. Dan jika dia membaca Al-Quran dari awal hingga akhir, maka baginya akan mendapatkan banyak kebaikan. Dan aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim adalah satu huruf, tetapi Alif adalah satu huruf, Lam adalah satu huruf, dan Mim adalah satu huruf." (HR. Tirmidzi, no. 2910; Ibnu Majah, no. 3772; dan Ahmad, 2/337)

Dan menurut imam Syafi’i jumlah huruf dalam Al-Quran adalah sekitar 1.027.000 huruf. Maka bila seseorang mengkhatamkan bacaan al Qur’an setidaknya membaca 1 juta huruf lebih yang menjadi pahala ibadahnya. Dan setiap kebaikan akan dilipatgandakan 10 kali lipat.

Keenam, Al-Qur’an dapat meningkatkan derajat kita di mata Allah.

عن عمرَ بن الخطابِ رضي اللَّه عنهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : إِنَّ اللَّه يرفَعُ بِهذَا الكتاب أَقواماً ويضَعُ بِهِ آخَرين.  )رَوَاهُ مُسْلِمُ(

Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah saw. bersabda,: “Sesungguhnya Allah SWT. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim);

Dalam literatur hadis lain, ketujuh, menurunkan ketenangan, rahmat dan memuji suatu kaum yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, serta malaikat akan melingkarinya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله : وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ  )رَوَاهُ مُسْلِمُ.(

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan mereka dilingkupi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang berada didekat-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim)

Selain itu, mengkhatamkan Al-Qur’an adalah amal yang paling dicintai Allah. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dijelaskan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ : الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ - قَالَ : وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ؟ قَالَ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ .(رواه الترمذي : 2872 – سنن الترمذي - بَاب مَا جَاءَ أَنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ – الجزء : 10 – صفحة : 202)

Dari Ibnu Abbas ra, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi:2872)

Sudah sepatutnya, di bulan  turunnya kitab suci al Qur'an, kita jadikan momentum untuk lebih intens bersama al Qur'an. Ada target dan capaian, minimal dalam membaca al Qur'an khatam minimal sekali dan lebih. Kita upayakan untuk tidak membaca al Qur'an di waktu luang, tetapi luangkan waktu untuk membaca al Qur'an.


Kamis, 06 Maret 2025

KISAH SAHABAT NABI GEMAR BACA AL QURAN SAAT BULAN RAMADAN

 7 Ramadhan 1446 H

Kisah Sahabat Nabi yang gemar membaca alquran pada bulan Ramadan nampaknya penting untuk menjadi perhatian utama bagi kita kaum muslimin. Apalagi saat bulan puasa Ramadan 2025 tiba, maka perlunya membaca alquran akan sangat memberikan manfaat tersendiri, khususnya pada pola peningkatan kualitas diri sebagai hamba Allah.

Satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian adalah bahwa kisah semua sahabat nabi yang hendak menjalankan ibadah puasa pada akhirnya memang fokus untuk meningkat ibadah dan mengesampingkan kepentingan duniawi. Bahkan fokus dalam beribadah semakin besar, salah satunya pada aspek konsistensi membaca alquran.

Semua Kisah Sahabat Nabi terkait konsistensinya dalam membaca alquran menjadi perbandingan terbaik bagi semua umat islam untuk bisa mendapatkan gambaran utama. Apalagi dengan semua nikmat dan karunia saat menjelang Ramadan yang dibuka luas oleh allah memang sepatutnya wajib untuk dimaksimalkan.

Semua kisah ini tentu juga berasal dan bersumber dari beberapa data baik hadist atau beberapa riwayat lainnya. Sehingga sumber tersebut bisa menjadi bagian penting yang memberikan asumsi terbaik kepada umat islam bahwa semua kisah tersebut bisa dipertanggung jawabkan serta sangat layak diikuti.

Kisah Sahabat Nabi Terkait Amalan Membaca Alquran Pada Bulan Puasa

Ada beberapa sahabat nabi yang memang terus menerus menjadi bagian utama dari role model yang bisa umat islam ikuti secara maksima. Semua kisah sabahat ini menjadi penting untuk selalu diingat dan diaplikasikan secara nyata pada saat hendak menjalankan ibadah puasa secara maksimal.

1. Kisah Amalan Baca Alquran Usman Bin Affan

Kisah Sahabat Nabi yang pertama dan dikenal dengan kualitas ibadahnya dalam sehari-hari adalah khalifah ketiga yakni usman bin affan. Sebagai salah satu khulafaur rasyidin, banyak yang mengatakan bahkan kualitas kepemimpinan umar sangat baik dengan kualitas ibadah tidak kalah berkualitas.

Bahkan ada beberapa riwayat yang mengatakan bahwa dalam bulan puasa dan menjalankan ibadah membaca alquran, usman bin affan seringkali mengkhatamkan alquran setiap hari. Hal ini tentunya menjadi satu contoh utama kepada semua umat muslim mengenai pentingnya membaca alquran pada bulan Ramadan.

Kisah Sahabat Nabi ini tentunya memiliki beberapa riwayat besar, khususnya terkait didedikasikan untuk agama Islam. Selama Rasullah masih hidup, sayyidina usman hampir selalu ada dalam ekspedisi militer bersama Rasulullah. Beliau juga termasuk orang yang sangat dicintai oleh Nabi. Dengan keistimewaan yang sangat banyak ini, ujian yang dihadapi juga sangat berat.

