Selasa, 26 Agustus 2025

PERPISAHAN YANG MENYEDIHKAN

 3 Rabi'ul Awwal 1447 H


Perjalanan ke Yatsrib

Setelah kembali ke pangkuan ibunya, Muhammad tumbuh menjadi anak yang penuh kelembutan. Ia selalu berada di sisi Aminah binti Wahab, mendengarkan setiap cerita dan nasihat ibunya dengan penuh perhatian.

Suatu hari, Aminah memutuskan untuk membawa Muhammad ke Yatsrib (Madinah) guna mengunjungi makam ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib. Perjalanan ini sangatlah jauh dan melelahkan.

Dengan ditemani oleh Barakah (Ummu Aiman), budak perempuan yang setia kepada keluarga mereka, Aminah membawa Muhammad yang saat itu baru berusia enam tahun.

Ketika tiba di Yatsrib, Muhammad melihat makam ayahnya untuk pertama kalinya. Hatinya yang masih kecil terasa pilu. Ia hanya bisa berdiri di depan makam itu, merasakan kesedihan yang mendalam.

Aminah berkata dengan suara lembut, "Anakku, di sinilah ayahmu beristirahat untuk selamanya…"

Muhammad hanya diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Namun, hatinya penuh dengan pertanyaan tentang sosok ayah yang belum pernah ia lihat.


Wafatnya Aminah binti Wahab

Setelah beberapa hari di Yatsrib mereka pun bersiap untuk kembali ke Makkah. Namun, dalam perjalanan pulang, sesuatu yang menyedihkan terjadi.

Di sebuah tempat bernama  Abwa’ Aminah jatuh sakit. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat, dan napasnya mulai berat.

Ummu Aiman mencoba merawatnya dengan penuh kasih sayang. Namun, penyakit itu semakin parah. Aminah memeluk erat Muhammad yang masih kecil. Dengan suara lemah, ia berbisik : "Anakku… hidup ini adalah perjalanan yang panjang… Aku mungkin tak bisa menemanimu lebih lama… Tapi yakinlah, Allah selalu bersamamu…"

 Muhammad menggenggam tangan ibunya. Matanya mulai basah. "Ibu… jangan tinggalkan aku…" ucapnya dengan suara lirih.

Namun, takdir telah tertulis. Aminah menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan anaknya yang masih berusia enam tahun.

Muhammad kini menjadi yatim piatu. Dalam usia yang masih begitu muda, ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan kedua orang tuanya. Ummu Aiman segera merangkul Muhammad yang menangis tanpa suara. Hatinya hancur melihat anak kecil itu harus melalui cobaan yang begitu besar. Ia membelai kepala Muhammad dan berkata dengan lembut : "Ya Sayyidi… Aku akan selalu menjagamu… Kau tidak sendiri…"

Dengan hati yang berat, mereka menguburkan Aminah di tanah  Abwa. Muhammad hanya bisa berdiri diam, menatap makam ibunya dengan mata penuh air mata. Setelah itu, Ummu Aiman membawa Muhammad kembali ke Makkah.


Kembali ke Pelukan Kakeknya, Abdul Muthalib

Sesampainya di Makkah, Muhammad dibawa ke rumah  Abdul Muthalib,  kakeknya. Orang tua itu segera merangkul cucunya dengan penuh kasih sayang.

"Cucuku… mulai hari ini, aku yang akan menjagamu…" kata Abdul Muthalib dengan suara penuh haru.

Sejak hari itu, Muhammad tinggal bersama kakeknya. Abdul Muthalib sangat menyayangi cucunya ini. Ia selalu memperlakukannya dengan lembut, bahkan lebih dari anak-anaknya sendiri.

 

Namun, ujian belum berakhir…

 

Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad menghadapi kehilangan kakeknya? Seperti apa cobaan yang harus ia jalani setelah itu?*

 

Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Muslim

Senin, 25 Agustus 2025

"Masa Kecil yang Penuh Ujian"

 2 Rabi'ul Awwal 1447 H


Bayi yang Penuh Berkah

Setelah kelahirannya, Muhammad tumbuh menjadi bayi yang sangat istimewa. Wajahnya bercahaya dan penuh ketenangan. Setiap orang yang melihatnya merasa sejuk di hati.

Namun, di balik kebahagiaan itu, ada kesedihan yang mendalam. Sejak dalam kandungan, ayahnya telah tiada. Muhammad terlahir sebagai seorang yatim.

Aminah binti Wahab sering memeluk erat putranya, membisikkan doa-doa dengan penuh cinta.

"Anakku… kau tidak memiliki ayah di dunia ini. Tapi ketahuilah, Allah selalu menjagamu…"

Setiap malam, Aminah menatap langit. Hatinya merasa berat, karena ia tahu bahwa putranya akan menjalani kehidupan yang tidak mudah.

 

Disusui oleh Halimah As-Sa’diyah

Di kalangan Arab saat itu, bayi-bayi dari keluarga bangsawan Quraisy biasanya disusui oleh wanita dari suku Badui. Mereka percaya bahwa udara padang pasir yang bersih dan kehidupan sederhana akan membuat anak-anak tumbuh kuat.

Di antara wanita yang datang ke Makkah untuk mencari bayi yang bisa mereka susui adalah Halimah As-Sa’diyah dari suku Bani Sa’d. Namun, tak ada satu pun keluarga kaya yang mau menyerahkan anaknya kepadanya karena ia berasal dari keluarga miskin.

Halimah dan suaminya, Harits, datang ke Makkah dengan keledai yang kurus dan unta yang hampir tak bisa menghasilkan susu. Mereka sangat miskin.

Saat melihat Muhammad yang yatim, awalnya Halimah ragu.

"Anak ini yatim… tidak ada ayah yang bisa memberi hadiah atau bayaran untuk menyusuinya…"

Namun, hatinya tiba-tiba luluh. Ada cahaya di wajah bayi itu yang membuatnya merasa damai.

Suaminya berkata, "Halimah, ambillah bayi ini. Aku yakin dia membawa keberkahan."

Dengan penuh kasih sayang, Halimah menggendong Muhammad dan membawanya pulang.

Sejak saat itu, keajaiban terjadi…

Unta mereka yang sebelumnya kering mendadak mengeluarkan susu yang melimpah. Keledai mereka yang lemah tiba-tiba menjadi kuat. Padang rumput yang tadinya kering, kini penuh dengan tanaman hijau.

Halimah dan keluarganya menyadari bahwa Muhammad adalah anak yang penuh berkah.

"Sejak bayi ini berada di rumah kita, hidup kita berubah menjadi lebih baik…" ujar Harits kepada istrinya.

 

Masa Kanak-Kanak di Bani Sa’d

Muhammad tumbuh dengan sehat di tengah suku Bani Sa’d. Ia belajar berjalan, berbicara, dan bermain bersama anak-anak lainnya.

Namun, sejak kecil, Muhammad berbeda dari anak-anak seusianya. Ia tidak pernah berkata kasar, tidak pernah berbohong, dan selalu membantu siapa pun yang membutuhkan.

Suatu hari, saat teman-temannya bermain kasar, Muhammad menolak ikut serta. Ia lebih senang duduk di bawah pohon dan merenung.

Halimah sering memperhatikan anak asuhnya itu. Ia merasa bahwa Muhammad memiliki sesuatu yang istimewa.

Namun, di usia empat tahun, sesuatu yang mengejutkan terjadi…

 

Peristiwa Pembelahan Dada

Pada suatu hari, Muhammad bermain dengan anak-anak Bani Sa’d di padang pasir. Tiba-tiba, dua sosok laki-laki berbaju putih turun dari langit. Mereka adalah Malaikat Jibril dan Mikail.

Mereka menghampiri Muhammad , lalu membawanya ke sebuah tempat tersembunyi.

"Apa yang kalian lakukan?!" teriak anak-anak yang ketakutan, lalu berlari ke rumah Halimah.

Malaikat Jibril membaringkan Muhammad dan membelah dadanya. Dengan lembut, ia mengeluarkan segumpal darah hitam dari dalam hatinya.

"Ini adalah bagian dari setan yang ada dalam dirimu."

Jibril kemudian mencuci hati Muhammad dengan air Zamzam hingga bersih dan mengembalikannya ke tempat semula. Setelah itu, mereka pergi.

Muhammad bangun dengan wajah pucat. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.

Sementara itu, anak-anak yang menyaksikan kejadian tersebut berlari ke rumah Halimah sambil menangis.

"Halimah! Muhammad telah diambil oleh dua orang pria berbaju putih! Mereka membelah dadanya!"

Halimah dan suaminya bergegas mencari Muhammad . Ketika menemukannya, mereka melihat wajahnya tenang, meskipun tubuhnya sedikit gemetar.

"Apa yang terjadi, nak?" tanya Halimah sambil mendekapnya.

Muhammad dengan polos menjawab, "Aku tidak tahu… Mereka datang dan membersihkan hatiku…"

Halimah dan suaminya merasa sangat khawatir. Mereka takut akan ada sesuatu yang buruk menimpa Muhammad .

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengembalikan Muhammad kepada ibunya, Aminah binti Wahab, di Makkah.

 

Kembali ke Pangkuan Sang Ibu

Saat melihat putranya kembali, Aminah langsung memeluknya erat.

"Anakku… Aku merindukanmu…"

Halimah menceritakan kejadian yang menimpa Muhammad . Aminah mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu tersenyum dan berkata,

"Aku tahu… Anakku memang bukan anak biasa. Saat aku mengandungnya, aku sering bermimpi melihat cahaya yang menerangi seluruh dunia…"

Sejak saat itu, Muhammad kembali tinggal bersama ibunya di Makkah. Namun, kebersamaan mereka tidak berlangsung lama…

➡ Kisah Selanjutnya: Bagaimana Muhammad kehilangan ibunya? Seperti apa kesedihan yang harus ia lalui sebagai seorang yatim piatu?