Salah satu ujian yang dihadapi oleh usman bin affan adalah ketika dirinya akan menjelang ajal. Seperti yang telah diketahui bahwa usman bin affan meninggal karena dibunuh pada saat menjelang buka puasa di bulan Ramadan.

Pada peristiwa pembuhuhan tersebut umur beliau 82 tahun. Dan sesuai dengan apa yang dikatakan rosulullah, bahwa Kisah Sahabat Nabi yang sangat dicintainya ini memang akhirnya akan gugur syahid. Terlebih istimewanya lagi, dalam kondisi berpuasa dan membaca al-Qur`an, hal ini menandakan akhir kematian yang indah.

 Bahkan kisah meninggalnya usman bin afan terjadi saat mengamalkan amalan yang agung (puasa), dan membaca kitab yang agung (al-Qur`an). Aspek ini menandakan bahwa hingga detik menjelang akhir hayatnya sahabat nabi satu ini masih menjalankan amalan baca al quran.

2. Kisah Amalan Baca Alquran Umar Bin Khottob

Kisah Sahabat Nabi selanjutnya yang tidak kalah penting untuk mendapatkan perhatian mengenai kualitas ibadah dibulan Ramadan, khususnya pada aspek membaca al quran adalah sahabat umar bin khattab. Sahabat nabi yang dikenal sangat bringas dan tegas ini merupakan khalifah kedua setelah abu bajar ash siddiq.

Satu hal yang perlu untuk digaris bawahi terlebih dahulu adalah bahwa umar bin khattab mempunyai sejarah manis saat hendak memeluk islam. Sebab melalui alquran dengan lantunan merdunyalah Umar yang awalnya sangat menentang nabi kemudian menjadi muallaf dan menjadi orang pertama paling berani untuk melawan pemberontak islam.

Menurut Saib bin Yazid mengatakan bahwa , “Umar bin Khattab r.a memerintahkan Ubay bin Kaab dan Tamim Al-Dari r.a untuk membangunkan orang-orang agar mendirikan sebelas rakaat. Mereka menghidupkan malam hingga menjelang waktu fajar.”

Melalui riwayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Kisah Sahabat Nabi khususnya umar bin khattab memang sangat meganjurkan seluruh umat islam dibawah kepemimpinannya untuk terus menghidupi malam-malam di bulan Ramadan dengan amalan maksiml, salah satunya adalah dengan membaca alquran.

3. Kisah Amalan Baca Alquran Imam Syafii

Kisah Sahabat Nabi berikutnya yang tidak kalah menarik untuk diperhatikan dan diambil hikmahnya mengenai perintah mengalamalkan baca alquran datang dari Imam Syafii. Sebagai salah satu imam penting yang saat ini menjadi model pembaharuan dan juga diikuti riwayatnya maka imam syafii nampaknya perlu dilihat juga dari aspek amalan utamanya saat bulan Ramadan.

Hal ini bisa dilihat dari riwayat Rabi bin Sulaiman yang mengatakan bahwa, “Imam Syafii mengkhatamkan Alquran pada bulan Ramadan sebanyak enam puluh kali dan bulan lainnya sebanyak tiga puluh kali.”

Syekh Abu Bakar bin Ali Al-Haddad juga menambahkan bahwa, “Aku mendapat cerita langsung dari Rabi bin Sulaiman tentang Imam Syafii bahwa dia (Imam Syafii) mengkhatamkan Alquran pada bulan Ramadan sebanyak enam puluh kali di luar bacaan salatnya yang bisa mencapai lima puluh sembilan kali. Sementara di bulan selain Ramadan, dia mengkhatamkan sebanyak tiga puluh kali.”

Hal ini menandakan bahwa Kisah Sahabat Nabi yakni imam syafii memberikan contoh dan teladan secara maksimal kepada semua umat muslim mengenai pentingnya untuk membaca alquran pada saat bulan puasa tiba. Sebab selain mendapatkan pahala, membaca alquran merupakan bentuk memperbaiki kualitas diri menjadi hamba Allah yang lebih baik.

4. Kisah Amalan Baca Alquran Imam Bukhori

Kisah terakhir dari sahabat nabi yang mengamalkan baca alquran secara konsisten dan banyak setiap harinya datang dari imam bukhori. Seperti yang telah diketahui dalam sejarh umat islam imam bukhori merupakan perawi hadist yang sangat penting serta memberikan pengaruh besar dalam beberapa memberikan sumber dalam penyelesaian masalah agama.
Kisah Sahabat Nabi yakni Imam Bukhari ini dikenal karena konsistensinya dalam mengkhatamkan Alquran pada siang hari bulan Ramadan satu kali khatam, dan pada salat malamnya setiap tiga hari satu kali khatam.

Kisah imam bukhori yang membaca alquran sangat banyak ini dilengkapi dengan riwayat dari Ibnu Rajab Al-Hanbali yang mengatakan bahwa, “Hanya saja terdapat larangan mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, namun pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan seperti bulan Ramadan terlebih pada malam-malam Al-Qadr dan pada tempat-tempat yang utama seperti Makkah bagi yang mendatanginya.