 

📚 Sumber Rujukan:

1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah

2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra

3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah

4. HR. Muslim


Minggu, 24 Agustus 2025

HIDUP RASULULLAH SAW PENUH DENGAN UJIAN

1 Rabi'ul Awwal 1447 H

Tahun-Tahun Penuh Duka

Rasulullah ﷺ adalah manusia pilihan Allah, tetapi perjalanan hidup beliau penuh dengan ujian dan kesedihan sejak kecil. Seorang anak yang sejak lahir telah kehilangan ayah, lalu tumbuh dengan harapan pada ibunya, tetapi lagi-lagi kehilangan. Kemudian, saat menemukan perlindungan pada kakeknya, takdir kembali merenggutnya. Rasulullah ﷺ menjalani kehidupan yang penuh duka, tetapi Allah telah menyiapkan beliau untuk menjadi pemimpin yang penuh kasih dan keteguhan.

Yatim Sejak Dalam Kandungan

Pernikahan Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah binti Wahb adalah pernikahan yang penuh kebahagiaan. Abdullah adalah seorang pemuda Quraisy yang rupawan, sementara Aminah dikenal sebagai wanita yang cerdas dan memiliki keturunan terhormat dari Bani Zuhrah.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah pernikahan, Abdullah meninggalkan Makkah untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan pulang, saat singgah di Madinah, ia jatuh sakit. Ia tidak sempat kembali ke Makkah dan meninggal di kota itu.

Kabar kematian Abdullah sampai ke Makkah seperti petir yang menyambar hati Aminah. Dalam kondisi mengandung, ia harus menerima kenyataan bahwa anak yang dikandungnya akan lahir tanpa kehadiran seorang ayah.

Suasana rumah yang semula penuh kegembiraan berubah menjadi duka. Aminah menangis dalam diam. Setiap hari, ia mengelus perutnya, berbicara lembut pada anaknya yang belum lahir.

"Nak, kau akan lahir tanpa ayah… Tapi kau akan tumbuh menjadi manusia yang kuat. Aku akan menjagamu dengan seluruh cinta yang kupunya."

Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki yang bersih dan bercahaya. Kelahirannya membawa kebahagiaan, meskipun tetap ada kesedihan yang mengiringi. Bayi itu diberi nama Muhammad.

Kasih Sayang yang Singkat
Aminah merawat Rasulullah ﷺ dengan penuh kasih sayang. Meskipun sebagai seorang janda ia harus menjalani hidup yang sulit, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya.

Saat berusia beberapa bulan, Muhammad ﷺ disusukan kepada Halimah As-Sa’diyah, sebagaimana tradisi bangsawan Quraisy yang menitipkan anak-anak mereka kepada wanita pedalaman agar tumbuh kuat dalam lingkungan yang lebih sehat.

Halimah dan suaminya sangat mencintai Muhammad ﷺ. Selama diasuh oleh mereka, kehidupan Halimah yang sebelumnya sulit berubah menjadi berkah. Kambing-kambingnya menjadi lebih gemuk dan air susunya semakin berlimpah.

Namun, setelah empat tahun, Muhammad ﷺ harus kembali ke pelukan ibunya. Aminah sangat bahagia melihat anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Ia sering membelai kepala putranya dan berkata dengan lembut:
"Nak, kau adalah cahaya hatiku…"

Namun, kebahagiaan itu hanya sementara.

Perjalanan yang Mengubah Segalanya

Saat Rasulullah ﷺ berusia 6 tahun, Aminah mengajaknya dalam perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam ayahnya, Abdullah.

Perjalanan itu penuh emosi bagi Aminah. Sepanjang jalan, ia bercerita kepada Muhammad ﷺ tentang ayahnya, bagaimana Abdullah adalah lelaki yang baik, penyayang, dan sangat menantikan kelahirannya.

"Ayahmu adalah pria yang gagah, Nak… Jika ia masih hidup, ia pasti akan sangat bangga melihatmu."

Muhammad ﷺ yang masih kecil hanya bisa mendengarkan dengan mata berbinar. Ia tidak pernah melihat ayahnya, tetapi dari cerita ibunya, ia merasa memiliki ikatan kuat dengan sang ayah.

Setelah beberapa hari di Madinah, rombongan kecil mereka kembali ke Makkah. Namun, di tengah perjalanan, di daerah Abwa, Aminah jatuh sakit.

Suhu tubuhnya meningkat, wajahnya pucat, dan nafasnya melemah. Muhammad ﷺ kecil memegang tangan ibunya dengan cemas.
"Ibu… bangunlah… jangan tinggalkan aku…"

Aminah membuka matanya, tersenyum lemah, lalu dengan suara lirih berbisik:
"Nak… Allah akan menjagamu… Jangan takut… Kau bukan sendirian…"

Tak lama setelah itu, Aminah menghembuskan nafas terakhir.

Muhammad ﷺ hanya bisa menatap tubuh ibunya yang sudah kaku. Ia menangis, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan. Barakah (Ummu Aiman), pembantu setia keluarga, menangis dan memeluknya erat.

Di tengah gurun yang sepi, seorang anak kecil baru saja menjadi yatim piatu.

Kesedihan yang Tak Berujung
Setelah kehilangan ibunya, Muhammad ﷺ dibawa kembali ke Makkah oleh Ummu Aiman. Ia kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, seorang pemuka Quraisy yang sangat berwibawa.

Abdul Muththalib sangat mencintai cucunya. Setiap hari, Muhammad ﷺ selalu berada di dekatnya. Jika Abdul Muththalib duduk di kursi kehormatannya di dekat Ka’bah, para pemuka Quraisy tidak ada yang berani duduk di sana. Tetapi Muhammad ﷺ kecil dengan polosnya duduk di samping kakeknya, dan kakeknya hanya tersenyum.
"Biarkan dia… Cucuku ini akan menjadi orang besar nanti…"

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan dua tahun. Ketika Muhammad ﷺ berusia 8 tahun, kakeknya jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia.

Saat pemakaman, Muhammad ﷺ berdiri di dekat pusara kakeknya. Ia menangis, merasakan lagi kehilangan orang yang dicintainya.
"Sekarang aku benar-benar sendiri…"

Tetapi Allah tidak pernah meninggalkannya. Setelah kakeknya wafat, Muhammad ﷺ kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Meskipun Abu Thalib bukan orang kaya, ia mencintai Muhammad ﷺ seperti anaknya sendiri. Ia selalu melindungi, memberi makan, dan menjaga keponakannya itu dengan penuh kasih sayang.

Kesimpulan
Hidup Rasulullah ﷺ sejak kecil dipenuhi dengan kesedihan. Namun, semua itu membentuk beliau menjadi pribadi yang kuat, penyayang, dan penuh empati terhadap sesama.

Ketika beliau melihat anak yatim, beliau tahu rasanya kehilangan orang tua. Ketika beliau melihat orang miskin, beliau tahu rasanya hidup dalam keterbatasan.

Kesedihan yang beliau alami bukan tanpa tujuan. Semua itu adalah bagian dari rencana Allah untuk menjadikannya pemimpin yang tidak hanya kuat, tetapi juga penuh kasih sayang terhadap umatnya.

*➡ Kisah Selanjutnya: Bagaimana kehidupan Rasulullah ﷺ saat mulai tumbuh remaja? Ujian demi ujian terus datang… Bagaimana perjuangan beliau sebelum menjadi nabi?*

*📚 Sumber Rujukan:*
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah, Jilid 1
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra, Jilid 1
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 2
4. HR. Muslim, No. 976

Kamis, 13 Maret 2025

KEYAKINAN

13 Ramadhan 1446 H

 

Pada Kisah yang ke-25 dalam kitab An Nawadir Imam Qalyubi mengisahkan bahwa ada sekawanan penjahat yang tengah merencanakan operasi di suatu malam hari. Tatkala malam telah gelap-gulita, mereka langsung menuju asrama yang terletak di gurun pasir (sahara). Mereka segera mengetok pintu asrama dan mengatakan kepada pemilik asrama tersebut : "Kami adalah pasukan perang, jika diperkenankan, kami ingin menginap di tempatmu malam ini". Tanpa menaruh rasa curiga, sang pemilik asrama langsung membukakan pintu, lalu mempersilahkan mereka masuk dan menjamunya. Pemilik asrama Melakukan semua ini semata-mata ikhlash karena Allah dan mengharapkan berkah dari mereka sebagi pasukan yang tengah berjihad. Si pemilik asrama ini mempunyai seorang anak laki-laki yang lumpuh dan tidak mampu berdiri.

Setelah kawanan penjahat tersebut kenyang dan beristirahat, maka sang  pemilik asrama buru-buru mengumpulkan bekas sisa-sisa makanan dan minuman mereka, lalu memerintahkan kepada istrinya agar sisa makanan dan minuman itu diusapkan ke sekujur tubuh sang anak, dengan harapan semoga Allah swt menyembuhkan sang anak dari lumpuhnya sebab berkah dari pasukan perang itu. Maka si istri pun menuruti perkataan sang suami.

Di pagi buta, para penjahat itu izin keluar sebentar. Mereka menuju ke suatu tempat dan melakukan perampokan harta-benda. Ketika sore tiba, mereka kembali ke tempat asrama tadi. Betapa herannya mereka, ketika melihat anak sang pemilik asrama tersebut bisa berjalan dengan tegap. Mereka bertanya kepada pemilik markas: "Bukankan anakmu ini lumpuh?" Dia menjawab: "ya, kami telah mengambil bekas Sisa makanan dan minuman kalian, lalu kami usapkan ke sekujur tubuhnya, ternyata Allah swt menyembuhkan lumpuhnya oleh sebab berkah kalian semua". 

Kontan para penjahat tersebut langsung menangis, mereka mengatakan  kepada pemilik asrama: "Ketahuilah pak! Sesungguhnya kami bukanlah pasukan perang, namun kami adalah para penjahat yang selalu melakukan perampokan".

Oleh karena Allah swt telah menyembuhkan anakmu sebab niyatmu yang tuluss maka kami sekarang insyaf dan bertaubat kepada Allah swt. Setelah peristiwa ini, mereka semua bergabung pasukan perang betulan dan jadilah mereka para Mujahid di jalan.