Semua aspek penting mengenai Kisah Sahabat Nabi diatas dengan kemampuannya dalam membaca alquran di bulan suci Ramadan setidaknya bisa memberikan keyakinan lebih besar dan lebih maksimal lagi kepada umat islam untuk menjalaninya.(*)


Sumber : https://jogja.times.co.id/news/berita/jjaoa180sp/Kisah-Sahabat-Nabi-Gemar-Baca-Al-Quran-Saat-Bulan-Ramadan


Rabu, 05 Maret 2025

POHON KURMA MENANGIS RINDU KEPADA RASULULLAH SAW

 6 Ramadhan 1446 H

Dalam sejarah Islam, ada kisah mengharukan tentang pohon kurma yang menangis karena merindukan Rasulullah SAW. Kisah ini terjadi pada suatu Jumat di Masjid Nabawi.

Kala itu, ada batang pohon kurma yang biasa digunakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tempat sandaran saat khutbah. Namun, pada hari itu tiba-tiba menangis. Kisah tersebut diceritakan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA, ia berkata : "Rasulullah SAW biasa berkhutbah dengan bersandar pada sebuah batang pohon. Setelah dibuatkan mimbar, beliau pun berkhutbah dengan menggunakan mimbar. Maka tiba-tiba batang pohon itu merintih terus sehingga beliau turun untuk mengusapnya." (HR Al-Bukhari dan At-Tirmidzi)

Mengutip kitab Al-Wafa bi Ahwal Al-Musthafa karya Ibnul Jauzi yang diterjemahkan Mahfud Hidayat dan Abdul Mu'iz, kisah ini berawal saat Rasulullah SAW tiba di Madinah setelah hijrah dari Makkah. Hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun sebuah masjid yang kemudian dikenal dengan Masjid Nabawi.

Masjid itu dibangun pada tempat berhentinya unta Rasulullah SAW. Menariknya, tanah berhentinya unta tersebut ternyata milik dua anak yatim bersaudara. Kemudian Rasulullah SAW memutuskan untuk membeli tanah itu dari mereka.

Sebelum membangun masjid, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan berkhutbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma yang tumbuh di sekitar. Pohon ini menjadi tempat favoritnya untuk berdiri dan menyampaikan dakwah.

Seiring waktu, jumlah jemaah semakin bertambah banyak hingga berdesakan memenuhi masjid. Mereka yang duduk di barisan belakang atau paling jauh tidak bisa melihat Rasulullah SAW dengan jelas.

Lalu, para sahabat juga merasa kasihan kepada beliau yang saat itu kelelahan jika berdiri terlalu lama ketika berdakwah. Sebagian sahabat ada yang mengusulkan untuk membuat mimbar khusus bagi Nabi Muhammad SAW.

Beruntungnya, ada seorang wanita dari kaum Anshar yang memberikan usulan kepada Rasulullah SAW. Wanita itu memiliki seorang budak yang terampil dalam pertukangan kayu, lalu menawarkan jasa budaknya untuk membuat mimbar khusus bagi beliau. Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW mempersilahkannya.

Setelah mimbar selesai dibuat, pada Jumat berikutnya langsung digunakan Rasulullah SAW untuk menyampaikan khutbahnya. Beliau sempat melalui pohon kurma yang dahulu digunakannya untuk bersandar saat khutbah.

Ketika Nabi Muhammad SAW menaiki mimbar dan berkhutbah, seketika terdengar suara rintihan memelas seperti menangis. Terkadang suaranya seperti unta yang berteriak karena sedang bunting, terkadang juga suaranya seperti rintihan anak kecil yang menangis.

Suara tangisan itu terdengar semakin kencang, bahkan debu-debu dari tembok masjid ikut berguguran. Para sahabat yang mencari sumber suara tangisan itu merasa kebingungan.

Rasulullah SAW yang menyadari akan hal itu kemudian turun dari mimbarnya. Beliau mendekati batang pohon kurma dan mengusapnya dengan lembut, seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya yang sedang bersedih. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW berkata,

"Sekarang kamu boleh memilih antara ditanam di tempatmu semula, dengannya kamu dapat tumbuh berkembang sebagaimana sebelumnya, atau ditanam di surga, dengannya kamu bisa meresap sungai-sungai dan mata air di sana, lalu kamu akan tumbuh dengan baik dan buah-buahanmu nanti akan dipetik oleh para kekasih Allah SWT. Apa pilihanmu akan aku lakukan."

Setelah diusap dan ditenangkan oleh beliau, akhirnya perlahan batang pohon itu berhenti menangis. Lalu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada para pengikutnya bahwa pohon itu merasa sedih karena ditinggalkan.

Sebab, pohon itu sudah lama menjadi tempat Rasulullah SAW bersandar. Namun ketika ia memiliki mimbar baru, pohon kurma tersebut merasa kehilangan karena sudah tidak lagi digunakan.

Dalam redaksi lain, menurut Syaikh Abu Bakar, pohon kurma itu menangis karena mendengar zikir Rasulullah SAW.
Lalu ia merasa sedih karena berpisah dengan beliau yang selalu berkhutbah diatasnya. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda,

"Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar." (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)

Setelah kejadian itu, Masjid Nabawi dilakukan sejumlah renovasi. Batang pohon tersebut lalu disimpan di rumah Ubay bin Ka'ab. Namun, seiring waktu batang pohon kurma itu rusak dan dimakan rayap.