*****

Kisah ini banyak memberikan pelajaran, setidaknya keyakinan menjadi pondasi dan dasar keberhasilan seseorang. Ada pepatah arab  الاعتقاد اساس النجاح.  Bahkan keyakinan yang akan meuwujudkan apa yang diinginkan oleh seseorang. Oprah Winfrey pernah menuliskan  “Anda tak akan dapat yang anda inginkan, tetapi yang menjadi keyakinan Anda”. 

Kata yang membuat berdesir adalah keinginan dan keyakinan. Sebenarnya apa bedanya? Bila kita bisa melihat sedikit lebih dalam, kata ingin dan yakin adalah kata yang sama namun berbeda maksudnya. Kata yakin mungkin bisa diseoadankan dengan kata iman yakni keyakinan, sedang dalam Islam sendiri ada Rukun Iman yang harus diyakini mulai dari Iman kepada Alloh.

 

Terkait dengan keyakinan, di awal ayat surah Al-Baqarah tertuang tentang keyakinan kepada yang ghoib. Keyakinan kepada yang ghoib, mungkin bisa disamakan dengan keyakinan akan masa depan, mimpi, harapan, cita-cita atau do’a kita. Hal ini karena apa yang kita do’akan untuk masa depan kita adalah sesuatu yang ghoib atau banyak orang berkata masa depan adalah misteri karena kita belum tahu bagaimana nantinya. Namun ikhwal tentang keyakinan adalah sebagai sebuah penguatan dalam diri akan do’a kita akan terwujud bahkan lebih indah nantinya. Oleh karenanya, ada yang memberi nama baik bagi anaknya karena memiliki keyakinan anaknya akan sesuai nama baiknya atau lebih baik.

Keyakinan adalah salah satu sebab terbesar yang membantu manusia dalam beribadah, melakukan kegiatan yang dianjurkan, serta berani melakukan amar ma'ruf nahi mungkar dan jihad di jalan Allah SWT. Hal ini karena keyakinan dapat mencegah masuknya hawa nafsu dan keraguan ke dalam hati, serta menghilangkan perasaan berat atau sulit yang mungkin dirasakan oleh jiwa dalam melakukan beberapa ibadah. Ibnul Qayyim berkata: 

والقلب متى استيقن ما أمامه من كرامة الله وما أعد لأوليائه... زالت عنه الوحشة التي يجدها المتخلفون، ولان له ما استوعره المترفون

“Dan hati, ketika telah yakin tentang apa yang ada di hadapannya dari kemuliaan Allah dan apa yang telah disiapkan untuk para wali-Nya... maka hilanglah perasaan kesepian yang dirasakan oleh orang-orang yang tertinggal, dan hati menjadi lebih lapang sehingga dapat menampung apa yang tidak dapat ditampung oleh orang-orang yang berlebihan'."

Kalimat tersebut menjelaskan pentingnya keyakinan dalam membantu manusia senantiasa berprasangka baik dan menjadikan manusia memacu melakukan ibadah dan kegiatan yang positif, serta menghilangkan perasaan kesepian dan keraguan.

Ibnu Qayyim berkata: Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: 

بالصبر واليقين تنال الإمامة في الدين ثم تلا قوله تعالى: " وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُون 

Dengan kesabaran dan keyakinan seseorang meraih kepemimpinan dalam agama.” Kemudian ia membacakan firman Allah SWT: “ Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat-ayat Kami.(QS. As Sajdah : 24)

Imam Sufyan Ats Tsauri-pun mengatakan ;

لَوْ أَنَّ الْيَقِينَ وَقَعَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يَنْبَغِي لَطَارَتِ الْقُلُوبُ اشْتِيَاقًا إلَى الْجَنَّةِ وَخَوْفًا مِنَ النَّارِ

"Seandainya keyakinan (yakin) itu benar-benar tertanam dalam hati sebagaimana mestinya, niscaya hati-hati akan terbang karena rindu kepada surga dan takut kepada neraka

Wallahu a’lam.


Selasa, 11 Maret 2025

HARTA DAN KEKAYAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 12 Ramadhan 1446 H

Kisah orang kaya yang mencela harata benda diduga menjadi sebab dia lalai kepada Tuhannya sampai didatangi malaikat maut sepatutnya menjadi pelajaran bagi siapapun untuk tidak terlena atas keni’matan apapun yang Allah anugerahkan kepadanya. Anak, harta, jabatan, kepandaian, kecantikan atau ketampanan seeringkali menjadi sebab lalai kepada Sang Pemberi ni’mat. Allah sudah mengingatkan agar manusia tidak dilengahkan oleh harta dan keturunan. Bahkan para nabi-pun tidak sedikit yang diberikan harta kekayaan yang berlimpah, namun tidak menyebabkan kekayaannya menjadikan para nabi itu lalai kepada Allah SWT.

Tentu saja dalam Islam, harta dipandang sebagai amanah (kepercayaan) dari Allah SWT yang harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.

Secara garis besar, harta dan kekayaan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk terus bertahan hidup dengan gaya hidup yang ada, tanpa harus bekerja. namun, sebenarnya kaya itu relatif. Ada orang yang tetap dapat bertahan hidup setelah berhenti bekerja.

Sebagian besar kondisi tersebut didukung kekuatan finansial yang datang dari pendapatan pasif atau passive income yang diperoleh dari investasi, akan tetapi ada pula orang-orang berpenghasilan tinggi yang tetap merasa tidak kaya sebab gaya hidupnya mempengaruhi cara mereka menggunakan kekayaannya.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi kaya dan berlimpah harta. Bahkan mencari kekayaan disyariatkan dalam Islam karena itu berarti mencari rezeki dan berusaha di dunia sebagaimana yang dicantumkan dalam banyak ayat di Al-Qur’an, seperti: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Ahzab: 10).

Di ayat lain, QS. Al Mulk: 15 juga disebutkan, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”

Dari ayat-ayat tersebut, Ibnu Katsir, menafsirkan maksudnya, yaitu berpergianlah  kalian ke tempat-tempat di bumi yang kalian kehendaki, lintasilah daerah-daerah dan pelosok-pelosoknya untuk mendapatkan berbagai macam penghasilan dan berdagang.

Berikut ini beberapa hukum mengenai kekayaan menurut agama Islam:

Wajib – jika usaha manusia itu dilakukan untuk memperoleh pendapatan memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya serta mencukupkannya dari meminta-minta.

Sunnah – jika usaha manusia itu dilakukan untuk memberikan tambahan nafkahnya dan nafkah keluarganya atau untuk tujuan melapangkan orang-orang fakir, menyambung silaturahim, memberi balasan atau hadiah pada kaum kerabat, dan mencari kekayaan dengan niat seperti ini lebih utama daripada menghabiskan waktu untuk beribadah.

Mubah (diperbolehkan) – jika untuk memberikan tambahan dari kebutuhan atau dengan tujuan berhias dan menikmati.

Makruh – jika tujuannya mengumpulkan harta agar bisa berbangga-banggaan, sombong, bermegah-megahan, bersenang-senang hingga melewati batas walaupun dicari dengan cara yang halal. Hal ini sejalan dengan sabda Rasullullah saw, “Barang siapa yang mencari dunia yang halal untuk bermegah-megahan, berbangga-banggaan, dan riya maka ia akan bertemu dengan Allah SWT sedangkan Allah murka kepadanya.”

Haram – jika dicari dengan cara yang haram seperti suap, riba dan lainnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam al Mausu’ah Al Fiqhiyah.

Harta adalah titipan dari Allah swt sehingga semua pihak yang diberi titipan harta kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sesuai sabda Rasulullah Sallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)   

"Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai 4 hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan." (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

Allah swt sebagai pemilik hakiki harta memberikan petunjuk penggunaan agar harta titipan tersebut dapat memberikan manfaat panjang kepada manusia sebagai bekal kehidupannya kelak di akhirat. Allah swt melarang seseorang bersikap boros dan bakhil. “Dan orang-orang yang apabila mentasyarrufkan harta tidak berlebihan, dan tidak (pula) bakhil yaitu perilaku mentasyarrufkan harta secara seimbang di antara keduanya.” QS. al-Furqan (25: 67). 

Islam melarang pemeluknya bermegah-megahan. Kemegahan yang dipertontokan orang kaya memicu semakin lebarnya kesenjangan antara si miskin dan si kaya yang dapat menimbulkan kecemburuan, berpotensi terjadinya konflik dan mengundang perbuatan jahat. Dalam harta seseorang pada hakikatnya terdapat hak orang lain, oleh karena itu manusia yang telah diberi titipan harta tidak dibenarkan mempergunakan semua hartanya untuk kepentingan pribadinya. Islam melarang seorang muslim untuk berperilaku kikir dalam mempergunakan harta. Allah swt Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:Dan bila diserukan kepada mereka: "Infakkanlah sebagian dari rejeki yang telah Allah berikan kepadamu", Maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, kamu benar- benar dalam kesesatan yang nyata” QS. Yasin (36: 47). Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya. Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” QS. al-Isra’ (17: 29).

Rasululah Sallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengingatkan walau secara fisik harta terlihat berkurang dengan disedekahkan namun hakekatnya tidak berkurang, justru sebaliknya bertambah baik jumlahnya dengan dimudahkan rejeki dan dijauhkan dari musibah, mauapun nilainya dimata Allah Subhanawu Wa Ta’la dengan diberikan keberkahan. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa Islam mendorong penganutnya untuk berjuang bukan hanya dalam mendapatkan harta dengan berbagai cara dengan mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan, tetapi juga dalam menggunakannya mesti dalam lingkaran aturan yang telah ditetapkan. 


Senin, 10 Maret 2025

MALAIKAT MAUT DAN ORANG KAYA

 11 Ramadhan 1446 H

Dinukil dari kitab Uyunul hikayah min qashashis sholihin wa nawadir Az Zahidin karya Ibnu al Jauzi, tercantum di dalamnya kisah  malaikat maut bersama orang kaya sebagaimana dicerikatan oleh Yazid bin Maisarah berkata;

Ada seorang di masa lalu, telah mengumpulkan harta Yang banyak juga keturunan yang banyak pula, sehingga dia merasa sangat kaya. Sehingga dia berkata kepada keluarganya, "Kalian akan merasakan kehidupan yang sejahtera dalam waktu lama." Namun tiba-tiba malaikat pencabut nyawa datang kepadanya. Dia mengetuk pintu. Dan para penghuni rumah itu pun datang membukakan pintu dan menemui malaikat pencabut nyawa yang sedang menyamar sebagai orang miskin. Dia berkata kepada mereka, "Tolong panggilhn tuan pemilik rumah ini."