"Tatkala Masjid Nabawi dihancurkan untuk direnovasi, Ubay bin Ka'ab mengambil batang pohon tersebut dan ia simpan di rumahnya sampai rusak dan remuk dimakan rayap." (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Kala itu, ia (ayah Buraidah) mendengar Rasulullah SAW bergumam, "Ya, sudah saya kabulkan." Beliau mengatakan hal itu dua kali. Setelah itu ada seorang jemaah yang menanyakannya kepada beliau. Maka akhirnya beliau menjawab, "Batang pohon itu lebih memilih aku untuk menanamnya di surga." (HR Ad-Darimi)

Kisah Pohon Kurma Menangis jadi tanda mukjizat Rasulullah SAW
Syaikh Abu Bakar mengatakan, kisah tersebut menjadi tanda dan bukti yang menunjukkan kenabian Muhammad SAW dan kebenaran risalahnya. Hal ini juga yang merupakan mukjizat besar yang hanya dimiliki Rasulullah SAW.

Kisah tersebut merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada).

Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin mengutip pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, hadits tersebut menandakan mukjizat Rasulullah SAW. Kisah pohon kurma yang menangis menjadi bukti bahwa Allah SWT terkadang memberi nalar pada benda mati bak seekor hewan bahkan seperti seekor hewan yang mulia.

Demikian kisah mengenai pohon kurma menangis karena merindukan Rasulullah SAW. 

Wallahu a'lam.


Sumber : https://www.detik.com/hikmah/kisah



Selasa, 04 Maret 2025

HAKEKAT PUASA

 5 Ramadhan 1446 H

Dalam kitab "Al-Minhaaj Al-Qawim" karya Syaikh Ibn Hajar, terdapat sebuah kisah yang sangat indah tentang Ramadan:

"Pada suatu hari, Abu Hurairah, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, sedang berpuasa. Tiba-tiba, seorang laki-laki datang dan meminta Abu Hurairah untuk makan bersamanya. Abu Hurairah menjawab, "Aku sedang berpuasa." Laki-laki itu menjawab, "Aku juga berpuasa." Abu Hurairah bertanya, "Mengapa kamu meminta aku untuk makan bersamamu jika kamu juga berpuasa?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa dari shalat, jadi aku tidak shalat." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak shalat?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak makan, jadi jika aku makan, maka puasaku tidak sah." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak meninggalkan makanan?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak minum, jadi jika aku minum, maka puasaku tidak sah." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak meninggalkan minuman?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak berbicara, jadi jika aku berbicara, maka puasaku tidak sah." Abu Hurairah bertanya, "Apa gunanya berpuasa jika kamu tidak meninggalkan percakapan?" Laki-laki itu menjawab, "Aku berpuasa agar tidak melakukan kejahatan, jadi jika aku melakukan kejahatan, maka puasaku tidak sah."

Abu Hurairah berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, puasa bukan hanya meninggalkan makanan dan minuman, tetapi juga meninggalkan semua hal yang melanggar perintah Allah. Puasa adalah kesempatan bagi kita untuk bertaubat kepada Allah, meninggalkan semua hal yang melanggar perintah-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya."

Laki-laki itu berkata, "Wahai Abu Hurairah, kamu telah mengajarkan aku apa itu puasa yang sebenarnya. Aku bertaubat kepada Allah, meninggalkan semua hal yang melanggar perintah-Nya."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa puasa bukan hanya meninggalkan makanan dan minuman, tetapi juga meninggalkan semua hal yang melanggar perintah Allah. Puasa adalah kesempatan bagi kita untuk bertaubat kepada Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan memperoleh ampunan dan ridha-Nya.

Dengan alasan mengerjakan puasa tidak sepatutnya meninggalkan kewajiban yang lain. Maka kalimat yang diucapkan oleh Abu Hurairah kepada laki-laki yang mengatakan bahwa ia berpuasa dari shalat. Abu Hurairah ingin menekankan bahwa shalat adalah salah satu rukun Islam yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari puasa. Dan puasa tidak akan memiliki nilai jika tidak diiringi dengan shalat. Shalat adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ampunan-Nya, sedangkan puasa adalah cara untuk meningkatkan kesabaran dan ketakwaan kepada Allah.

Menurut Imam Ghazali, hakekat puasa adalah:

الصرح عن الشهوات و التقرب إلى الله

Artinya: "Menjauhkan diri dari syahwat dan mendekatkan diri kepada Allah."

Imam Ghazali menjelaskan bahwa puasa bukan hanya sekedar meninggalkan makanan dan minuman, tetapi juga meninggalkan semua hal yang dapat mengalihkan perhatian kita dari Allah, seperti syahwat, kemarahan, dan lain-lain.

Dalam kitabnya "Ihya' Ulumuddin", Imam Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki beberapa hakekat, antara lain:

1. Menjauhkan diri dari syahwat dan keinginan duniawi.

2. Mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kesadaran spiritual.

3. Meningkatkan kesabaran dan ketakwaan kepada Allah.

4. Membersihkan jiwa dari dosa dan kesalahan.


Dengan demikian, puasa bukan hanya sekedar ritual keagamaan, tetapi juga merupakan sarana untuk meningkatkan kesadaran spiritual, mendekatkan diri kepada Allah, dan membersihkan jiwa dari dosa dan kesalahan. Lebih jauh belia menjelaskan : 

اَلصِيَامُ هُوَ اِخْلَاصُ النَّفْسِ لِلَّهِ تَعَالَى، وَ اِبْعَادُهَا عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَ تَقْوِيَةُ الْإِرَادَةِ، وَ تَطْهِيرُ النَّفْسِ، وَ اِعْدَادُهَا لِتَقْبَلِ الطَّاعَاتِ، وَ اِزَالَةُ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَحُولُ بَيْنَهَا وَ بَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى.

 "Puasa adalah mensucikan jiwa untuk Allah SWT, menjauhkan jiwa dari syahwat, menguatkan iradat (keinginan), mensucikan jiwa, mempersiapkan jiwa untuk menerima ibadah, dan menghilangkan halangan yang menghalangi jiwa dari Allah SWT."

 Para ulama membagi level puasa menjadi beberapa tingkatan, berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Puasa yang paling rendah: Puasa yang hanya meninggalkan makanan dan minuman, tetapi tidak meninggalkan perkara-perkara yang haram dan tidak melakukan amal-amal yang baik.

2. Puasa yang biasa: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, tetapi tidak melakukan amal-amal yang baik secara optimal.

3. Puasa yang mulia: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, dan melakukan amal-amal yang baik secara optimal, seperti shalat, sedekah, dan membaca Al-Quran.

4. Puasa yang paling mulia: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, dan melakukan amal-amal yang baik secara optimal, serta memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, seperti merasa dekat dengan Allah, memiliki rasa syukur yang besar, dan memiliki kesabaran yang kuat.

 

Imam Ghazali membagi level puasa menjadi tiga tingkatan:

1. Puasa orang awam: Puasa yang hanya meninggalkan makanan dan minuman.

2. Puasa orang khawas: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram.

3. Puasa orang khawasul khawas: Puasa yang meninggalkan makanan dan minuman, serta meninggalkan perkara-perkara yang haram, dan melakukan amal-amal yang baik secara optimal, serta memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.


Wallahu a'lam

Senin, 03 Maret 2025

KEUTAMAAN PUASA

 4 Ramadhan 1446 H

Imam Qalyubi menukilkan sebuah cerita pada Hikayat yang ke-15 dalam karyanya An Nawadir dari sahabat Sofyan Ats Tsauri, beliau menceritakan bahwa :

Saya pernah tinggal di kota Makkah selama tiga tahun. Di masjid AI-Haram, saya melihat seorang laki-laki penduduk kota tersebut yang datang setiap waktu zhuhur untuk melaksanakan thawaf di Ka'bah dan shalat dua raka'at. Seusai shalat, laki-laki mengucapkan salam kepada saya dan langsung pulang ke rumahnya. (Sikapnya yang baik itu) menimbulkan perasaan simpatik  kepada laki-laki iu, apa lagi hal tersebut ia lakukan hampir setiap kali bertemu.

Pada suatu hari laki-laki itü jatuh sakit dan ia minta saya untuk menjenguknya. la berkata kepada saya : “jika saya telah meninggal dunia nanti tolong anda yang memandikan saya dengan tanganmu sendiri, lalu shalatkanlah dan kuburkanlah saya serta jangan kamu tinggalkan saya sendirian şampai satu malam penuh. Tuntunlah (talqinkan) saya dengan kalimat Tauhid ketika malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku”.

Permohonan laki-laki itu saya sanggupi dan ketika ia benar-benar meninggal dunia, maka semua permohonannya tadi saya penuhi. Termasuk ketika malam harinya setelah ia kami kuburkan, saya juga bermalam di atas kuburannya. Ketika saya dalam keadaan antara sadar dan tidur, tiba-tiba saya mendengar suara yang memanggil-manggil nama saya dari ataş kepala saya. Katanya, “wahai Sufyan! Sesungguhnya orang yang kamu tunggui itu sama sekali tidak butuh penjagaanmu, tuntunanmu maupun simpatimu kepadanya. Karena pada dasarnya saya telah menghibur dan menuntunnya ketika malaikat Munkar dan Nakir melontarkan pertanyaan”. Saya (Sufyan) bertanya, dengan apa kamu memberİkan semua itu? Suara itü berkata ; “dengan puasa Ramadlan yang ia lakukan, lalu diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal”. Saya (Sufyan) terbelalak dan tidak ada seorang pun yang dapat kulihat di sekililingku. Buru-buru saya mengambil air wudhu dan melakukan shalat sehingga saya tertidur kembali, begitulah seterusnya yang saya lakukan sampai tiga kali. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa, suara tadi datangnya dari  Allah SWT dan bukan dari setan. Seketika itü juga saya pergi meninggalkan kuburan laki-laki tadi sambil berdo'a: “Ya.. Allah! Tolonglah hamba sebagaimana puasanya orang itu dengan Kemulyaan dan Kemurahan-Mu. Âmien...”

Kisah tersebut menggambarkan bahwa syari’at mempunyai keagungan yang luar biasa, dan sungguh sangat beruntung umat Nabi Muhammad SAW mendapatkan syari’at puasa. Sebagaimana banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan puasa dan keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri yang merupakan bulan kewajiban melaksanakan ibadah puasa.

Maka perlu direnungkan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan 

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“..Dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan,..” (HR. Tirmidzi)

Sungguh sangat disayang bulan Ramadhan sebagai bulan ampunan, bulan rahmat, dan bulan berkah, saat pintu surga dibuka lebar-lebar, sebagai simbol kemudahan akses dan sarana beribadah. Sebagai tanda bahwa pahala amal sholeh akan dilipatgandakan, namun di saat tersebut, kita tidak memanfaatakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup rapat-rapat. Sebagai simbol bahwa sebenarnya kesempatan untuk berbuat dosa lebih diperkecil peluangnya. Dinyatakan juga bahwa setan dibelenggu, yang menandakan bahwa manusia diberikan kekuatan lebih untuk menahan bisikan setan. Namun sayang sekali jika masih ada yang berbuat bermaksiat.