Mereka menjawab, "Apakah layak tuan kami keluar rumah hanya untuk menemui orang seperti dirimu?"

Malaikat pencabut nyawa berdiam sejenak. Kemudian dia kembali mengetuk pintu. Dan kembali berkata seperti sebelumnya. Dan menambahkan, "Beritahukan dia, bahwa saya malaikat pencabut nyawa."

Saat tuan rumah mendengar perkataannya, maka dia-pun langsung terduduk gelisah. Dan si tuan rumah berkata kepada mereka, "Berkatalah dengan lembut kepadanya."

Mereka bertanya, "Apakah engkau menginginkan selain tuan kami?"

Dia menjawab, "Tidak." Selanjutnya dia masuk ke rumah menemui orang itu dan berkata kepadanya, "Segeralah beri wasiat yang engkau ingin beri wasiat, karena saya akan mencabut nyawamu sebelum saya keluar rumahmu." Mendengar itu keluarganya pun berteriak histeris dan menangis. Sementara orang itu segera berkata, "Bukalah kotak-kotak dan brankas itu, dan buka juga tas penyimpanan harta, juga tempat penyimpanan emas dan perak." Mereka pun segera membukanya seluruhnya-

Maka dia pun menghadap ke hartanya dan melaknatnya serta mencaci makinya. Kemudian dia berkala, "Terlaknatlah engkau, harta. Engkaulah yang membuat diriku melupakan Tuhanku-ku Tabaraka wa Ta'ala, dan membuatku lalai untuk beramal bagi akhiratku, sehingga ajalku tiba."

Harta pun berkata; “Jangan mencaci makiku. Bukankah engkau orang yang hina di mata manusia, kemudian saya mengangkat derajatmu? Bukankah engkau melihat bagaimana pengaruhku padamu sehingga engkau bisa masuk dalam lingkaran pergaulan para raja? Sedangkan orang-orang saleh tidak bisa masuk? Bukankah denganku engkau bisa meminang anak-anak raja dan   dan engkau pun dierima mereka? Sementara orang-orang saleh meminang perempuan yang sama tapi mereka ditolak? Bukankah engkau yang menggunakanku untuk membiayai berhala dan orang-orang kejam dan saya pun tidak menolak perintahmu? Dan jika engkau gunakan saya untuk membiayai perjuangan fi sabilillah saya pun tidak akan menolakmu? Namun engkau pada hari ini lebih tercela dari saya! Karena saya dan engkau diciptakan dari tanah, maka siapa yang memilih berbuat baik, diapun mendapat kebaikan. Sedangkan yang berbuat jahat, maka dia mendapat celaka.

Seperti itulah harta berbicara, maka berhati-hatilah!


Minggu, 09 Maret 2025

DAMPAK MENGKONSUMSI YANG HARAM

 10 Ramadhan 1446 H

Kisah sarah dan ketujuh anak-anaknya yang dibunuh oleh raja yang dzalim karean istiqamah dan tidak goyah atas desakan sang raja untuk mengkonsumsi dagung babi, menjadi cerminan dan contoh betapa tidak mudahnya menghindari hal yang diharamkan agama. Namun sejatinya, apapun yang diharamkan oleh Allah SWT merupakan curahan rahmat Allah SWT kepada hamba-hamban-NYA dan sejalan dengan kemaslahatan hidup manusia.

Berikut beberapa dampak buruk mengkonsumsi yang haram

Pertama, energi tubuh yang lahir dari makanan haram cenderung untuk dipakai maksiat. Sahabat Sahl radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

   مَنْ أَكَلَ الحَرَامَ عَصَتْ جَوَارِحُهُ شَاءَ أَمْ أَبَى

Siapa saja yang makan makanan yang haram, maka bermaksiatlah anggota tubuhnya, mau tidak mau” (al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, jilid 2, hal. 91).  

Pantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, “Tidaklah yang baik itu mendatangkan sesuatu kecuali yang baik pula” (HR al-Bukhari dan Muslim).  

Secara tidak langsung, hadits ini mengatakan, “Tidaklah yang buruk itu mendatangkan sesuatu kecuali yang buruk.”   Lebih berat lagi, makanan tidak halal itu menjadi darah daging keturunan kita atau diberikan kepada keturunan kita, maka kemungkinan keturunan kita menjadi keturunan saleh menjadi kecil.   Tak heran jika para ulama akhlak mempersyaratkan diterimanya suatu amal ditopang dengan makanan yang halal. Hal ini dianalogikan kepada hadits tentang sedekah, di mana sedekah tidak diterima kecuali yang berasal dari usaha yang halal.

   إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَقْبَلُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Sesungguhnya tabaraka wata‘ala tidak menerima suatu shalat tanpa bersuci dan tidak menerima sebuah sedekah yang berasal dari ghulul (khianat/curang).” (HR Abu Dawud).

Kedua, terhalangnya doa. Hal itu berdasarkan pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat Sa‘d radliyallahu ‘anhu.

يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Wahai Sa‘d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari” (Sulaiman ibn Ahmad, al-Mu‘jam al-Ausath, jilid 6, hal. 310).  

Selain makanan yang baik, amal perbuatan yang baik dan ketaatan secara umum juga dapat menjadi pintu cepat terkabulnya doa.

Ketiga, sulitnya menerima ilmu Allah. Ketahuilah ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. Itu pula yang pernah dikeluhkan oleh al-Syafi‘i kepada gurunya Imam Waki‘, sebagaimana yang populer dalam sebuah syairnya:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ * فَأَرْشَدَنِيْ إَلَى تَرْكِ المَعَاصِيْ

وَقالَ اِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ * وَنُوْرُ اللهِ لَا يَؤتَاهُ عَاصِي

"Aku mengeluhkan buruknya hapalanku kepada Imam Waki‘ Beliau menyarankan kepadaku untuk meninggalkan maksiat Dan beliau berkata, ketahuilah ilmu ialah cahaya Sedangkan cahaya Allah tak diberikan kepada ahli maksiat."  

Walau Imam Syafi‘i tidak menyebutkan sulitnya menerima ilmu akibat makan makanan yang tak halal, tetapi dapat dipahami bahwa makan makanan tak halal itu termasuk perbuatan maksiat. Makanan tak halal, kemaksiatan, dan perbuatan dosa secara umum juga berdampak pada malasnya beribadah, sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Imam Sufyan al-Tsauri, “Aku terhalang menunaikan qiyamullail selama lima bulan karena satu dosa yang telah aku perbuat.” 

Keempat, ancaman keras di akhirat. Bentuk ancamannya apalagi jika bukan siksa api neraka. Ancaman ini jelas disampaikan dalam Al-Quran dan hadits. Di antaranya ancaman api nereka bagi orang yang makan harta anak yatim dan harta riba.

Begitulah nasib yang dialami oleh Sarah dan anak-anaknya, mereka rela kehilangan nyawa demi terhindar dari makanan haram. Nabi Muhammad SAW. bersabda:

 يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ، إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram melainkan neraka lebih utama baginya” (HR. Tirmidzi)

Tentang makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, Allah SWT. berfirman:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah [2]: 168)

Yang dimaksud halal adalah yang didapatkan dengan cara yang bukan haram (mencuri, traksaksi yang haram, dll). Sedang yang dimaksud dengan thayyib adalah selain yang jelek (secara zat). Dua hal ini menjadi patokan untuk menentukan suatu benda dihukumi haram atau halal. Dari penjelasan ini dapat diambil sebuah contoh. Misalnya, daging babi secara zat memang haram. Meski ia didapatkan dengan transaksi yang halal, ia akan tetap haram. Begitu juga misalnya, daging sapi. Ia halal secara zat. Namun jika ia didapatkan dengan cara mencuri, maka ia juga dihukumi haram. 

Maka marilah kita berusaha semaksimal mungkin menghindari perkara yang tak halal, baik yang haram maupun yang syubhat. Mengapa yang syubhat juga harus dihindari? Karena menghindari yang syubhat merupakan benteng dalam menjauhi yang haram. Kaitan menghindari perkara syubhat, kita ingat kepada kisah Abu Bakar yang memuntahkan makanan yang telah ditelannya. Berikut adalah kisah lengkapnya.   Pada suatu hari, Abu Bakar dibawakan makanan oleh pelayannya. Beliau pun menyantapnya. Lantas ditanya oleh si pelayan, “Apakah engkau tahu makanan itu? Beliau menjawab, “Memangnya makanan apa itu? Dijawab oleh si pelayan, “Pada zaman Jahiliah aku biasa meramal untuk seseorang. Aku sendiri tak mumpuni soal ramalan, sehingga aku sering mengelabuinya. Saat itu pun orang itu datang menemuiku dan memberiku makanan itu. Dan makanan itu pula yang engkau makan.” Mendengar demikian, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya (ke mulut), dan memuntahkan semua yang sudah masuk ke dalam perutnya (HR Al-Bukhari).  

Dari empat poin di atas, dapat dipahami bahwa betapa bahayanya makanan yang tak halal bagi kita, baik terhadap diterimanya amal, dikabulkannya doa, dibukanya cahaya Allah, maupun terhadap keselamatan kita di akhirat. Demikian semoga bermanfaat

Jangan kita termasuk kelompok orang yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Maqbariy dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sungguah akan datan kepada manusia satu zaman orang sudah tidak lagi peduli mendapatkan hartanya apakah dari yang halal atau yang haram”

Na’udzubillah


Do'a Walimatus Safar

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيَهُمْ سَعْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبَهُمْ ذَنْبًا مَغْفُورًا اللهم أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي ا...