Syaikh Abdulaah Sirajuddin Al Husaini dalam kitabnya as Siyam menyebutkan beberapa keistimewaan puasa, yaitu :

1.  Pengampunan Dosa: Puasa Ramadan dapat mengampuni dosa-dosa yang telah lalu.

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

     “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan kepada Allah maka diampuni dosa-dosa  masa lalunya”(HR. Bukhari dan Muslim)

 

     Allah menjelaskan

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

     “Dan jika kamu berpuasa itu lebih baik jika kamu mengetahuinya”.(QS. Al-Baqarah: 184)

 

2. Derajat yang Tinggi dan Pahala yang Berlipat: Puasa Ramadan dapat memperoleh pahala yang berlipat, bahkan dapat mencapai 70 kali lipat.

 

كُلُ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَعَّفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَهُ تَعَالَى وَإِنَّ الصِيَامَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

     Setiap amal perbuatan bani Adam (manusia) dilipatgandakan 10 sampai 700 kebaikan. Dan Allah berfirman dan sesungguhnya puasa iti milikku dan AKU yang memberikan ganjarannya” (HR. Bukhari)

 

3. Puasa mempunyai Kedudukan yang tinggi dan mulia, karena ibadah puasa senantiasa disandingkan kepada Allah sebagai isyarat hadits وَإِنَّ الصِيَامَ لِي (dan sesungguhnya puasa itu milik-KU). Pengkhususan ini disebabkan karena ibadah puasa adalah ibadah yang sulit dijadikan ajang pamer (riya’) yang sangat mungkin dilakukan pada ibadah lainnya

     Di samping itu, Allah SWT membangga-banggakan orang yang berpuasa di depan para malaikat. Dakam haditsya Rasulullah SAW menyatakan :

اتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، يَغْشَاكُمُ اللَهُ فِيهِ بِالرَّحْمَةِ، وَيَنْزِلُ فِيهِ الْحَمْدَ، وَيُحَطُّ فِيهِ الْخَطَايَا، وَيُسْتَجَابُ فِيهِ الدُّعَاءُ، وَيُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةُ

     "Telah tiba bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah akan meliputi kalian dengan rahmat-Nya, menurunkan kebaikan, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan doa-doa, dan membanggakan kalian di hadapan malaikat-malaikat." (HR. Al-Baihaqi dan Al-Tabrani)

 

4. Para malaikat mencium bau mulut orang yang berpuasa dengan aroma yang lebih semerbak dari aroma minyak wangi. Dalam haditsnya Rasulullah SAW menyatakan :

 

لِخُلُوفِ فَمِ الصَائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

 

     "Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak misk." (HR. Abu Daud dan lainnya)

 

5. Para Malaikat bertasbih kepada orang yang berpuasa yang menandakan bahwa orang yang berpuasa mendapatkan kehormatan dan pujian dari para malaikat bahkan tulang belulangpun ikut bertasbuh dan bumi bersyukur kepada orang yang berpuasa :

 

تُسَبِّحُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُفْطِرَ وَتَشْكُرُ لَهُ الْأَرْضُ حَتَّى يُفْطِرَ

 

     "Malaikat-malaikat bertasbih kepadanya hingga ia berbuka puasa, dan bumi bersyukur kepadanya hingga ia berbuka puasa." (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

 

6. Pintu Royyan khusus pintu masuk surga bagi orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ لِلْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، لا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ إِلَّا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

 

     "Sesungguhnya surga memiliki sebuah pintu yang disebut Rooyyan. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan dari kalangan orang-orang yang beriman." (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

 

7. Kebahagiaan orang puasa saat buka karena berlimpah ganjaran pahaka atas kesempurnaan puasanya  dan Bahagia ssat  bertemu dengan Tuhannya

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ إِفْطَارِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

 

     "Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya."(HR. Bukhari dan Muslim)

Minggu, 02 Maret 2025

MEMAKNAI BASMALAH

 3 Ramadhan 1446 H

Bacaan Basmalah tentu saja bacaan yang sudah sangat familiar dan mungkin semuanya bisa melafazdkannya dan mengetahui artinya. Secara harfiah artinya : Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kita diajarkan membaca lafadz basmalah sebelum memulai berbagai aktivitas yang mempunyai nilai penting dalam hidup kiya, maka sudah sepatunya saat melafadzkanny kita tidak berhenti pada ma’na harfiah saja. Perlu pemahaman lebih lanjut agar makna harfiah basmalah terinternalisasi dalam aktivitas tersebut.

Prof. DR. Quraish Shihab lebih rinci mengelaborasi ma’na basmalah. Kalaulah basmalah merupakan asas (dasar)nya al Qur’an maka asasnya basmalah adalah pada bacaan بِ pada awal lafadz basmalah. Ketika membaca huruf ini, setidaknya terbetik dalam hari si pembaca makna implisitnya yaitu : Saya atau kami memulai pekerjaan ini dengan menyebut nama Allah. Atau menyisipkan kalimat : dengan kekuasan dan pertolongan Allah pekerjaan yang saya lakukan dapat terlaksana. Maka penyandingan makna implisit tersebut meneguhkan bahwa nama Allah sebagai pangkal tolak dan sandaran atas berbagai macam aktivitas dan tumbuhnya kesadaran bahwa keberhasilan setiap aktivitas merupakan atas kekuasaan dan pertolongan Allah SWT.

Imam Ibnu Katsir menukilkan riwayat bahwa huruf ب  pada lafadz بسم  merupakan akronim dari بَهَاءُ الله  yang berarti kemulyaan Allah, sementara س  merupakan kependekan dari سَنَاؤُهُ yang berarti keagungan-Nya dan م merupakan kependekan dari مَمْلَكَتُهُ artinya kekuasaan-Nya

Penyebutan nama Allah (dengan menyisipkan اسم) sesungguhnya  bertujuan mengharap keberkahan Allah. Sementara bila dimaksudkan dengan permohonan kemudahan dan bantuan Allah maka kata yang digunakan langsung menyebut Allah tanpa menyisipkan kata اسم. Sebagaimana salah satu doa yang diajarkan beliau adalah  اللهم بك نصبح ونمسي (Ya Allah dengan Engkau kami memasuki waktu pagi dan petang) yakni dengan kekuasaan dan iradat-Mu, kami memasukinya. Sementara contoh do’a yang diajarkan dengan menyisipkan kata اسم  adalah do’a sebelum tidur beliau berdoa  باسمك اللهم احيا وباسمك اموت (dengan nama-Mu Ya Allah aku tidur dan bangun.

Lebih lanjut Prof. Quraish Shihab menjelaskan lafadz Allah  (الله) yang mempunyai keistimewaan ketika dihapus huruf-hurufnya satu persatu. Bacaan lafadz Allah (الله) apabila dihapus huruf awalnya, akan berbunyi ( لله ) Lillah dalam arti Milik/bagi Allah. Kemudian jika dihapus huruf awal dari kata Lillah itu akan terbaca ( له ) Lahu dalam arti bagi-Nya. Selanjutnya jika dihapus lagi huruf awal dari lahu, akan terdengar ucapan (هُ) Hu yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila ini pun dipersingkat akan dapat terdengar suara Ah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan, tetapi pada hakikatnya adalah seruan permohonan kepada Allah. Karena itu pula sementara ulama berkata bahwa kata “Allah” terucapkan oleh manusia sengaja atau tidak sengaja, suka atau tidak. Itulah salah satu bukti adanya fitrah dalam diri manusia. Al Qur’an juga menegaskan bahwa sikap orang-orang musyrik adalah ‘Apabila kamu bertanyakepada mereka siapa yang mendptakan langit dan bumi, pastilah mereka berkata Allah" (QS. az-Zumar [39]: 38).           

Dua kata terakhir dari rangkaian lafadz basmalah adalah  الرَّحْمنِ الرَّحِيمِyang merupakan bagian al asma’ul husna. Dari sekian nama indah bagi Allah yang dipilih pada ayat pertama adalah الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ yang artinya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kenapa  الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ? karena memang nama dan sifat inilah yang sangat dominan kepada makhluknya.

Prof. Qurash Shihab menjelaskan bahwa Rahman  adalah curahan rahmat yang aktual yang bersifat sementara di dunia yang dibagikan kepada seluruh makhluknya di alam dunia baik manusia tanpa pengecualian mukmin atau kafir, bahkan termasuk kepada hewan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya pun mendapatkan curahan rahmat Allah di dunia. Sementara rahim adalah rahmat Allah yang kekal di alam akhirat, tempat kehidupan yang kekal, yang hanya akan dinikmati oleh makhluk-makhluk yang mengabdi kepada-Nya.

Penyebutan lafadz basmalah mengawali berbagai macam aktivitas tentu saja berharap curahan rahmat Allah menjelma dan hadir pada aktivitas tersebut. Sehingga kalaulah aktivitas tersebut belum memberikan manfaat kepada yang lainnya, sekurang-kurangnya tidak memberikan kerugian kepada pihak lain.

Wallahu a’lam


Sabtu, 01 Maret 2025

KEUTAMAAN LAFADZ BASMALAH

 2 Ramadhan 1446 

Kisah ini termaktub dalam kitab An Nawadir dan juga kitab Uqudul Lujain dan mungkin juga di beberapa kitab lainnya.

Al kisah ada seorang wanita shalihah yang mempunyai suami munafik. Setiap kali hendak mengucapkan atau melakukan suatu pekerjaan, wanita tersebut selalu membaca lafadz basmalah, seolah lidahnya sudah basah dan loncer sekali mengucapkan lafadz basmalah dalam berbagai hal. Suaminya yang munafik itu merasa tidak nyaman dengan kebiasaan istrinya yang selalu mengucapkan basmalah. Sehingga ada keinginan untuk mengerjai dan mempermalukan istrinya, jika ia masih selalu melakukan kebiasaannya. Lalu suami itu memberikan segepok uang dalam bungkusan kepada istrinya sambil berkata ; “Jagalah uang ini baik-baik dan simpanlah di tempat yang aman”. Tentu saja uang itu  diterima oleh istrinya dengan seraya membaca basmalah, lalu istrinya membuka lemari dengan membaca basmalah, meletakkan segepok uang tersebut-pun disertai dengan bacaan basmalah. Kemudian mengunci lemari tersebut dan meletakkan kunci di tempat yang aman juga disertai dengan bacaan basmalah. Rupanya suaminya mengintip di tempat mana uang tersebut diletakkan oleh istrinya. Dan secara diam-diam sang suami mengambil uang tersebut dan menceburkannya ke dalam sumur.

Kemudian sang suami meminta uang tadi kepada istrinya, dan istrinya pun langsung begegas menuju tempat di mana ia menaruh uang tersbut, seraya mengucapkan lafadz basmalah. Maka segera, Allah swt memerintahkan malaikat Jibril AS untuk segera mengambil uang di dalam sumur tadi, dan mengembalikannya ke tempat semula. Betapa kagetnya sang suami, ketika istrinya merogoh kantong uang dan mengembalikannya dalam jumlah dan wujud sama seperti sedia-kala. Maka sang suami tersebut langsung bertaubat kepada  Allah SWT dan menyesali perbuatannya.

Sahabat...

Lafadz basmalah adalah lafadz paling awal dalam kitab suci Al Qur’an, maka sesungguhnya merupakan pengajaran kepada kita agar hendaknya memulai berbagai aktivitas yang postitif dengan membaca basmalah.  Dalam haditsnya Rasulullah SAW yang diriwayatkan imam Ibnu Majah menjelaskan :

مَنْ صَنَعَ عَمَلًا لَمْ يَبْدَأْهُ بِاسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْطَرُ وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ

"Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa memulainya dengan nama Allah, maka pekerjaan itu menjadi cacat dan tidak diterima."

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan imam Abu Daud dan Tarmidzi Rasulullah SAW bersabda :

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لا يُبْدَأُ بِهِ بِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْطَرُ

"Setiap urusan yang penting, jika tidak dimulai dengan nama Allah, maka urusan itu menjadi cacat."

Imam Ibnu Katsir menukilkan riwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia menyebut surat Al-Fatihah dengan nama: Asas Al-Qur'an. Ia berkata: Maka asasnya adalah Bismillahirrahmanirrahim. Dan imam Qurutbi menukilkan Riwayat dari Ja'far Ash-Shadiq bahwa beliau berkata, 'Basmalah adalah mahkota surat-surat Al-Qur'an.

Menyebut nama Allah SWT dalam berbagai macam aktivitas dan pekerjaan, maka menjadikan  Allah sebagai sandaran atas aktivitas dan pekerjaan yang dilakukan. Maka pekerjaan sesulit apapun dalam ukuran logika manusia bila disandarkan kepada Allah SWT maka tentunya tidak ada yang mustahil untuk terwujud. Demikian Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsirnya. Dalam serba keterbatasannya manusia sebagai seorang makhluk Ketika telah melewati prosesnya berikhtiar maka tahapan berikutnya manusia hanya mengangkat tangan memohon kepada Allah SWT sebagai wujud kelemahannya sebagai makhluk seraya berharap Allah turun tangan atas keterbatasan makhluknya mengatasi pekerjaan dan aktivitasnya. Sehingga dengan demikian, sesungguhnya manusia harus menyadari bahwa keberhasilan pekerjaan dan aktivitasnya merupakan bagian qudrat dan iradatnya Allah SWT.

Penyebutan nama Allah merupakan hal yang familiar dilakukan oleh masyarakat arab dari masa ke masa. Prof HAMKA dalam tafsir Al Azhar-nya meengutip keterangan  imam Raghib al Isfahani yang menjelaskan bahwa Kalimat ALLAH adalah perkembangan dari kalimat Al Ilah. Yang dalam bahasa Melayu Kuno dapat diartikan Dawa atau Tuhan. Segala sesuatu yang mereka anggap sakti dan mereka puja, mereka sebutkan dia Al Ilah.Dan kalau hendak menyebutkan banyak Tuhan, mereka pakai kata jama', yaitu AL-ALIHAH. Tetapi pikiran murni mereka telah sampai kepada kesimpulan bahwa dari tuhan-tuhan dan dewa-dewa yang mereka katakan banyak itu, hanya SATU jua Yang Maha Kuasa, Maha Tinggi, Maha Mulia. Maka untuk mengungkapkan pikiran kepada Yang Maha Esa itu mereka pakailah kalimat ILAH itu, dan supaya lebih khusus kepada Yang Esa itu, mereka cantumkan dipangkalnya ALIF dan LAM pengenalan (Alif-Lam-Ta'rif), yaitu AL merrjadi Al Ilah. Lalu mereka buangkan huruf hamzah yang ditengah, AL-l-LAH menjadi ALLAH. Dengan menyebut Allah itu tidak ada lagi yang mereka maksud melainkan Zat Yang Maha Esa. Maha Tinggi, Yang Berdiri sendirinya itulah, dan tidak lagi mereka pakai untuk yang lain. Tidak ada satu berhalapun yang mereka namai ALLAH.

Dalam al-Quran banyak bertemu ayat-ayat yang menerangkan, jika Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada musyrikin penyembah berhala itu siapa yang menjadikan semuanya ini pasti mereka akan menjawab: "Allahlah yang menciptakan semuanya!" seperti yang tercantum dalam QS. Al Ankabut : 61. Demikian penjelasan Prof. Hamka dalam tafsirnya..

 

Do'a Walimatus Safar

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيَهُمْ سَعْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبَهُمْ ذَنْبًا مَغْفُورًا اللهم أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي ا...